
Pagi itu Martin sedang melewati lorong rumah sakit menuju kantornya dari toilet. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan menarik dari pesimpangan lorong lain. Dengan hati-hati dia berhenti dan merapat ke dinding sambil pura-pura melihat ponsel.
"Kemarin aku bertemu seorang highlander pelindung di dekat pintu masuk kota." ujar seseorang.
"Apa dia termasuk para pemburu yang waktu itu ayah lihat?" tanya pria lain.
"Tampaknya tidak. Pria itu mengaku memang tinggal di sini. Aku menabrak mobil antiknya. Menahannya untuk masuk ke kota. Dia marah dan mengatakan harus segera ke toko grosir sebelum tutup!"
"Ayah percaya?"
"Aku membuntutinya. Dan memang itu yang dilakukannya. Belanja! Lalu dia pergi lagi."
"Apa mungkin dia menemukan Sang Dewi dan menyembunyikan untuk dirinya sendiri?" tebak seseorang.
"Atau, dia tak mengetahui berita tentang hal itu!" ujar yang lain.
"Tapi satu hal yang jelas. Jika memang ada seorang pelindung di sini, seharusnya dia bisa segera mengetahui jika Dewi Aine memang datang ke sini!" seseorang berargumen.
"Jadi, kemungkinannya ada dua. Sang Dewi belum sampai di sini, atau si pelindung itu yang menyembunyikannya!" Salah seorang diantara mereka membuat kesimpulan.
"Aku akan ke luar kota lagi. Mungkin bisa menemukan tempat tinggal pria itu. Jika dia yang menyembunyikannya, maka aku pasti akan mengetahuinya!"
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Martin menjauh beberapa langkah dan mulai berjalan seperti biasa menuju ke laboratorium. Melewati persimpangan lorong itu. Dilihatnya Dokter Obgyn Steve dan ayahnya berjalan menjauh.
Sampai di kantor, dia mengirim pesan pada Jamie. "Apakah Gaby memeriksakan kandungan pada dokter pria di Rumah Sakit ini?" tanyanya.
Balasan dari Jamie masuk dengan cepat. "Tidak. Nyonya memeriksakan kehamilan di klinik desa." Lokasi itu dipilihnya karena lebih dekat dengan tempat tinggal kami."
"Syukurlah!" balas Martin.
"Apa ada yang aku harus ketahui tentang dokter kandungan di rumah sakit itu?" tanya Jamie dalam pesannya.
"Dokter Obgyn Steve di rumah sakit ini, sepertinya bagian dari orang-orang yang mencari Gaby. Aku tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan ayahnya. Sangat jelas mereka menyebut para pelindung yang mengejar Dewi Aine."
"Terima kasih informasinya. Aku akan mengingat nama itu dan menjauhkan nyonya dari rumah sakit tempatmu bekerja."
__ADS_1
"Sebisanya, Gaby melahirkan di klinik desa saja. Akan berbahaya jika dibawa ke sini!" pesan Martin.
"Oke!" balas Jamie.
"Oh iya, satu hal yang ingin kutanya. Apakah mobilmu ditabrak seseorang kemarin?" tanya Martin.
"Bagaimana kau tahu?" Jamie bertanya lagi.
"Oh, Apakah pria gila itu yang kau sebut Dokter Obgyn Steve?" pesan Jamie lainnya menyusul masuk sebelum Martin menjawab.
"Apakah yang menabrakmu masih muda?" tanya Martin.
"Sudah tua!" balas Jamie.
"Itu ayahnya!" jawab Martin yakin.
"Ayah dari dokter itu seorang penyihir? Mengerikan!" balas Jamie.
"Penyihir?" tanya Martin tak mengerti.
"Kudengar juga, ayahnya ingin mencarimu ke luar kota. Mereka curiga kau menyembunyikan Dewi Aine!"
"Baik!" balas Jamie.
Chat mereka berakhir sampai di situ. Martin kembali menekuni pekerjaannya dengan serius.
Di pinggir hutan, Jamie mengerutkan dahi membaca pesan Martin. Dia merasa alarm bahaya sudah menyala. Dengan cepat diketiknya pesan dan melaporkan sesuatu.
"Kuharap itu akan menahanmu untuk sementara, Sir."
Setelah itu dilanjutkannya pekerjaannya di ladang. Dia membersihkan tanah yang akan ditanami dengan beragam sayuran seperti yang diinginkan Gaby.
Siang hari, sebuah pesan masuk. Panggilan dari kantor polisi. Jamie tersenyum. Pengaduannya sudah ditanggapi. Pria yang menabrak mobilnya sudah ditahan di kantor polisi.
Tanpa terburu-buru, Jamie bersiap pergi ke kantor polisi. Dia akan menguras harta penyihir itu. Dan kalau bisa, mengirimnya pergi ke tepat asal dalam keadaan bangkrut!
*
__ADS_1
*
"Apa kau gila! Ganti rugi mobil bututmu itu sebesar empat juta dollar?" Pria tua itu menggila di kantor polisi.
"Itu tuntutanku. Kau sengaja menabrakku. Kau juga bukan orang gila, dan tidak sedang mabuk. Kewarasan macam apa yang membimbing seseorang menabrak mobil lain yang sedang melintas dengan tenang? Kau membahayakan nyawaku yang berharga!" balas Jamie tak mau kalah.
"Nyawamu yang berharga apanya! Bahkan meski kutembak di jantungmu, kau akan hidup kembali!" balas pria itu dengan berapi-api.
"Kau kebanyakan menonton film zombie, Pak Tua!" ejek Jamie. Seisi kantor polisi jadi tertawa mendengar debat keduanya.
"Aku tak mau membayar ganti rugi sebesar itu!"penyihir Alba itu besikeras.
"Baiklah, itu pilihan anda sendiri." Jamie bangkit dari duduknya.
"Apakah urusanku sudah selesai di sini?" tanya Jamie pada petugas polisi yang sedang menangangi kasus tabrakan itu.
"Ya. Jika Tuan Oliver Stout tidak bersedia memberi ganti rugi, maka kami akan menahannya hingga kasus ini disidangkan di pengadilan," jawab petugas polisi.
"Aku tak terima! Aku minta keadilan. Mobil sialan itu bahkan masih bisa dikendarainya dengan baik!" protes pria itu lagi.
"Apa anda lupa berapa besar biaya restorasi mobil antik? Aku bukan orang gila dan tak masuk akal sepertimu, Sir!" Kali ini Jamie membalas kata-kata pria itu dengan serius. Dia tak akan mentorelansi sikap sembrono pria itu. Dia harus menjauhkannya dari Gaby sebisa mungkin.
"Apa kau kira penjara bisa menahanku?" teriak pria itu lagi dengan marah, saat melihat punggung Jamie mulai menjauh.
Jamie menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan badan dan tersenyum lebar pada para polisi di sana.
"Berhati-hatilah. Dia mengaku sebagai seorang penyihir, padaku kemarin itu. Dia mungkin bisa merubah diri menjadi burung dan terbang lewat jendela!"
Setelah mengeluarkan peringatan itu, Jamie berbalik dan segera pergi dari sana. Suara derai tawa seisi kantor polisi mengiringi langkahnya menjauh dan hilang di balik pintu.
Akhirnya Tuan Oliver Stout yang mengaku sebagai penyihir terakhir bangsa Alba, ditahan di kantor polisi karena tidak dapat membayar denda ganti rugi kerusakan mobil antik Jamie. Dia akan tertahan di kantor polisi untuk beberapa waktu, hingga hakim memutuskan hukuman untuknya.
Jamie menyetir dengan tenang. Dia segera mengarah pulang. Namun sebuah suara memasuki pikirannya. "Aku tak tahu apakah kau mengetahui tentang kedatangan Dewi Aine ke tempat ini. Jika kau mencari ketenangan dengan tinggal di sini, maka ketenangan itu akan segera berakhir. Tempat ini akan menjadi ladang pembantaian terbuka dari para pelindung highlander!"
Jamie menggelengkan kepala dengan sikap kepala batu penyihir itu.
"Hanya aku yang bisa mengatasi masalah itu!" Suara itu kembali mendengung di telinganya.
__ADS_1
"Bisakah kau diam! Aku sedang menyetir pulang. Jika aku kecelakaan maka kau kan kutuntut lebih besar lagi, hingga kau membusuk di penjara!" teriak Jamie marah. Dipukulnya setir mobil dengan kesal, hingga suara klakson berbunyi kencang selama beberapa waktu.
****