The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
88. Polisi Kota


__ADS_3

Mobil antik itu dikendarai Jamie dengan kecepatan maksimal. Dia tak ingin membuang waktu terlalu lama. Perjalanan it cukup jauh karena Duncan serta Angus memang mencegat para highlander pelindung di luar kota. Mencegah para pemburu itu memasuki kota kecil dimana Martin dan Dokter Steve bekerja.


Sementara Stuart dan Elliot mencegat para highlander itu masuk ke desa yang sudah lebih dekat ke tepi hutan dimana Gaby dan Jamie tinggal.


Langit sudah mulai memerah senja tatkala dia menyusuri jalan antar kota. Dia tidak milih jalur tol, karena Angus tidak menunggu di arah sana. Namun, di sisi jalan dekat hutan kecil yang membatasi dua kota bertetangga.


Dia sudah dapat merasakan keberadaan teman-temannya. Kilatan petir yang terus menyambar ke langit disertai gelegar dahsyat, ternyata sudah mengundang perhatian pihak keamanan kedua kota yang berbatasan.


Terlihat beberapa mobil polisi berjejer di pinggir jalan. Mereka mengatur lalu lintas dan melarang siapapun turun dari jalan raya ke tepi hutan.


Mobil antik Jamie melewati barisan mobil polisi dan para penonton yang ingin mengetahui fenomena aneh apa yang sedang terjadi. Berusaha mencari tempat yang tidak mencolok untuk masuk ke sana dan bergabung dengan teman-temannya.


Sebuah jalan kecil terlihat sekitar lima ratus meter dari kerumunan orang. Mobil itu berbelok ke sana dan berjalan perlahan. Jalanan itu sama sekali tidak terawat dan banyak rumput liar memenuhi badan jalan yang sudah rusak di sana sini.


Setelah tidak lagi melihat jalan yang mungkin dilalui mobilnya, Jamie berhenti dan turun. Memperbaiki letak pedang di punggung sebelum mulai berjalan. Sekarang dia harus berjalan lebih jauh dari seharusnya.


Tak diduganya, petugas keamanan sudah mengepung, sejauh dua ratus meter dari pusat pertarungan. Mereka berlindung di balik batang kayu yang tumbang ataupun di balik pohon sambil mengacungkan pistol.


Jamie menggelengkan kepala. Tak akan mungkin pistol itu bisa membunuh mereka. Sekedar luka, memang iya. Namun, itu akan segera sembuh seiring berjalannya waktu.


Setelah menemukan celah yang jauh dari pantauan para pengamat berseragam itu, pria itu melompat mendekat dan memukulkan pedang panjangnya ke arah tiga pedang yang sedang saling berbenturan juga.


Traang! Percikan api disertai gelegar petir yang dahsyat mengejutkan semua orang, termasuk Stuart dan Duncan yang sedang bertarung menghadapi Watson. Pertarungan itu terhenti sesaat.


Belum sempat siapapun di antara mereka bicara, terdengar perintah polisi dengan pengeras suara.


"Berhenti, atau kami tembak!"


Para highlander itu menoleh dan memandang dengan ekpresi aneh pada kerumunan pria berseragam yang sudah mengacungkan pistol dan siap untuk menembak.


Dengan wajah masam, Watson berbalik menghadapi para polisi dan menantang. "Coba saja tembak kalau berani!"


"Berhenti di tempat!" teriak polisi yang melihat Watson terus berjalan maju ke arah mereka dengan pedang penuh darah diangkat ke atas.

__ADS_1


"Kalian mengganggu kesenanganku!" teriaknya marah. Pedangnya diangkat ke atas, kemudian diayunkan berputar-putar di atas kepalanya.


Angin berkesiuran perlahan, tapi Watson tidak hendak berhenti. Dia seperti ingin menunjukkan kemampuannya yang diluar nalar orang biasa.


Disaat para polisi berlindung dari jatuhnya ranting dan segala macam yang beterbangan di udara akibat putaran pedang Watson, Jamie mengajak teman-temannya pergi dari sana dan membiarkan Watson menghadapi para petugas hukum itu sendirian.


"Bagaimana dengan Nyonya?" tanya Stuart saat mereka sudah di mobil dan berjalan keluar dari hutan.


"Kita memiliki tuan muda yang tampan sekarang," jawab Jamie tersenyum.


"Syukurlah." mereka mengangguk senang.


"Lalu, mau ke mana kita sekarang?" tanya Elliot.


"Menurutku, lebih baik kita pulang dulu ke rumah dan diskusikan dengan Nyonya langkah selanjutnya."


"Begitu juga baik. Setidaknya kami bisa istirahat sebentar." Duncan bersandar kelelahan di jok belakang. Tubuhnya penuh degan luka dan pakaiannya sudah compang-camping.


"Tetapi, tidakkah berada di dekat Nyonya akan membuat bahaya lebih dekat padanya?" Elliot merasa ragu.


Empat highlander itu membuang muka. Jamie bukannya hendak mencela, tetapi memang itulah kenyataannya. Mereka sudah berusaha keras melumpuhkan Watson. Namun, pria itu teguh seperti batu karang di tengah ombak.


Jika bukan karena apa yang dilakukan Jamie tadi, mereka mungkin masih akan terus bertarung dengan Watson hingga pria itu kelelahan dan menawarkan istirahat.


"Artinya, aku harus ikut serta dalam pertarungan itu. Bukan karena aku lebih kuat dari kalian. Tetapi, dengan tambahan tenagaku, maka kesempatan untuk mengalahkannya akan lebih besar." Jamie menjelaskan analisanya.


"Sebaiknya kita lakukan seperti itu saja lain kali," timpal Angus.


Jamie mengangguk setuju. "Tetapi, jika aku ikut bertarung, maka tak ada yang menjaga Nyonya. Itu sebabnya aku ingin membawa kalian pulang. Kita buat pertahanan terakhir di sana."


"Jika kita kalah?" Elliot kembali khawatir.


"Maka harapan kita tumpahkan pada Oliver dan kemurahan hati Dewa!" Tutup Jamie.

__ADS_1


Empat pria hebat lainnya terdiam mendengar uraian Jamie. ******* napas Angus terdengar. "Aku siap untuk mengadu nyawa untuk melindungi Nyonya dan Tuan Muda kita!" tekadnya.


"Aku juga bersedia menyerahkan nyawa untuk melindungi Nyonya dan Tuan Muda kita!" Setelah Duncan, menyusul Stuart mengucapkan sumpah.


"Bagaimana denganmu, Bonnie?" tanya Stuart pada sahabatnya yang masih belum bersuara.


"Kita sudah bersumpah setia saat pertama kali bertemu Nyonya. Jadi apa perlu bersumpah lagi?" tanyanya tak peduli.


"Tapi---"


"Apa kalian masih bisa merasakan Watson?" pertanyaan Jamie memotong bantahan Stuart.


"Aku sudah tidak dapat merasakannya," jawab Duncan setelah beberapa saat.


"Para polisi itu berhasil menahannya cukup lama di sana. Baguslah!" komentar Angus.


"Jangan lengah. Dia sudah tau kalau kita ada di sekitar sini. Hanya butuh sedikit waktu lagi baginya untuk menemukan kita." Jamie memperingatkan.


Malam belum lama turun ketika mereka tiba di rumah. Oliver sudah duduk dengan tenang di bangku ayun di beranda.


"Senang melihat kalian kembali," sapanya dengan senyuman lega.


"Senang melihatmu lagi, Oliver." Stuart menyapa dengan ramah.


"Sebaiknya kalian pergi makan malam dulu. Tuan Martin sudah memasak cukup untuk kita makan dengan kenyang." Oliver terkekeh.


"Terima kasih, Oliver." Jamie menduga, Oliverlah yang meminta Martin agar memasak lebih banyak untuk semua orang yang sedang kelelahan.


Oliver hanya mengangguk-angguk dan kembali mengamati kegelapan di depan rumah. Putranya Steve sudah kembali ke kota untuk bekerja lagi besok pagi. Namun, dia harus terus ada di rumah Gaby hingga urusan Watson selesai.


"Bagaimana keadaan Nyonya, Tuan Martin?" tanya Jamie.


"Dia mencarimu dan mengomel karen bukan kau yang muncul untuk mengantarkan makan malam." Martin menggeleng dengan sikap keras kepala Gaby.

__ADS_1


"Kalian makan saja lebih dulu. Aku akan turun melihat Nyonya." Jamie meninggalkan teman-temannya.


*********


__ADS_2