
"Ahh ... puas sekali hari ini." Seseorang bicara dengan riang.
"Masih kurang. Andai kita libur satu hari lagi," bantah seorang temannya.
"Ayo cepat ... cepat. Nanti kita terlambat di perjalanan," terdengar teriakan seseorang.
Gaby dan Tuan Scott membuka mata mendengar suara orang ramai berbincang.
"Apa kalian sudah menunggu lama?" terdengar suara yang dikenal Gaby. Dia menoleh ke samping. Matanya mengerjap beberapa kali, karena cahaya terang di sekitar.
"Pasti kalian tertidur menunggu kami kembali." Orang itu menyimpulkan sendiri, karena yang ditanya tidak menjawab, akibat baru bangun tidur.
"Oh, iya. Apa kalian sudah selesai bermain air?" tanya Tuan Scott setelah mengamati keadaan sekitarnya.
"Waktunya sudah habis. Nanti kita terlambat sampai di Edinburgh jika terlalu lama di sini." Itu suara Tuan Duncan.
Tuan Scott dan Gaby saling berpandangan. Kemudian keduanya tersenyum tipis, penuh arti.
Gaby merasa lega, karena semua yang dilaluinya ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka.
Namun tidak dengan Tuan Scott. Dia memilih untuk diam dan pura-pura memejamkan matanya. Ada kesedihan menggantung di wajah tampannya.
Melihat Tuan Scott yang murung, Gaby kembali meragukan kesimpulannya. "Bukankah tak mungkin dua orang yang berbeda, bisa memimpikan hal yang sama?" batinnya.
"Apa kita tadi hanya bermimpi?" bisik Gaby. Dia tak lagi bisa menahan rasa penasaran. Sementara Tuan Scott terus memejamkan mata di sepanjang perjalanan kembali.
"Menurutmu?" Tuan Scott malah balik bertanya.
Gaby mengernyitkan dahi tak suka dijawab seperti itu. Kemudian melengos dan membuang pandangan ke luar jendela. Pohon-pohon berlarian ke arah belakang bus. Keheningan kembali tercipta di antara mereka. Bahkan seisi bus juga hening. Mereka kecapaian karena bermain air di danau.
Rombongan itu sampai di Edinburgh pukul lima sore. Gaby berterima kasih pada Tuan Duncan untuk hadiah liburan yang diberikannya. Kemudian berbalik dan berjalan kembali ke flat Emily.
Tuan Scott memanggilnya saat dia sudah berada di seberang jalan.
"Ada apa?" tanya Gaby. Dia merasa kikuk, mengingat apa yang telah terjadi dalam mimpinya.
"Kita harus bicara," ujar Tuan Scott serius.
"Tidak hari ini. Aku sangat lelah, dan ingin segera istirahat," tolak Gaby halus.
Tapi Tuan Scott menyeberang jalan dan sekarang berdiri di depan wanita itu.
"Meskipun kau membenciku. Tapi tolong jaga bayi kita. Dan sebaiknya kau segera kembali ke Amerika!" sarannya.
__ADS_1
"Itu hanya sebuah ilusi dan mimpi belaka," bantah Gaby.
Tuan Scott menggeleng. Lihatlah kalung pemberian Mow!" Tuan Scott menunjuk kalung di leher Gaby.
Gaby menyentuh lehernya. Memang ada kalung sihir pemberian nenek, di hari mereka akan kembali. "Jadi itu benar-benar nyata?" gumamnya lirih.
"Ayo, kuantar kau kembali ke flat," kata Tuan Scott. Gaby hanya mengikuti langkah kaki Tuan Scott. Dia masih tak percaya bahwa mereka memang pergi ke masa lalu, kemudian kembali lagi.
"Kau akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku akan melindungimu," janjinya. Gaby hanya diam. Dia antara mengerti dan tidak, maksud pembicaraan Tuan Scott. Keduanya melangkah beriringan.
"Kurasa kau masih shock. Apa kau suka cokelat hangat?" tanya Tuan Scott. Gaby mengangguk.
"Nanti beli di tempat Emily dan bawa ke kamarmu. Beli makanan juga, agar kau tak perlu turun lagi untuk mencari makan malam," sarannya. Sekali lagi Gaby mengangguk.
"Kita sudah sampai," ujar Tuan Scott. Gaby mengangkat mukanya yang sejak tadi melihat ke jalanan berbatu. Mereka memang sudah sampai di seberang jalan rumah Emily.
Tuan Scott melihat wanita di sampingnya tak juga melangkah untuk menyeberang jalan.
"Apa kau ingin kutemani?" tanyanya.
Seperti robot yang otomatis menjawab. Gaby juga kembali menganggukkan kepalanya.
Tuan Scott tersenyum dan menggelengkan kepala. Diraihnya tangan Gaby dan membimbingnya untuk menyeberang jalan. Dan wanita itu mengikutinya dengan patuh.
"Kau tidak baik-baik saja sekarang. Mari kita ke toko Emily dan lihat apakah kau masih linglung seperti ini."
Tuan Scott menarik tangan Gaby untuk mengikutinya ke toko Emily.
"Gaby, kau sudah kembali?" Tanya Emily, begitu dua orang itu masuk.
"Dan anda juga, Tuan Scott. "Apakah kalian bersama, atau bertemu di jalan?" tanya Emily ingin tahu.
"Kami pergi liburan bersama. Tapi sepertinya dia agak kebingungan sekarang," jelas Tuan Scott.
Emily memperhatikan Gaby yang tak menjawab apapun dan hanya menunduk.
"Dia kenapa?" tanya Emily berbisik pada Tuan Scott.
"Dia sudah seperti ini saat kami kembali dari danau," jawab Tuan Scott.
"Bisakah kau buatkan cokelat panas untuknya? Kurasa dia butuh yang manis dan hangat seperti itu." Tuan Scott memesan minuman, kemudian juga memilih makanan yang dijual Emily.
Wanita paruh baya itu segera menyiapkan pesanan yang diminta Tuan Scott.
__ADS_1
Setelah minuman dan makanan hangat di tangan, Tuan Scott mengajak Gaby kembali ke flatnya.
Di kamar, Gaby masih terus bersikap seperti itu. Kali ini Tuan Scott mengguncang bahu wanita muda itu. Kepala Gaby bergoyang-goyang ke sana ke mari.
Mata Gaby membulat saat melihat Tuan Scott. "Kau, kau harus hati-hati," katanya memperingatkan.
"Kenapa aku harus hati-hati? Apa kau melihat sesuatu yang tak biasa?" tanya Tuan Scott dengan keingin tahuan yang besar.
"Aku melihatmu mati!"
"Kau mati!" tubuh Gaby terguncang, dan dia terisak. Tapi tak ada air mata yang keluar. Tangannya otomatis mengelus perutnya dengan cemas.
Kemudian Gaby menoleh pada Tuan Scott. Matanya tiba-tiba menyala dalam kemarahan.
"Kau, jangan pernah berjanji apapun lagi padaku. Kau akan mendahului kami!!" Gaby terisak.
"Dan anak ini tak akan punya ayah yang bisa melindungi dan membimbingnya!" Tangis Gaby mulai terdengar. Air matanya jatuh perlahan. Dia sangat sedih sekarang.
Tuan Scott menghela napas. Dia tak mengatakan apa pun pada Gaby. Hanya rengkuhan tangannya yang menunjukkan bahwa dia peduli pada wanita itu.
"Aku akan mempersiapkan semuanya sebelum pergi," jawab Tuan Scott.
"Jangan khawatirkan lagi. Tangannya yang kekar memeluk tubuh Gaby yang makin berguncang.
Setelah menemani Gaby makan, kemudian menungguinya membersihkan diri, Tuan Scott memintanya untuk langsung istirahat. Gaby mengangguk lesu. Dia naik ke atas tempat tidurnya. dan meringkuk di sana. Tuan Scott menutupkan selimut ke tubuhnya.
Tuan Scott masih menunggui hingga Gaby benar-benar tertidur. Kemudian dia beranjak pergi. Dan mengunci pintu dari luar.
Emily melihat Tuan Scott pergi dengan wajah murung. "Ada hubungan apa mereka berdua?" pikirnya heran.
*
*******
Di lantai dua toko buku, Tuan Scott sibuk menulis beberapa surat dan dokumen penting. Peringatan Gaby sudah dipahaminya. Dan dia sangat serius dengan itu.
"Tuan, sudah waktunya tutup toko," ujar penjaga toko dari tangga.
"Tutup saja dan istirahatlah, Aku masih akan menulis beberapa waktu ini," jawab Tuan Scott tanpa menoleh.
"Baik!" Penjaga toko itu kembali ke lantai bawah untuk menutup toko dan beristirahat.
Larut malam. Semua toko sudah tutup dan mematikan lampu. Begitu juga Toko Buku Scott Sutherland. Tapi lampu di lantai dua masih terang benderang. Tanda pemiliknya masih bekerja di sana.
__ADS_1
********