
Malam itu Oliver melakukan ritual sihir untuk melindungi Gaby dari jarak jauh. Dia mengikuti jejak yang ditinggalkannya pada Jamie, untuk mengetahui ke mana mengirimkan mantera.
Di rumah mungil tepi hutan, Jamie bisa melihat cahaya kebiruan jatuh dari langit. Dikeluarkannya pedang dan mencoba menangkis cahaya yang jatuh. Pedangnya terpental jatuh. Jamie terperanjat.
Matanya melihat simbol-simbol melayang samar di udara, sebelum cahaya biru itu menghilang.
"Apa Oliver sedang mengirimkan mantera perlindungan jarak jauh?" gumamnya. Jamie turun ke halaman yang hanya diterangi cahaya bintang. Dia melihat sekeliling rumah. Namun tak melihat perubahan apapun.
"Baiklah, kita lihat saja seberapa kuat kemampuan manteramu."
Jamie kembali ke dalam rumah dan tidur. Tak mempedulikan apa yang dilakukan Oliver di luar.
Setidaknya dia bisa sedikit tenang karena ada tambahan tenaga untuk melindungi Gaby. Yang paling utama adalah keamanan nyonya mudanya. Apapun caranya, dia tak peduli.
Pagi hari.
"Tak ada apapun di sini," lapor Stuart dari desa.
Namun laporan dari Oliver berbeda lagi. "Aku merasakan kehadiran Highlander Pelindung di kota ini. Berhati-hatilah. Akan kususul kau ke luar kota, diantar oleh putraku. Kau jangan ke sini!" pesan Oliver.
Jamie waspada. "Akhirnya mereka sampai juga. Baiklah ... mungkin sudah saatnya kita bertemu!" gumam Jamie.
Pria itu turun dan menemui Gaby. "Maam, mereka yang memburu Anda, sudah mulai tiba di kota. Kuharap perlindungan Oliver benar-benar mampu mengecoh mereka untuk segera menghilang dari sini."
"Anda bisa kembali ke atas dan menutupi tempat ini lagi," ujar Gaby.
"Baik, Maam." Jamie berbalik dan menutupi lagi ruang basement serta jejaknya dengan debu tipis dari perapian.
Dikirimnya pesan pada Stuart. "Berhati-hatilah. Para Pemburu itu telah memasuki kota. Jika mereka mencapai desa, mereka mungkin akan menemukan jejakmu! Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Untuk sementara aku akan menghindari mereka dulu. Itu lebih baik, agar mereka tidak berpikir bahwa Nyonya ada di daerah sini.
"Kukira, itu rencana yang sangat bagus. Pergilah ke luar kota yang berlainan arah dengan tempat ini," saran Jamie.
"Oke!" balas Stuart.
Jamie juga menelepon Martin. "Ayah Steve merasa kalau ada Highlander Pelindung lain yang telah mencapai kota. Jadi kau harus berhati-hati. Jangan berbuat dan bersikap sembarangan jika bertemu dengan mereka. Aku cuma memintamu untuk pasang mata dan telinga yang lebih tajam!" tegas Jamie.
"Oke. Akan aku perhatikan," balas Martin.
"Bagaimana caraku membedakan mereka?" pikir Martin. "Apakah mereka berpakaian aneh? Atau menyandang pedang panjang seperti milik Jamie?"
Meskipun begitu, secara naluriah Martin memperhatikan lebih teliti orang-orang baru yang mengunjungi rumah sakit. Rasa takut kehilangan Gaby telah membangkitkan kekhawatirannya dan memunculkan insting bertahan hidup yang terpendam.
__ADS_1
Meski tidak dianjurkan oleh Jamie, namun Martin tetap mampir ke toko penjualan senjata dan membeli pistol untuk melindungi diri. Sekarang dia merasa cukup aman.
*
*
Di sebuah restoran.
Kau yakin dia bersembunyi di sini?" tanya seorang pria, pada pria lain yang sedang makan di depannya.
Pria itu mengangguk dan nenebarkan pandangan ke sekitar. "Buka mata batinmu. Kau akan merasakannya samar-samar," jelasnya.
"Samar-samar? Apa mungkin dia tinggal jauh dari sini?" Pria itu memejamkan mata dan mencoba merasakan keberadaan Dewi Aine dari udara.
Lima menit dilaluinya dengan kening berkerut dan alis tertaut. Kemudian dia menggelengkan kepala. "Aku tak dapat merasakannya." Matanya membuka
"Kau yakin?" tukas pria lain.
Dia pun ikut memejamkan mata, lalu suasana hening. Cukup lama dia memejamkan mata dengan dahi berkerut. Hingga tiba-tiba matanya membuka.
"Kau benar. Bahkan aura samar yang kurasakan sebelumnya, juga sudah tak terasa lagi."
Kedua orang itu lama terdiam dan menyeruput kopi di gelas. Mereka memikirkan berbagai kemungkinan.
"Kemungkinan besar begitu. Kurasa, dia sudah mengetahui kalau ada yang mengejar. Atau, sudah ada yang mendahului kita datang ke sini," duga yang seorang lagi.
"Sebaiknya kita segera pergi mencari ke tempat lain dan menyusul kelompok lain yang sudah lebih dulu tiba!" ajak pria berjaket hitam.
Kedua orang itu bergegas menghabiskan kopi dan berdiri setelah meninggalkan uang kopi di atas meja.
Di belakang meja mereka, Martin mendengarkan sambil berpura-pura membaca buku. Kemudian dia megirim pesan pada Jamie dan menceritakan semua yang didengarnya.
"Kau harus tetap berhati-hati. Jangan mengambil tindakan apapun. Ingat itu!"
"Baik!"
"Ini masih permulaan. Akan datang lebih banyak lagi yang seperti mereka." Jamie menambahkan peringatannya.
"Akan kuperhatikan," balas Martin.
Jamie langsung mengabarkan hal itu pada Stuart, agar dia berhati-hati jika bertemu dengan highlander pelindung lain dalam perjalanannya.
Menjelang siang, Oliver mengabari Jamie bahwa dia telah sampai di persimpangan tempat Jamie meletakkan alat sihir yang diberikan oleh Oliver sebelumnya.
__ADS_1
Jamie memintanya menunggu di tempat itu dan akan datang menjemput. Kedua ayah dan putra itu menunggu di dalam mobil sambil melihat-lihat tempat tenang di pinggir hutan.
"Pilihan tempat yang sangat bagus!" komenar Steve.
"Apa ayah tidak bertanya siapa yang menjadi ayah dari bayi yang dikandung Sang Dewi?"
"Aku tidak menanyakannya. Tapi menurutku, jika Tuan Mac Kay menganggap Sang Dewi sebagai nyonyanya, maka besar kemungkinan dia adalah orang dari pria yang menjadi ayah calon bayi itu," duganya.
"Kurasa yang ayah katakan itu benar. Lalu, di mana pria itu?"
"Itu juga menjadi pertanyaan dalam hatiku," timpal Oliver.
"Itu ada mobil antik datang. Apakah mobil itu yang ayah tabrak tempo hari?" tanya Steve.
Oliver menoleh ke dalam jalan kecil di antara rimbunan pohon. "Ya," jawabnya.
"Pantas saja dia meminta ganti rugi empat juta dollar." Steve tersenyum melihat pada bagian depan mobil antik yang sangat terawat itu, terdapat penyok yang cukup besar.
"Benar-benar menganggu pemandangan," batinnya.
"Kau ikut denganku, putramu tinggal di sini!" ujar Jamie.
"Aku ingin memeriksa kehamilan Nyonya. Ijinkan aku mengunjungi dan memeriksa kehamilan secara teratur. Demi kebaikan bayi dan nyonya juga," sela Steve.
Jamie berpikir sebentar. "Baik, kau ikut. Tapi tidak boleh datang tanpa ijinku!" Jamie menekankan.
"Tentu." Steve menyetir mobil mengikuti Jamie. Kedua kendaraan itu beriringan menyusuri jalan kecil yang dilindungi pepohonan. Beberapa rumah peternakan terlihat di sisi kanan.
Mereka menikmati pemandangan indah yang tersaji dengan pemikiran yang sama. "Tuan yang memilih tempat ini sebagai rumah persembunyian, pasti sangat cerdas."
Dua mobil itu berhenti di halaman sebuah rumah mungil. Suara ayam yang ramai berkotek, dan domba yang berlarian, membuat orang biasa tak akan menduga ada sesuatu yang sangat berharga disembunyikan di tempat itu.
"Apa kau tadi malam membuat mantra perlindungan di tempat ini?" tanya Jamie saat mereka jalan menuju beranda.
"Ya. Dan kau mencoba menghadangnya dengan pedang!" ejek Oliver.
"Huh!" Jamie mendengus tak senang.
"Kalian tunggu sebentar di sini, biar kukatakan kedatangan dokter ini." Jamie membiarkan dua tamunya di beranda.
Steve mengangguk. Dia menunggu dengan tenang sambil memegang tas yang berisi alat untuk memeriksa nyonya baru yang akan dilayaninya dengan sebaik mungkin. Semua ini dilakukannya untuk mendukung tugas sang ayah.
*******
__ADS_1