The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
38. Mencari Penyihir


__ADS_3

Gaby terbangun karena suara berisik di sekitarnya. Matanya terbuka lebar. Dilihatnya sekitar. Mereka ada di tengah padang terbuka. Terlindung dari angin utara oleh tebing di belakang. Terlindung juga dari pandangan orang karena rumput-rumput liar yang cukup tinggi untuk menutupi orang berbaring.


Didengarnya suara burung-burung kecil dan gemericik air. Dengan perlahan, dilepasnya rangkulan Tuan Scott. Dia tak ingin membangunkan pria itu. Gaby ingat mereka berjalan sangat jauh. Entah jam berapa mereka sampai di sini, dia tak tahu karen sudah tertidur dalam gendongan Tuan Scott.


"Kau sudah bangun?" tanya Tuan Scott, saat Gaby berusaha berdiri.


Diliriknya pria yang masih berbaring di sebelahnya itu. "Aku mendengar suara gemericik air. Kurasa kita tak jauh dari sungai," kata Gaby.


Tuan Scott mengangguk. Dia bangkit dari tidurnya dan ikut duduk. Melihat dulu ke sekitar sebelum berdiri. Gaby ikut berdiri. Diambilnya mantel Tuan Scott yang tadi menyelimuti tubuhnya.


"Ini mantelmu, terima kasih." Gaby mengembalikan mantel itu pada pemiliknya.


"Makin ke sini, udara akan makin dingin. Kau akan membutuhkannya. Pakai saja," tolak Tuan Scott.


Gaby tak mau membantah. Dia sadar, pria itu sangat letih. Dia tak ingin menambahi bebannya. Jadi dikenakannya lagi mantel itu. Tuan Scott sudah berjalan lebih dulu ke arah suara air. Gaby menyusulnya dari belakang.


Tak butuh jalan terlalu jauh untuk bisa menemukan aliran air sungai yang cukup deras. Keduanya membasuh muka dan minum air sedingin es itu untuk mengisi perut yang kosong sejak kemarin.


Tuan Scott mengeluarkan pisaunya dan menyusuri sungai. Beberapa kali dia membungkuk dan mencari sesuatu di dalam air.


Gaby hanya melihat dari kejauhan. Tuan Scott tidak memintanya mengikuti, jadi dia hanya duduk memperhatikan. Dia tak punya keinginan menginjak tanah basah ataupun terkena air dingin.


Beberapa waktu kemudian pria itu kembali. Di ujung pisaunya tergantung tiga ekor ikan yang sudah tak bergerak.


"Syukurlah. Kita bisa mengisi perut pagi ini. aku sangat lapar," ujar Gaby tanpa sungkan.


"Tuan Scott tersenyum. Dia mencari kayu dan rumput kering di sekitar. Kemudian membuat apai dengan menggesekkan mata pedang dan mata pisau besarnya itu.


Gaby tak percaya kalau membuat api bisa semudah itu. Tuan Scot membalik-balik ikan di atas nyala api. Sekarang mereka bisa mendapatkan sedikit kehangatan.


"Ini sudah matang. Makanlah." Tuan Scott mengulurkan seekor ikan pada Gaby.


Dengan cepat dia mengambil dan mencoleknya dengan jari. Meski tanpa bumbu, ikan itu tetap terasa manis. Dengan cepat seejor ikan berubah jadi tulang-belulang di tangannya.


"Ini!" Tuan Scott kembali memberinya seekor ikan. Gaby menggeleng.


"Kau belum makan sejak kemarin. Itu milikmu!" tolak Gaby menggelengkan kepala. Tangannya membalik-balikkan ikan yang belum matang.

__ADS_1


"Baiklah," Tuan Scott mengangguk setuju. Dia mulai menikmati sarapannya.


"Ke mana lagi kita setelah ini?" tanya Gaby.


"Kita akan ke sebelah timur. Kita harus menemui seseorang. Jika dia masih ada di sana, maka kita bisa menanyainya tentang hal ini," jawab Tuan Scott.


"Siapa?" tanya Gaby.


"Penyihir tua," jawab Tuan Scott.


"Kenapa kita harus menemui penyihir?" tanya Gaby heran.


"Apa kau lupa kalau kemarin kita melihat semuanya berubah?" Tuan Scott bertanya balik.


"Oh ... tentang kastil itu." Gaby mengangguk.


Tuan Scott menggeleng. "Sebenarnya bukan hanya kastil. Menurutku, kita berpindah sangat jauh dari tempat semula. Dan kita juga butuh cara untuk kembali ke tempat kita. Jika yang menimpa kita adalah hal mistis yang terjadi di danau. Kuharap dengan semakin jauh kita dari danau, maka pengaruh sihirnya akan hilang."


"Bisakah seperti itu?" selidik Gaby.


"Kau tak takut penyihir itu akan membocorkan tentang aku?" tanya Gaby.


"Penyihir tua itu adalah kerabatku. Dia tak akan mengkhianati darah yang mengalir di tubuh kami!" ucap Tuan Scott yakin.


"Aku mengerti." Gaby mengangguk. "kapan kita ke sana?" tanya Gaby tak sabar.


"Mari kita lanjutkan perjalanan. Jika kau lelah, aku bisa menggendongmu lagi," tawar Tuan Scott.


"Aku baik-baik saja setelah beristirahat dan makan," tolak Gaby.


"Ayo!"


Tuan Scott mematikan bebas mereka membakar ikan. Dian mengambil air dengan tanagn dan bolak-balik menyiram tanah tempat mereka duduk.


"Apa kau mau menghapus jejak bauku dari tempat ini?" tanya Gaby heran.


"Apa menurutmu ini konyol?" tanya Tuan Scott.

__ADS_1


"Jika guyuran air bisa menyamarkan bauku, berharaplah turun hujan. Sebab kita telah berjalan berkilo-kilo meter. Dan bauku telah menguar di seantero highland!" Gaby menggelengkan kepala.


"Kau benar. Aku yang bodoh. Tapi jangan sembarangan berharap di sini. Bagaimana kalau tiba-tiba hujan turun?" Tuan Scott membantu Gaby menyeberang sungai kecil itu.


"Memangnya kenapa kalau turun hujan?" tanya Gaby bodoh. Dia mengikuti langkah Tuan Scott dari belakang. Keduanya berjalan beriringan di tengaha padang terbuka.


"Lihatlah tempat ini," ujar Tuan Scott sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.


"Jika hujan turun, maka kita tak punya tempat untuk berteduh," tambahnya.


"Aku lupa tentang itu," timpal Gaby.


Keduanya terus berjalan sambil sesekali berbincang yang tak penting. Kadang tawa kecil Gaby terdengar mendengar kata-kata serius Tuan Scott tapi dianggapnya lucu.


Setelah beberapa kali berhenti untuk istirahat dan mencari makanan untuk mengisi perut Gaby, mereka akhirnya bisa melihat sebuah rumah batu yang mengepulkan asap di tepi tebing. Rumah itu begitu terpencil.


"Kau yakin itu rumahnya?" tanya Gaby.


"Seperti yang kuingat." sahut Tuan Scott. Dibimbingnya Gaby menuruni bukit, untuk menuju ke sana.


"Bagaimana kalau itu bukan dia? Maksudku, mungkin saja orang lain yang menggantikannya tinggal di sana?" Gaby menyodorkan berbagai kemungkinan.


Tuan Scott menggeleng yakin. Dialah orang terkahir yang menempati rumah itu. "Setelah dia tewas dibakar orang-orang Roma yang datang dan mengatakan bahwa para penyihir adalah penipu. Rumah itu tak ada yang menempati lagi. Tak ada yang berani tinggal di sana!" ujar Tuan Scott datar.


Gaby tak punya argumen lain untuk mematahkan rasa percaya Tuan Scott. Jadi dia akhirnya mengikuti dengan diam. Mereka melintasi padang rumput liar yang tinggi. Beberapa rumput menempel di mantel dan membuat betis Gaby terasa ditisuk jarum-jarum kecil. Memberikan rasa gatal dan dia bolak-balik menggaruk, untuk mengatasinya.


"Itu hanya biji-bijian rumput. Jangan terus digaruk. Nanti kakimu luka. Sampai di sana, kita lihat dan bersihkan," cegah Tuan Scott.


"Gatal," kata Gaby.


"Aku tahu," timpal Tuan Scott. Pria itu terus berjalan ke arah rumaha di depan sana. Gaby merasa seperti melihatnya setengah berlari. Wanita muda itu tertinggal jauh di belakang. Rasa takut ditinggal, membuat Gaby juga ikut berlari mengejar Tuan Scott.


"Mither!" ¹) Terdengar suara teriakan Tuan Scott. Meski Gaby tak mengerti apa yang diucapkan pria itu, tapi dia bisa merasakan energi bahagia dalam panggilan itu.


******


¹) Mither istilah Scotland untuk Mother \= ibu.

__ADS_1


__ADS_2