
Dengan perlahan, dia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Jamie Mac Kay.
"Berhati-hatilah. Aku merasa mendengar sesuatu yang tak seharusnya kudengar. Mungkin para highlander sedang mencari Gaby."
Setengah jam kemudian, pesan balasan dari Jamie masuk. "Kau di mana?"
"Aku berhenti di rest area jalan lintas kota menuju ke sana. Berhati-hatilah!"
"Kau jangan melakukan apapun. Tetaplah di kamarmu dan pergi pagi-pagi dari sana!" pesan Jamie.
"Oke!" balas Martin. Kemudian ponsel itu dimatikan dan dipaksanya mata untuk kembali tidur, agar bisa bangun lebih pagi dan pergi secepatnya. Dia tak ingin dikuntit oleh orang-orang asing yang mungkin akan membahayakan keselamatan Gaby.
Pukul lima pagi, Martin segera bangun dan membereskan tasnya. Dia membuka pintu dengan hati-hati, seakan takut gerakannya dapat membangunkan orang lain di penginapan itu. Langkahnya mengayun cepat dan menuruni tangga ke lantai dasar.
"Ini kunci!" Martin meletakkan kunci kamarnya di meja resepsionis. Pria di balik meja yang sedang tertidur sambil duduk itu terkejut lalu mengerjapkan matanya. Kemudian mengangguk dan meraih kunci yang diserahkan oleh pria yang sudah menghilang di balik pintu masuk.
Mobil Martin berderum halus dan keluar dari tempat parkir perlahan. Matanya mengawasi semua mobil yang terparkir di depan penginapan. Dia tetap hati-hati saat masuk ke jalur jalan. Kerndaraan lain melintas dengan cepat di jalan itu.
Setelah dua ratus meter berlalu dari sana, dan mengamati kata spion bolak-balik. Martin akhirnya lega. Tak ada mobil lain yang mengikutinya keluar dari penginapan tadi. Sekarang dia bisa mulai melaju, supaya bisa sampai di kota kecil itu sebelum sore.
Setelah berkendara selama setengah jam, Martin terkejut. Dia ingat tadi malam setelah makan malam, dia melihat mobil bagus di depannya juga terparkir di depan penginapan.
Ternyata ada juga yang check out lebih pagi dari dirinya. "Apakah mereka orang baik atau para highlander yang sedang mencari Gaby?" pikirnya. Kecemasannya kembali lagi.
Untuk menghindari dibuntuti, Martin berusaha menjaga jarak dari mobil di depan. Dia tak berniat untuk menyalip mobil bagus dan mahal itu.
Hanya saja, rencananya untuk ngebut, terpaksa dibatalkan. Martin tak ingin dia berada di depan dua mobil bagus yang dicurigainya itu.
Satu jam berlalu, kedua mobil itu mengambil jalur lain dan berbelok. Martin merasa sangat lega. Ternyata penumpang dua mobil itu tidak menuju ke kota yang sama dengannya. Dengan segera, dipacunya kendaraan untuk mengejar ketertinggalannya tadi.
Ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Jamie. Martin mengangkatnya dengan segera. "Ya."
"Anda di mana sekarang?" tanya Jamie.
"Di jalan luar kota," jawab Martin.
__ADS_1
"Ada yang mengikutimu, atau tidak?" selidik Jamie Mac Kay.
Martin kembali melihat ke kaca spion. Tak ada mobil yang dikenalinya di penginapan itu berada di belakangnya. "Tak ada, aman!" jawabnya yakin.
"Usahakan menyamarkan arah tujuanmu ke kota ini. Jangan langsung ke sini!" saran Jamie.
Martin mengerti bahwa saran Jamie sangat masuk akal. Namun, jika dia memutar lagi, maka dia akan harus mencari tempat menginap lain malam nanti. Sementara dia sudah harus masuk kerja esok pagi.
"Baik!" Akhirnya Martin menyetujui saran Jamie. Dia akan mencari kota kecil terdekat dengan tempat tujuan. Lalu berangkat pagi sekali, untuk mengejar waktunya masuk kerja pertama.
Martin membuka map dan mencari kota terdekat yang bisa disinggahinya petang nanti. Dia menemukan satu kota kecil lain yang berada di arah jalan yang lain. Tetapi, kota itu memiliki jalan penghubung menuju kota tempat tinggal barunya.
Martin mengarahkan mobilnya ke jalur kanan jalan, untuk berbelok ke arah lain. Saat membelok, matanya mengamati kaca spion arah belakang. Ada tiga mobil melaju lurus di jalan yang tadi ditinggalkannya. Tapi Martin tidak ingat apakah melihat mobil itu di penginapan semalam atau tidak.
Sekarang dia fokus mengemudi, sambil tetap mengawasi mobil-mobil yang berada di belakangnya. Dia berada dalam kewaspadaan tinggi sekarang. Tak seorang jua boleh mengetahui di mana Gaby berada. Terutama, tidak melalui dirinya!
*
*****
"Kita akan tetap tinggal di sini. Kita bukan pengecut yang harus lari!" sahut Gaby ketus.
"Maam, saat ini, utamakan bayi anda lebih dulu. Bagi saya, tak masalah meskipun dikatai pengecut. Asalkan anda dan bayi itu selamat!" bujuk Jamie.
"Aku tak ingin sembunyi lagi, Tuan Mac Kay!" seru Gaby emosi.
"Mereka pasti sedang merayakan tewasnya Tuan Scott. Orang-orang seperti itu tak perlu kita hindari. Andai saja aku juga punya kemampuan seperti kalian, aku akan menghadapi mereka semua dengan pedang terhunus!" ujarnya marah.
"Maam!" Jamie tak tahu harus bersikap bagaimana. Wanita itu sekarang jauh lebih sulit dihadapi. Makin lama, sikapnya makin keras kepala.
"Jika itu yang anda putuskan, maka saya akan mengikutinya. Sekarang tolong ikuti saya." Jamie Mac Kay berdiri dan berjalan ke dalam kamarnya.
Dahi Gaby mengernyit. Apa yang anda sembunyikan di dalam kamar itu, Tuan Mac Kay?" selidik Gaby.
"Semua ini adalah pengaturan Tuan Scott, Maam." Jamie menjawab dari dalam kamarnya. Gaby bisa mendengar dia sedang membuka sesuatu. Terdengar suara benda keras membentur sesuatu. Gaby berdiri dengan penasaran. Kepalanya menjulur masuk untuk melihat apa yang sedang dikerjakan pria besar itu.
__ADS_1
Ada sebuah lubang menganga di lantai kamar Jamie. Pria itu menoleh ke arahnya dan menunjuk lubang itu. "Anda harus masuk ke basement, Maam," ujarnya.
"Untuk apa?" Gaby terlihat enggan.
"Kita harus menyamarkan aroma anda dari para highlander itu. Dan menurut teori Tuan Scott, cara ini layak dicoba. DIa telah membuktikan bahwa tempat perlindungan ini berhasil menyamarkan kehadirannya dari pengejar beberapa puluh tahun yang lalu." Jamie mengatakan apa yang diketahuinya.
"Itu mungkin berhasil melindunginya. Tapi apakah akan berfungsi juga denganku?" tanya Gaby tak percaya.
"Sayangnya, baru anda yang kami temui. Jadi tak ada cara lain, selain mencoba." Jamie menegakkan tubuhnya. Dia sungguh lelah berdebat dengan Gaby.
"Baiklah. Tapi, haruskah aku masuk ke sana sekarang? Bukankah seperti kata Martin, mereka masih sejauh sehari perjalanan dari sini," tawarnya lagi.
"Maam, saya masih harus menghapus semua jejak anda di rumah ini, di area ini. Jadi sebaiknya anda segera pindah dan beristirahat di bawah sana." Suara Jamie terdengar tegas. Waktunya sudah sangat sempit. Sementara yang mesti kerjakan masih sangat banyak.
"Bagaimana dengan semua pakaian dan barang-barang pribadiku?" tanya Gaby. Akhirnya dia menyerah.
"Saya akan membawakannya ke bawah. Anda jangan khawatir. Semua yang anda butuhkan, sudah tersedia di bawah."
Jamie keluar dan menuju kamar Gaby. Dia mengemas semua benda-benda pribadi Nyonya Mudanya dan membawanya ke kamarnya. Kamar itu sudah kosong. Sementara sinar lampu membias dari basement.
Jamie menyusul Gaby turun ke bawah. Dia masih harus melewati lorong sejauh sepuluh meter, lalu menapaki anak tangga dan turun sejauh dua meter lagi.
"Saya membawakan barang-barang anda, Maam." Jamie meletakkan semua barang bawaannya di lantai. Kamar darurat itu memang sudah dibersihkannya. Sudah layak untuk ditempati Gaby.
"Di sini ada persediaan makanan kering dan minuman. Selama saya msih di sini, saya akan mengantarkan makanan kesini. Tapi, jika saya sedang pergi, maka Anda hanya bisa memakan yang ada di sini."
"Bawakan aku buah-buahan, Tuan Mac Kay," pinta Gaby.
"Baik, Maam."
Jamie melangkah ke seberang tempat tidur single di situ.
"Maam," ujarnya pada Gaby.
******
__ADS_1