The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
103. Kekacauan di Bandara


__ADS_3

"Kurasa kau kelelahan, Dok. Biar aku saja yang menyetir. Kau bisa istirahat selama perjalanan," ujar Duncan.


Steve mengangguk. Dia juga sudah mulai merasa bahwa batasnya hampir habis. Dia harus tidur barang sejenak. Tiga highlander di belakang masih belum pulih, walaupun sudah sadar. Jadi Steve memilih duduk di depan dan membiarkan ketiganya.


Duncan menyetir dengan cekatan. Mereka harus berlomba dengan waktu. Tak lama lagi, subuh menjelang. Akan sangat berbahaya jika mereka masih ada di situ, saat Watson lepas dari kejaran aparat keamanan.


Cahaya terang bandara mulai terlihat. Namun, entah kenapa perasaan khawatir Duncan masih belum hilang. Dia justru menjadi lebih cemas sekarang.


"Menurut kalian, apakah Watson sudah lepas dari kepungan tentara?" tanya Duncan memecah kesunyian.


Tak ada seorang pun yang menjawab, karena mereka sungguh tidak tahu. Lalu Steve menyalakan radio mobil dan mencari berita.


"Sekali lagi, monster alien yang ditahan para tentara berhasil meloloskan diri! Markas yang diisi ratusan tentara seperti mainan saja di hadapan monster ...."


"Dia lolos lagi!" Elliot menggerutu dari kursi belakang.


Mobil itu akhirnya sampai juga di bandara. Para highlander itu turun. Dokter Steve memutuskan untuk menunggu di bandara, hingga pesawat yang membawa rombongan itu benar-benar terbang. Dia tak ingin merasa khawatir seperti pagi hari sebelumnya.


"Pesawat kita masih satu jam lagi." Jamie tak dapat menghapus kekhawatiran dari wajahnya. Watson yang sudah lolos dari kepungan, bisa sampai di bandara kapan saja, dengan mengikuti jejak mereka yang tertinggal di udara.


"Bisakah kau menyamarkan Nyonya dari penciuman Watson?" tanya Jamie pada Oliver.


Pria tua itu mengangguk. Meskipun dia baru saja pulih, tapi semua memang harus melakukan bagiannya hingga akhir. Watson tidak akan menunggu mereka pulih, baru mengejar lagi.


Rombongan itu membiarkan Oliver melakukan tugasnya. Pria itu duduk di sebelah Gaby dan Baby Keane. Lalu sibuk dengan beberapa benda dan mantera yang terus diucapkannya.


Beberapa penumpang melihat mereka dengan pandangan aneh. Baju kotor dan compang-camping yang tak sempat mereka ganti.


"Ah ... aku lupa soal pakaian mereka." Dokter Steve menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia berdiri dan berjalan pergi.


"Kau mau pulang?" tanya Angus.


"Tunggu sebentar!" sahutnya dan dengan cepat menghilang.


Lima belas menit berlalu. Panggilan cek in sudah terdengar berkali-kali. Steve berlari dengan beberapa tas ditangan. "Tunggu!" panggilnya, menghentikan rombongan yang mulai beranjak pergi.


"Ini baju-baju yang bisa kudapatkan. Pergi dan ganti di dalam saja, agar lebih aman!" ujarnya sambil menyerahkan tas-tas belanja ke tangan Stuart.

__ADS_1


"Oke. Terima kasih." Stuart berlari menyusul teman-temannya untuk masuk ke ruang tunggu dalam. Mereka sudah cek in tadi. Pesawat akan berangkat setengah jam lagi.


Steve masih duduk di ruang tunggu para pengantar di luar bandara. Langit masih gelap. Namun, dia tahu bahwa cahaya pertama akan muncul sebentar lagi. Dan hatinya belum akan tenang, sampai pesawat itu terbang ke udara.


Sambil memejamkan mata yang berat, pria itu bersandar di bangku panjang luar bandara.


*


*


Kelompok Gaby, sudah memasuki pesawat. Dia duduk dengan diapit oleh Oliver dan Jamie. Baby Keane sudah sepenuhnya terbangun dn menatap Gaby dengan mata bulatnya yang lucu. Gaby tersenyum. "Kau sangat tampan." Bayi lucu itu mendapatkan ciuman dan bersuara dengan lucu.


Jamie memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Berharap kehidupan nyonya dan tuan mudanya akan lebih baik setelah ini.


Namun, penumpang menjadi gelisah, karena pesawat tidak juga lepas landas, Pada hal waktu keberangkatan sudah lewat lima menit yang lalu.


"Lihat itu!" tunjuk seorang penumpang yang ada di sisi jendela.


Akan tetapi, tidak harus berada di dekat jendela, untuk bisa mengetahui kekacauan di luar pesawat. Sebuah ledakan besar yang membuat nyala api berwarna merah oranye, membias hingga ke dalam pesawat yang mereka tumpangi.


Jamie menatap Suart dengan penuh pertanyaan. Stuart mengamati keadaan dari jendela di sebelahnya.


"Ya Tuhan!" desis orang yang melihat kengerian di luar.


"Apakah ada pesawat yang meledak?" tanya mereka khawatir.


Teramat khawatir jika percikan ledakan itu mengenai pesawat mereka. Bukankah itu artinya akan terjebak dan terpanggang tanpa bisa menyelamatkan diri? Mereka kemudian ribut dan memaksa pramugari memberi tahu pilot untuk membawa pesawat itu menjauh, atau mengeluarkan mereka.


Pramugari sibuk menenangkan para penumpang yang gelisah. Mereka belum mendapatkan perintah untuk terbang. Tanpa ijin itu, pilot tak akan membawa pesawat itu ke mana pun juga.


Gaby memeluk bayinya erat. Merasa bersalah telah menyebabkan kekacauan pada orang lain karena dirinya.


"Kurasa, sebaiknya kita turun dan hadapi dia," bisik Gaby pada Jamie.


"Ma'am, itu tak mungkin. Apa yang terjadi di luar itu bukan kesalahan anda. Itu pilihannya sendiri. Dia sudah hilang akal, sampai membuat keributan sebesar itu."


Ponsel Oliver berdering tetapi pria tua itu terlalu sibuk membaca mpantera untuk melindungi pesawat mereka. Gaby berinisiatif mengambil ponsel di saku Oliver dan melihat pemanggil adalah Dokter Steve.

__ADS_1


"Ya? Ayahmu sedang sibuk. Apakah kau sudah pergi dari bandara?" tanya Gaby.


"Nyonya, kenapa pesawat Anda belum berangkat juga?" Di sini sangat berbahaya!" ujar Steve. Gaby bisa mendengar rentetan suara tembakan dan bom meledak dari ponsel di seberang.


"Saya tidak tahu." Gaby menyerahkan ponsel pada Jamie.


"Bagaimana situasi di luar?" tanya Jamie.


"Mengerikan. Itu Watson. Dia mengamuk dan mencari setiap pesawat yang akan lepas landas!"


"Bagaimana ada ledakan besar tadi?" tanya Jamie.


"Tentara mengejar hingga ke sini. Menembaki dan mengebom, karena dia tak bisa mati meski puluhan peluru bersarang di tubuhnya," jelas Steve.


"Kalau begitu, sebentar lagi dia akan menemukan pesawat ini!" Jamie menyimpulkan. Kemudian posel itu dimatikan dan diserahkan lagi pada Gaby.


Pria itu berdiri dan berjalan ke depan pesawat. Duncan mengikuti, setelah mendapatkan kode dari Jamie.


Keduanya memaksa pramugari untuk membuka ruang kokpit, agar mereka bisa bicara.


"Terbangkan pesawat ini sekarang! Apa kalian tidak melihat bahaya yang datang? Apa kalian ingin kita semua terbakar di dalam sini!" bentak Jamie.


"Kami belum mendapat perintah terbang dari menara, Tuan." copilot menjawab.


"Di luar sedang perang. Dan kalian ingin mereka memperhatikan pesawat ini? Mereka saja sedang sibuk berlindung atau menyelamatkan diri!" tegas Jamie.


"Tidak bisa begitu, Tuan!" bantah pilot keras kepala.


"Nyawa semua penumpang berada di tangan Anda. Tapi Anda tak berani membuat keputusan di saat genting!" kecam Jamie dengan nada tinggi.


"Singkirkan dia!" perintah Jamie. Duncan langsung menarik pilot dari tempat duduknya. Jamie kemudian duduk di situ menggantikannya.


"Sekarang, kau yang harus membawa pesawat ini menjauh dari api!" perintah Jamie pada copilot. Sebuah pisau diletakkan di atas pahanya.


"Kalian pengacau! Kalian ingin membajak pesawat ini!" teriak pilot marah.


Bughh! Pukulan Duncan langsung membuatnya pingsan. Pilot itu didudukkan di kursi belakang, dekat tempat teknisi dan pramugari yang duduk ketakutan.

__ADS_1


*******


__ADS_2