
Seperti minggu sebelumnya, Tuan Scott kembali menghujani Gaby dengan begitu banyak belanjaan.
"Aku akan kembali lusa! Semua ini terlalu banyak untuk kuhabiskan dalam dua hari," protes Gaby.
"Kau bisa membawanya kembali jika lebih," sahut Tuan Scott kalem.
"Aku tak terlalu suka caramu ini!" tegas Gaby.
"Baiklah. Jika kau butuh apapun, kau bisa memintanya padaku!" pesan pria itu.
"Tentu!" angguk Gaby lega, karena kali ini pria itu menurutinya.
"Besok pagi, aku akan membawa pengacara ke flatmu," kata Tuan Scott dalam perjalanan pulang.
"Untuk apa?" tanya Gaby heran.
"Membuat catatan warisan untukmu dan putraku," jawabnya.
"Aku tidak mebutuhkannya!" tolak Gaby.
"Kalau kau menolak, maka seluruhnya akan menjadi hak putra kita." Tuan Scott tak mundur sedikitpun dari keputusannya.
"Aku masih bisa menghidupinya dari menulis!" bantah Gaby.
"Apa kau tahu untuk apa buku-buku tua dan langka itu ada di toko dan kujaga seumur hidup?" tanya pria itu tanpa mengacuhkan protes Gaby.
"Mana kutahu!" sahut Gaby.
"Entah bagaimana, aku terus berkhayal bisa mewariskan semua itu pada putraku. Dan dia akan memanfaatkan seluruh koleksi langka itu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya. Dan itulah yang sedang kuatur!" beber Tuan Scott.
Gaby menoleh pada pria di sampingnya dengan ekspresi tak percaya.
"Kau sudah memikirkan untuk mewariskan toko buku itu untuk putramu? Meskipun kau sangat tahu bahwa seorang guardian tak akan bisa punya anak?" tanyanya heran.
__ADS_1
Tuan Scott mengangguk kuat, untuk meyakinkan Gaby. "Kadang terbersit di pikiranku untuk mengadopsi seorang putra sebagai penerus." Pria itu menggeleng.
"Kenapa tak kau lakukan?" tanya Gaby.
"Karena hati kecilku menolaknya. Tentu aku bisa mengadopsi anak lelaki kecil jika aku mau. Tapi anak itu belum tentu akan menjadi guardian juga seperti harapanku agar dia bisa memanfaatkan semua koleksi buku itu!"
"Anak lelaki biasa mungkin hanya akan mewarisi sebuah toko buku saja. Dan itu bukanlah tujuan awalku!" Tuan Scott menutup penjelasannya.
Gaby mengangguk mengerti. Pria itu punya alasannya sendiri. Dan memang lebih baik baik putra mereka untuk mengetahui jati dirinya sedini mungkin. Atau dia akan seperti Gaby yang kehilangan akar budaya aslinya dan menjadi buta sama sekali tentang sejarah dan asal usul serta takdir yang sudah digariskan untuknya.
Tuan Scott merasa puas karena Gaby tak lagi protes tentang rencananya. Bagaimanapun, waktunya sangat sedikit. Tinggal dua bulan lagi, waktu perjanjian pertarungannya dengan Watson, yang mungkin akan menjadi akhir perjalanan takdirnya.
*
*
Pagi hari berikutnya.
Tuan Scott datang ke flat Gaby sekitar pukul sepuluh pagi setelah memastikan bahwa wanita itu berada di kamarnya. Bersama dengannya ada seorang pria berjas hitam pekat dan sepatu mengkilat. Membawa tas kerja dari kulit. dan topi beludru yang sama hitamnya.
"Selamat pagi Nyonya Gabriela," sapanya ramah. Topinya dilepaskan dari kepalanya yang botak di bagian depan. Rambut panjangnya yang kemerah-merahan masih terlihat diantara warna kelabu.
"Selamat pagi, Tuan Thomas," sahut Gaby menganggukkan kepala.
Pria itu membuka tas kerja dan memberikan satu berkas yang sudah diketik pada Gaby untuk dibaca.
Gaby terkejut melihat bahwa yang diwariskan Tuan Scott bukan cuma toko buku seperti yang dikatakannya kemaren sore.
"Tidakkah ini terlalu banyak, Tuan Scott?" Gaby menunjukkan sederet properti dan harta lain yang dimiliki oleh pria itu.
"Semua milikku adalah juga milik putraku. Tak ada siapapun lagi kerabat yang kumiliki selain dia," jawabnya.
Gaby menggelengkan kepalanya. Dengan mengerutkan kening, dia terus membaca. Dengan semua ini, dia tak harus bekerja apapun lagi untuk menghidupi anak itu nanti. Pantas saja Tuan Scott terlihat sangat santai. Toko buku itu dijaganya karena ingin diwariskannya, bukan karena ingin uang dari penjualan buku yang ada!
__ADS_1
Kemudian Gaby sampai pada bagian kapan waktunya semua warisan itu akan diterimanya. "Saat putra mereka lahir!" Tertulis jelas di situ bahwa putranya akan mewarisi semua itu saat dia terlahir dengan selamat di dunia ini.
Dan Gaby bisa membantu mengelolanya sampai anak itu cukup umur untuk menggantikan mengelola semua aset yang diperuntukkan baginya.
Pada dasarnya, Gaby hanya mendapatkan satu properti yang sekarang ditempati oleh Tuan Scott sebagai kediaman pribadinya. Lalu tunjangan bulanan yang diambil dari tabungan dan deposito milik pria itu. Selain itu, dia akan tetap mendapatkan biaya hidup selama kehamilannya.
"Di manakah bangunan ini?" tanya Gaby.
"Aku akan menunjukkannya padamu sore ini, setelah kau menandatangani semua berkas," jawab Tuan Scott cepat. Gaby mengangguk setuju.
"Properti lain bisa Anda lihat kapan pun anda ingin melihatnya. Saya akan menunjukkannya mewakili Tuan Scott, nanti," sahut Tuan Thomas.
Pria itu masih menjelaskan tentang detail keuangan yang dimiliki Tuan Scott serta cara pengelolaannya.
Gaby mendapatkan salinan surat dari semua properti yang tertulis dalam daftar. Bahkan beberapa koleksi mobil antik yang tersimpan di dalam garasi rumah pribadi pria itu, masuk dalam perhitungan warisan.
"Dia benar-benar Land Lord (Tuan Tanah)," batin Gaby takjub.
"Aku harus mengunjungi semua tempat ini suatu hari nanti," ujar Gaby lirih.
"Datanglah di musim semi dan musim panas. Cuacanya akan sangat bagus, Maam," sahut si pengacara ramah.
"Ya, nanti setelah putraku lahir, aku akan membawanya ke sini," timpal Gaby cepat.
"Jangan!" cegah Tuan Scott.
"Dia tak boleh datang ke sini, sebelum dia cukup kuat dan punya kemampuan!" ujarnya segera, sebelum Gaby sempat bertanya.
"Aku akan mengenalkanmu pada Jamie Mac Kay. Dia guardian tua kepercayaanku. Dialah yang akan melindungi kalian berdua di Amerika. Dia juga yang akan mengajari dasar-dasar menjadi seorang guardian!" jelas Tuan Scott.
"Kau tak bisa menolak!" Itu demi keselamatan putra kita!" tegasnya saat melihat Gaby akan bersitegang lagi.
Gaby akhirnya hanya bisa menghempaskan napas berat. Dia kesal dan mulai merasa seperti seorang tahanan saja. Wajahnya cemberut.
__ADS_1
"Kau akan menyukai pria tua itu," bujuk Tuan Scott, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Gaby.
*****