
Satu minggu sudah berlalu sejak Tuan Scott datang ke sana. Dia membantu Jamie menyiapkan semua hal yang perlu. Sekarang rumah mungil di tepi hutan itu makin terlihat jelas dari jalan desa.
Gaby baru menyadari betapa luas tanah yang dimiliki Tuan Scott. Mereka bisa survive dengan mengandalkan hasil pertanian dari tanah itu. Dua pria itu dengan rajin membersihkan tanah agar siap untuk ditanami di musim semi nanti.
Jamie mengumpulkan cukup banyak persediaan kayu bakar untuk penghangat di musim dingin yang sudah diambang mata.
Kandang domba juga sudah dipersiapkan, lengkap dengan pemanas, agar domba mampu bertahan melewati musim dingin yang beku.
"Besok kita bisa ke kota. Kau harus membeli beberapa pakaian hangat tambahan. Musim dingin di sini, jauh lebih dingin dari tempat lain, karena kita berada hampir di bagian utara bumi," kata Tuan Scott.
"Oke." Gaby mengangguk menyetujui ucapan pria itu.
"Juga harus membeli cukup stok makanan. Jangan sampai kalian terjebak salju tanpa cukup bahan makanan di sini!" Tuan Scott tidak menanyakan pendapat. Tapi memberi perintah yang hanya boleh mendapat jawaban 'Ya', atau 'Setuju'.
"Kapan kau berencana kembali?" Gaby akhirnya menanyakan hal itu. Dia harus mempersiapkan hatinya. Karena mungkin saja ini adalah pertemuan terakhir mereka.
"Tiga hari lagi aku kembali," jawab Tuan Scott. "Aku akan meneleponmu setiap hari, hingga kau bosan." tambahnya untuk menenangkan Gaby.
"Mungkinkah kita bisa bertemu lagi sebelum pertarunganmu dengannya?" ajuk Gaby.
"Aku tak dapat berjanji. Cuaca di awal musim dingin tak bisa diprediksi!" katanya jujur.
"Jadi ini pertemuan terakhir kita." Gaby menunduk, memandang gelas di tangannya.
Tuan Scott tak bisa berkata-kata lagi. Hanya pelukan hangat yang mampu diberikannya. Berharap itu dapat mengusir rasa gundah di hati Gaby.
*****
Sehari sebelum keberangkatan Tuan Scott. Gaby kembali merasakan ketidak nyamanan di tubuhnya. Beberapa kali dia mual dan muntah yang membuatnya lemah.
"Mari kita periksa ke klinik di desa," ajak Tuan Scott.
"Kukira ini adalah hal yang biasa dialami oleh semua ibu yang sedang hamil. Jadi tak perlu menganggapnya terlalu serius," tolak Gaby.
"Tapi aku juga ingin mengetahui perkembangan terakhir putraku, sebelum pergi." Tuan Scott membujuk dengan halus.
"Baiklah ...." Gaby akhirnya setuju. Tuan Scott sangat gembira.
Tuan Mac Kay mengantar keduanya ke pusat kota kecil itu. Lalu mendaftarkan Gaby untuk pemeriksaan kehamilannya.
__ADS_1
"Kemilan istri anda bagus, Tuan," kata dokter.
"Tapi hari ini dia terus merasa mual dan muntah," jelas Tuan Scott.
"Itu hal yang wajar di trimester pertama kehamilan." Dokter kandungan menjelaskan dengan sabar perubahan-perubahan yang akan dilewati Gaby nanti.
"Terima kasih, Dok," ujar Gaby setelah pemeriksaan itu usai.
"Kau ingin pergi ke mana lagi?" tawar Tuan Scott.
"Aku hanya ingin pulang. Aku merasa lelah," tolak Gaby.
"Baik. Kita pulang, Jamie," perintah Tuan Scott.
"Baik, Tuan." Jamie Mac Kay membawa mobil kembali ke pinggir desa, di mana rumah mereka berada.
Hari itu dilewati Gaby dengan suasana hati yang murung. Dia tak ingin pria itu pergi. Perubahan suasana hatinya mempengaruhi kondisi fisiknya. Rasa mual dan muntah tak henti hingga malam. Dia tak dapat mengontrol perasaan sedih yang menyelimuti hatinya.
"Jangan bersedih. Saya akan meneleponmu setiap waktu. Kau tak akan sempat merasa kesepian," bujuk Tuan Scott.
*****
"Kau kupercaya untuk menjaga keluargaku. Tolong jaga mereka dengan baik."
"Keluarga anda adalah tuan bagi saya, Tuan Scott. Saya akan menjaga mereka seperti anda menjaga saya," katanya.
"Terima kasih, Jamie. Keretaku sudah tiba. Kau bisa kembali. Kurasa Gaby sedang sedih saat ini," ujar Tuan Scott.
"Baik, Tuan Scott."
Salju pertama musim dingin tahun ini turun, saat keduanya berpisah. Dengan segera nuansa putih dan kelabu menyelimuti kota kecil itu. Jamie membawa kembali mobilnya ke pinggir hutan di desa pertanian.
Hari berlalu. Tuan Scott menepati janjinya dengan selalu menghubungi Gaby lewat video call. Menanyakan kabar putranya dan keadaan Gaby. Wanita itu berusaha tersenyum sambil menyembunyikan rasa dukanya. Dia menghitung hari kapan pria itu pergi selamanya dari sisinya.
"Besok adalah hari perjanjianku dengan Watson." Akhirnya pemberitahuan itu datang juga. Gaby hanya diam mendengarkan suara Tuan Scott. Dia ingin menyimpan ingatan tentang pria itu di relung hatinya yang terdalam.
"Entah apakah memang besok waktu terakhirku. Tapi bagaimanapun kita sudah mempersiapkan semuanya. Aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh. Berdoalah, semoga aku masih punya waktu sampai putra kita lahir." Baru kali ini pria itu merasa tak berdaya dan sangat ingin bertahan.
"Pria sejat akan berjuang sekuat tenaga dalam pertarungan yang menyangkut kelangsungan hidupnya. Jika pun gagal, Kau akan kalah dengan terhormat!" ujar Gaby memberinya semangat.
__ADS_1
"Jika menang, maka kau bisa menang dengan bangga!" bisik Gaby lirih. Dia menahan air matanya agar tak tumpah. Jangan sampai hal itu melemahkan hati pria itu.
Tuan Scott menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman. "Kau memang sangat pengertian. Aku percaya kau akan kuat melewati semua badai. Dan Jamie akan selalu mendukungmu."
"Percayalah padaku. Wanita itu hanya tampak lemah saja. Sesungguhnya, hatinya sangatlah kuat dan tegar." Gaby membalas senyum pria itu.
"Katakan pada putra kita bahwa aku sangat mencintainya. Bahkan meskipun belum melihatnya."
"Aku merekam percakapan terakhir ini. Jadi, dia akan mendengar sendiri semua ini," jelas Gaby.
"Ah ... begitu lebih baik." Pria itu merasa puas. Gaby sudah mempersiapkan semuanya.
Esok hari.
Hari berlalu dalam ketegangan. Baik Jamie maupun Gaby, merasa sangat gelisah, menunggu kabar dari Edinburgh.
Namun telepon dari sana baru datang keesokan harinya. Gaby meminta Jamie yang mengangkat telepon.
Pengacara menyampaikan berita perpisahan itu. Tuan Scott sudah pergi untuk selamanya. Semua sesuai dengan mimpi Gaby.
"Saya akan memakamkannya dengan baik di taman belakang kediaman yang menjadi milik anda, Nyonya."
"Ya, lakukan dengan layak dan penuh penghormatan!" ujar Gaby.
"Baik, Nyonya."
Pembicaraan berikutnya adalah tentang segala perjanjian waris yang pernah dibuat Tuan Scott dan disetujui Gaby. Semua berjalan lancar karena mereka sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Sepanjang dua jam pembicaraan telepon, Gaby mampu bertahan dan terlihat kuat di hadapan pengacara mereka. Namun, begitu ercakapan itu selesai, tubuhnya limbung dan ambruk ke lantai. Jamie meraih Nyonya mudanya dengan sigap, hingga Gaby tak sampai benar-benar jatuh di lantai.
"Anda harus beristirahat, Maam." Jamie membawa Gaby ke dalam kamar. Dia dapat memahami rasa kehilangan yang dirasakan Nyonya mudanya.
Hatinya pun merasa sedih. Dia merasa Dewa tidak berlaku adil. Bagaimana orang sekejam Watson dimenangkan dibandingkan dengan pria yang sebaik Tuan Scott?
Hari-hari tak sama lagi. Sekarang mereka berdua saling tergantung satu sama lain. Jamie harus lebih berhati-hati lagi. Ketiadaan Tuan Scott mungkin saja bisa membuat para Highlander itu mengejar Gaby lagi.
Dan pengejaran kali ini, bisa jadi lebih berbahaya jika mereka mengetahui Gaby sedang mengandung putra Tuan Scott. Jamie yakin, jika mereka mencari jejak Gaby, maka yang mereka tuju sebenarnya adalah bayi yang ada dalam kandungan Gaby.
Bayi yang diramalkan akan menjadi pelindung terkuat dari semua pelindung yang ada. Dan Watson, yang paling berkepentingan untuk mencari, agar tak perlu ada pembalasan dendam yang kemungkinan tak dapat dimenangkannya.
__ADS_1
******