
Tak jauh dari pesawat, Watson sudah bertarung dengan Jamie dan timnya. Meskipun senjata yang digunakan Watson bukanlah pedangnya yang biasa, tapi, hal itu tetap berbahaya. Ketangkasan pria itu tak berkurang sedikitpun, meski mengalami luka-luka di sekujur tubuh. Jamie harus mengakui bahwa Watson amat sangat kuat. Dan mereka berlima, mungkin bukanlah tandingannya.
Saat mereka berenam sedang bertarung, kendaraan tentara kembali mendekat. Melihat bahwa terjadi pertarungan dahsyat di depan mata, maka informasi awal bahwa monster alien itu lebih dari satu, telah terbukti.
Tanpa mempedulikan yang, lain, rentetan peluru kembali dihamburkan ke arah pertarungan sengit yang sedang berlangsung.
Meski yakin bahwa peluru mereka dapat mengenai sasaran, akan tetapi tak ada seorangpun yang berhenti ataupun keluar dari arena. Petir dan kilat saling sambar, memberi rasa ngeri pada orang-orang.
Tentara menjadi tak sabar melihat pertarungan itu tak dapat dihentikan. "Tembakkan rudal anti tank!" perintah pemimpin mereka.
Para prajurit itu saling pandang. Sudah beberapa kali mereka tembakkan rudal itu, dengan maksud merobohkan Watson. Namun, yg terkena imbas adalah fasilitas bandara dan menimbulkan kerusakan di mana-mana.
"Sekarang!"
Mendapat hardikan sekeras itu, salah seorang segera mengambil senjatanya dan diarahkan pada arena pertarungan. Meski tak bisa melihat jelas, siapa yang akan terkena akibat debu tebal yang bergulung-gulung, prajurit itu tetap mengarahkan bidikannya ke sana.
"Lakukan!" perintah pria itu lagi.
Rudal besar yang mampu meluluh lantakkan tank itu, terlepas dari pelontarnya.
Teriakan histeris penumpang, terdengar. "Awaas!"
Mata Oliver terbuka lebar. Tangannya langsung mengibas, dari tempat persembunyiannya. Bom Besar itu terlempar menjauh dari arena dan mengarah pada pesawat yang sudah kosong.
Pesawat itu meledak dengan suara dahsyat. Hal itu sungguh mengherankan bagi prajurit tentara. Mereka jelas melihat bom yang ditembakkan itu mengarah ke arena pertarungan. Bagaimana bisa berbelok dan mengenai pesawat yang berjarak dua puluh meter dari titik awal?
__ADS_1
Para penumpang histeris dan ketakutan melihat pesawat itu meledak di depan mata. Awak pesawat menyuruh mereka menjauh dari tempat itu, agar aman.
Kekacauan dan kepanikan akibat ledakan, membuat mereka berlari tanpa melihat kiri dan kanan lagi. Gaby terdorong oleh seorang pria hingga jatuh.
Oliver terkejut dan kehilangan konsentrasinya. Dia segera membantu Gaby untuk bersembunyi di belakang tubuhnya.
Fatal bagi Gaby, keengahan Oliver tadi, membuat perlindungannya pada Gaby jadi terbuka. Dan itu cukup bagi Watson. Dia memukul Elliot hingga terjajar ke belakang, lalu melompat tinggi dan keluar dari kepungan.
Bulu tengkuk Gaby merinding, melihat Watson memandangnya tajam. Pria itu kembali mengenalinya sebagai gadis yang pernah dia culik.
Jamie menyadari hal itu. "Lari Ma'am!" teriaknya sambil mengganggu konsentrasi Watson. Sebuah tusukan pedang dari Elliot tak berhasil mengalihkan pandangan Watson dari Gaby.
Oliver menyadari kesalahannya. Sekarang, tak ada lagi gunanya menyembunyikan Gaby. Watson sudah menemukannya.
"Aku tak perlu lari dari hadapanmu, karena aku tak punya kesalahan padamu!" kata Gaby pedas.
Watson menyeringai. Dia hendak melompat ke arah Gaby, tapi dihalangi Jamie. "Jika kau pria sejati, maka lawanmu adalah para pria!" kata Jamie dingin.
"Kalian bukan lawanku!" balasnya tak kalah dingin. Watson bersiap untuk mendekati Gaby, yang tentu saja langsung dihalangi oleh para pengawalnya.
Duncan melompat tinggi dan mengayunkan pedangnya ke arah kepala Watson. Pria itu langsung menyambut pedang yang datang dengan deras itu, dengan tangannya sendiri. Darah mengucur, namun diabaikan Watson. Tangannya yang lain memukul kepala Duncan hingga tuhnya terpelanting dengan kencang.
Watson merampas pedang Duncan saat lawannya itu terbang menuju sebuah pohon di lapangan berumput.
Dia melompat ke arah Gaby sambil mengangkatpedang tinggi-tinggi. Jelas sekali posisinya hendak membunuh Gaby.
__ADS_1
"Halangi dia!" Jamie menyadarkan tiga kawannya yang tersisa. Mereka terkejut dan berusaha melompat sekuat tenaga, untuk menangkis ayunan pedang Watson yang mematikan.
Oliver berusaha kembali melindungi Gaby dengan mantera. Namun posisi Watson dua dua meter di atas kepala Gaby.
Gaby mengeluarkan Baby Keane dari balik jaket dan menyerahkannya pada Oiver. "Bawa dia pergi! Kau harus menyelamatkan putraku!"
"Nyonya!" teriak para highlander panik. Mereka sangat sadar, kalah dalam hal kekuatan melawan Watson.
Oliver mendekati Gaby. Bukan untuk menerima Baby Keane. Namun menarik tubuh Gaby menjauh dari mata pedang yang dipegang Watson.
Pedang tidak bermata itu meluncur deras ke tubuh Oliver yang kini menggantikan di posisi Gaby berdiri sebelumnya. Senyumnya merekah saat jemari mungil Keane menggenggam telunjuknya dengan erat.
"Aku akan melindungi Tuan Muda hingga akhir!" batinnya sambil tersenyum.
"Oliver!" teriak Jamie. Dia menyesal tak bisa melompat sejauh lompatan Watson, untuk menyelamatkan dua orang yang tak bisa bertarung itu.
Peang itu hampir sampai dan Oliver senang dapat melihat senyum lucu Tuan mudanya untuk terakhir kali. Dia tak takut atau bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Pedang itu menyentuh kepala Oliver. Lalu hal tak terduga terjadi di depan mata semua orang. Sebuah cahaya terang yang amat-sangat terang dan menyilaukan, menelan pedang dan tubuh Watson hingga hilang dari pandangan. Tak lama setelah itu, gelegar petir keras dan saling sambar menyambar, yang khas, naik ke udara. Itu adalah ledakan pertukaran kekuatan dari lawan yang mati pada pemenangnya!
Gaby dan Oliver terlempar jauh akibat ledakan itu. Jamie dan rekan satu timnya menyilangkan tangan untuk menghalangi cahaya terang yang dapat membutakan mata.
Di kepala para highlander itu muncul satu pertanyaan. "Apakah Watson berhasil membunuh Tuan Muda?"
******
__ADS_1