The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
99. Pingsannya Oliver


__ADS_3

"Rasanya tak mungkin kita kembali ke kota. Pihak keamanan pasti sudah menunggu untuk menangkap." Gaby berpikir keras.


"Anda dan Martin akan masuk ke dalam daftar pencarian keamanan, kalau terlihat bersama kami." Gaby menatap Dokter Steve dengan dahi sedikit mengerut.


"Maksud Nyonya?" desak Steve.


"Karena kita tak punya tempat yang memadai untuk mengurus Martin, sebaiknya Anda membawanya kembali ke rumah sakit!" ujar Gaby tegas.


"Tapi, bahkan untuk mencapai tempat ini, begitu sulit. Saya---"


"Biar kubantu!" potong Oliver.


"Ayah!" Steve ingin mendebat ayahnya, tapi batal oleh pandangan tajam Oliver.


"Aku akan mengabarkan padamu Jika kami sudah punya tempat berlindung!" Oliver meyakinkan putranya yang khawatir pada Gaby.


"Tempat berlindung ya ...." Steve menggantung kalimatnya dengan ragu.


"Apa kau tahu suatu tempat yang mungkin bisa kita singgahi untuk sementara?" tanya Stuart.


"Dalam perjalanan ke sini, aku bertemu dengan sebuah kediaman di tengah hutan. Tapi penghuninya sangat kasar dan keras kepala! Entah apakah di sana bisa jadi tempat perlindungan." Steve menggeleng tak yakin.


"Arah mana rumahnya?" tanya Gaby cepat.


"Ke sana, Nyonya." Steve menunjuk hutan dari mana tadi dia datang.


"Kita sudah melewatinya sangat jauh!" gumam Gaby.


"Jika Anda memang ingin ke sana, mungkin bisa saya bantu." Oliver menawarkan kemampuannya.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Martin? Apa di sana ada alat medis?" Duncan ikut bertanya.


"Jika kita memang mau ke sana, mobilku tak jauh dari rumah di hutan itu. Aku bisa membawa Martin dengan mobil, ke rumah sakit." Steve menjawab cepat.


"Baik, kita ke sana saja, jika memang Anda bisa melakukannya, Tuan Oliver." Gaby sudah membuat keputusan.


Oliver mengangguk yakin. "Kita harus saling berdekatan."


"Ayah yakin dengan ini? Bukankah terakhir kali ...." Steve tak melanjutkan bisikannya saat melihat anggukan teguh ayahnya. Dia hanya menghela napas berat.


"Ayo, kita harus saling bergandengan." Steve memberi instruksi. Tangannya menggenggam tangan Oliver erat dengan sedikit kekhawatiran.


Semua orang saling berpegangan. Oliver mengeluarkan perangkat sihirnya dan mulai membaca mantera. Beberapa saat kemudian seberkas cahaya keperakan melingkupi kelompok kecil itu membentuk kubah kecil yang makin lama makin transparan, lalu lenyap dari pandangan.

__ADS_1


Ingatan Steve menuntun Oliver menuju arah yang tepat. Kubah keperakan itu muncul di halaman sebuah rumah yang sangat tua dan tak terurus.


Saat cahaya yang melingkupi mereka lenyap, Oliver langsung jatuh tak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan darah.


"Ayah!" panggil Steve khawatir.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Gaby ikutan khawatir juga.


"Ayah selalu begini jika menggunakan sihir pemindah seperti ini," jelas Steve. Diangkatnya tubuh Oliver dan dibawa masuk ke rumah tua di hutan itu.


"Tolong!" teriaknya memanggil pak tua penghuni rumah yang menahan dia sebelumnya.


Tak ada sahutan. Tapi dilihatnya lantai rumah itu sudah bersih dari kekacauan yang ditinggalkannya tadi. Jadi Oliver dibaringkan di lantai.


Di belakang, muncul Stuart dan Duncan. Mereka menggotong tubuh Martin dan dibaringkan di samping Oliver. Lemudian menyusul tiga highlander lainnya dibawa masuk.


"Bukankah katamu, ada penghuninya di sini." Gaby melihat ke sekeliling, tapi suasananya sangat sunyi. Seakan tak ada orang lain lagi di situ, selain mereka.


"Aku tidak tahu, Nyonya. Tadi dia juga muncul tiba-tiba dan membuatku pingsan, lalu dibawa ke sini," kata Steve.


Baby Keane menangis. Gaby mencari tempat untuk duduk agar bisa menyusui bayinya. Akhirnya dilihatnya bangku kayu kecil dekat perapian. Dia menuju ke sana sambil membujuk Baby Keane.


"Pesawat kita sudah terbang." gumam Duncan yang duduk di lantai.


"Ini sudah siang. Apa kalian tidak membawa bekal makanan?" tanya Steve. Yang dia tahu, Gaby harus makan agar bisa terus menyusui bayinya.


"Semua bekal tertinggal di mobil!" Stuart menunduk.


"Tapi Nyonya harus makan!" Steve berbisik penuh penekanan. Barulah Stuart dan Duncan menyadari hal itu.


"Biar kuperiksa rumah ini." Duncan berinisiatif. Dia berdiri dan meninggalkan Steve yang sedang memeriksa keadaan Jamie.


Sementara Stuart pergi ke luar rumah tanpa mengatakan apapun.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Gaby.


"Meskipun mereka terlihat parah, pada dasarnya, nyawa mereka tidak terancam, Nyonya. Mereka hanya butuh istirahat dan memulihkan energi saja untuk pulih." jawab Steve.


"Bagaimana dengan ayahmu? Kenapa dia seperti itu?" Gaby ingin tahu apa yang menimpa Oliver.


Steve menghela napas. Dilihatnya Oliver yang sedang pingsan di lantai. "Sebenarnya ada syarat dari sihir itu yang tidak dipenuhi ayahku, Nyonya. Itu sebabnya dia terluka, Karena harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya."


"Apakah itu membahayakan nyawanya?" Gaby jadi menyesal membuat keputusan tadi. Ada rasa bersalah di hatinya, menyebabkan Oliver tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Saya akan buatkan obatnya. Ada beberapa bahan yang saya simpan di flat. Semoga itu bisa menyembuhkan luka dalamnya."


"Lakukan seperti itu saja. Kau sebaiknya kembali ke kota dan bawa Martin. Kami menunggu di sini." ujar Gaby.


"Tapi orang tua pemilik tempat ini, sangat tidak sopan, Nyonya. Anda ...." Steve tidak merasa yakin dengan keputusan Gaby.


"Ada Tuan Suart dan Duncan yang menjagaku. Kalau hanya menghadapi orang biasa, tak akan sulit bagi mereka berdua, bukan." Gaby memaksakan senyum pada Steve, untuk menghilangkan rasa khawatir pria itu.


"Baiklah. Saya ikuti keputusan Anda, Nyonya."


Duncan datang dengan sesuatu di tangannya. "Saya menemukan biskuit Cracker, Nyonya. Mungkin ini bisa untuk mengganjal lapar." Duncan menyodorkan bungkusan biskuit pada Gaby.


"Bantu aku memindahkan Martin ke mobil. Setelah membawanya ke rumah sakit, Aku akan membeli beberapa makanan dan membawa obat ayah kemari." Steve bertindak cepat. Hanya dia yang masih mungkin pergi ke kota dan mendapatkan berbagai keperluan tim itu.


Duncan menoleh pada Gaby, untuk meminta pendapat. Gaby mengangguk menyetujui.


"Ayo!"


Keduanya lalu mengangkat tubuh Martin perlahan dan membawanya keluar. Gaby menghela napas. Ada rasa nyeri di hatinya, melihat Martin tidak juga sadar begitu lama. Dia seharusnya segera mendapatkan perawatan dokter di rumah sakit.


"Siapa kalian! Beraninya menerobos masuk ke properti orang tanpa ijin!"


Gaby yang barusan terpejam kelelahan, jadi sangat terkejut. Dia tak tahu pria brewok di depannya muncul dari mana.


"Kami sedang terluka. Dan hanya ingin istirahat. Kemudian melihat rumah ini. Tadi dipanggil-panggil, tapi tak ada sahutan. Jadi kami masuk saja," jawab Gaby.


"Kami? Ada berapa orang kalian?" tanya pria itu penuh selidik.


Gaby yang khawatir jika orang di depannya jahat, maka menggeleng. Dia menunjuk empat orang yang terbaring di lantai.


"Kau yakin hanya kalian saja?" orang tua brewok itu tak mudah percaya.


"Tolong, kami hanya menumpang istirahat sebentar. Setelah pulih dari kelelahan, kami akan pergi dan tidak akan mengganggu Anda lagi," janji Gaby.


Pra brewok itu memperhatikan kondisi para pria yang terbaring. Jelas kelihatan luka-luka dan bekas darah di pakaian mereka yang compang\=camping.


"Apa kalian buronan polisi? Aku mendengar berita radio bahwa ada monster alien yang mengamuk dan membunuh sepuluh orang tentara di hutan sana!" kata pria itu tajam.


"Membunuh? Kami tidak membunuh siapapun!" bantah Gaby.


"Kau kira aku akan percaya, setelah melihat keadaan mereka? Aku akan lapor pada polisi!"


"Jangan!" teriak Gaby.

__ADS_1


********


__ADS_2