
Gaby asik menikmati makan siangnya sambil membalas pesan dari Farah. Wanita itu menanyakan kabar dan tentu saja perkembangan tulisannya. Hingga seseorang duduk dengan lancang di kursi seberang mejanya, kemudian memesan makanan juga.
Gaby mengangkat wajahnya dari tablet yang sedang diseriusinya sejak tadi. "Tuan Scott?" matanya menyiratkan tanya, tapi kemudian dia tersenyum sopan.
"Bukankah kursi ini memang disiapkan untukku?" klaimnya percaya diri.
"Aku tak tahu dari mana kau menyimpulkan hal itu. Kebetulan saja tempat itu kosong karena aku memang tak terlalu suka ditemani!" balas Gaby.
"Baiklah, aku tak akan mengganggumu. Tapi kau pasti tahu konsekwensinya jika aku pindah duduk dari sini," timpal Tuan Scott lagi. Matanya mengerling ke samping. Gaby mengikuti arah kerlingan itu dan melihat pria yang tadi ingin duduk di depannya, sedang mengawasi mereka berdua.
Gaby menghembuskan napas dan mengerucutkan mulutnya sebal. Tapi kepalanya mengangguk mengiyakan. Tuan Scott tidak menutupi senyum kemenangan yang terpampang di wajahnya.
Gaby mendengus sebal dan kembali menekuri tablet untuk membalas pesan Farah.
"Kau sedang sibuk?" tanya Tuan Scott sambil lalu. Waitres datang dan menyajikan pesanannya.
Gaby melirik pesanan pria itu. Hanya sepotong waffle disiram sirup maple dan secangkir kopi encer. Menurut Gaby, pasti lebih enak kopi di tempat Emily dari pada itu.
"Aku memang terlihat santai. Tapi aku bisa bekerja dari mana saja." Wanita itu tak peduli apakah kata-katanya dimengerti Tuan Scott atau tidak.
Pria itu hanya menyunggingkan senyum di wajah tampannya dan membuat Gaby sedikit mematung memandang bibirnya.
Nada panggil ponsel menyelamatkannya dari rasa kikuk karena tertangkap basah telah menatap pria itu lebih dari dua menit!
Sebuah nomor yang tak dikenal melakukan panggilan. Dan itu nomor lokal. Gaby merasa dia tak memberikan nomor ponselnya pada siapa pun kecuali Emily. Tapi itu jelas bukan nomor Emily.
"Kau tidak akan mengangkatnya?" Alis Tuan Scott mencuat keheranan melihat Gaby hanya memandangi ponsel tanpa melakukan apapun.
"Aku tak tahu nomor siapa ini. Ini nomor lokal!" Gaby menunjukkan nomor itu pada Tuan Scott.
"Apa kau pernah memberikan nomor ponselmu pada seseorang?" tanya Tuan Scott lagi. Gaby langsung menggeleng bingung dan takut.
"Maaf." Tuan Scott meraih ponsel itu dan menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya, dari mana?" katanya. terdengar suara samar dari ujung telepon. Gaby ingin tahu, tapi tak berhasil mendengar percakapan itu.
"Bukan. Nyonya Gaby sedang sibuk di depanku. Katakan ada apa!" ujarnya lagi. Kembali terdengar suara dari Seberang telepon.
"Aku Scott Sutherland!" Pria itu menjawab lagi pertanyaan dari seberang sana.
Tuan Scott kembali mendengarkan penjelasan dari lawan bicaranya. "Sebentar." Kemudian ponsel itu diserahkan pada Gaby.
"Ini panggilan dari kafe yang di ujung jalan. Dia bicara tentang undian yang kau ikuti!" jelasnya.
Mata Gaby membulat. Dia hampir melupakan hal itu. "Oh tentu saja. Aku hampir melupakannya."
__ADS_1
Gaby menerima panggilan telepon tersebut dan berbicara dengan orang di seberang telepon.
"Benarkah?" Wajahnya yang berseri-seri menggambarkan bahwa dia sedang senang. Tuan Scott mengiris waffle dan menikmatinya pelan-pelan.
"Baiklah. Terima kasih informasinya!" ujar Gaby sebelum menutup telepon.
"Kau terlihat seperti seseorang yang sedang menang undian," komentar Tuan Scott.
"Ya. Aku mendapatkan undian ketiga!" ujar Gaby senang.
"Apa hadiah yang kau dapatkan? Sebuah souvenir?" tanya Tuan Scott tersenyum.
"Bukan! Tapi liburan ke Inverness dua hari satu malam!" seru Gaby gembira.
Wajah Tuan Scott yang semula tersenyum, kini terlihat datar. "Itu undian yang besar dan diselenggarakan di musim gugur yang tak menentu. Kau yakin ingin pergi?" tanya Tuan Scott. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang coba disembunyikan.
"Apakah kota itu berbahaya?" tanya Gaby.
"Tidak. Ini bukan tentang kotanya. Tapi tentang dirimu! Kau yakin siap menghadapi akibat dari daya tarikmu? Aku tidak tahu ada berapa banyak guardian yang sedang ada di sana!" ujarnya.
Pernyataan itu membuat Gaby diam. Apa yang dikatakan Tuan Scott memang benar. Di sini saja sudah ada beberapa orang yang mendekat tanpa ragu. Tapi mereka masih menghormati Tuan Scott. Bagaimana jika jauh dan bukan wilayahnya?
"Bukankah aku punya gelang ini!" Gaby akhirnya teringat dengan gelangnya.
Gaby mengangguk senang. Dia menganggap pria itu mengijinkan karena percaya pada kekuatan gelangnya.
"Hari apa kegiatannya?" tanya Tuan Scott.
"Dua hari lagi!" jawab Gaby riang. Dia sudah membayangkan bisa melihat kota cantik itu dalam waktu dekat.
"Apakah kau masih belum menanyakan pada keluargamu tentang asal-usulmu?" tanya Tuan Scot sambil mengangkat cangkir ke mulutnya.
"Kata Mommy ...."
Gaby tak dapat meneruskan kata-katanya. Ingatannya kembali pada percakapan teleponnya dengan mommy. Gaby ingat dengan jelas bahwa mommy tidak pernah mengatakan bahwa dia bukan orang Scotland. Mommy berkelit dan menjawab berputar.
"Apakah aku memang orang Scottish?" Dia baru menyadari hal itu sekarang. Mommy tidak menyangkal, juga tidak menyetujui. Mommy mengatakan tentang hal lain.
"Bodohnya aku!" lirihnya sambil menatap Tuan Scott dengan tatapan orang yang baru tersadar dari pingsan.
Tuan Scott membaca ekspresinya dan sepertinya dia sudah mendapatkan kesimpulan, karena kemudian dia tersenyum misterius dan kembali menikmati kopi encernya.
"Bukankah undian itu berhadiah untuk pasangan?" tanya Tuan Scott mengalihkan pembicaraan.
"Ya," jawab Gaby tanpa sadar.
__ADS_1
"Bagus! aku akan menemanimu kalau begitu!" putusnya.
Gaby hanya mengangguk-angguk. Dia masih belum selesai memikirkan tentang kata-kata mommy.
Kemudian sebuah panggilan telepon masuk. Gaby tersadar dari lamunannya dan melihat ponselnya. Panggilan dari Martin.
"Kurasa tugasku hari ini sudah selesai."
Tuan Scott berdiri dari duduknya dan melangkah keluar ruangan. Gaby menoleh ke tempat pria asing sebelumnya duduk. Benar, orang itu sudah tak ada lagi di sana. Entah kapan orang itu menghilang.
Gaby menghela napas dan mengembuskannya perlahan sebelum mengangkat telepon dari Martin.
"Ya, Sayang," sahutnya cepat sambil menerima panggilan video dari suaminya.
"Lama sekali baru diangkat?" tanya Martin.
"Aku sedang memeriksa tablet," alasan Gaby.
"Kau sedang berada di mana?" tanya Martin lagi.
"Restoran cepat saji. Kukira sudah cukup waktuku di sini mengamati sekitar. Aku harus kembali dan melanjutkan tulisanku!" Kata Gaby.
Dengan cepat beberapa gadget dimasukkan ke dalam tas, juga makanan yang dipesannya. Wanita muda itu segera berdiri, melangkah keluar restoran sambil terus menelepon.
"Bagaimana dengan rapatmu terakhir kali? Kau belum mengatakan hasilnya padaku," tuntut Gaby.
"Yah, kau tahu ... penelitian bukanlah sesuatu hal yang mudah diprediksi hasilnya. Kadang---"
"Stop! Apa kau mau bilang bahwa kau tak bisa mengambil cuti dalam waktu dekat dan menyusul ke sini?" tanya Gaby dengan nada meninggi.
"Sayang, aku tahu kau kecewa. Kau tidak pergi ke manapun karena menunggu bisa pergi bersamaku. Tapi hal ini di luar kuasaku. Terjadi kesalahan dan kami harus mengulang penelitiannya dari awal lagi! Maafkan aku," bujuk Martin.
Gaby bergeming. Dia tak terlalu mudah menerima pembatalan janji. Wajahnya dingin dan kaku. Dia bahkan nyaris tak memahami apa saja yang diucapkan Martin di telepon setelah itu. Kakinya terus melangkah menuju pulang secara otomatis.
"Sayang ... sayang ...." Martin terus memanggil-manggil. Tapi Gaby tak menggubris.
"Pergilah ke tempat-tempat yang kau sukai di sana. Lakukan sebelum waktu liburanmu habis. Aku akan menemanimu lewat video call," bujuk Martin.
'Hai, Gaby," Tuan Thompson menyapanya saat mereka berpapasan.
Tapi wanita itu tak menyadarinya. Dia hanya berjalan dengan pandangan kosong. Membuat Tuan Thompson keheranan dan khawatir. Pria tua itu berbalik dan mengawasi Gaby yang terus berjalan, kemudian berbelok ke arah rumah Emily.
"Oh, syukurlah dia masih ingat di mana rumah Emily," gumam pria itu lega.
************
__ADS_1