The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
36. Tersesat di Hutan


__ADS_3

Dua orang itu mendaki dengan hati-hati. Tak ingin kecerobohan yang sama terulang lagi.


"Tuan Scott, bagaimana dengan Tuan Duncan? Apa mungkin dia mencari kita?" tanya Gaby.


"Entahlah. Tapi dia tahu bahwa aku sangat mengenal tanah ini. Dia tak akan terlalu khawatir," jawab Tuan Scott datar.


Pria itu mendaki di tanah yang menurutnya cukup aman dan mudah bagi Gaby. Tanah dan rerumputan yang basah, cenderung menjadi licin. Terutama di bebatuan yang berlumut. Jika tidak hati-hati, mereka bisa saja tergelincir lagi.


"Jadi kau mengenal tempat ini?" tanya Gaby. Dia sedikit lega sekarang. Mereka pasti bisa menemukan jalan keluar.


"Ya dan tidak," jawab Tuan Scott.


"Apa maksudnya itu?" tanya Gaby tak mengerti.


"Ya, aku pernah ke danau ini dan mengenal tempat yang kemarin kita datangi. Tapi sejujurnya, kita terhanyut begitu jauh. Dan aku tak pernah menginjakkan kaki ke bagian hutan yang ini," jawab Tuan Scott jujur.


'Ya Tuhan ...," lirih Gaby.


"Lalu, mau ke mana sebenarnya kita ini? Apa kau tahu arah yang kau tuju?" tanya Gaby sinis.


"Danau ini dikelilingi jalan. Seharusnya tidak akan jauh dari tepian. Tapi, melihat hutan ini masih begitu luas, aku jadi meragukan ingatanku sendiri," ujar Tuan Scott.


"Apa maksudmu?" tanya Gaby. sambil terus mendaki.


"Aku rasanya belum pernah ke sini. Atau dapat kukatakan bahwa aku tidak mengenal bagian danau ini." Pria itu berhenti di tempat tertinggi yang mereka pijak. Kepalanya melihat berkeliling. Keningnya mengerut. Matanya tertuju ke satu titik.


Gaby berhasil menyusulnya. "Apa kau menemukan petunjuk?" tanya Gaby tak sabar. Dia sudah lelah. Dan di depan sana masihlah hutan yang lembab, licin dan berlumut.


"Coba kau lihat kastil di seberang danau itu!" tunjuk Tuan Scott.


Gaby membalikkan badan. Melihat jauh ke seberang kastil yang sehari sebelumnya mereka kunjungi.


"Tunggu! Itu tidak mirip kastil yang kemarin!" kata Gaby tak percaya.


Tuan Scott menoleh padanya lalu bertanya. "Apanya yang berbeda?" tanyanya.


"Kemarin kastil yang kita kunjungi sudah hancur. Tapi yang diseberang itu, kita bahkan bisa melihat asap keluar dari cerobong di atapnya!" jelas Gaby.

__ADS_1


"Berhati hatilah dan jangan jauh-jauh dariku," pesan Tuan Scott serius.


"Ada apa?" tanya Gaby. "Apakah ada binatang buas di sini?" tanya Gaby.


"Lebih dari itu! Kurasa kita berada di waktu yang berbeda. Itu masih kastil yang sama. Tapi di masa dia masih berdiri tegak dengan angkuh! Aku tak tahu tahun berapa ini. Tapi satu hal yang jelas, mereka bukanlah orang yang bersahabat dengan klan-ku," jawab Tuan Scott.


Gaby merasa seperti mendengar kisah dongeng. Telinganya terhenti di kata-kata Tuan Scott yang mengatakan bahwa itu kastil yang sama namun di waktu yang berbeda.


"Apakah tanah ini punya keajaiban?" tanya Gaby.


"Scotland adalah tanah yang penuh rahasia. Misterius dan magis. Kau mungkin tak percaya bahwa di jaman dulu, kami sangat percaya pada sihir. Kekuatan sihir dan kemampuan penyembuhan oleh druids," jelas Tuan Scott.


"Kalian mempercayai sihir? Magic? Apa tidak ada pemuka agama yang membimbing di sini?" tanyanya lagi.


"Oh, ada. pemuka agama adalah posisi tertinggi dalam tatanan masyarakat jaman itu. Tentu saja, itu adalah kisah sebelum masuknya orang-orang Roma ke sini."


Tuan Scott turun dari bukit kecil yang tadi digunakannya untuk memeriksa seluruh area danau. Gaby mengikutinya turun. "Lalu, ke mana lagi kita?" tanyanya bingung.


Tuan Scott berhenti. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Pria itu mengota-atik benda itu sebelum menunjukkannya pada Gaby. Pedang!


Mata Gaby melotot melihatnya. "Kau ... kau membawa itu saat wisata?" tanya Gaby tak percaya.


"Oh ...." Gaby bisa mengerti alasan itu. Dilihatnya lagi pria itu mengambil sesuatu yang lain. Pisau belati besar berukir antik.


"Apa itu juga benda dari masa lalunya?" pikir Gaby. Dia ingin tahu, tapi merasa tidaklah sopan untuk bertanya tentang hal itu.


Tuan Scott menyelipkan pisau pada pinggangnya yang ternyata punya tempat untuk menyangkutkan pisau.


"Luar biasa," gumam Gaby.


"Apanya yang luar biasa? Yang tadi malam atau pedang dan pisau ini?" Tuan Scott bertanya dengan senyuman tipis di bibirnya.


Gaby membuang muka. "Kita melakukannya tanpa sadar. Itu tak berarti apa-apa," jawab Gaby pedas.


Tuan Scott tersenyum tipis dan kemudian memasang tali pada sarung pedang kemudian menyandangnya di punggung.


"Kita harus pergi dari sini!" ajak Tuan Scott.

__ADS_1


Diulurkannya tangan pada Gaby, untuk melompati parit kecil di sana. Gaby menolak dan memilih melompat sendiri dengan berhati-hati. Dia harus meminimalkan sentuhan dengan pria itu.


Seorang pria dengan mantel woll yang lembab, berjalan menyusuri hutan lembab dan basah. Dan tentu saja sangat dingin. Saat itulah Gaby menyadari kebodohannya meninggalkan mantelnya di ceruk batu tepi sungai. Dia kedinginan sekarang. Padahal hari masih cukup terang.


Menurutnya sekarang tak mungkin jauh dari jam dua belas. Mungkin sekitar jam sebelas sampai jam dua siang. Dan perutnya mulai terasa merintih.


"Tuan Scott, apa kau tidak lapar?" tanya Gaby. Sebenarnya dia yang merasa lapar. Padahal dia telah menghabiskan jatah roti Tuan Scott. Sementara pria itu belum makan apapun sejak malam.


Tuan Scott berhenti dan melihat Gaby dengan seksama. "Kau sudah lapar?" tanyanya lembut.


Gaby mengeluh dalam hati mendapatkan perlakuan selembut itu. Tapi kepalanya mengangguk dengan otomatis. Dan dia menyadari matanya pasti terlihat menyedihkan di mata pria itu. "Memalukan!" rutuknya dalam hati sambil menunduk malu.


Tuan Scott melihat ke sekeliling. Bukanlah hal mudah untuk menemukan hewan buruan di tanah yang dikuasai klan lain. Dia bisa mati jika ketauan, karena akan dianggap merampok hewan buruan di tanah orang.


"Tahanlah sebentar," bujuk Tuan Scott. Sekarang tangan kanan pria itu menggenggam pisau belati yang telah dilepaskan dari pinggangnya. Matanya memeriksa sekitar. Mencari tahu jika saja ada kelinci ataupun burung liar yang sedang sial berada di hutan dan bertemu mereka.


Bahkan setelah hampir satu kilometer dari tempat semula, mereka masih tidak menemukan satupun hewan buruan. Gaby sudah kelelahan. Dia hanya meminum air dari anak-anak sungai yang mereka temui di sepanjang perjalanan.


"Semoga ini keberuntungan kita," ujar Tuan Scott.


Pria itu memanjat sebatang pohon yang cukup tinggi. Gaby melihat ke arah dahan pohon. Ada satu sarang burung di atas sana.


"Semoga ada telur burung di situ," harapnya lirih.


Senyum Tuan Scott yang cerah di atas sana, melegakan hati Gaby. Dia ikut tersenyum senang melihatnya. "Apakah ada isinya?" tanya Gaby tak sabar.


"Ya. Sebentar," sahut Tuan Scott. Setelah mengantongi hasil rampokan di sarang burung, Tuan Scott turun kembali. "Kau ingin telur matang atau telur mentah?" tanya Tuan Scott.


"Bagaimana cara membuatnya matang? Kita Tak punya api untuk membuat tungku!" sanggah Gaby.


"Betul. Berarti hanya bisa dimakan mentah." Tuan Scott tersenyum simpul, kemudian mengeluarkan tiga butir telur berbintik kebiruan ke arah Gaby.


"Cuma ada tiga?" Gaby sedikit kecewa. telur itu tidaklah cukup besar untuk mengenyangkan mereka berdua.


"Ini kuambil untukmu," Tuan Scott memberikan tiga butir telur itu ke tangan Gaby. "Makanlah ... sebelum kau pingsan kelaparan dan kedinginan," bujuknya.


Gaby kembali melihat mata lembut itu mengirimkan binar cinta. "Ya Tuhan ...," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


********


__ADS_2