
Sore itu, Gaby berada di lantai dua toko buku milik Tuan Scott. Pria itu merasa tak sabar dan mendesak Gaby untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.
Siang tadi, Gaby dengan terpaksa memeriksa menggunakan testpack untuk menenangkan pria itu. Namun tak berhasil.
Setelah membereskan beberapa urusan, Tuan Scott mengantar Gaby ke dokter kandungan kenalannya. Gaby berbisik pada dokter itu.
"Saya sudah memeriksa dengan testpack dan hasilnya negatif. Tapi dia tak percaya!"
Dokter itu mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Sekarang pemeriksaan Gaby dimulai. Setelah pemeriksaan urine tak memuaskan, maka dokter mencoba memeriksanya dengan usg.
"Kurasa, kalian harus menunggu sekitar dua minggu lagi untuk bisa melihat hasil dengan lebih jelas," kata dokter itu. Layarnya tak menampakkan gambaran apapun.
Kekecewaan Tuan Scott tak bisa disembunyikannya. Sepanjang perjalanan pulang, dia murung.
"Mow tak mungkin salah lihat." Dia bersikeras.
Gaby sudah lelah memberinya pengertian. Jadi dia diam saja sepanjang perjalanan dan membiarkan pria itu bergumam selama yang dia mau.
Meskipun begitu, Tuan Scott tetap membelikan beberapa makanan yang menurut Tuan Scott penting untuk menjaga bayinya tetap sehat.
Sampai di flat, Gaby mulai muak mendengar pesan untuk tidak lupa makan ini, makan itu dan sebagainya dari pria itu.
"Cukup!" ujarnya dengan nada sangat keras.
Tuan Scott sedikit terkejut. Mulutnya yang semula ingin bicara, jadi terhenti dan terbuka begitu rupa. Matanya menatap Gsby tank mengerti.
"Kau tau Tuan Scott. Tingkahmu ini sangat konyol. Bahkan, semisalnya pun ada bayimu di sini," Gaby menunjuk perutnya. "Maka ukurannya masihnya sebesar biji kacang! Tapi kau sudah membelikanku bertas-tas bahan makanan. Seakan takut aku kelaparan!" kata Gaby jengkel.
Tuan Scott menghela napas kemudian menghembuskannya perlahan. "Baiklah. Kurasa semua ini sudah cukup. Kau tinggal telepon aku jika ingin apapun," pesannya sebelum akhirnya melangkah ke pintu.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke toko." Tuan Scott pergi tanpa menunggu jawaban dari Gaby.
"Ahh ... aku butuh ketenangan." Gaby langsung mengunci pintu kamarnya kemudian menghempaskan diri. Moodnya sedang jelek hari ini. Dia hanya ingin menikmati suasana sunyi seperti ini untuk sementara waktu.
Tak terasa, matanya terpejam. Gaby tertidur hingga malam karena perutnya yang lapar. Dengan malas dia bangkit dari tempat tidur. Ke kamar mandi dan memeriksa tas-tas belanja yang masih bertumpuk di lantai. Dipilihnya beberapa makanan, kemudian mengambil satu dan membawanya ke meja tulis.
Notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Martin berderet di ponselnya. Dibukanya laptop dan mulai menggigit buah apel yang diambilnya dari salah satu tas. Kemudian membalas pesan Martin.
Cukup lama dia menunggu setelah pesannya itu, tak ada juga mendapat balasan. Akhirnya Gaby mulai membuka kembali pekerjaannya. Menyambung tulisan yang sedang dikerjakannya.
Dua jam berlalu. Gaby berhasil menulis cukup banyak malam ini. Sekarang punggung dan matanya sudah lelah. Matanya kembali mengantuk. Diliriknya jam di pergelangan tangan.
"Ya ampun, pantas saja terasa sangat sunyi. Sudah pukul tiga dini haru ternyata," gumamnya.
Ditutupnya laptop dan kembali ke tempat tidur. ak ada pesan balasan dari Martin. Suaminya itu pasti sedang tidur pulas saat ini.
*
*
Cuaca sangat cerah pagi ini. Suara desau angin seperti musik di telinga Gaby. Diambilnya sepatu kets dan turun ke bawah. Kakinya mulai berlari di sepanjang jalanan berbatu. Dia menuju ke taman. Olah raga diyakininya bisa menyegarkan tubuh dan melancarkan ide di kepalanya untuk melanjutkan tulisan.
Hanya satu jam dia berlari memutari taman. Kemudian kembali ke flat. Tubuhnya penuh keringat dan terasa hangat. Gaby hanya ingin mandi untuk menyegarkan diri.
Dua jam kemudian.
Gaby membawa mangkuk berisi bubur instan hangat di mangkuk ke meja kerja. Secangkir susu cokelat hangat juga menemani harinya.
Sambil menikmati sarapan, dia membuka laptop. Kemudian memeriksa pesan ponsel. Kembali panggilan tak terjawab berderet sepenuh layar. Gaby langsung membalas pesan Martin dan mengatakan bahwa dia meninggalkan ponsel saat sedang lari pagi.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Martin kembali menelepon dan menanyakan kabar. Gaby menjawab telepon sambil terus mengetik. Kepalanya sedang dipenuhi oleh ide. Dan itu harus langsung dituangkan. Atau semua itu akan segera hilang tak berbekas.
"Kemarin malam aku telepon dan mengirim pesan, tidak kau balas.," keluh Martin.
"Aku ketiduran. Saat terbangun, langsung kubalas. Dan kau justru sedang tidur juga," Gaby terkekeh,
"Lalu tadi pagi kau ke mana? Panggilanku tak kau angkat juga," tanya Martin tak puas.
"Aku sedang lari pagi. Hari sangat bagus hari ini. Sayang sekali jika tak dimanfaatkan. Dan ponsel ini tadi malam lupa direcharge. Jadi, saat pergi tadi, ponsel kutinggal untuk isi daya," jelas Gaby.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Martin.
"Duduk dan mengetik. Aku sudah siapkan banyak cemilan dan makanan."
Baiklah ... aku tak ingin mengganggu. Hanya ingin tahu kabarmu saja," ujar Martin.
"Gaby, kapan kau mau kembali? Rasanya sangat sunyi tanpamu di sini. Aku merindukanmu," ujar Martin.
"Tiket pulangku masih dua minggu lagi. Jadi, bersabarlah," balas Gaby. Dia terus mengetik sambil melakukan panggilan video dengan Martin.
"Bagaimana dengan perkembangan novelmu?" tanya Martin.
"Aku sangat bersemangat untuk menyelesaikannya. Rasanya kepalaku penuh dengan segala macam ide yang ingin segera kutuliskan!" jawab Gaby.
"Tentang apa novel itu?" tanya Martin penasaran.
"Sementara ini masih rahasia, Nanti kau akan tau juga." Gaby terkekeh geli melihat mimik penasaran dan keki suaminya.
"Baiklah, aku juga akan kembali kerja. Aku mencintaimu!" ujar Martin.
__ADS_1
"Aku mencintaimu!" balas Gaby.
*******