The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
21. A Day in Glasgow


__ADS_3

Sekarang bukan lagi jaman di mana para Highlander biasa mencuri istri dari anggota klan lain untuk dimiliki sendiri. Pengalaman hidup yang panjang mengajarinya untuk mengikuti aturan jaman yang berlaku. Dia tak boleh lagi membawa aturan jaman nenek moyang ratusan tahun yang lalu.


Namun, tak semua Highlander seperti itu. Terutama mereka yang memiliki keistimewaan umur panjang. Mereka mempercayai bahwa tugas mereka adalah menjadi pelindung klan. Mereka adalah orang yang siap mati demi ketua klan yang mereka hormati tanpa keraguan. Mereka takkan mati, jika bukan karena dikalahkan oleh sesama mereka, para manusia abadi.


Pada jaman dulu, sebelum Scotland bergabung dengan Inggris, tanah Scotland dihuni oleh banyak klan Scotland. Alamnya yang keras dan liar, membentuk sifat dan watak mereka sebagai pemburu, petarung yang handal.


Bahkan meskipun masa berubah ratusan tahun, beberapa generasi terpilih akan tetap hidup dalam kehidupan keras dan berat yang sama. Terlebih setelah aturan klan dihapuskan oleh pemerintah Inggris setelah pemberontakan terakhir, maka para pelindung ini perlahan kehilangan tuannya. Pada akhirnya mereka hanya melindungi diri dan keluarha masing-masing, atau bertarung hidup dan mati dengan sesama manusia abadi untuk menjadi yang paling kuat diantara mereka.


Mereka adalah orang-orang bebas yang sangat mencintai tanah leluhurnya dan bangga dengan budaya mereka. Beberapa orang mengikuti aturan jaman yang baru. Pertarungan yang di jaman dulu dilakukan untuk menyerang klan lain, sekarang dilakukan sebagai sebuah eksebisi dan permainan saja. Sekedar menyalurkan gejolak darah yang meliar.


Beberapa orang lain tidak peduli hal itu dan hanya mengikuti aturannya sendiri. Yang merasa cukup kuat, menantang dengan paksa pihak lain dan bertarung hidup dan mati demi pembuktian sebagai yang terkuat.


Tuan Scott sudah sangat lama tidak mengalirkan darah orang di pedangnya. Dia lebih suka menghindar ataupun berteman jika bertemu yang sejenisnya, seperti halnya dengan Stuart Grant.


Tapi tidak dengan Watson. Reputasi pria itu sudah didengarnya sejak lama. Tapi sebelumnya pria itu berada jauh di utara, jadi Tuan Scott tak khawatir sedikit pun. Tak disangkanya, yang menculik Gaby adalah Watson.


"Apakah Watson memang sudah lama di Edinburgh, ataukah Gaby yang menariknya datang?" pikirnya. Tuan Scott akhirnya dapat tertidur juga, menjelang pagi.


*


*

__ADS_1


Pagi yang gerimis, membuat udara jadi teramat dingin. Gaby terbangun pukul enam pagi. Langit masih gelap. Angin menghempaskan daun jendela yang terbuka. Dia turun dari tempat tidur dengan heran. Diingatnya betul bahwa dia telah menutup dan mengunci daun jendela tersebut sebelum berangkat tidur.


"Apakah kuncinya kendor?" pikirnya heran. Ditutupnya lagi daun jendela, agar tidak berisik. Dilihatnya jalanan yang masih gelap di bawah sana. Kamarnya ada di lantai empat. Tak mungkin ada orang yang merayap naik di dinding batu dan masuk dari jendela.


Gaby memilih untuk memejamkan matanya lagi, karena hari yang gelap dan udara dingin membuatnya tak bisa ke mana-mana sekarang. Dan terutama, karena matanya yang masih sangat berat.


*


*


Pukul sepuluh pagi. Gaby terbangun karena deringan ponsel. Martin menelepon sejak jam delapan pagi! Ada belasan miscall tertera di layar ponselnya.


"Ya ... aku baru bangun tidur. Gerimis tak berhenti sejak malam, hingga pagi tadi. Jadi aku tidur lagi." Gaby mengirimkan pesan pada Martin. Kemudian bergegas ke kamar mandi.


Matahari yang cerah menyambut langkah riang seorang wanita. Dia akan berkeliling kota beberapa saat, kemudian langsung naik kereta sore untuk kembali ke Edinburgh.


Kali ini kakinya membawanya hingga ke gedung megah universitas Glasgow. Matanya terpukau melihat keindahan arsitekturnya. Menikmati taman cantik di udara yang sejuk untuk melepas lelah.


"Kenapa Stuart mengira aku orang Skotland? Sama seperti pertanyaan Tuan Scott." Gaby berpikir sambil menikmati makan siangnya di taman.


"Sepertinya aku harus bertanya pada mommy tentang hal ini," putusnya. Dia juga akhirnya penasaran tentang masa lalunya. Tentang orang tua aslinya sebelum diadopsi oleh mommy dan daddy.

__ADS_1


Diliriknya jam tangan, sekarang sudah jam tiga sore. Dia sudah harus ke stasiun pusat untuk menunggu kereta kembali ke Edinburgh.


Stasiun sangat ramai petang itu. Gaby bergegas menuju line kereta yang sesuai tiketnya. Kemudian matanya membelalak melihat bayangan seorang pria dari arah belakang.


"Apakah itu dia? Dia di sini juga? Dasar penguntit!" geramnya. Dengan langkah lebar dan tak sabar, Gaby mendekati seorang pria yang berdiri membelakangi, di garis pembatas para pengantri.


Dengan kasar, ditariknya lengan orang tersebut agar menghadap ke arahnya. "Kau mau apa mengikutiku!" sergahnya menahan emosi.


Pria itu terkejut dan berbalik. Dia mendapati seorang wanita yang tadi membentaknya dengan kasar. Tapi kemudian tersenyum melihat mata wanita itu seperti mata seekor kucing yang menyadari telah melakukan kesalahan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya orang itu ramah tanpa melepaskan senyumannya. Dia juga hanya melirik tangan Gaby yang masih mencekal lengannya.


Dengan perasaan malu, wanita muda itu menarik tangannya dan menunduk. "Maafkan saya, Saya pikir anda adalah orang yang saya kenal!" Gaby berucap lirih. Dua dapat merasakan wajagnya yang terassa panas karena malu telah salah memarahi orang lain.


"Oh, tidak apa-apa. Wajah saya memang sangat pasaran, Tak heran anda bisa salah menyangka," hibur pria itu, agar Gaby tidak merasa terlalu malu.


"Maaf," Gaby menundukkan kepalanya dan balik badan. Dia ingin sevcepatnya menghilang dari pandangan pria itu.


"Apa yang kupikirkan? Kenapa aku mengira dia mengikutiku hingga ke sini? Memangnya siapa aku!" rutuknya pada diri sendiri.


"Ya Tuhan, pria itu pasti menertawaiku dlam hatinya." Rasa hangat di wajahnya kembali menjalar.

__ADS_1


********


__ADS_2