
Dengan perasaan dongkol dia menyusuri jalan kembali ke flat Emily. "Semua omong kosong! Aku membuang-buang waktu percuma!" dengusnya kasar sambil berjalan.
"Apa kau tak menyukai penjelasannya?" Seseorang muncul tiba-tiba dan menjejeri langkah Gaby.
Wanita itu langsung menoleh dan kembali terkejut. Pria itu lagi, yang tadi subuh menguntit dan menegur di depan toko buku. Gaby berhenti jalan. Menatap pria itu tajam.
"Jangan menguntitku lagi. Atau aku akan melaporkanmu pada polisi!" ancamnya berani.
Terdengar derai tawa darinya. Dilihatnya Gaby dengan pandangan lucu dan meremehkan. "Apakah seperti itu yang diajarkan Lord Sutherland?" tanyanya dengan mimik lucu.
"Kau mengenalnya?" tanya Gaby tak percaya. Mungkin saja pria itu melihat nama toko buku itu. Gaby ingat tadi Tuan Scott bilang pria di depannya bukanlah orang dari kota ini.
"Kami mungkin tak saling mengenal langsung. Tapi setiap kami akan segera mengetahui siapa yang menjadi pelindung suatu kota, jika kami datang ke sana. Dan dia adalah salah satu yang tertua diantara kami," jelasnya tanpa diminta.
"Kalau begitu kau tahu bahwa kau tak bisa macam-macam di sini!" Gaby kembali memperingatkan dan meneruskan langkahnya.
"Apa kau pikir, sekedar gelang itu bisa menjauhkan semua guardian yang akan memburumu?" tanya orang itu. Dia kembali melangkah di sebelah Gaby. Tapi Gaby mengabaikannya, tak peduli.
"Aku datang ke sini setelah mendapat kabar burung bahwa seorang jelmaan dewi kesuburan telah datang di Edinburgh!"
"Dan kau mempercayainya? Dungu!" ejek Gaby pedas. Diharapnya semua bantahan akan mengusir orang itu pergi.
"Hahahaa .... Kurasa Lord Sutherland juga kesulitan menghadapimu! Tak ku duga. Yeahh ... tentu saja tak akan seru jika semuanya jadi terlalu mudah, bukan?" senyumnya mengembang lebar.
Gaby masih diam seribu bahasa. Dia mengawasi jalan untuk menyeberang. Pria itu membantunya menyetop kendaraan agar dia bisa menyeberang dengan aman.
"Apa kau tahu kalau Watson sudah menantang Lord Sutherland? Itu tantangan hidup dan mati! Dan demi dirimu, pria tua menyanggupinya!" ujarnya.
"Apa katamu?" Gaby langsung berhenti di tengah jalan. Pria itu menarik tangan Gaby untuk mengikutinya ke seberang.
__ADS_1
"Dia tidak memberi tahumu?" tanyanya bodoh. "Aaahh tentu saja. Demi segala macam kehormatan, dia pasti tidak akan mengganggumu, sebab melihat cincin ini, bukan?" Diangkatnya tangan Gaby yang mengenakan cincin pernikahan.
"Dia memang pria tua yang kolot. Apa dia pikir Watson dan guardian lain akan peduli dengan segala macam cincin seperti ini?" pria itu tertawa mengejek.
"Katakan padaku tentang tantangan hidup dan mati yang kau maksud," pinta Gaby. matanya sangat ingin tahu.
"Kulihat kau tertarik tentang itu. Tapi bukan tentang keselamatan Lord Sutherland. Apakah kau tidak menyukainya?" Mata pria itu menilai Gaby.
"Apa urusannya denganmu?" ketus Gaby. Dia melanjutkan langkahnya lagi.
"Tentu saja ada. Jika kau tak tertarik padanya, maka aku punya kesempatan lebih besar mendekatimu," ujarnya percaya diri.
"Huh! Otak kalian hanya diisi dengan keinginan punya anak!" Gaby masih berkata pedas.
"Loh ... memangnya apa lagi yang harus kami pikirkan? Negara sangat damai, kami tak perlu berangkat perang. Dan pertarungan antar klan sudah lama hilang. Tugas sebagai pelindung sebenarnya sudah banyak berkurang. Jadi memang hal menantang terbaru adalah membuktikan ramalan bahwa seorang titisan dewi kesuburan, benar-benar bisa memberikan kami seorang keturunan!" ucapnya jujur.
"Jadi kalian tidak peduli meskipun wanita terpilih itu tidak mencintai kalian?" tanya Gaby heran.
Gaby mencerna setiap kata pria itu sambil melangkah. "Apa para istri tidak akan berumur panjang?" gumamnya.
"Tidak! Mereka hanyalah manusia biasa yang akan pergi lebih dulu dari kami." suara pria itu tidak seceria tadi.
"Kau juga pernah kehilangan istri?" tanya Gaby.
"Yaahh ... dua ratus tahun yang lalu. dia tewas dalam wabah kolera yang melanda Eropa," jawabnya.
Gaby menoleh ke samping. Dilihatnya pria itu tidak terlalu terganggu setelah mengingat kembali istrinya. Mungkin dia sudah melupakannya. Gaby tak peduli. Dia meneruskan langkahnya. Rumah Emily tak jauh lagi.
"Sebentar, kurasa sejak tadi aku lupa memperkenalkan diriku padamu. "Aku Bruce MacKenzie," ujarnya memperkenalkan diri. Tangannya diletakkan di dada lalu membungkukkan badannya sedikit.
__ADS_1
Gaby menghentikan langkahnya melihat pria itu memperkenalkan diri dengan sopan. Yah, sepertinya adat kesopanan lama masih mereka bawa dalam beberapa kesempatan. Wanita muda itu mengangguk. "Aku Gaby. Tapi kurasa kalian salah telah mengira diriku sebagai orang lain. Maaf jika mengecewakan."
Gaby melanjutkan langkahnya dan meninggalkan pria itu begitu saja. Dia kembali menyeberang jalan dan masuk ke toko Emily.
Di seberang jalan, pria itu masih mengawasi toko dan juga sekitarnya. Entah apa yang dipikirkannya. Gaby hanya mengangkat bahu saat Emily menanyakannya tentang pria itu.
Gaby menikmati makan siang di toko Emily sebelum kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaan.
"Apa maksud Bruce tentang pertarungan hidup dan mati? Apakah demi aku, dia bersedia bertarung dengan Watson? Bagaimana jika dia kalah? Apakah Watson akan menggantikannya menjadi pelindung kota yang baru? Tapi melihat sikap Bruce, kurasa Watson tidaklah sebaik Tuan Scott. Apa yang akan terjadi pada kota ini di bawah perlindungan guardian sepertinya?"
Ada begitu banyak pertanyaan di dalam benak Gaby. Tapi mau bertanya pada siapa? Tadi dia telah mencoba bertanya ke sana. Yang didapatnya hanya keresahan.
Gaby memikirkan beberapa perkataan Bruce. Bahwa ada lebih banyak lagi para guardian yang akan datang mencarinya. Pasti tak semua sebaik Tuan Scott, Stuart ataupun Bruce yang masih bersikap sopan. Besar kemungkinan yang seperti Watson juga ada dan tak segan menculik ataupun memaksanya menerima takdir sebagai wanita pilihan.
"Masih banyak pertanyaan, tapi aku cepat sekali pulang dari sana," sesalnya.
Diambilnya kartu nama yang tadi diberikan Tuan Scott. Ada nomor telepon pria itu di situ. "Apakah aku harus meneleponnya? Entah apakah besok akan datang pria lain lagi yang mengawasiku tidur, atau mungkin memanjat jendelaku!" batinnya.
"Memanjat jendela?" Gaby terbelalak. Dia tiba-tiba ingat malam di Glasgow. Dia yakin sekali telah mengunci jendela. Tapi kemudian jendela itu terbuka dan diayun-ayunkan angin.
"Apakah saat itu ada orang yang memanjat jendelaku?" pikirnya ketakutan. Sekarang Gaby benar-benar ketakutan. Bruce benar. Perumpamaan feromon yang dikatakan Tuan Scott mungkin juga benar.
Dia tak mengenal siapapun di Glasgow. Artinya hanya ada satu kemungkinan, bahwa aromanya mengundang para guardian yang ada di sekitar untuk mendekat. "Lalu apa yang membuat orang itu tidak melakukan apapun padaku?" gumam Gaby.
Diliriknya gelang pemberian Tuan Scott. Stuart juga mengingatkan agar gelang itu jangan sampai lepas. Dan Emily memaksanya untuk memakai dengan alasan sebagai perlindungan.
"Benarkah gelang ini menjauhkan para guardian yang mencoba mendekat?" pikir Gaby.
"Haruskah kupastikan hal itu padanya?" Gaby mondar-mandir di kamarnya. Terlalu banyak informasi ajaib yang diterimanya hari ini. Dia harus mencernanya dengan kepala dingin.
__ADS_1
*******