The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
98. Kondisi Martin


__ADS_3

Melihat para tentara itu tidak mengganggu, Gaby merasa lega. "Bagaimana sekarang?" tanyanya pada Stuart, Duncan, dan Oliver.


Tiga orang yang masih sadar itu saling pandang. Meskipun Stuart dan Duncan masih sadar, namun keadaan mereka masih butuh waktu lama untuk bisa pulih.


Peluru memang tidak akan membunuh mereka, akan tetapi, jika tidak dirawat, maka sakitnya bisa serius. Masalahnya, di mana mereka bisa beristirahat? Hutan gelap di depan itu terlihat sangat angker dan tidak menyenangkan untuk dimasuki.


"Bagaimana kalau kita berjalan ke arah sana? Kita bisa menjauh, tanpa harus memasuki hutan yang menyeramkan itu!" Saran Stuart.


"Kurasa, saran Stuart sangat bagus," dukung Oliver.


"Persoalannya kan bagaimana kalian mau membawa mereka ke sana? Sementara kondisi kalian juga tidak bagus!" Gaby berpikir lebih jauh.


"Kita bawa seorang satu!" usul Duncan. Mendengar usulnya, dua temannya melihat dengan tatapan heran. Dan Gaby, segera menyuarakan sesuatu yang mungkin dilupakan Duncan.


"Bagaimana dengan Martin?" tanyanya.


Oh ... Aku melupakannya. Maaf," ujar Duncan dengan perasaan bersalah.


Oliver menjentikkan jari. "Mudah!" katanya cepat.


"Apa kau mau menggunakan sihir?" tanya Gaby tak takin,


"Kemampuanku hanya itu, Nyonya!" sahutnya. Tangan Oliver sibuk bergerak Tubuhnya meliuk seirama dengan mantera yang diucapkan.


Tak butuh waktu lama, Keempat temannya yang sedang pingsan, segera diangkat dan dibaringkan di atas meja tak kasat mata.


"Lihat! Mereka menerbangkan teman-temannya yang terluka di udara!"


"Mereka memang alien!" imbuh yang lain dengan nada meyakinkan.


"Cepat bereskan pekerjaan kita. Kalau dia terbangun, habislah sudah!" yang lain mengingatkan.


Kelompok tentara yang kedua itu segera lanjut mengikat tubuh Watson dengan kuat. Pria berbahaya itu sama sekali tak boleh punya kesempatan untuk melepaskan diri.


"Sekarang, bagaimana mengangkatnya?" mereka terpaku. Jika ditarik di tanah seperti tahanan umumnya, besar kemungkinan dia akan sadar lebih cepat. Dan itu sangat berbahaya.


"Hei, ternyata kalian ada di sana!"


Terdengar suara dari tempat tim pertama yang tewas. Wajah-wajah letih mereka kembali cerah. Beberapa petugas medis dan seorang tentara dengan pangkat lebih tinggi, datang dengan membawa tandu.


"Kami mendapatkannya!" ujar salah satu tentara itu dengan bangga.

__ADS_1


Orang-orang yang baru datang, segera berlari untuk membuktikan ucapan itu. Bagaimana mungkin mereka berhasil menangkap monster alien yang telah membunuh sepuluh tentara lain dari tim satu yang tak jauh dari situ?


"Dia ... pingsan atau mati?" tanya tentara yang baru tiba.


"Pingsan! Kami sudah mengikatnya dengan erat agar tak lepas lagi. Tapi kita butuh tandu untuk membawanya," jawab salah seorang.


"Biar kubantu!" Seorang petugas medis maju dan meletakkan tandu yang dibawanya ke tanah.


"Hati-hati! Jika dia sampai bangun, bisa berbahaya. Mungkin nasib kita akan sama dengan yang di sana!" tentara itu mengingatkan.


Dua petugas medis memindahkan Watson dengan seksama. Hati mereka kecut, sedikit takut jika tahanan itu keburu bangun, sebelum dibawa ke kendaraan lapis baja milik tentara.


"Apakah tidak ada yang lainnya lagi, di sini?" tanya seorang tentara yang baru datang.


"Tak ada. Setelah terjadi ledakan, kami melihatnya tergeletak di sini. Jadi segera diikat, agar tidak lepas lagi!" jelas tentara di tim kedua.


Tentara yang baru itu tak mau percaya begitu saja. Dia meliiihat ke sekeliling. Memang tak ada satu pun orang asing yang terlihat di sana.


"Ayo kita kembali!" perintahnya.


Para tentara itu membantu pegugas medis membawa tandu Watson, agar perjalanan itu bisa lebih cepat. Mereka sendiri khawatir jika terlalu lama berada di dekat monster yang semenakutkan itu.


*


*


Kesempatan datang saat sebuah petugas ambulan datang membawa tandu. Mereka masih belum bisa masuk dengan mobil, karena kendaraan yang rusak dan kendaraan militer telah memenuhi badan jalan.


"Sepertinya anda harus menunggu ambulans berikutnya. Kami harus membawa pasien ini lebih dulu. Keadaannnya sangat berbahaya," ujar petugas ambulans.


"Ya. Pergilah. Aku hanya mengalami lecet-lecet ringan saja," sahut Steve menenangkan.


"Baik. Jangan khawatir. Lima belas menit lagi, akan ada mobil lain yang menjemput," janji petugas ambulans itu.


"Oke!" angguk Steve. Dia merasa lega. Ini adalah kesempatan untuk pergi dari sana dan mencari Gaby serta anggota tim lain.


Setelah yakin tak ada siapapun yang mengawasi pasien sakit di pos darurat itu, Steve melepaskan belt yang menahan tubuhnya di tandu. Perlahan tanpa kecurigaan siapapun, dia berjalan menjauh. Menyelinap diantara mobil-mobil yang masih malang melintang.


Setelah mengendap sejauh seratus meter, akhirnya ditemukannya rimbunan pohon yang menjorok ke pinggir jalan. Steve melompat ringan, dengan lompatan sihir. Tapi tidak mengambil lompatan tinggi dan berbahaya seperti sebelumnya. Dengan cepat dia hilang dalam kerimbunan semak belukar tepi jalan.


Saat merasa jaraknya sudah cukup aman, pria itu berhenti untuk mencari lokasi keberadaan teman-temannya.

__ADS_1


"Ledakan itu di sana, aparat di sana. Maka mereka harusnya terus lari ke dalam hutan itu." Steve membatin dan berpikir keras.


"Ayah, kau di mana? Aku akan menyusul!" bisiknya sambil mengucapkan beberapa mantera yang masih diingatnya.


"Ah, akhirnya kau menggunakan mantera itu juga. Aku kagum dengan ingatanmu!"


Bisikan ayahnya seperti terbawa oleh angin. Steve memejamkan mata, berusaha mencari dari arah mana angin tadi berhembus. Setelah yakin, dia kembali melompat-lompat kecil, sejauh sepuluh meter setiap kali lompat. Dia juga tak mau jika harus menabrak pohon lagi seperti sebelumnya.


"Aku menemukan jejak kalian!" bisiknya sambil menggumamkan beberapa mantera.


"Nyonya, bisakan kita berhenti sebentar? Steve sudah hampir sampai. Mungkin bisa memeriksa Tuan Martin," kata Oliver.


"Benarkah? Di mana dia?" Gaby mencari ke sekitar. Hanya ada kesunyian di dekat hutan gelap itu. Mereka telah berjalan sangat jauh. Namun hutan gelap itu seperti tak ada ujungnya.


"Akhirnya aku menemukan kalian!" Suara senang Steve terdengar dari jauh. Gaby menoleh. Dilihatnya dokter yang kalem itu, sedang melompat-lompat menuju ke arah mereka.


"Bagaimana dia bisa melompat sejauh itu?" tanya Gaby takjub.


"Kami juga bisa melompat tinggi dan jauh, Nyonya, timpal Stuart.


"Kalian memang punya banyak kelebihan. Aku tidak heran lagi. Tapi Dokter Steve hanya manusia biasa. Bagaimana dia melakukannnya?" Gaby membela pendapatnya.


"Pada dasarnya Dia juga punya bakat sihir, Nyonya. Hanya saja dia memutuskan untuk menjadi dokter, ketimbang menjadi penyihir yang dianggap tidak keren." Duncan menyahuti.


"Apa Anda baik-baik saja, Nyonya?" Steve langsung menanyai kondisi Gaby setelah sampai.


"Kurasa, Anda lah yang tidak baik-baik saja, Dokter Steve." Gaby mengamati dengan mimik serius pakaian Steve yang penuh noda darah, tanah, dan sobek di beberapa tempat.


"Saya sudah baik-baik saja, Nyonya." Steve memeriksa Baby Keane sebentar dan yakin bahwa ibu dan anak itu baik-baik saja.


"Bisakah kau memeriksa Martin dan yang lainnya?" tanya Gaby.


"Tuan Martin? Apa dia bersama kalian? Tadi dialah yang menelepon, mengabarkan kecelakaan di tol dan memintaku untuk datang membantu mencari Anda."


Steve berjongkok memeriksa kondisi Martin. "Kondisi Tuan Martin tidak terlalu bagus. Kita harus membawanya ke rumah sakit, segera!"


Gaby terdiam. Menjadi pemimpin dari tim kecil itu, memaksanya membuat keputusan sulit. Dia tak terbiasa menanggung beban hidup dan mati orang lain.


"Nyonya ...."


******

__ADS_1


__ADS_2