The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
49. Pagi Suram


__ADS_3

Seharian itu Gaby gelisah dan murung. Dilengkapi dengan hujan yang turun sejak pagi. Membuatnya malas untuk turun mencari sarapan di toko Emily.


Tadi dia menjawab panggilan Martin tanpa semangat. Bahlan panggilan telepon dari editornya juga diterima dengan tak acuh.


Pukul sepuluh pagi, Tuan Scott datang ke flat Gaby. Dia membawakan beberapa buah dan juga makanan.


Alis Tuan Scott naik, melihat wanita otu masih bergulung selimut di tempat tidur.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya serius.


"Aku hanya merasa malas," sahut Gaby.


"Ayo makan. Kau pasti sangat lapar hingga terus memakan semua makanan itu." Tuan Scott meletakkan makanan yang dibelinya dalam perjalanan ke tempat Gaby.


Gaby bangkit dari tempat tidur dengan enggan. Aroma makanan hangat dan wangi, menggelitik perutnya.


"Ini ada kopi hangat, untuk menyegarkan moodmu." Tuan Scott mengeluarkan gelas kertas berisi kopi dan meletakkannya di samping kotak makanan.


"Terima kasih. Aku sangat menghargainya."


Gaby mengambil sendok dan menikmati sarapannya dengan nikmat. Tuan Scott melihat kamar yang sedikit berantakan. Dia sedikit tak mengerti kenapa Gaby membiarkan kamarnya tidak rapi.


"Kau beli di mana ini?" tanya Gaby. Dia tahu bahwa makanan itu tak ada di toko Emily.


"DI toko saat aku sedang menuju ke sini," jawab Tuan Scott.


"Apa kau sudah sarapan, Tuan Scott?" tanya Gaby,


Pria itu mengangguk. "Ya."


"Kurasa kau ke sini bukan hanya ingin mengantar makanan, bukan?" todong Gaby.


"Kau sangat pintar." Tuan Scott tersenyum. Dia senang karena sikap Gaby kembali seperti pertama dia bertemu Gaby. Cerdas dan kritis.


"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja setelah apa yang kau katakan kemarin," jawab Tuan Scott.


"Dan seperti inilah aku. Kau sudah melihatnya sendiri. Apa kau ingin langsung pergi?" kejar Gaby lagi


"Aku harus memastikan kau cukup makan" jawab Tuan Scott akhirnya.

__ADS_1


"Apa urusanmu?" tanya Gaby heran.


"Bayi itu juga urusanku!" Suara tegas Tuan Scott membuat Gaby diam. Kemudian menggeleng.


"Kita belum tahu pasti apakah aku sedang hamil atau tidak. Butuh waktu untuk memeriksa dan meyakini bahawa aku sedang hami anakmu!" ujar Gaby ketus.


"Aku mempercayai Mow. Jika dia katakan seperti itu, maka benar kau sedang hamil. Tapi aku membawa tespack, agar kau bisa mengetes semdiri saat waktunya cukup."


Tuan Scott mengeluarkan satu kotak testpack dari dalam tas belanja yang tadi dibawanya.


Gaby benar-benar terdiam sekarang. Dia kehabisan bahan pembicaraan dengan pria itu. Makanan akhirnya mendapatkan perhatian penuhnya. Dinikmatinya makanan yang dibawakan itu. Entah bagaimana, dia selalu merasa lapar.


"Aku menyarankan kau kembali ke negaramu. Itu jauh lebih aman ketimbang di negara ini!" saran Tuan Scott.


"Liburanku masih sepuluh hari lagi di sini!" Gaby bersikukuh untuk tidak pulang secepatnya.


"Aku membayar mahal untuk flat dan pesanan pesawatku masih sepuluh hari lagi! Itu jumlah uang yang besar bagiku," tolak Gaby,


"Lagi pula, aku ke sini untuk menulis novel. Aku bahkan belum menulis sama sekali!"


"Ini demi keamananmu dan bayi itu!" Nada suara Tuan Scott penuh penekanan. Jelas dia khawatir terjadi sesuatu pada calon bayinya.


"Bisakah kau percaya pada Mow? Dia sudah membuktikan bahwa dia layak untuk dipercaya!" tegas Tuan Scott masih dengan suara tegasnya yang khas.


"Hah ... terserah padamu!" kesal Gaby.


"Cobalah periksa dengan tespack ini, agar kau bisa lebih hati-hati lagi!" saran Tuan Scott.


Baru kemarin, bagaimana mungkin aku langsung hamil. Setidaknya, tunggulah satu atau dua bulan, untuk mendapatkan hasil yang akurat!" cela Gaby sinis.


Tuan Scott menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar, Dia merasa kesal dengan reaksi Gaby yang makin tak masuk akal.


"Kita berpindah tempat itu lebih dari satu minggu. Harusnya hasilnya akan mulai terlihat. Jadi, kenapa tidak dicoba saja agar tak ada lagi keraguan di hati kita!" desak Tuan Scott.


"Apa semua pria yang pasangannya hamil, akan secerewet dirimu?" kesal Gaby.


"Terutama yang kesempatan untuk punya bayi itu, hanya sekali seumur hidup!" Tuan Scott kembali menekankan kata-kata yang diucapkannya.


"Kau satu-satunya kesempatan bagi seorang guardian untuk melanjutkan keturunan. Maka kau dan bayi itu harus dijaga seperti sebuah harta karun tak ternilai!?" Tuan Scott menuntaskan penjelasannya.

__ADS_1


"Dan aku, sudah memutuskan mengirim seseorang untuk menjaga dirimu dan bayi itu tetap aman. Sebaiknya kalian tetap tinggal di Amerika. Jangan pernah datang ke sini. Kau dan dia akan menjadi target dan para guardian lain yang penasaran. Juga karena kau merupakan pasangan seorang guardian."


"Apa maksudmu dengan mengirim seseorang untuk melindungiku?" tanya Gaby heran.


"Harus ada seorang guardian yang tak tertarik sama sekali untuk menganggu ataupun mengancam nyawa bayi itu. Anak itu butuh bimbingan untuk menjadi guardian tangguh di masa depan!" jelas Tuan Scott


Gaby menggeleng tak setuju. "Seorang anak harus melewati masa kecilnya yang menyenangkan. Sememtara kau hanya ingin merubahnya jadi prajurit yang tangguh!" gerutu Gaby.


"Oh ya, menurutmu apa jenis kelaminnya?" tanya Gaby ingin tahu.


"Aku tak tau. Tapi aku akan berusaha agar dia tumbuh dengan baik," kata Tuan Scott meyakinkan!"


"Tapi dia harus dilatih sedari awal. Dia akan menghadapi banyak tantangan berat di sepanjang hidupnya. Ramalan menuliskan bahwa takdirnya sudah ditentukan sejak dia tercipta. Dia akan menjadi guardian tanpa tandingan. Dan untuk itu dia harus siap menghadapi berbagai tantangan. Atau dia akan mati sebelum dapat mempertahankan diri!" beber Tuan Scott.


"Aku tak mempercayai ramalan apapun!" tolak Gaby keras kepala.


"Maka kau hanya akan membunuhnya! Apa itu yang kau inginkan?"tanya Tuan Scott dengan pandangan tajam.


Awalnya Gaby membalas pandangan mata Tuan Scott dengan berani. Tapi kemudian dia menunduk.


"Jika kau tak menyetujui pengaturanku, maka aku akan meminta seseorang untuk mengambil hak asuhnya darimu! Aku akan melakukan segala cara yang kubisa, untuk menjaga anakku tetap aman!" Mata Tuan Scott menyorot marah.


Gaby takut melihat api kemarahan yang tampak nyata di mata pria itu. Dia mengerti. Gaby pun akan melakukan hal yang sama, jika memang ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk punya keturunan.


"Aku juga akan melakukan semua hal yang perlu untuk melindunginya. Tapi selain itu, aku juga akan memberikan semua kasih sayang yang dia butuhkan sebagai anak. Aku akan menghadapimu hingga akhir, jika kau berani mengambilnya dari sisiku!" tantang Gaby dengan mata berkilat menyala-nyala.


"Kau!" Tuan Scott tak bisa lagi mengatakan apapun, melihat sikap keras kepala wanita itu.


Namun sejurus kemudian, keduanya tertawa terbahak-bahak hingga air menggenang di pelupuk mata Gaby.


"Kita bahkan belum mengetes apakah anak itu benar ada atau tidak. Tapi sudah bertengkar hebat," ujar Gaby di sela tawanya.


Tuan Scott tersenyum. Matanya kembali melembut. Dihelanya tangan wanita itu dan membawanya dalam pelukannya.


"Maafkan sikap kasarku tadi. Aku hanya merasa khawatir karena tak bisa menjaga dan membimbignya hingga dewasa. Jika dia lahir, rawatlah dengan seluruh cintamu. Katakan padanya aku juga mencintainya, bahkan sebelum dia terasa nyata bagiku."


Mata pria itu berkaca-kaca. Membayangkan dia tewas, mungkin di tangan Watson dalam pertarungannya dua bulan ke depan. Lalu anak itu tak punya pembimbing yang berhati baik dan tulus. Satu-satunya keturunan yang mungkin dimilikinya, tapi dia tak bisa melihatnya sekalipun!


*****

__ADS_1


__ADS_2