
Di bandara, Steve yang sedang bersembunyi bersama para pengunjung lain, duduk dengan posisi bersila. Dia memejamkan mata dan mengurai ingatan lamanya.
Steve tak pernah belajar untuk melindungi seseorang secara langsung. Tapi dia masih ingat cara untuk melindungi ayahnya yang baru pulih. Dia hanya perlu menambahkan power pada ayahnya yang pasti sedang menjaga Gaby dan seisi pesawat.
Mulut Dokter Steve menggumamkan mantera yang terdengar seperti lagu misterius oleh sepasang suami istri yang bersembunyi di sebelahnya. Mereka saling pandang dengan heran, sebelum menjauh, mencari tempat sembunyi yang lain.
Oliver dapat merasakan bahwa putranya menyatukan batin dengannya, agar mereka bisa melindungi Gaby dan seisi pesawat, dari ancaman Watson.
Sekejap, sebuah senyum tipis tersungging di bibir Oliver. Dia merasa bangga pada Steve yang tak melupakan pelajaran-pelajaran dasar yang diberikannya lebih seratus tahun yang lalu.
Dengan kekuatan batin tambahan, Oliver melanjutkan mantera perlindungannya. Gaby hanya bisa diam. Di sebelahnya sekarang duduk Stuart Grant, menggantikan Jamie yang pergi ke kokpit.
Perlahan-lahan, para penumpang yang ribut dapat merasakan kalau pesawat mereka berjalan di landasan. "Akhirnya kita pergi juga dari kekacauan ini," ujar mereka lega.
Cukup lama pesawat itu berputar, mencari jalan aman untuk terbang. Karena landasan itu dipenuhi api di mana-mana.
"Monster itu mengejar ke sini!" teriak para penumpang ketakutan.
"Cepat terbang!"
"Cepat!" teriak para penumpang panik dan tak sabar dengan pesawat yang cuma berputar-putar saja.
Di kokpit.
"Apa kau bagian dari komplotan monster itu?" tanya Jamie marah.
"Kalian lah penjahatnya!"
"Bukankah kuminta pergi agar kita bisa selamat? Kenapa kau malah berputar-putar dan memberi dia perhatian serta kesempatan untuk mengejar?"
"Bodoh! Kau membahayakan nyawa banyak orang!" Duncan memukul kopilot dengan emosi. Kemudian ditariknya pilot itu dari tempat duduk dan menggantikannya duduk.
"Awasi dia! Biar aku yang menerbangkan pesawat sialan ini. Karena dia sangat ingin mati, maka biar saja kita mati sekalian!" teriak Duncan kacau.
Jamie berdiri dan mengancam pilot serta kopilot dengan pisaunya. "Kalian tak punya otak atau apa?" katanya kesal.
"Mana pengeras suara?" tanya Jamie pada pramugari. Gadis cantik itu memberikan alat untuk memberi pengumuman pada penumpang.
__ADS_1
"Angus, ke sini!" panggil Jamie.
Tak lama, Angus masuk dan melihat bahwa yang sedang berusaha menerbangkan pesawat adalah Duncan. Matanya melotot ngeri.
"Kau yakin bisa mengendarai pesawat ini?" tanyanya heran.
"Menyetir truk saja aku tak bisa!" Duncan tertawa terbahak-bahak.
Namun, tak ada seorangpun yang merasa bahwa perilakunya itu lelucon yang lucu.
"Apa kau bisa menerbangkan pesawat?" tanya Jamie pada Angus. Pria itu langsung menggeleng.
Elliot muncul. "Cepat! Watson sedang mengejar di belakang!" teriaknya panik.
"Kalau tak mau kita semua mati sia-sia, maka terbangkan pesawat ini!" Jamie meletakkan pisau belatinya di leher pilot. Saking tajam belati itu mengiris leher pria itu.
"Ahh ...." pramugari menjerit melihat darah menetes.
"Anda menjerit melihat darah segini? Apa anda tahu, berapa banyak yang sudah dibunuh oleh monster itu kemarin? Dan sekarang kalian ingin mati juga?" bentak Jamie kasar.
Pramugari itu kembali menjerit. "Tolong, lakukan perintahnya. Bagaimanapun, kita tak mungkin terus di sini!" pramugari membujuk pilot yang tak peduli dan hanya menunjukkan wajah masam.
Di depan kemudi, Duncan tidak peduli. Dia sedang mencoba menaikkan hidung pesawat, tapi terus saja gagal.
Terdengar panggilan dari menara. "Siapa yang membawa pesawat ini, tolong laporkan!"
"Aku Duncan. Pilot dan kopilot sudah menjadi kaki tangan monster di luar dan ingin kami mati di dalam pesawat. Jadi, terpaksa kami lumpuhkan," lapor Duncan dengan senyuman lebar.
"Kalian sudah tak bisa menurunkan penumpang, Jadi lebih baik pergi dari sana. Saya akan membimbing Anda untuk membawa pesawat naik!" ujar petugas di menara.
"Kau dengar itu? Itu adalah ijin agar pesawat ini terbang! Dan kalian dengan keras kepala ingin kami seisi pesawat mati terpanggang karena monster gila di luar sana?" ejek Elliot.
"Cari tali dan ikat mereka berdua. Mereka kita tahan, sampai kecurigaan itu diobservasi pihak berwenang!" ujar Jamie tegas.
Elliot keluar dari kokpit sempit. Pramugari membantunya mencari tali pengikat. Tak lama mereka kembali. Pesawat sedang bersiap untuk naik. Paramugari segera memberi pengumuman agar para penumpang duduk dan memasang seat belt karena pesawat akan tinggal landas.
Elliot mengikat pilot dan kopilot, serta mendudukkan mereka di kursi teknisi. Pria teknisi itu pindah duduk dekat dengan pramugari di luar.
__ADS_1
"Cepat. Cepat! Monster itu mengejar ke sini!" teriak para penumpang panik.
"Ya Tuhan, dia naik ke tangga itu ingin melompat ke sini!" seru yang lainnya cemas.
"Tentara tak berdaya menghadapi monster sepertinya!" geram yang lain kecewa.
Di luar, Watson sudah berdiri di atas tangga yang biasa dipakai para penumpang naik dan turun. Tubuhnya yang yang penuh luka dan berdarah-darah, benar-benar diabaikan. Dia bersiap untuk melompat tinggi, agar bisa mendarat di sayap pesawat yang terus berputar-putar di landasan.
Jeep tentara kembali muncul dari arah samping. Itu adalah pasukan berikutnya yang akan terus mencoba menghentikan Watson yang mereka juluki sebagai monster.
"Itu dia! Dia berusaha kabur dengan menaiki pesawat itu!" teriak tentara di mobil Jeep. Senapan otomatis diarahkan pada Watson.
"Tembak!" perintah salah seorang di antara mereka. Maka senapan otomatis itu pun menyalak hebat.
Beberapa di antara peluru itu mengenai Watson. Tapi kemarahan telah membuatnya gila, hingga tak mempedulikan sakitnya peluru yang bersarang di tubuh.
"Dia ditembaki, tapi tidak mempan!" ujar para penumpang yang was-was.
"Ya Tuhan, dia memang monster alien! Dia tidak mempan peluru bahkan bom!" timpal yang lain.
Teknisi dan pramugari melihat kekacauan di luar. Mereka sangat menyesali sikap keras kepala pilot dan kopilot yang tak mau bekerja sama. Seharusnya mereka sudah aman di angkasa, andai berangkat sejak tadi. Sekarang, seorang amatir yang bahkan tak bisa membawa truk di darat, hendak mengadu peruntungan membawa pesawat itu terbang. Sangat membahayakan.
"Biar aku yang membantu di kokpit!" Pramugari mengangguk. Teknisi itu melepaskan seat belt dan berdiri, untuk masuk kembali ke dalam kokpit.
"Biar aku bantu menerbangkan pesawat ini!" ujarnya menawarkn diri.
"Lakukanlah!" Jamie berdiri dari kursinya dan duduk bersempit-sempit dengan pilot dan kopilot.
Angus dan Elliot duduk di kursi seberang pramugari. Hati mereka terus was-was karena pesawat tak kunjung naik.
"Dia lompat ke sini!" para penumpang menjerit histeris. Peluru yang berhamburan tak dapat menghentikannya.
Di saat yang bersamaan, Pesawat itu melaju kencang, bersiap untuk naik.
"Apakah dia berhasil naik ke pesawat?" tanya para penumpang dengan ngeri. Karena tak ada yang melihat Watson lagi setelah itu. Pesawat melaju kencang dan naik perlahan-lahan.
********
__ADS_1