The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
61. Di Rumah Baru


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Jamie Mac Kay sebelumnya. Malam hari barulah mereka tiba di sebuah kota kecil pedesaan.


Tuan Mac Kay membuka pintu dengan kunci yang dikeluarkan dari kantongnya.


"selamat datang di rumah baru kita, Maam," ujar Jamie sambi membuka pintu.


Gaby masuk diikuti Jamie yang menyeret dua koper bawaannya. Tangannya dengan cekatan meraba-raba dinding. Kemudian lampu menyala dan menerangi ruangan tempat mereka berada.


Gaby bisa melihat bahwa itu adalah rumah yang sudah sangat lama tak ditempati. Semua perabotan ditutupi kain putih kusam kekuningan yang menampung debu.


"Jangan sentuh apapun dulu. Biar saya ke kamar anda dan membuka penutupnya agar tidak meninggalkan debu terlalu banyak."


Jamie meninggalkan Gaby di ruangan depan yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Gaby belum dapat membuat kesimpulan atas rumah yang disiapkan oleh Tuan Scott untuk menyembunyikan putranya dari incaran para Highlander.


"Masih ada banyak waktu untuk melihat seluruh ruangan di rumah ini," pikir Gaby.


Tak lama Jamie menemui Gaby dan mengatakan bahwa kamar tempat wanita muda itu sudah siap untuk ditempati.


"Kamar anda sudah siap, Maam," katanya. Gaby mengangguk dan mengikuti langkah Jamie sambil menyeret koper-kopernya.


Sebuah kamar sederhana telah siap menerima tubuhnya yang lelah dan ingin segera diistirahatkan. "Terima kasih, Tuan Mac Kay." Gaby menganggukkan kepala.


"Kamar anda di sebelah mana?" tanya Gaby.


"Tepat di seberang kamar anda, Maam. Anda bisa memanggil saya kapan pun!" jelasnya.


"Baiklah. Mari kita beristirahat saja malam ini. Hal lainnya kita bereskan besok!" ujar Gaby.


"Baik, Maam." Jamie mengangguk setuju. Pria itu keluar setelah semua kebutuhan Gaby di dalam kamar, selesai dipersiapkannya.


Gaby akhirnya bisa kembali sendirian. Dia mengambil tas kecil yang berisi aneka sabun dari dalam koper. Kemudian pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, dibaringkannya tubuh lelahnya di pembaringan. Rasa kantuk yang makin berat, segera membawanya ke alam mimpi. Melupakan sejenak masalah pelik yang dihadapinya.


*

__ADS_1


*


"Pagi, Maam. Anda terlihat lebih segar pagi ini."


Jamie menyapa saat Gaby keluar kamar. Ternyata pintu kamarnya menghadap langsung ke dapur dan ruang makan.


"Pagi, Tuan Mac Kay. Kau ternyata sudah bangun lebih pagi," puji Gaby.


"Ya, Maam. Saya harus membersihkan semua yang belum sempat dibereskan tadi malam," jawab Jamie.


"Kalau begitu, biar saya yang menyiapkan sarapan," usul Gaby.


"Sayangnya, Maam. Tidak ada bahan makanan apapun di dalam kulkas. Jadi sepertinya saya akan keluar sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan," ujar Tuan Mac Kay.


"Baik. Biar saya bantu merapikan rumah," balas Gaby.


"Anda jangan masuk ke ruangan yg belum saya bersihkan!" larang Jamie. Gaby mengangguk setuju.


Saat Tuan Mac Kay pergi, Gaby menata dapur dan ruang makan. Semua perangkat makan dikeluarkan dari laci dan dicuci ulang. Kemudian kembali disusun di tempatnya setelah dibersihkan dari debu-debu tipis.


"Tampaknya rumah ini sudah lama tak dihuni," komentar Gaby.


"Ya. Terakhir saya ke sini sepuluh tahun lalu. Namun Tuan Scott sepertinya telah datang beberapa kali ke sini. Cat rumah sudah berganti dari yang saya ingat terakhir kali," jawab Jamie.


"Apakah ini juga propertinya?" tanya Gaby.


"Yes, Mam," angguk Jamie.


Gaby mengedarkan pandangan ke seluruh ruang makan. ukurannya sedang saja dan tak punya banyak perabotan.


Seperti dapat membaca pikiran Gaby. "Anda bebas menambahkan furniture yang anda suka, Maam," ujar Jamie menenangkan wanita itu.


Gaby menoleh dengan sedikit terkejut ke arah pria itu. Tapi kemudian menjadi maklum. Tuan Mac Kay juga sama seperti Tuan Scott. Meski sejatinya tak bisa membaca pikiran, tapi dengan pengalaman hidup yang ratusan tahun, mereka bisa dengan mudah menilai gerak-gerik seseorang.


Gaby tersenyum dan mengangguk padanya. "Apakah Tuan Scott berkata seperti itu?"

__ADS_1


"No, Maam. Tapi uang tunjangan anda bulan ini lebih dari cukup untuk bisa membeli beberapa barang yang anda perlukan sekarang," jawab Jamie.


"Kupikir aku ingin mengisi kamarku dengan sedikit furniture untuk menunjang pekerjaanku," angguk Gaby.


"Tentu, Maam. Setelah sarapan, jika anda tidak lelah, saya akan mengajak anda melihat-lihat ke pusat kota."


"Terima kasih, Tuan Mac Kay." Kata-kata Gaby dibalas anggukan ringan Jamie Mac Kay.


Setelah sarapan, Tuan Mac Kay mengeluarkan mobil dari garasi. Dia asik membersihkan dan memoles mobil yang lama tak digunakan.


Gaby keluar dan melihat aktifitas Tuan Mac Kay.. "Mobil yang sangat bagus dan terawat," komentar Gaby. Dia mengagumi mobil tua keluaran tahun tujuh puluhan itu.


"Ya, Maam. Tuan Scott sangat menyukai mobil ini. Tapi tak berniat membawanya ke Edinburg. Jadi ini bisa kita gunakan sebagai transportasi. Tapi biarkan saya cek dulu semuanya sebelum bisa kita bawa."


"Hemm ...." Gaby mengangguk mengerti.


Mereka baru keluar setelah hari tinggi. Tapi Gaby puas melihat mobil itu bersih dan nyaman untuk dibawa.


Tuan Mac Kay mengisi bahan bakar mobil mereka serta mengisi penuh jeriken gasoline untuk persediaan di rumah.


"Sekarang saya akan membawa anda melihat pusat kota kecil ini, Maam." Gaby mengangguk kecil.


"Aku tak sabar untuk melihat kota kecil yang kalian pilih ini," ujarnya.


"Anda akan menyukainya, Maam." Tuan Mac Kay merasa sangat yakin.


"Melihat kau sangat yakin, aku yakin kota ini pasti sangat menarik." Gaby menarik kesimpulan.


Matanya dilemparkan ke hamparan pertanian gandum yang luas. Mobil mereka melintasi tanah pertanian dengan kecepatan sedang. jendela mobil diturunkan oleh Jamie, sehingga angin sepoi-sepoi mengusap wajah Gaby lembut. Kibaran rambutnya membuat hatinya senang.


"Kau benar, Tuan Mac Kay. Aku sudah mulai menyukai tempat ini!" Nada suara Gaby sedikit tinggi untuk mengimbangi kesiuran angin yang menerpa wajahnya.


Jamie Mac Kay tersenyum tipis dan terus menyetir dengan kecepatan sedang. Dia puas Nyonya Mudanya menyukai kota itu.


"Tuan Scott, aku akan menjaga wanita dan putra anda dengan nyawaku," janji Jamie Mac Kay dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2