
Saat cahaya terang memudar, pramugari yang bersembunyi di balik pohon, dapat melihat jelas. Bayi mungil Gaby masih melayang diantara percikan petir yang juga mulai reda. Matanya melebar tak percaya.
"Bayi ajaib apa itu? Dia bahkan tak menangis, terkena sambaran petir dahsyat seperti itu."
Stuart lebih dulu melompat dan menyambar tubuh Baby Keane yang mulai melayang turun ke tanah. "Aku mendapatkannya!" serunya memberi tahu yang lain.
Di dalam pelukan Stuart, Baby Keane mulai menangis. Hal itu menyadarkan Gaby bahwa putranya sudah kembali menjadi bayi biasa. Dipeluknya Bayi mungil itu dan menyusuinya. Dengan segera tiga pengawalnya berdiri melindungi.
Sementara Elliot dan Angus menggotong tubuh Duncan yang kepalanya retak akibat pukulan Watson.
"Apakah mobilmu masih utuh?" tanya Oliver pada Steve.
"Apa ayah mau lari dengan mobil?" tanya dokter itu ingin tahu.
"Duncan terluka parah. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit!" kata Oliver.
"Bagaimana dengan Watson?" tanya Steve ingin tahu.
"Tuan Muda mengalahkannya!" Oliver merasa bangga terhadap Bayi mungil itu.
"Benarkah?" Suara Steve terdengar gembira. "Biar kubawa mobil ke sana!" katanya cepat.
"Bagaimana sekarang?" tanya Elliot.
Mereka duduk kelelahan di sekitar Gaby. Oliver memberikan masing-masing mereka satu pil untuk pemulihan tenaga. Duncan juga mendapatkan satu. Mereka berharap pria itu bisa pulih kembali.
"Sekarang kita kembali ke rumah. Aku tidak berpikir untuk ke mana pun lagi saat ini." jawab Gaby.
"Tapi Nyonya, para tentara itu tak mungkin merasa puas jika tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang semua ini." Stuart mengingatkan.
"Memangnya ada apa?" tanya pramugari. Dia dan pramugari lain membagikan botol air mineral pada semua orang yang kelelahan.
__ADS_1
"Betul! Memangnya ada apa?" timpal teknisi pesawat itu dari belakang. Mereka mengangguk untuk mengucapkan terima kasih pada pengawal Gaby yang gagah berani. Kemudian pergi dan terus membagikan minuman kemasan.
Tak berapa lama. Mobil Steve datang. Duncan dibawa ke mobil. Elliot ikut menemani ke rumah sakit. Dia juga mengalami luka dalam yang cukup parah.
Para tentara menahan Jamie, Stuart dan Angus Mereka juga menanyai Gaby dan Oliver. Para tentara itu tak percaya begitu saja bahwa keenam orang itu hanyalah pengawal Gaby. Terutama karena cara bertarung mereka yang masih menggunakan pedang, bukan pistol seperti umumnya.
Gaby dan Oliver yang tiddak terlibat dalam pertarungan, Diantar polisi pulang ke rumah, setelah disebutkan di mana mereka semua tinggal.
Sementara Jamie dan dua temannya langsung dibawa para tentara. Dan Elliot serta Duncan menjadi tahanan kota karena harus segera menjalani perawatan.
Satu bulan berlalu.
Baby Keane sudah semakin besar. Mereka mengunjungi Edinburgh untuk menunjukkan makam Tuan Scott pada putranya.
Pengacara Thomas Menzies menyerahkan semua dokumen properti yang telah diwariskan Tuan Scott pada Gaby dan putranya.
Di ruang tamu, Lukisan Gaby digantung di dinding yang Gaby lupa sebelumnya diisi oleh benda apa. Gaby tak percaya saat pelayan setia Tuan Scott mengatakan ingin merubah interior rumah menjadi lebih segar, untuk Gaby.
Gaby tersenyum penuh kerinduan, saat melihat lukisan pria itu seperti nyata. Mengawasi dia dan putranya yang terus menunjuk.
"Aku akan membesarkan putra kita di tanah ini. Agar dia tidak melupakan akar budayanya sendiri. Agar dia siap mewarisi semua yang kau tinggalkan untuk menjaga nama besar para highlander!"
Jamie dan pengawal lain yang mendengar janjinya, segera ikut berlutut di belakang.
"Kami berjanji akan terus mengikuti anda dan Tuan Muda sebagai tuan kami, Nyonya!"
Gaby berbalik terkejut. Kemudian mengangguk mengerti. Aku tidak memaksa kalian untuk terus tinggal di sini. Kalian bisa melanjutkan bisnis dan urusan lain yang tertunda. Cukup Jamie dan Oliver yang menemaniku.
"Tapi Nyonya---" Elliot ingin membantah. Namun terhenti, karena Gaby mengangguk dan belum menuntaskan kalimatnya.
"Kalian tentu saja bebas untuk memilih tinggal di sini, atau tinggal di mana saja. Asalkan kita tetap saling memberi kabar satu sama lain!" pungkasnya.
__ADS_1
"Aku akan ke Glasgow, Nyonya. Anda bisa ke sana kapan-kapan." Stuart meminta ijin.
Gaby mengangguk dan tersenyum. Dia memberi pria itu ijin tinggal di Glasgow seperti sebelum dia bergabung.
"Aku akan pulang sebentar. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, aku akan kembali ke sini!" ujar Duncan.
Gaby kembali mengangguk dan melihat yang lainnya.
"Saya belum ada rencana, Nyonya. Saya akan tinggal di sini saja," kata Elliot. Gaby kembali mengangguk setuju.
Sore itu, setelah beristirahat, pelayan mengantar ke makam Tuan Scott yang letaknya tak jauh dari halaman belakang. Tanah berumput hijau yang subur dan terawat menutupi seluruh tanah. Berwarna kontrak dengan monumen makam yang dibuat dari batu pualam putih kekuningan.
Baby Keane menyentuh dinding monumen makam itu dengan tangannya, seolah menyapa. Gaby membiarkannya cukup lama, sebelum meletakkan bunga pada vas tembikar.
"Papa dimakamkan di sini," kata Gaby memberi tahu putranya.
"Pa-pa!" ujarnya terbata.
"Putra kita tak akan kekurangan cinta dan kasih sayang. Kau bisa tenang di sana," batin Gaby haru.
"Putramu sudah membunuh musuhmu, di usianya yang baru tiga hari. Aku gugup membayangkan kekuatannya nanti. Namun, karena itulah, aku tidak takut untuk kembali dan hidup di sini. Dia akan melindungiku dari bahaya apapun. Seperti kau selalu melindungiku, dulu."
Air mata Gaby menetes. Bayinya segera berbalik dan segara masuk dalam pelukannya, untuk menghibur Gaby. "Ma-ma," katanya dengan mimik lucu.
"Baik, mari kita kembali. Kau bisa mengunjungi papamu kapan saja, nanti." Senyum Gaby kembali mekar. Secerah harapannya akan hidup bahagia bersama putranya.
**********
Sudah End ya. Terima kasih banyak sudah membersamai author dari awal hingga akhir. Banyak cinta untuk semua pembaca di sini. ❤💙❤
Silakan baca novel terbaru, lanjutan PARA PENYINTAS ya.
__ADS_1