The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
72. Satu Hari Berlalu


__ADS_3

Gaby melihat jam tangannya. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Suasana di dalam dan luar rumah sangatlah gelap dan sunyi. Dia tak melihat Jamie Mac Kay kembali setelah membawa mobil pergi.


Hatinya gelisah dan cemas. Berpikir, mungkinkah pengawalnya itu bertemu dengan para pelindung highlander di dalam perjalanannya hingga terlambat untuk kembal?


Namun, kecemasan itu dikalahkan oleh rasa kantuk yang memberatkan kelopak matanya. Dia tertidur dengan kepala terkulai di atas tangannya yang terlipat.


Mata Gaby terbuka saat mendengar pintu ruangannya dibuka dari luar. "Sialan, aku tertidur!" umpatnya dalam hati.


Segera dia duduk dan mengamati layar laptop yang gelap hitam. Dengan kecemasan yang memuncak, dia berusaha menyalakan lagi laptop yang otomatis menutup layarnya jika lama tak ada aktifitas.


Pintu terbuka bersamaan dengan nyalanya kembali komputer itu. Tangan Gaby secepat kilat menyambar hiasan meja dari kuningan yang ada di atas meja. Dia siap unk memukul siapapun yang menerobos masuk ke tempatnya.


"Sarapan anda, Maam."


Sebuah suara yang sangat dikenal oleh Gaby, menyapa, saat kepalanya menyembul di balik pintu yang terbuka.


"Kapan anda kembali, Tuan Mac Kay? Saya sampai ketiduran di meja, menunggu anda kembali. Malam tadi semua terlihat gelap dan sunyi. Itu mengerikan!" Gaby memberondong Jamie Mac Kay dengan keluhannya.


"Maafkan saya, Maam. Saya kembali selewat tengah malam. Anda mungkin sudah tertidur."


Jamie meletakkan makanan itu di meja. Dia juga membawa beberapa persediaan makanan lain dan juga buah-buahan. Gaby memperhatikan makanan yang kini menumpuk di meja.


"Apakah anda berniat untuk pergi lebih lama, Tuan Mac Kay?" tebak Gaby kritis.

__ADS_1


"Yes, Maam." jawab pria itu terus terang.


"Dengan persediaan makanan sebanyak ini ...." Gaby menunjuk seisi meja.


"Saya rasa anda berniat untuk tidak pulang selama beberapa hari, bukan?" tebak Gaby.


"Ya, Maam." Jamie mengangguk. "Saya berniat tinggal di kota dan mencegat siapapun yang mungkin mencari anda, di sana!" jelas Jamie.


"Kau ingin mencegat mereka? Bagaimana kau bisa mengetahui siapa mereka?" tanya Gaby heran.


"Seperti juga dengan anda, Kami akan saling mengetahui satu sama lain lewat aroma masing-masing. Bahkan dalam jarak satu kilo meter pun, kami bisa saling mengendus bau para pelindung lainnya."


Gaby menggeleng. "Hidung kalian ternyata sangat tajam. Itu kelebihan lain yang diberikan dewa, selain umur panjang!"


Jamie Mac Kay hanya tersenyum tipis mendengar gurauan yang dilontarkan Gaby.


"Maksud anda?" Jamie menanyakan maksud Gaby.


"Apakah ada diantara para pelindung lain yang mengetahui bahwa anda adalah orang Tuan Scott?" tanya Gaby sebelum menjawab pertanyaan Jamie.


Pria itu berpikir sebentar. "Hanya pelayan da pengacara Tuan Scott yang mengetahui hal itu. Saya jarang keluar bersama dengannya."


"Kecuali ...." Jamie berpikir sebentar.

__ADS_1


"Kecuali apa?" tanya Gaby tak sabar.


"Kecuali ada yang melihat kita di bandara Edinburgh hari itu. Hari di mana Tuan Scott menyerahkan anda dalam pengawasan saya!" jelas Jamie.


"Kau benar." Gaby mengangguk mengerti. Jari tangannya menjentik untuk menunjukkan bahwa hal itu cocok dengan perkiraannya.


Jamie menunggu Gaby melanjutkan kata-katanya. Mata pria itu sangat tenang. Gaby bisa melihat bahwa sekarang ada tali menyilang di dada Jamie. Lalu ujung gagang pedang menyembul dari balik pundaknya.


"Jika memang ada yang mengenali bahwa anda adalah orangnya Tuan Scott, maka akan percuma jika anda menjauhi saya dan rumah ini. Mereka justru jadi makin yakin bahwa saya ada di kota ini, setelah melihat anda di kota!" urai Gaby.


"Tapi Maam, bahkan jika mereka mengetahui hal itu, mereka tidak akan dapat menemukan anda. Itulah hal yang paling penting!" balas Jamie.


"Jangan membuang nyawa dengan murah, Tuan Mac Kay. Anda punya janji yang harus ditepati pada Tuan Scott!" ujar Gaby dengan tatapan tajam.


"Justru saya sedang melaksanakan janji saya." Jamie membela diri.


"Janji anda adalah menjaga saya, bukan menyerahkan nyawa pada orang-orang itu!" tandas Gaby dengan suara tegas.


"Tapi---"


"Tidak ada tapi, Tuan Mac Kay. Ini perintah dari saya!" Gaby kembali meunjukkan sikap yang tak mau dibatah.


Mulut Jamie bergerak sedikt. Tapi dia urung belanjutkan perdebatan itu. "Baik, Maam. Saya akan mengikuti perintah anda."

__ADS_1


Gaby tersenyum. Sekarang pria itu mengerti bahwa pemiliknya sekarang adalah Gaby. Jadi akan keliru jika dia membantah dan membiarkan Gaby sendirian di basement.


******


__ADS_2