The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
32. Inverness


__ADS_3

Satu jam berikutnya bus itu tiba di Inverness. Mereka makan siang di restoran yang sudah dipesan. Semua bergembira dapat berlibur dan melihat suasana di kota yang tak kalah indah dengan Edinburgh.


Setelah makan siang, ternyata mereka bisa langsung cek in hotel dan beristirahat sebentar. Setelah itu waktu bebas hingga malam untuk menyusuri kota.


"Gaby segera mendapatkan kunci kamarnya. Dan tak bisa dihindari bahwa dia harus sekamar dengan Tuan Scott. Keduanya melangkah dengan tenang menuju kamar.


Mereka memang tak membawa banyak barang, Jadi pergi ke kamar itu hanya untuk memastikan bahwa kamar itu telah diambil kuncinya saja.


"Jika kau ingin beristirahat, kita bisa melihat-lihat kota sore nanti," ujar Tuan Scott. Dia duduk di kursi samping jendela.


"Pemandangan yang bagus!" gumamnya memuji pengaturan yang dibuat Duncan.


Gaby ikutan melihat ke luar jendela. ternyata hotel itu berada di tepi sungai.


"Itu yang menaranya terlihat sedikit, adalah kastil Inverness. kita bisa mengunjunginya nanti sore, jika kau mau," tawar Tuan Scott.


"Bukankah itu di seberang sungai ini?" ujar Gaby.


"Ya. Letaknya di ketinggian yang menghadap sungai. Pemandangan yang sangat indah bisa dilihat dari sana." Angguk Tuan Scott.


"Kalau begitu, kenapa tidak sekarang saja kita ke sana?" tanya Gaby.


"Jika kau tidak lelah, ayolah ...." Tuan Scott berdiri dari duduknya.


Keduanya keluar kamar lagi. Dan benar saja. Ketimbang beristirahat dan membuang waktu di kamar, Anggota rombongan lain juga memutuskan keluar kamar untuk menikmati suasana kota. Utamanya karena hari itu terlihat sangat cerah.


Ternyata lokasi hotel mereka cukup jauh juga dari jembatan penyeberangan yang bisa membawa mereka ke arah kastil. Tuan Scott sangat menikmati jalan-jalannya. Kadang bibirnya sedikit tertarik dan mengguratkan senyuman samar.


"Apa kau mengingat kenangan masa lalu di sini?" tebak Gaby.


Ya," jawab Tuan Scott jujur.


"Tentang apa, kalau boleh kutahu?" tanya Gaby. Kata-katanya ambigu. Seakan tidak mendesak, tapi sebenarnya sangat ingin tahu.


Tuan Scott tersenyum misterius tanpa menjawab. Kakinya terus melangkah menyusuri jalanan bersih di tepi sungai Ness.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Gaby memperhatikan bangunan-bangunan cantik sepanjang jalan. Dia mengambil beberapa foto dan rekaman.


Tuan Scott menunggunya dengan sabar. Dia bahkan dengan senang hati menunjukkan lokasi bagus agar Gaby bisa mengambil foto dengan lebih baik. Kelihatan sekali kalau dia sangat mengenal kota ini.


Akhirnya sampai juga di depan kastil yang sayangnya sedang tidak dibuka untuk umum. Gaby harus merasa puas mengagumi bangunan yang masih sangat terawat itu. Keduanya berkeliling dan memotret di sana sini.


"Ikuti aku," ujar Tuan Scott setelah kastil itu selesai mereka kelilingi.

__ADS_1


"Ke mana?" tanya Gaby.


"Kau akan tahu nanti!" ujarnya berahasia.


Gaby hanya bisa mengikuti. Karena tanpa menanyakan persetujuan, Tuan Scott sudah berjalan lebih dulu.


Keduanya menyusuri taman kastil di lereng bukit. Kemudian Tuan Scott berhenti di satu tempat yang cukup terbuka dan memandang ke kejauhan. "Lihat!" tunjuknya ke seberang sungai.


Gaby berhenti dan melihat ke arah yang ditunjukkan pria itu. "Itu tempat yang tadi kita lewati!" seru Gaby kagum. Tangannya dengan segera mengambil kamera dan memotret ke seberang sungai.


"Cantik sekali," pujinya.


"Tak perlu berterima kasih padaku," Tuan Scott tersenyum sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang daunnya sudah menguning.


"Terima kasih," ujar Gaby tulus. Bantuan pria itu memang sangat berarti. Dan terlebih lagi, dia tak mendapatkan gangguan apapun selama perjalanan mereka.


"Apa kau belum lelah?" tanya Tuan Scott.


"Mau ke mana lagi?" Gaby antusias.


Menyusuri jalanan kota ini dan melihat kehidupan di sini. Mungkin itu bisa membantu untuk penulisanmu," ujarnya.


"Tentu saja. Ayo!" ajak Gaby penuh semangat.


Dua orang itu menikmati suasana kota hingga gelap turun. Tuan Scott mengajak wanita muda itu sekalian makan malam sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Ya. Dan tanpa bantuanmu, mungkin perjalananku tak kan semulus ini. Terima kasih," ujar Gaby lagi.


"Rasanya sudah belasan kali kau berterima kasih hari ini," kekeh Tuan scott.


"Benarkah?" senyum Gaby.


Setelah ini sebaiknya kita langsung istirahat. Besok akan ada perjalanan lain lagi. Ke Danau (Loch) Ness. Kau akan sangat menikmati keindahan tempat itu," kata Tuan Scott sebelum mereka mulai makan.


"Kau yang lebih pengalaman. Aku akan mengikutimu saja," balas Gaby.


Tuan Scott kembali terkekeh, sebelum mengangguk setuju.


*


*


Rombongan itu menikmati sarapan pagi di resto hotel. Mereka semua bersemangat karena hari terlihat cerah. Maka perjalanan ke danau tidak perlu dibatalkan.

__ADS_1


Pukul delapan, semua orang sudah duduk di kursi bus. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Loch Ness yang terkenal dengan mitos makhluk raksasa di tengah danau.


Perjalanan dipenuhi pemandangan indah. Gaby tak henti-henti memotret dan berdecak kagum berulang kali.


Dalam setengah jam, rombongan itu telah sampai di sana. Dan benar saja. Mata Gaby tak bisa berpaling dari keindahan danau dan pemandangan di sekitarnya.


"Waktu di sini hanya tiga jam. Jadi manfaatkan hal itu dengan sebaik-baiknya. Setelah itu kita berkumpul lagi di bus. yang terlambat, akan ditinggal!" ancam Tuan Duncan.


Anggota rombongan lain bersorak gembira. mereka segera turun begitu bus berhenti. Semua punya rencana masing-masing.


"Apakah ini lokasi wisata atau pemandian?" tanya Gaby pada Tuan Scott.


"Tempat ini tak terlalu jauh dari kastil Urquhart. Tapi di sini juga ada tempat wisata air dimana rombongan bisa berenang," jawab Tuan Scott.


"Apa kau ingin berenang?" tanya Gaby. Tuan Scott tertawa.


"Kurasa kau pasti ingin melihat kastil itu. Dari sana kau bisa melihat pemandangan danau yang sangat indah," saran Tuan Scott.


"Kau sangat memahamiku, Tuan Scott. Tolong tunjukkan jalannya padaku," ujar Gaby tersenyum manis.


Keduanya berjalan menjauh dari lokasi bus yang sengaja diparkir di antara dua tempat, untuk memudahkan anggota rombongan menuju tempat wisata yang diinginkannya.


"Apakah monster yang di tengah danau itu benar-benar ada?" tanya Gaby.


"Aku belum pernah melihatnya," jawab Tuan Scott.


"Apakah kastil yang kau maksud adalah yang ada di puncak bukit itu?" tunjuk Gaby.


"Hemm ...." Tuan Scott mengangguk mengiyakan.


"Kenapa kebanyakan kastil di Scotland dibangun di atas bukit?" tanya Gaby.


"Tanah Scotland sendiri memang konturnya berbukit-bukit. Tapi pemilihan bukit sebagai lokasi kastil adalah demi keamanan, juga keindahan. Pemilik Kastil bisa melihat pemandangan indah dan tanah miliknya sejauh mata memandang." Tuan Scott menjelaskan sedikit.


"Berarti ada fungsi pengawasan juga," timpal Gaby.


"Ya. Itulah fungsi menara pengamatan di sebuah kastil." Tuan Scott mengangguk.


"Kita harus naik ke atas sana untuk melihat keseluruhan areal ini. Kau masih sanggup?" tanya Tuan Scott.


"Tentu saja!" jawab Gaby cepat.


__ADS_1


*******


Author harap kakak semua tidak lupa untuk meninggalkan jejak Like, komen, love, rating, gift dan vote ya. Terima kasih.


__ADS_2