
Sore hari saat Gaby beristirahat dan menikmati teh sore yang disiapkan Jamie, panggilan telepon dari Martin kembali masuk. Gaby masih enggan menerima telepon suaminya. Tapi dia menulis pesan padanya.
"Biarkan aku berpikir dengan tenang malam ini. Akan kukatakan keputusanku padamu, besok!"
Tak lama pesan balasan masuk. "Aku sudah memikirkannya. Kembalinya dirimu ke sini, menandakan kau meninggalkan pria itu di sana. Entah apapun awal mulanya, aku akan memaafkan dan menerimamu kembali. Pulanglah ... kita besarkan anak itu bersama-sama. Kumohon ...."
Air mata Gaby berlinang membaca pesan itu. Bagaimana ada pria yang sebaik dan setulus itu di dunia ini? Namun Gaby menyadari, hatinya sendiri telah berubah. Apa mungkin dia mampu menghadapi Martin seperti biasa seakan tak ada apa-apa, sementara rasa di hatinya telah menguap?
Tak lama kemudian, sebuah pesan lain masuk ke ponselnya. Gaby meraih gawai itu dengan rasa malas. Dibacanya pesan yang ternyata dari Farah.
"Gaby, kurasa, sebaiknya kita bicara antar teman. Jangan buat keputusan tanpa pertimbangan matang. Mari bertemu. Katakan di manapun kau ingin kita bertemu. Hanya kita berdua!"
Lama dia tertegun membaca pesan Farah. Menimbang perlu tidaknya mengikuti saran Farah. Tapi memang selama ini Farah selalu bisa menempatkan diri sebagai teman bagi mereka berdua. Dia jarang memihak salah satu diantara Martin ataupun Gaby.
"Temui aku pukul tujuh, di kafe X" balas Gaby. "Jangan bawa Martin!" Gaby menambahkan pesan susulan.
"Oke!" pesan itu dibalas Farah dengan cepat.
Gaby melihat jam pada ponsel. Sekarang sudah pukul enam lebih seperempat.
"Tuan Mac Kay, bisakah kau temani aku keluar untuk bertemu seseorang?" tanya Gaby.
"Baik, Maam," sahut Jamie sigap.
Tak butuh persiapan yang lama bagi Gaby untuk pergi. Jamie Mac Kay menyetop taxi dan Gaby mengatakan tujuan mereka. Kemudian taxi itu meluncur pergi dari hotel tempat mereka menginap.
"Apa anda akan menemui suami anda, Maam?" tanya Jamie.
Gaby menggeleng. "Seorang teman!"
Jamie mengangguk dan kemudian memandang lurus ke jalan, tanpa menanyakan apa pun lagi.
Lebih seperempat jam juga kendaraan itu melintasi jalanan yang lumayan ramai. Barulah mereka tiba di depan kafe yang dimaksud Gaby. Jamie membantu Gaby turun dengan hati-hati.
"Aku hanya hamil, Tuan Mac Kay, bukannya lumpuh!" gerutu Gaby yang canggung menjadi pusat perhatian orang akibat perhatian Jamie Mac Kay.
"Aku hanya menjalankan tugasku, Maam," balas Jamie dengan santai. Tangannya tetap membimbing tangan Gaby dengan hati-hati, seakan tangan itu adalah benda yang sangat berharga di dunia.
Gaby masuk dan menanyakan pada resepsionis apakah ada pemesanan tempat atas nama dirinya atau Farah. Ternyata tidak ada. Dan Farah juga belum datang. Jadi dia memesan tempat lebih dulu bagi mereka bertiga.
Jamie menemani Gaby menunggu kedatangan Farah.
__ADS_1
"Boleh saya tahu anda sedang menunggu siapa?" tanya pria itu.
"Teman dan editorku!" jawab Gaby singkat. Jamie mengangguk. Dia ikut menunggu dengan santai.
"Tak menghabiskan waktu lama, Farah muncul dan mencari-carinya. Gaby melambaikan tangan saat melihatnya muncul di barisan meja paling depan. Mata Farah segera menangkap gerakan tangannya, dan menuju ke sana.
"Senang melihatmu lagi!" seru Farah dengan senyuman terpampang di wajah. Tapi kemudian dia terkejut melihat Jamie juga ada di meja yang sama dengan Gaby.
"Siapakah dia?" tanyanya ingin tahu.
"Ini, Tuan Mac Kay ... pengawalku!" Gaby memperkenalkan Tuan Mac Kay.
"Hai, Tuan Mac Kay. Aku Farah, Teman dan Editor Gaby. Semoga kita bisa berteman baik juga nanti," sapa Farah ramah dan mengulurkan tangan untuk berjabatan.
Jamie menyambutnya dengan santai. Mata Farah membesar melihat sikap pria itu yang menurutnya sedikit menarik.
"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Farah tanpa peduli jika orang yang dibicarakannya ada di depan mereka.
"Di Scottland," jawab Gaby.
Seorang pelayan datang menghampiri dan menyodorkan kertas menu pada Farah, dan menawarkan tambahan pesanan pada Gaby dan Jamie. Farah memesan yang diinginkannya dan pelayan itu segera pergi.
"Aku tak ingin berbasa-basi. Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Gaby.
"Aku tak akan mengatakannya," jawab Gaby.
"Apa kau meninggalkannya di Scottland?" tanya Farah lagi, seperti polisi menanyai pesakitan.
Tapi Gaby masih bersedia menjawabnya. "Ya!" jawabnya tanpa ragu.
"Kenapa kau meninggalkannya?" kejar Farah lagi.
"Karena waktu liburanku sudah habis." Gaby membuka kedua tangannya di depan Farah, tanda bahwa hal itu seharusnya sudah diketahuinya.
"Jadi, bukan karena kau tidak mencintainya!" Farah membuat kesimpulan sendiri.
Gaby terkejut mendengar ucapan temannya itu. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan pandangan tajam.
"Kau tidak mengatakan bahwa kau pulang karena tidak mencintainya. Kau hanya bilang bahwa kau pulang karena waktumu sudah habis. Artinya kau sebenarnya mencintainya!" Farah menjelaskan poin dari kesimpulannya.
Gaby hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kukira kau sangat pintar. Apa kau melupakan Tuan Mac Kay?" pancing Gaby.
__ADS_1
"Oh, pengawalmu ini---" Farah terdiam sesaat. kemudian menambahkan kalimatnya. "Kenapa kau butuh pengawalan?" mata Farah membesar. Dia menyadari satu keanehan. tentang itu.
"Menurutmu?" Gaby malah balik bertanya.
"Apakah ada yang mengancammu?" Gaby mengangguk.
"Hah?" Mata Farah melotot. Dia masih ingin mengajukan pertanyaan, tapi pelayan datang dan menyajikan makan yang mereka pesan.
"Mari makan dulu, Maam," Jamie mengingatkan Gaby untuk mulai makan. Wanita itu mengangguk patuh. Farah sedikit bingung dengan konotasi pengawal yang diemban Jamie. Karena di depan matanya, Jamie justru berperan seperti pengasuh bagi Gaby.
Mereka melanjutkan bincang-bincang sambil menikmati makan malam. Dan Gaby menceritakan beberapa hal yang menurutnya bisa membuat temannya itu mengerti kenapa keadaannya seperti sekarang.
"Itu terasa seperti dongeng di pendengaranku!" kata Farah.
Gaby mengangguk. "Seperti itu juga lah aku saat pertama kali mendengar cerita tentang Guardian dan dewi kesuburan yang menjadi pasangan dari guardian terpilih!" Gaby mengangkat kedua bahunya untuk menunjukkan bagaimana bingungnya dia saat itu.
"Sebelum aku melihat anda, Maam. Saya juga menganggap kepercayaan itu sebagai dongeng belaka. Tapi, saat saya bertemu anda hari itu, saya akhirnya mempercayai cerita turun temurun dari abad lampau itu." Jamie Mac Kay menimpali percakapan kedua orang wanita yang duduk di depannya itu.
"Bagaimana kau bisa mengenalinya?" tanya Farah tak percaya. Gaby juga menunjukkan ekspresi ingin tahu yang kuat di wajahnya.
"Seperti sebuah naluri! Kami akan langsung mengetahuinya, bahkan dari jauh, tanpa melihat wajahnya. Seperti sebuah sensor yang menemukan sesuatu yang sudah ditetapkan," jawabnya.
"Kau juga seorang guardian. Apa kau tak ingin memiliki anak juga dengan temanku ini?' tanya Farah tak percaya.
"Seorang guardian akan setia pada tuannya!" jawab Jamie tegas dan jelas.
"Oh, Kau adalah milik pria yang membuat temanku hamil dan hidupnya berantakan sekarang!" tuding Farah tajam.
"Dia sudah menyerah terimakan aku pada pemilik baru, Madam Gabriela dan putranya!" jawab Jamie tegas.
"Dia semurah hati itu?"
"Ya! Dia bahkan rela menukar nyawanya demi membela orang-orang di sekitarnya!" sahut Jamie tegas.
"Seorang pria sempurna. Tak heran kau jatuh hati padanya." Farah kembali pada kesimpulannya semula.
Gaby hanya menunduk, tak melihat ekspresi Farah seperti apa. Dia tak ingin ribut dengan temannya yang satu ini.
"Novelku akan kuedit lagi, sebelum diserahkan padamu!" Gaby mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa?" Farah sedikit linglung karena pokok pembicaraan diganti Gaby tiba-tiba.
__ADS_1
*******