The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
25. The Guardian of The Clan


__ADS_3

"Apa maksudmu dengan sejenis? Bukankah kita sama-sama manusia?" ujarnya heran.


"Apa kau sudah membaca buku yang kuberikan tadi?" tanya Tuan Scott. Sepenuhnya mengabaikan nada sinis dalam suara wanita muda di depannya.


Gaby melihat buku yang dipegangnya. "Apakah semua pertanyaanku akan terjawab dengan membaca buku ini saja?" tanyanya tak percaya.


"Sebagian besar, iya! Dan kau bisa menanyakan hal-hal lain yang tidak kau pahami." Tuan Scott berdiri dari duduknya.


"Gunakan waktumu. Teh dan biskuit itu akan menemani. Aku turun sebentar untuk mengurus beberapa hal." Pria itu pamit dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


Gaby melihat buku di pangkuannya, kemudian ke arah cangkir teh yang sudah mulai berkurang uangnya. Diambilnya sesendok madu, lalu dituang ke dalam cangkir dan diaduknya perlahan. Dengan hati-hati diangkatnya cangkir itu ke mulut. Menyesap teh yang memang terasa enak dan menyegarkan. Dia mengembalikan cangkir itu tak kurang hati-hatinya. Seakan takut cangkir porselen itu remuk jika bersentuhan dengan tatakannya.


Wanita muda itu mulai membuka lembaran pertama buku. Dan meski telah diperiksanya halaman depan ataupun halaman belakang, tak ada daftar isi dibuat di situ. Jadi dia tak bisa memilih bab yang ingin dibacanya saja.


"Baiklah. Penulisnya sangat memaksa agar para pembaca memulai dari halaman pertama. Siapa sih yang menulis?" pikirnya.


Tangannya melihat bagian sampul buku, halaman depan dan juga belakang. Tak ada nama siapapun yang dicetak di sana. "Apa ini buku tak resmi?" gumamnya. Tapi melihat sampul dan penjilidan, pastilah buku itu dicetak di sebuah percetakan.


Gaby merasakan kejanggalan itu. Tapi sedikit tak peduli. Dia hanya butuh isi buku itu. jadi dia mulai membaca bab satu yang juga tanpa judul bab. "Bahkan buku pun dicetak dengan sangat misterius," pikirnya sedikit mengeluh.


Bab satu hingga bab dua berisi sejarah dan asal usul bangsa Scotland. Mereka rumpun merupakan bangsa celtic yang tersebar di eropa.


Bab tiga hingga empat menceritakan tentang sistem klan yang dipakai orang-orang Scotland. Begitu banyak klan, mulai dari Lowlander, sebutan mereka untuk penduduk dataran rendah. Hingga Highlander, orang-orang yang tinggal di dataran tinggi yang berbukit, bergunung, tebing, serta hutan di bagian utara tanah itu.


Bab lima mulai menarik perhatian Gaby. Isinya tentang kepercayaan pagan nenek moyang bangsa Scot. Tentang druid yang merupakan kelompok tertinggi karena merupakan pendeta keagamaan. Agama pagan yang masih mempercayai dewa-dewi dan berbagai keajaiban.


Bab berikutnya tentang masa masuknya agama yang dibawa oleh para pendatang yang mereka sebut sebagai Outlander.


Bab berikutnya lagi adalah tentang cerita-cerita rakyat yang dulu mungkin sangat dipercayai. Makhluk-makhluk mitos, berbagai dewa-dewi dan mitos orang-orang yang terpilih sebagai pelindung, dengan keunggulan usia yang panjang dan tidak akan mati jika bukan karena pertarungan antar mereka.

__ADS_1


Beberapa hal lainnya tak terlalu menarik perhatiannya, hingga dia sampai pada bagian dewi kesuburan yang berasal dari antara mereka dan terpilih untuk menjadi pasangan para pelindung dan melahirkan keturunannya.


Sampai di bab itu, dia terdiam. "Apakah maksud Tuan Scott adalah bab ini?" matanya membaca ulang lagi tentang para pelindung itu, karena dia tadi tak terlalu tertarik dan menganggapnya sebagai omong kosong belaka.


"Apakah Watson itu adalah seorang pelindung? Lalu pria yang mengamatinya di seberang jalan juga? Dan, apakah Tuan Scott juga? Stuart di Glasgow juga?"


Gaby mengingat semua orang yang menebaknya sebagai orang Scotland dan Tuan Scott memberinya gelang khusus yang dikenali Stuart. Tak mungkin semua itu kebetulan belaka.


Gaby baru saja hendak berdiri untuk turun ke bawah dan bertanya tentang itu pada Tuan Scott Kepala pria itu telah muncul dari bawah tangga.


"Sepertinya kau sudah membacanya," tegur Tuan Scott, melihat mulut Gaby terbuka tapi tak mengeluarkan sepatah katapun.


'Apakah maksudmu ini benar?" tanyanya sambil mengangkat buku tebal itu.


"Dunia boleh tidak percaya dan menganggap kepercayaan kuno seperti sampah peradaban yang sudah ketinggalan jaman. Tapi beberapa hal tetap lestari dalam kesenyapan."


"Tunggu sebentar." Tuan Scott pergi menaiki tangga lain ke lantai tiga. Gaby menduga itu mungkin adalah kamar pribadi pria itu. Jadi dia menunggu dengan tak sabar kejutan yang mungkin disodorkan olehnya.


Gaby meletakkan cangkir teh kembali ke tempatnya, saat mendengar tangga kayu lantai tiga berderit diinjak seseorang. Tuan Scott muncul dengan membawa beberapa gulungan kain tebal yang usang dan menguning. Kemudian menggantungkan talinya pada beberapa pengait yang ada di dekat perapian.


Gaby melihat itu seperti sebuah sketsa. Hanya ada coretan warna hitam yang membentuk siluet seorang wanita cantik dengan latar belakang sebuah kastil, entah di mana.


Kemudian ke gantungan lain di sebelahnya. Kali ini goresannya lebih berwarna. ada warna cokelat dan merah terakota selain hitam. juga sedikit hijau buram yang hampir seperti abu-abu. Juga gambar seorang wanita cantik berpakaian abad pertengahan, mengenakan tartan merah terakota bermotif hijau keabuan tengah tersenyum di dekat sebuah sungai dengan latar hutan.


Gantungan berikutnya juga seorang wanita. Kali ini benar-benar lukisan yang penuh warna dan tampak hidup. Wanita itu berpakaian seperti wanita abad sembilan belas. Cantik, anggun dengan topi berhias bunga kamelia di kepalanya. Sedang duduk membaca buku di sebuah taman.


"Siapa mereka? Apa hubungannya dengan buku ini?" tanya Gaby.


Tuan Scott memegang sketsa paling usang itu. "Ini istriku. Gambar ini dibuatkan oleh salah satu anggota klan yang memang senang menggambar. Dia hanya menggambar dengan arang dari perapian!" jelas Tuan Scott.

__ADS_1


Gaby menatap pria itu tak percaya. "Apa hubungannya istrimu dengan buku ini?" tanya Gaby tak sabar.


Kau bisa lihat kastel itu dan telusuri di internet, Apakah itu masih ada atau tidak!" sarannya.


Gaby tak terlalu senang. Pria itu terlalu suka memberi teka-teki yang harus dicarinya sendiri jawabannya.


Kemudian Tuan Scott berpindah ke gambar di tengah. "Ini istriku berikutnya. Kau bis lihat tahun pembuatan lukisan ini," tunjuknya.


Gaby mendekat lalu membaca tulisan yang ada di situ. "Freya, kekasih Scott the Guard of Sutherland Clan. 1640."


Mata Gaby melotot, Itu nama pria itu. Dan yang sangat mengejutkan adalah tahun di dalam lukisan. "Aku tak bisa mempercayainya," gumamnya.


Tuan Scott mengabaikan reaksi Gaby. Dia beralih ke foto berikutnya.


"Apa dia juga istrimu?" tanya Gaby sebelum pria itu bicara.


"Ya. Kau boleh lihat tulisan dan tahun yang tertera di situ," anjur Tuan Scott.


Gaby membaca lagi tulisan di atas sebuah tanda tangan. "Wife of Lord Sutherland. Audrey 1878."


Gaby memandangnya penuh tanda tanya. Benarkah Tuan Scott adalah lord yang dimaksud? dan seperti biasa, pria itu seperti bisa membaca isi kepalanya. dia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan. Membuka laci dan mengeluarkan satu kotak kecil. Mengambil sesuatu di sana dan menyodorkannya pada Gaby.


Gaby menerima kertas kecil yang ternyata sebuah kartu nama. Tertulis jelas namanya dan juga toko buku ini. "Lord Scott Sutherland."


Wanita muda itu terduduk di sofa dan merasa gamang. Ini hal yang paling ajaib yang pernah dialaminya.


"Jadi, seberapa tua kau?" tanyanya kasar.


***********

__ADS_1


__ADS_2