The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
96. Lepasnya Watson


__ADS_3

"Aduh!"


"Aww!"


"Ahh!"


"Sial!" Steve berteriak setiap kali tubuhnya menabrak pohon, dahan ataupun ranting dari pepohonan di hutan.


Tubuhnya jatuh seperti peluru, dari langit. Sakit akibat hempasannya di batang pohon tak tertanggungkan. Diyakininya, banyak tulangnya yang patah karena lompatan yang tak pernah bisa dikuasainya.


"Adduuhhh ...."


Suara rintihan. Keluar dari mulutnya saat akhirnya dia berhasil mencapai tanah berlumut yang basah dan lembab.


Tubuhnya tertelungkup untuk sementara dan tak bisa digerakkan. Posisi kaki dan tangannya jangan ditanya. Dokter orthopedi juga akan geleng kepala melihat kekacauan anatominya saat ini.


"Ayah, aku tak bisa bergerak!" batinnya kesal. "Gara-gara si tua brewok itu, aku terpaksa melakukan ini!"


"Nyonya, Aku merasa Steve sedang butuh bantuan," Oliver berbisik pada Gaby yang sedang berlindung di balik batang pohon. Wanita itu tak ingin ada pengawalnya yang terluka lagi, jika ngotot lari di bawah hujan peluru.


"Lalu, bagaimana kau akan membantunya?" Gaby sungguh bingung sekarang.


Oliver menggeleng. "Dia harus bisa mengatasi kesulitannya sendiri. Aku sudah mengajarinya beberapa sihir dasar. Seharusnya pelajaran dasar itu tidak dilupakannya!"


"Jika kau melupakan pelajaran dasar yang kuberikan, maka terimalah nasibmu. Aku tak bisa meninggalkan Nyonya saat ini!" Oliver mengirim pesan batin pada putranya.


"Nyonya, ayo kita jalan lagi!" ajak Elliot. Dilihatnya Jamie sedang memutar pedang untuk menangkis peluru yang beterbangan.


Gaby kembali berdiri dan memeluk Baby Keane. Mereka berlari lagi sambil melindungi Gaby. Menjadikan tubuh mereka sebagai tameng, untuk menerima peluru yang lolos dari blokingan Jamie.


DI belakang, Stuart dan Duncan berjalan tertatih sambil menarik tubuh Martin. Pria itu disandarkan di pundak Stuart dan Duncan, lalu diseret menuju ke arah Gaby yang sedang berlari.

__ADS_1


Perlahan, Jamie mundur sambil terus memutar pedangnya, menangkis peluru yang datang.


Matanya berkilat khawatir ketika dilihatnya ada beberapa peluru yang lolos dari ayunan pedangnya.


"Hai-hati! Teriaknya memperingatkan.


Mendengar itu, Elliot berbalik dan mengangkat pedang besarnya dan ikut memutar pedangnya sambil berlompatan, mengejar setiap peluru yang terlewat dari jangkauan Jamie.


Di depan, Jamie, dan kedua temannya dapat merasakan hawa panas pedang Elliot. Mereka mengangkat kepala dan kembali terpukau.


Pria itu bukan cuma tampan. Dia juga sangat mahir memainkan pedang dengan indah. Belum ada seorang highlander pun yang mampu menyaingi kecepatan gerak pedang Bonnie.


"Ayo!" Stuart mempercepat langkah, mumpung Jamie dan Bonnie melindungi mereka.


"Mereka lawanku!" gelegar suara terdengar menakutkan. Itu suara paling menggetarkan saat itu, karena merupakan luapan kemarahan Watson pada aparat militer.


Semua orang melihat pria besar itu terbang dari belakang barisan tentara yang mengepung Gaby dan pengawalnya. Pedangnya terangkat tinggi dan digenggam dengan kedua tangan. Siap diayunkan untuk menebas leher para petugas.


"Jangan membunuh orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kita!"


"Jamie!" teriak Gaby ngeri. Pengawalnya itu bisa saja mati jika seceroboh. Itu.


Traang!


Suara dua pedang besar dan tajam serta berbau anyir darah saat saling bersinggungan. Percikan bunga api besar seperti kembang api perayaan, terbang ke sekitar.


"Kau membela mereka yang menembakimu? Bodoh!" teriak Watson emosi.


Pria itu seperti sudah kesetanan. Dia berbalik dan siap memburu para aparat yang terkejut melihat orang yang semula jadi buruan, ternyata membantu melindungi, agar mereka tidak kehilangan leher.


"Kalian terus maju dan tunggu di pinggir hutan itu. Biar kubantu Tuan Mac Kay!"

__ADS_1


Elliot menumpu kaki dan melentingkan tubuhnya agar bisa melompat sejauh mungkin ke tempat Jamie dan Watson yang sudah kembali bertarung.


"Menjauhlah! Ini bukan pertarungan kalian!" bentak Elliot kasar. Dia langsung menerobos gulungan angin yang membungkus dua highlander yang sedang bertarung dengan ganas.


Gulungan angin seperti ****** beliung kecil, makin membesar setelah Elliot ikut masuk ke dalam sana. Percikan bunga api juga terbang ke mana-mana.


Tanpa sadar, kumpulan tentara yang tadi mengacungkan senjata dengan angkuh, kini mundur dan menjauh. Gelombang panas akibat gerakan pedang Elliot terasa panas dan membakar kulit mereka yang hanya manusia biasa.


"Bagaimana orang itu bisa lolos dari sana?" seorang tentara melihat ke tempat Watson dikepung sebelumnya.


"Apa dia membunuh teman-teman kita?" celetuk salah seorang yang lain.


Mata mereka langsung membesar dan segera berlari ke tempat sebelumnya, untuk melihat apa yang sudah terjadi.


"Dia monster!"


Mereka berdiri dengan kaku, melihat teman-temannya dibantai seperti binatang. Tak seoragpun yang tadi mereka tinggalkan, yang masih bernyawa.


Dengan tangan gemetar, salah seorang dari mereka menghubungi atasan dan melaporkan apa yang terjadi di situ.


*


******


"Pelajaran dasar?" gumam Steve, setelah mendengar pesan ayahnya.


Meskipun harus dengan susah payah menggali ingatan masa kecilnya, pria itu berhasil mengingat mantera yang pernah diajarkan Oliver padanya untuk menghadapi keadaan sulit.


Bibirnya menggumamkan mantera dengan lidah kaku. Dia sama sekali tidak berbakat untuk meneruskan kemampuan ayahnya. Steve lebih suka menolong orang dengan menjadi dokter. Membantu lahirnya manusia baru, dipercayanya sebagai pekerjaan mulia.


Butuh waktu lebih dari lima belas menit agar maantera itu bekerja, karena rasa sakit membuatnya tak bisa memusatkan pikiran.

__ADS_1


Perlahan-lahan, tangan dan kakinya yang patah dan tak tentu arah serta bentuknya itu, kembali ke posisi semula. Meskipun karena itu, dia akhirnya menjerit keras dan mengundang perhatian orang lain.


*******


__ADS_2