The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
46. Cahaya Terbang


__ADS_3

Malam itu, nenek membuat perhitungan. Bulan purnama akan muncul dalan satu minggu ke depan. Jadi, waktu untuk mempersiapkan semua persyaratan agar sihir itu berhasil, hanya satu minggu.


"Semua persyaratan di sini, kebetulan kumiliki---"


"Kecuali?" kejar Tuan Scott karena ucapan nenek menggantung.


Nenek membuka lagi buku yang selama dua hari ini dibacanya. Dibacanya semua syarat dan menyisihkan setiap botol yang sesuai. Kemudian syarat terakhir juga dibacanya. Tapi, baik Tuan Scott dan juga Gaby, tidak paham apa maksudnya.


"Apa syarat yang terakhir?" tanya Tuan Scott.


"Persembahan darah!" jawab nenek.


Gaby menjadi tegang dan tidak nyaman mendengar harus ada pengorbanan darah, agar sihir itu bisa dibuat.


"Bisakah menggunakan darah Coo?" tanya Tuan Scott.


"Kata ini, menunjukkan pada darah manusia!" Nenek mengatupkan mulutnya rapat. Dia tak terlalu senang dengan sihir yang seperti ini. Sementara Tuan Scott mengusap muka.


"Tak mungkin mengorbankan orang lain hanya agar kita bisa pulang!" tolak Gaby.


"Cari cara lain saja," tambahnya lagi.


Tuan Scott menatap serius mata neneknya. Dua orang itu bertatapan. Bicara lewat hati.


"Tidak!" ujar nenek tegas.


"Mow, aku tidak akan mati karena pengorbanan. Selama aku diikutkan bersama dia, aku akan baik-baik saja. Nanti aku akan bangun lagi," bujuk Tuan Scott.


Mata Gaby melotot. Dia akhirnya mengerti arah pembicaraan kedua orang itu. "Tidak! Tak ada jaminan kau tidak mati karena pengorbanan!" Gaby menolak ide Tuan Scott.


Pembicaraan malam itu tak menghasilkan kata sepakat.


Keesokan hari, nenek pamit untuk pergi ke tempat seseorang. Dia ingin menanyakan beberapa hal terkait sihir yang akan dibuat itu.


Dua hari itu, Gaby dan Tuan Scott hanya berdua saja di rumah itu. Karena tak ada yang menemani, Gaby mengikuti Tuan Scott pergi ke ladang. Pria itu membantu nenek untuk mengolah tanahnya.


Gaby ingat dalam mimpinya, dia melihat Tuan Scott yang lain, juga sedang mengolah tanah. Dilihatnya pria yang sedang menggemburkan tanah dan menyingkirkan batu-batuan dari areal ladang. Keduanya persis sama.


"Apa yang terjadi pada pasangan itu?" Gaby sungguh penasaran.


"Tuan Scott, apakah kau percaya reinkarnasi?" tanya Gaby tiba-tiba.


Tuan Scott mengangkat kepala dari tanah dan menghentikan kegiatannya sejenak. "Aku pernah membaca tentang itu. Orang-orang dari timur mempercayainya. Itu ada dalam kultur mereka. Tapi manusia moderen tidak mempercayai hal semacam itu." jawabnya.

__ADS_1


Gaby menganggukkan kepala mendengarnya. Dia tak merasa perlu mengatakan apa yang dilihatnya dalam mimpi.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Tuan Scott. Dia sudah melanjutkan kembali memilih batu-batu untuk dilemparkan ke tepi ladang.


"Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan beberapa ide novel," balas Gaby.


Tuan Scott mengangguk setelah melihat wanita muda itu dengan mengernyitkan dahi. Tapi kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dua hari itu, banyak yang mereka lakukan di rumah. Tanpa kehadiran nenek, Gaby leluasa untuk menurunkan kain-kain tua dan mencucinya di air dingin pancuran dekat ladang. Tuan Scott membantu membawa kain-kain bersih kembali ke rumah dan menjemur di halaman. Dihamparkan pada tumpukan batu yang menjadi pagar keliling halaman.


Dinding dan lantai rumah juga sudah dibersihkan. Batu-batu lantai disikat dan disiram agar kembali bersih. Keduanya bekerja keras agar rumah nenek dapat ditinggali dengan nyaman setelah mereka pergi.


Malam hari kedua, nenek kembali. Dia melihat sekeliling rumah dengan seksama, Dia tahu rumahnya telah berbeda. Dan wanita tua itu tidak keberatan sama sekali.


Gaby mengambilkan teh yang dibuatnya untuk nenek. Wanita tua itu tampak jelas sangat kelelahan. Dia pasti telah berjalan sangat jauh.


"Akan kusiapkan makan malam," ujar Gaby. Nenek mengangguk.


"Terima kasih sudah membersihkan rumah," katanya. Gaby tersenyum manis.


"Mow!" suara Tuan Scott memanggil dari tangga. Dia membawa setumpuk alas tidur, turun ke bawah.


"Mau kau bawa ke mana itu?" tanya nenek.


"Kenapa itu ada di sana?" tanya nenek.


"Tak baik jika nenek terus tidur di kursi kayu panjang dan keras itu. Jadi tempat tidur atas, aku turunkan." Tuan Scott sudah hampir selesai merapikan tempat tidur untuk nenek.


"Mulai sekarang, nenek harus tidur di sini!" Tuan Scott membimbing tangan neneknya ke arah tempat tidur. Wanita tua itu didudukkan di sana untuk beristirahat. Wanita itu terkekeh kecil.


Ketiganya duduk bersama setelah Gaby selesai menyiapkan makan malam. Mereka makan dengan tenang. Meskipun sangat ingin tahu apa hasil dari perjalanan nenek, tapi mereka berdua tak ingin mengganggu nenek yang sedang makan dengan lahap.


"Masakanmu enak. Apakah seperti ini masakan di masa depan?" tanyanya.


Gaby tersenyum tipis. "Aku sebenarnya tak bisa masak. Senang jika nenek menyukainya."


"Bagaimana jika Mow ikut denganku ke masa depan?" ajak Tuan Scott.


Wanita tua itu menggeleng. "Takdirku di sini. Hidup dan mati di tanah ini!" ujarnya dengan keyakinan.


Tuan Scott terkejut mendengarnya. "Apakah nenek sudah mengetahui takdirnya?" batin Tuan Scott.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya nenek.

__ADS_1


"Tak ada. Aku hidup sendiri di masa depan. Alangkah senangnya jika ada Mow di sana," bujuk Tuan Scott lagi.


Nenek menggeleng dengan teguh. "Di sana bukan tempatku. Seperti kalian berdua. Di sini bukan tempat kalian. Itu sebabnya aku harus mengirim kalian kembali."


Tuan Scott tak bisa lagi membujuk neneknya. Gaby menggeleng, melarang pria itu memaksa nenek.


"Sudah malam. Kalian pergilah beristirahat. Dengarkan aku, Wingnut. Kau tak boleh memberinya pekerjaan yang terlalu berat. Ingat anakmu yang tumbuh di dalam sana." Nenek mengingatkan Tuan Scott.


Pria itu membalas dengan mengangguk canggung. Diliriknya Gaby yang hanya menunduk dengan wajah memerah.


"Kau, beristirahatlah. Biar aku saja yang merapikan meja." Kata-kata Tuan Scott jelas ditujukan pada Gaby.


Gaby mengangguk cepat. Dia ingin secepatnya menyingkir dari pembahasan tentang anak yang terus dilontarkan nenek. Jadi dia bangkit dari duduk.


"Aku naik lebih dulu, nek," pamitnya.


"Ya."


Gaby berjalan ke tangga dan segera menghilang di balik tangga.


Tuan Scott merapikan meja bekas mereka makan. Semuanya rapi dengan cepat. Diperiksanya perapian dan menambahkan kayu bakar ke dalamnya.


"Tinggalkanlah itu. Jangan biarkan dia sendirian di atas," ujar nenek.


"Dia akan baik-baik saja," bantah Tuan Scott.


"Pergilah cepat!" perintah nenek tegas.


Belum juga Tuan Scott bergerak. Sudah terdengar teriakan Gaby dari loteng. Tuan Scott langsung melompat dan lari ke atas.


"Ada apa?" tanyanya. Dilihatnya Gaby duduk dengan ketakutan di lantai.


"Aku melihat cahaya terbang di halaman," ujarnya.


Tuan Scott segera melihat ke luar jendela. Tak ada cahaya apapun di luar. Hanya kegelapan padang rumput.


"Sudah tak ada apa-apa. Aku akan menemanimu di sini. Tidurlah ...."


Tuan Scott duduk dan memeluk Gaby yang masih ketakutam, hingga wanita itu tertidur.


"Apa yang dilihatnya? Nenek menyuruhku segera naik, pasti sudah merasakan ada sesuatu. Baiknya kutanyakan besok saja," pikir Tuan Scott.


*********

__ADS_1


__ADS_2