The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
54. Permintaan Tuan Scott


__ADS_3

"Aku ada permintaan sebelum kau pergi," kata Tuan Scott.


"Apa itu?" Perhatian Gaby dilemparkan ke halaman kecil yang ditata rapi.


"Apakah kau punya pelayan yang mengurus taman mungil itu?" tanya Gaby tiba-tiba. Tuan Scott yang ingin bicara, langsung mengurungkan niatnya.


"Bukan pelayan. Hanya seorang kenalan yang datang ke sini secara rutin untuk membersihkan halaman."


Tuan Scott menyingkapkan sedikit tirai jendela, untuk melihat taman yang dimaksud Gaby.


"Apa kau menyukainya?" Sekarang dia ikut memperhatikan susunan bunga hortensia yang memang teratur rapi. Tuan Scott bahkan tak pernah terlalu memperhatikan hasil kerja kenalannya itu. Baginya, asalkan halaman bersih dari sampah, maka itu sudah lebih dari cukup.


"Di musim semi, pasti akan terlihat sangat indah," komentar Gaby. "Harusnya sebentar lagi rumpun bunga itu dipangkas dan dilindungi dari kerasnya musim dingin," tambahnya lagi.


"Mungkin dia akan datang dalam beberapa hari untuk melakukan seperti yang kau katakan," timpal Tuan Scott.


"Oh ya, apa tadi yang mau kau katakan?" Gaby membalikkan badannya dan melihat ke arah pria yang berdiri di samping jendela lain yang meghadap taman.


"Aku ingin mengambil fotomu, jika kau ijinkan. Aku akan meminta seorang pelukis untuk melukisnya, seperti tiga istriku yang lain." Tuan Scott tidak menyembunyikan maksudnya dari Gaby.


"Kau sangat terus terang. Meskipun aku bukan istrimu, tapi, demi rasa terima kasihku untuk perlindunganmu selama aku di sini, kau boleh membuat fotoku." Gaby mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih dan tunggu sebentar." Tuan Scott menghilang di balik tirai tebal ke arah ruangan dalam.


"Tirai itu terlalu kuno," gumam Gaby.


Dia tak terlalu menyukai tirai berat seperti itu sebagai pembatas ruang. Oldiest. Gaby tertawa kecil, mengingat bahwa Tuan Scott sendiri memanglah sudah sangat tua. Meskipun beberapa perabot merupakan perabotan moderen, tapi jiwa kuno pria itu tetap menguasai.


Tuan Scott kembali dengan membawa sebuah kotak besar di tangannya. Diletakkannya kotak itu di meja. Kemudian membukanya dengan hati-hati. Bau agak apek menguar di udara. Debu halus beterbangan. Gaby secara refleks mendekatkan punggung tangannya ke hidung, untuk melindunginya dari menghirup debu.


"Ah ... maafkan aku. Seharusnya ini kubuka di tempat lain. Sebentar!" Pria itu kembali mengangkat kotak besar itu kembali ke arah dalam.


Gaby mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan pria itu. Dibukanya jendela dan mengibaskan udara berdebu, agar keluar lewat jendela.


"Apa sih itu? Kelihatannya sangat penting. Disimpan di dalam kotak hingga berdebu seperti itu. Pasti sudah lama terabaikan!" batin wanita muda itu penasaran.

__ADS_1


Gaby melihat-lihat hiasan yang ada di ruangan. Ada baju besi lengkap dengan helm besi. Kemudian ada juga tartan khas Clan Sutherland yang berwarna kehijauan dibentang di dinding, lengkap dengan simbol klan. Di bagian dinding lain sebuah lukisan kastil indah menjadi point of view ruangan itu. Tampak jelas tertulis bahwa kastil megah itu milik klan Sutherland.


"Apa dulu dia tinggal di sana saat klan masih berjaya?" pikir Gaby kagum.



Tuan Scott kembali. Di tangannya ada sebuah gaun indah. Meskipun itu jelas gaun lama yang mungkin tersimpan di kotak berdebu tadi, Tapi Gaby harus mengakui bahwa gaun itu sangat indah. Coraknya persis dengan kain tartan yang dipajang di dinding.


"Bisakah kau mengenakan gaun ini untuk berfoto?" Mata pria itu sepertinya sangat berharap Gaby setuju.


"Bisakah kau membuat fotoku dengan latar belakang kastil milik klanmu itu?" tawar Gaby.


"Tentu! Dengan senang hati, akan kuminta dilukis dengan latar belakang kastil. Sayangnya aku tak sempat membawamu ke sana," sesal pria itu.


"Aku akan cukup puas jika kau bisa mengedit fotoku dengan latar kastil itu. Jangan lupa mengirimkan hasil fotonya padaku!" pesan Gaby.


"Di mana aku bisa berganti pakaian?" tanya Gaby. Dia ingin urusan foto itu segera selesai.


"Mari kutunjukkan kamar ganti." Tuan Scott berjalan mendahului sambil membawa pakaian tadi. Gaby mengiringi di belakangnya.


Matanya tak lepas-lepas melihat tiap sudut menarik kediaman pria itu.


"Oke!" angguk Gaby.


Dia segera mengganti pakaian dengan gaun yang mungkin dari abad lampau.


Sambil mengenakan gaun itu, Gaby mencoba mengingat ketiga istri Tuan Scott. Tak ada seorangpun yang mengenakan gaun ini untuk dilukis. "Mungkinkah ini dibeli tapi tak pernah sempat dipakai oleh salah satu istrinya?"


"Ah ... kenapa aku harus memusingkan hal itu? Bukankah gaun ini memang bagus, biarpun baunya agak sedikit apek dan terasa dingin di kulit karena lama tersimpan. Anggap saja sedang mencoba pakaian abad pertengahan di sebuah karnaval," batinnya.


Berlapis-lapis pakaian yang harus dikenakannya, membuat dia membutuhkan waktu lebih lama untuk berdandan.


Setelah pakaiannya rapi, Gaby melihat penampilannya di cermin. Dia tersenyum, karena seperti sedang melihat orang lain di pantulan cermin. Tangannya merapikan rambut agar bisa digelung dengan sederhana.


"Sempurna!" gumamnya. Jarinya menggelung sedikit untaian rambut di dekat telinga. Dia puas melihat tampilannya di cermin itu.

__ADS_1


Kemudian terdengar ketukan di pintu. "Ya!" sahut Gaby.


Tuan Scott segera tertegun saat melihat penampilan wanita muda di hadapannya. Lama dia memandangi Gaby dengan takjub.


"Mari ke tempat foto," kata Gaby memecah keheningan.


"Silakan my dear."


Tuan Scott segera tersadar dari keterpukauannya. Dibukanya pintu kamar lebar-lebar agar Gaby bisa keluar dengan leluasa.


Gaby dibawa ke satu ruangan yang yang tampaknya memang menjadi studio foto pribadi pria itu. Ada banyak lampu dan juga tiang kamera di tengah ruangan. Dan satu hal yang sangat mencengangkan adalah, latar belakang studio itu. Itu adalah foto kastil yang sama dengan yang dilihat Gaby di ruang depan.


"Kau punya lukisan digitalnya!" seru Gaby tak percaya.


"Apa kau suka?" Tuan Scott tersenyum melihat binar mata wanita itu.


"Aku sangat menyukainya. Ini terlihat sangat nyata!" puji Gaby. Tuan Scott tersenyum lebar melihat kegembiraan Gaby.


"Apa kau pernah tinggal di kastil ini, Tuan Scott?" Tanya Gaby sambil lalu.


"Dulu!" jawab pria itu singkat.


Dia terlihat tak terlalu suka membicarakan hal itu. Gaby menyadarinya. Pasti ada hal buruk terjadi, hingga pria itu tak terlalu senang.


"Kalau begitu, mari segera kita ambil fotonya. Aku tak sabar untuk melihat hasilnya!" kata Gaby mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau bisa duduk di atas batu itu, atau berdiri di sana!" pria itu menjadi penata gaya untuk sesi foto tersebut.


"Gaby menuruti arahan Tuan Scott. Beberapa gaya foto telah dicobanya.


"Kurasa sudah cukup. Apa kau merasa lelah?" tanya Tuan Scott yang melihat ekspresi Gaby berubah.


"Ya, sedikit lelah. Aku tak tahu kenapa jadi lebih sering merasa lelah," keluh Gaby.


"Karena kau sedang hamil. Tubuhmu mengalami perubahan. Jadi bersabarlah. Akan lebih buruk dari hari ke hari, nanti." nasehat Tuan Scott.

__ADS_1


"Sebaiknya kuantar kau untuk beristirahat di kamar sebentar. Mari!" Pria itu membimbing tangan Gaby meninggalkan studio foto.


******


__ADS_2