The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
63. Kedatangan Tuan Scott


__ADS_3

Seminggu mereka habiskan untuk menata ulang rumah mungil itu. Dan Tuan Scott mendukung keinginan Gaby. Dia kembali mengirimi uang pada Jamie Mac Kay agar dapat membeli apapun yang diinginkan Gaby untuk rumahnya.


Minggu kedua, Tuan Scott mengatakan akan datang ke Amerika menemui keduanya. Tak dinyana, hati Gaby merasa senang mendengar kabar itu. Tanpa disadarinya, hati kecilnya merindukan pria itu.


DI hari yang dikatakan Tuan Scott, Jamie pergi menjemput ke stasiun kereta. Sementara Gaby menyiapkan masakan untuk menyambutnya.


Pukul sembilan malam. Gaby yang sudah menpersiapkan banyak hal sejak siang, tertidur kelelahan menunggu kedatangan dua orang itu. Dia tak menyadari kedatangan Tuan Scott pada waktu hampir tengah malam.


"Apa kau sangat merindukanku?" bisiknya lirih. Dengan lembut, pria itu mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke dalam kamar. Setelah membaringkan tubuh Gaby, Tuan Scott mencium dahinya lalu keluar kamar.


"Sebaiknya kita makan malam dulu. Nyonya sudah menyiapkan semua ini sejak pagi," ujar Jamie. Tuan Scott mengangguk. Dia duduk di meja makan ditemani Jamie dan menikmati hidangan yang sudah dingin.


Malam berlalu dengan tenang hingga pagi menjelang. Gaby terbangun, dan sedikit terkejut saat menyadari dirinya tidur lelap dalam peluka seseorang. Dia menggeliat cepat dan langsung duduk. Melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar di pinggangnya.


Tuan Scott mengerjapkan mata beberapa kali. "Hari masih sangat pagi. Tidurlah lagi. Kau pasti lelah kemarin."


Dalam keremangan kamar, Gaby mengingat suara itu. Suara pria yang dia rindukan dan tunggu dengan gelisah kemarin.


"Jam berapa kau sampai?" tanyanya dengan nada tenang. Dia tak ingin menunjukkan pada pria itu bagaimana hatinya melompat gembira hanya karena mendengar suaranya.


"Tengah malam. Ada sedikit halangan di jalan. Itu sebabnya kami terlambat sampai," jelas Tuan Scott.


Tangan pria itu kembali terulur meraih pinggang Gaby yang mulai sedikit melebar. Dengan lembut dielusnya perut wanita itu. "Apa kau menyusahkan ibumu selama ayah tak ada?" bisiknya ke perut yang belum sepenuhnya membesar.


Hati Gaby meleleh mendapat perlakuan selembut itu. Perasaan keibuannya muncul karena putranya benar-benar dikasihi. Dia kembali berbaring dengan tenang di sisi Tuan Scott. Membiarkan pria itu berbicara pada putranya yang masih sebesar kacang kedelai di perutnya.


"Tinggallah bersama kami," ujar Gaby akhirnya. Matanya mencari-cari mata pria itu untuk menunjukkan kesungguhan permintaannya.


"Hadapi Watson setelah putra kita lahir. Please ...."


Tuan Scott dapat melihat jejak khawatir, sedih dan cinta dalam binar mata wanitanya. Wajahnya mendekat dan memberikan kecupan panjang untuk menenangkan Gaby.


"Selamat Siang, Tuan Scott, Nyonya. Saya sudah menyiapkan makan siang untuk anda berdua," sapa Jamie saat melihat dua tuannya keluar kamar pukul sebelas siang dengan wajah secerah matahari.

__ADS_1


"Terima kasih, Jamie." Tuan Scott mengangguk dan menarik kursi untuk Gaby. Dia dengan cekatan melayani wanita itu untuk makan makan siang.


"Saya ada janji dengan Pemilik peternakan domba di sana. Saya pikir mungkin baik jika memelihara beberapa ekor domba kecil untuk mainan Tuan Muda Kecil nanti," lapor Jamie.


Tuan Scott mengangguk. "apa kau sudah membersihkan tanah belakang untuk menempatkan dombanya?"


"Belum. Jika pemilik peternakan setuju harga yang saya minta, maka saya akan menyiapkan kandangnya dalam dua hari, baru menjemput mereka." Jamie menjelaskan rencananya.


"Oke!" Tuan Scott mengangguk setuju. "Cari juga dua ekor anak anjing penggembala untuk menjaga kawanan domba itu," saran Tuan Scott.


"Tentu, Tuan Scott." Jamie melangkah keluar ruangan. Tak lama terdengar suara mobil meninggalkan kediaman mereka.


"Mari makan. Kau butuh tambahan tenaga setelah pertempuran tadi," bisik Tuan Scott mesra. Wajah Gaby merona, namun dia tersenyum tipis dengan mata penuh kasih melihat pria itu mengambilkan makanan ke piringnya.


Siang yang santai di rumah mungil pinggir hutan, di sebuah desa pertanian.


Gaby melendot manja pada pria yang duduk bersandar di kursi kayu di beranda rumah itu. Lengan Tuan Scott tak lepas dari pinggang Gaby.


Tuan Scott terkekeh. "Aku tahu kau juga merindukanku." Dahi Gaby kembali mendapatkan kecupan mesra.


Setelah kedamaian dan kemesraan manis sekian lama. "Bagaimana dengan suamimu?"


Akhirnya Gaby mendengar juga pertanyaan itu. Tanpa minat, dia bertanya. "Apa kau ingin aku kembali padanya?"


Setelah helaan napas panjang, Tuan Scott berkata. "Kurasa, putra kita bisa tumbuh dalam keluarga sempurna jika kalian tetap bersama dan membesarkannya.


"Bagaimanapun, aku tetaplah pria yang egois. Meski bukan diriku, aku tetap ingin putra kita besar dalam keluarga yang utuh dan mendapatkan kasih sayang seorang ayah juga," ujarnya lirih.


"Pendapatku berbeda. Menurutku, kehadiranku akan terus mengingatkan Martin pada pengkhiatanku. Bagaimana lagi jika dia melihat putra kita nanti? Apa kau yakin dia akan mencintainya seperti dia mencintaiku? Apa kau tak khawatir dia menyakiti kami saat cintanya hilang ditelan kemarahan?" tanya Gaby.


Tuan Scott diam cukup lama untuk mempertimbangkan semua argumen yang diutarakan Gaby.


"Baiklah ... aku akan mendukung apapun keputusan yang menurutmu baik untuk kalian berdua. Jamie akan menjaga kalian, apapun keputusanmu!"

__ADS_1


"Hem ...." Gaby hanya memberi respon singkat. Keduanya kembali larut dalam kemesraan.


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putra kita?" tanya Gaby.


"Belum. Kau boleh memberinya nama, kalau mau," balas Tuan Scott.


"Kau berilah dia nama. Mungkin itu akan jadi warisan paling abadi yang bisa kau berikan untuknya."


Gaby mengatakan kalimat panjang itu dengan hati pedih. Betapa tidak. Dia melihat kematian pria itu dalam mimpinya. Dan putra mereka akan kehilangan ayah jauh sebelum dirinya lahir.


"Kenapa aku harus memimpikan dirimu tewas saat itu?" sesal Gaby.


"Bukankah itu bagus? Kita mendapatkan pertanda dan bisa membuat persiapan lebih awal," jawab Tuan Scott.


"Apa kau selalu merespon segala sesuatu dengan positif?" tanya Gaby.


"Aku mencoba melihat sisi positif dalam tiap hal yang kuhadapi. Bahkan hal terburukpun, pasti ada hikmah di baliknya," balasnya.


"Orang tua memang punya kelebihan dalam kebijaksanaan." Gaby mengejek.


"Yah ... aku sudah tua. Sangat tua malah. Tapi aku beruntung di usia tak muda lagi, masih diberi kesempatan bertemu denganmu dan mendapatkan keturunan. Terima kasih. Aku sangat menghargainya."


Kedua orang itu kembali berpelukan hangat. etap duduk santai hingga mata hari sore menyapa dan Jamie Mac Kay kembali.


"Apa kau berhasil mendapatkan domba-domba itu?" tanya Tuan Scott.


"Ya. Besok aku akan bereskan tanah terlantar itu." Jamie Mac Kay menurunkan beberapa kayu dan yang lainnya yang dia butuhkan untuk membuat kandang domba di tanah belakang rumah yang masih dipenuhi oleh dengan semak belukar.


"Bagus! Aku akan membantumu besok!" timpal Tuan Scott.


"Aku ke dalam," ujar Gaby. Dia masuk rumah dan membiarkan dua pria itu membahas hal-hal pria.


****

__ADS_1


__ADS_2