The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
71. Persiapan Jamie Mac Kay


__ADS_3

Jamie melangkah ke seberang tempat tidur single di situ.


"Maam," ujarnya pada Gaby. Pria itu memegang sebuah pintu di dinding. Dia membukanya dan terlihat beberapa pakaian hangat yang sudah sangat lama, tergantung di belakangnya. Bau apeknya menguar memenuhi kamar.


"Aku akan membereskan pakaianku nanti," ujar Gaby dengan enggan.


"No, Maam. Saya ingin anda melihat ke sini. Anda akan membutuhkannya di saat darurat." Jamie Mac Kay tampak serius.


Gaby bangkit dari duduknya dan mendekat. Itu adalah walking closet yang dibuat menempel pada dinding. Dilihatnya Jamie dengan maksud menanyakan apa maksudnya.


"Jika keadaan terdesak dan saya tak bisa melindungi, anda bisa masuk ke sini."


Jamie Mac Kay masuk ke dalam ruangan selebar satu setengah meter. Di depan pintu itu berdiri berjejer coat panjang dan baju hangat dari woll. Beberapa model tampak sangat tua. Yang lainnya, cukup tua saat dilihat sekilas. Gaby bersin ketika debu halus menyergap masuk ke hidungnya. Jamie berhenti membolak balik kain-kain itu.


"Toilet di sini cukup sederhana. Tapi masih dapat digunakan."


Jamie membuka keran dari tembaga yang ada di atas wadah air dari kayu. Air masih mengucur deras. Terlihat agak kotor dan berbau tak enak. Jamie mengawasi kucuran air, hingga air mengalir jernih. Lalu dia membersihkan wadah air dan membuang isinya. Mengulangi membersihkan wadah itu sekali lagi, sebelum menunjukkan bahwa tempat itu siap untuk digunakan. Gaby mengangguk mengerti.


"Sekarang saya tunjukkan hal terpenting." Jamie berjalan ke seberang toilet, melewati lagi deretan coat, mantel dan baju hangat. Gaby melihat rak yang diisi beberapa dus persegi dan silindris. Selanjutnya ada gantungan baju lainnya.


Jamie menyibak baju-baju flanel tua yang ada di sana. "Perhatikan, Maam." Jamie berkata dengan serius. Gaby mendekat. Sekarang dia tahu bahwa ada hal penting dari sekedar menunjukkan toilet dan lemari.


Jamie membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya ke bagian bawah lemari itu. Beberapa sepatu kulit dan boot digeser hingga lantai lemari di sudut itu terlihat jelas. Dia menarik susunan kayu nomor tiga dari ujung. Kepingan kayu itu membuka.


"Anda bisa menarik tuas pengungkit ini, Maam," tunjuk Jamie pada Gaby. Kemudian pria itu menyingkir dan memberi nyonya mudanya tempat untuk melakukan hal yang tadi dimintanya.

__ADS_1


Gaby melakukan apa yang diminta Jamie. Punggungnya dibungkukkan sedikit dan tangannya terulur untuk menarik tuas yang juga dari tembaga, di balik kepingan kayu yang terbuka.


Sebuah bunyi mekanik terdengar berat, menunjukkan bahwa mesinnya lama tak bekerja dan butuh diminyaki ulang. Seperti bunyi roda pedati tua yang dipaksa mengangkut hasil panen melebihi kapasitas. Menjerit dan terseok-seok untuk berputar pada porosnya.


Tapi pemikiran itu segera lenyap dari kepala Gaby tatkala dilihatnya dinding di belakang gantungan baju itu membuka perlahan. Matanya melihat dengan tak sabar pintu kayu tebal itu terbuka sepenuhnya.


"Apa kau mau bilang bahwa ini tempat perlindungan lainnya, Tuan Mac Kay?" tebak Gaby. "Namun tempat itu sangat gelap dan aku mencium bau tanah dari situ."


"No, Maam. Ini adalah jalan keluar darurat. Anda bisa keluar dan menjauh dari rumah, jika keadaan berbahaya. Jalan ini akan menuju danau. Sayangnya saya belum sempat menunjukkan danau itu pada anda. Akan tetapi, dari sana anda bisa mencari jalan lain untuk menyelamatkan diri atau bersembunyi." Jamie menjelaskan cara pelarian yang bisa dilakukan Gaby.


Gaby mengangguk. Kemudian dia mundur. Membiarkan Jamie menutup kembali jalan rahasia tersebut.


"Semoga aku tak perlu menempuh jalan gelap itu," gumam Gaby.


"Saya akan memberikan lampu senter pada anda sebagai penerangan darurat." Jamie menanggapi perkataan Gaby.


"Saya akan ke atas dan menyiapkan bahan makanan untuk anda, Maam. Anda bisa mulai beristirahat di sini, sekarang.


"Tak adakah jendela atau ventilasi yang bisa dibuka untuk sebentar? Udara di sini teramat pengap!" keluh Gaby.


"Udara pengap ini menjaga bau anda tak tercium oleh mereka. Satu-satunya ventilasi adalah ke dalam kamar saya di atas," timpal Jamie Mac Kay.


Pria itu berbalik dan pergi. Gaby duduk dengan wajah tak bersemangat. "Percuma aku tinggal di pedesaan. Tetap saja tak bisa menikmati udara segar serta pemandangan indah!" kesalnya.


Jamie bolak-balik beberapa kali untuk membawakan semua keperluan Gaby, agar wanita hamil itu dapat merasa nyaman di bawah sana. Dia bahkan membawakan kasur Gaby yang empuk, lampu meja, serta laptopnya untuk bekerja.

__ADS_1


Kemudian disambungkannya pula kamera pengawas di rumah dan sekitarnya ke laptop Gaby, agar wanita itu bisa mengawasi apa yang terjadi di luar.


"Saya akan meninggalkan anda sebentar, Maam. Saya harus menghilangkan jejak kehadiran anda di sekitar tempat ini." Jamie berpamitan.


"Kembalilah sebelum malam. Saya takut sendirian di sini!" Kali ini Gaby bersikap jujur tentang apa yang hatinya rasakan.


"Saya usahakan untuk bisa tidur di rumah malam ini, agar anda merasa tenang."


Setelah melihat Gaby mengangguk barulah Jamie Mac Kay pergi dan menutup pintu kamar basement tersebut.


Gaby tercenung. Dia tak menyangka hidupnya akan berubah drastis. Padahal dia baru saja bertekad akan menikmati kesendirian dan membesarkan putranya di desa terpencil itu. Namun, sekarang dia diharuskan untuk menyesuaikan diri lagi dengan keadaan yang makin tak menyenangkan.


"Apa mungkin putra kita bisa lahir dengan selamat? Belum apa-apa, kami sudah hidup dalam tekanan seperti ini. Bagaimana aku bisa memeriksakan diri ke dokter secara teratur?" Gaby bicara sendiri, seperti sedang mengadukan nasibnya pada Tuan Scott.


Diperhatikannya layar laptopnya yang bisa dipakai untuk memeriksa semua kamera pengawas yang sudah dipasang oleh Jamie Mac Kay. Dilihatnya Jamie kembali menaburkan salju tipis ke sekeliling rumah. Bahkan ke tempat-tempat yang tidak pernah diinjak oleh Gaby. Kemudian dibawanya domba peliharaan mereka berkeliling kediaman dan meninggalkan mereka di beberapa tempat selama beberapa saat.


Kemudian pria itu kembali ke rumah dan mulai membersihkan rumah dengan cairan pembersih. Dia juga menyemprot di beberapa tempat, terutama di kamar yang ditempati oleh Gaby.


Kemudian dipindahkannya semua barang-barang pribadinya ke kamar Gaby, termasuk kasurnya sendiri. Sementara kamarnya yang memiliki akses ke bawah, diisinya dengan barang-barang lama. Bahkan kasur di bawah yang tadi ditukarnya, dipasangnya di atas tempat tidurnya. Tempat tidur itu diposisikan menutupi bukaan tangga menuju ke basement.


Gaby dapat melihat bagaimana Jamie memindahkan kotak yang entah diambilnya dari mana, untuk memenuhi ruangan tersebut. Gaby juga melihat pria itu mengumpulkan abu dari perapian, lantas meniupkannya tipis-tipis untuk memberi kesan bahwa tempat itu adalah gudang yang lama tak dimasuki.


Gaby tersenyum. "Kau sangat cerdas, Tuan Mac Kay."


Kembali diperhatikannya pria itu membereskan dapur. Piring dan gelas yang tersedia di luar dibiarkannya hanya satu set. Yang dipakai oleh Gaby dan juga Martin sebelumnya, kembali disimpan pada rak yang tinggi.

__ADS_1


Jamie memperhatikan bahkan detail terkecil, saat matanya melihat hiasan bunga yang ditaruh Gaby di dalam gelas, di tengah meja makan. Bunga itu dilemparkannya ke dalam perapian yang segera dinyalakan. Jamie benar-benar menghapus kesan bahwa rumah itu pernah didatangi wanita.


******


__ADS_2