The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
68. Pagi Musim Semi


__ADS_3

"Aku tetap pada keputusanku untuk pindah ke kota ini. Tak masalah kau tidak mau menerimaku. Akan kucari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjaku nanti."


Martin menjeda kalimatnya. Dia menyuap sereal sarapan dan mengunyahnya pelan.


Gaby tak menanggapi keputusan yang dibuat Martin. Sementara Jamie menyibukkan diri dengan hal lain, agar tak berada diantara dua orang yang sedang menunjukkan ego masing-masing.


"Jamie, jika terjadi sesuatu pada istriku, kau harus melaporkannya padaku!" suara Martin terdengar tegas. Jelas dia tak akan dengan mudah menyetujui permintaan cerai dari Gaby.


Jamie menoleh pada Gaby, mengharap wanita itu memberi petunjuk untuk menjawab bagaimana. Tapi Gaby sama sekali tak mengetahui bahwa Jamie menunggunya. Dia terus menunduk menghadapi mangkuk serealnya, seakan biji-bijian itu lebih menarik dari pada perbincangan pagi di meja makan.


Jamie ingin memilih diam tanpa menjawab apapun. Tapi mata tajam Martin, menuntut jawaban.


"Baik!" angguk Jamie akhirnya, meski tanpa persetujuan Gaby. Jamie hanya berpikir praktis. Jika ada yang mengejar Gaby, maka Martin bisa diandalkan untuk membawa lari Gaby ke tempat aman, selagi dia menghadapi para highlander pelindung lain.


Benar saja. Dengan cepat Gaby mengalihkan pandangannya ke arah Jamie dan menatapnya meminta penjelasan.


Jamie Mac Kay menghela napas. Dia merasa serba salah. Yang diinginkannya hanya melindungi Gaby, apapun caranya. Bahkan jika Martin bersedia berkorban dan ikut ambil bagian sebagai tim yang menjaga Gaby, Jamie akan sangat berterima kasih. Namun tentu saja, Gaby punya pertimbangan sendiri untuk menyuruh Martin pergi sejauh mungkin dari mereka berdua.


"Saya hanya menjawab sesuai situasinya, Ma'am. Jika Tuan Martin benar ingin menetap di kota terdekat, maka akan lebih menguntungkan jika tim kita bertambah seorang lagi," jelas Jamie Mac Kay.


Gaby menatap tajam Martin. "Aku sudah memintamu untuk pergi dari sini. Kenapa kau suka memperumit persoalan!" Suara Gaby naik beberapa oktaf. Kentara bahwa dia sudah bosan membicarakan hal ini dengan suaminya.


"Aku sudah bilang bahwa aku ingin pindah ke kota itu!" Martin juga tak mau mengalah.


"Dengar, Honey ... meski kau tak mencintaiku lagi, aku tak peduli. Aku hanya ingin ikut menjagamu dan anak itu!" tandas Martin.


Gaby meletakkan sendok di piring dengan keras. Lalu berdiri dan menuju ke kamarnya.


Jamie mengejarnya setelah melihat bahwa sarapannya baru dimakan separuh.


"Ma'am, sarapan anda belum habis. Jangan menyakiti bayi anda, sesulit apapun persoalan yang dihadapi."


"Lagi pula, kita memang butuh sekutu. Setidaknya, saat terjadi hal yang tak diiginkan, maka saya bisa merasa lega jika ada Tuan Martin yang mengambil alih menjaga Anda. Saya bisa menghadapi Highlander Pelindung lain yang datang mencari dengan tenang."

__ADS_1


Sekilas, terlihat Martin mengulas senyum tipis. Kemudian dia melanjutkan sarapannya. Dia harus kembali ke kota secepatnya dan mencari pekerjaan serta flat sederhana.


"Terserah!" Gaby akhirnya menyerah.


"Tapi kau harus ingat! Kita tak punya hubungan apapun lagi! Jadi jangan pernah lagi mengatakan bahwa aku istrimu!" Teriakan Gaby ditujukan pada Martin. Dia amat sangat kesal melihat kengototan Martin.


Untuk sesaat, sendok yang sedianya akan masuk ke mulutnya terhenti di udara. Tapi kemudian Martin bersikap cuek. Dia melanjutkan suapan terakhir itu dan mengunyahnya dengan penuh kemenangan.


Jamie mengerutkan keningnya sedikit, melihat sikap Martin. Nyonya mudanya sudah sangat emosi tapi pria itu seperti dengan sengaja berlama-lama.


"Anda sebaiknya segera pergi, Tuan Martin!" tegur Jamie Mac Kay.


Martin mengangguk. Dia mendorong mangkuknya ke tengah meja kemudian berdiri dari kursinya.


"Terima kasih untuk sarapannya, Jamie." Martin melangkah ke arah ruang tamu.


Jamie bisa mendengar pintu depan dibuka lalu ditutup. Kemudian suara deruman mobil Martin makin menjauh.


“Aku sudah selesai, Tuan Mac Kay. Dan aku ingin melihat domba kita di luar.” Gaby menyahut dari dalam kamarnya.


“Hari masih terlalu dingin, Ma'am.” Pemberitahuan itu diharap Jamie dapat menunda keinginan Gaby untuk keluar rumah.


“Itu yang kucari. Udara segar untuk mengisi paru-paru!” tandas Gaby.


Jamie tak membantah lagi. Dia segera membereskan meja dan dapur kecil mereka. Saat Gaby keluar dengan balutan baju tebal pengusir hawa dingin, Jamie juga sudah selesai dengan aktifitasnya. Dia siap untuk menemani nyonya mudanya menikmati suasana luar.


“Kukira, kita juga perlu menata halaman rumah agar lebih berwarna, Tuan Mac Kay.”


“Baik, Ma'am. Anda tinggal gambarkan disainnya. Akan saya bantu.” Jamie Mac Kay menjawab cepat.


Keduanya terus menapaki stepping stone di atas tanah lembab. Tumpukan salju yang disingkirkan Jamie dari jalan masuk sebelum mereka ke kota kemarin, menumpuk di pinggir pagar menuju tempat penggembalaan domba.


"Udara yang sangat bersih. Putraku bisa tumbuh dengan sehat di sini!”  gumam Gaby.

__ADS_1


Jamie tak menanggapi. Dia membuka pintu pagar dan membantu Gaby menapaki bagian tanah yang tidak terlalu lembek. Melewati pagar kayu itu, sudah tak ada lagi stepping stone sebagai pijakan.


Sekarang hanya ada tanah basah akibat mencairnya salju. Nanti setelah memasuki minggu ke tiga musim semi, biasanya rumput dan bunga-bunga liar akan tumbuh dengan suburnya. Domba-domba mereka akan sangat senang mendapatkan makan rumput segar.


Jamie membuka pintu kandang. Ada delapan ekor domba yang akhirnya dibeli Jamie. Terdiri tiga jantan dan lima ekor betina. Sepasang domba sudah cukup umur untuk membuat keluarga baru di musim semi ini.


“Ini cantik sekali.” Gaby menunjuk seekor domba berbulu putih dengan sedikit bercak hitam tak beraturan di tubuhnya.


Jamie mencoba meraih domba yang dimaksud Gaby. Domba itu sudah terlanjur berlari dengan riang di lapangan basah. Namun setelah sedikit usaha, Jamie akhirnya berhasil membawa domba itu ke hadapan Gaby.


“Apa anda menyukai domba ini?”


“Warna bulunya menarik perhatian. Apakah dia betina?” tanya Gaby.


“Jantan, Ma'am.” Jamie menyahuti setelah memeriksa domba itu sebentar.


Gaby mengangguk. Jemarinya mengelus halus domba dengan bulu bebercak hitam. ”Kau memang sangat tampan Ya?” celoteh Gaby.


Selama satu jam Gaby mengganggu domba-domba lucu di tanah terbuka.


“Sebaiknya anda segera kembali ke rumah, Ma'am.  Tidak terlalu baik jika anda terlalu lama terpapar udara dingin!” Jamie memperingatkan.


“Baiklah ... aku akan kembali. Biar aku yang menyiapkan makan siang kita, tuan Mac Kay. Anda bisa melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena saya.”


"Kita juga harus memelihara ayam untuk melengkapi rumah peternakan ini," ujar Gaby sambil lalu.


"Akan saya siapkan, Ma'am." Jamie setuju dan menyahuti dengan segera. Ditunggunya Gaby hingga hilang dari pandangan.


Jamie membuang pandang ke lapangan penggembalaan. Sekarang dia harus mengatur area untuk ayam-ayam, sesuai keinginan Gaby,


"Kalian harus segera tumbuh besar. Kalau tidak, peran kalian akan digantikan oleh ayam," desisnya.


********

__ADS_1


__ADS_2