The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
9. Pelindung Kota


__ADS_3

"Di mana dia?" Tuan Edward celingukan mencari keberadaan Gaby. Dia menemani Emily mencari tamunya yang tersesat di kota mereka.


"Ini sudah satu jam sejak dia menelepon!" ujar Emily. Raut mukanya benar-benar khawatir sekarang.


"Coba kau telepon lagi dia!" saran Tuan Edward lagi.


Emily mencoba melakukan panggilan telepon lagi. Dan kembali yang didengarnya hanya suara opperator yang mengatakan bahwa nomor telepon tidak berada dalam jangkauan.


"Tidak bisa dihubungi! Entah di mana dia sekarang. Lagi-lagi tak bisa dihubungi!" ujar Emily.


"Ini sudah malam. Entah di mana dia. Aku takut terjadi hal buruk padanya," tambah Emily lagi.


"Sebaiknya kau minta tolong pada orang itu. Hanya dia yang bisa mencari dalam kebutaan seperti ini!" saran Tuan Edward.


"Jika dia menggunakan kemampuannya, akan merugikan dia! Bagaimana bisa kita meminta tolong meskipun tahu itu akan menyakitinya?" geleng Emily lemah.


Tuan Edward hanya bisa diam. Mereka tak tahu harus melakukan apa. "Kalau begitu, mari kita lapor polisi saja!" ajak Tuan Edward.


Emily menggeleng sambil mendesah lirih. "Perasaanku khawatir ...."


Disaat mereka kebingungan, ponsel Emily berbunyi. Wajah Emily penuh harap, mengira itu panggilan telepon dari Gaby. Tapi mimiknya langsung berubah saat membaca nama yang tampak di layar.


"Siapa?" tanya Tuan Edward.


heran meliat perilaku wanita yang telah dikenalnya puluhan tahun itu.


"coba kau tebak!" sahut Emily sambil menerima panggilan masuk itu.


"Dia!" ujar Tuan Edward yakin. Dan Emily mengangguk.


"Ya, hallo Tuan Scott, a---"


Kata-kata Emily terputus oleh suara dari seberang.


"Kurasa kau sedang ada masalah yang membutuhkan bantuanku, bukan?" ujar uan Scott dari seberang.


"Kami tidak ingin menyita waktumu, Tuan Scott," sahut Emily tak berdaya.


"Katakan!" ujar suara di sana. Sangat mengesankan sebagai orang yang tidak ingin kata-katanya dibantah orang lain.


"Ada tamu wanita dari Amerika menyewa flatku yang di lantai tiga ...."


Emily menceritakan bagaimana kejadian hari itu. Dia juga menceritakan ciri-ciri Gaby, seperti yang ditanyakan Tuan Scott.

__ADS_1


"Hmmm, kukira, aku sudah melihatnya tadi pagi di toko buku ini. Dan dia bermaksud untuk menghadiri peluncuran novel baru." Tuan Scott akhirnya bisaa menyimpulkan siapa penyewa yang dimaksud oleh Emily.


"Baik, akan kucari!" ujarnya dan langsung mematikan telepon.


Emily hanya bisa mengucapkan terima kasih di depan layar ponsel. "Terima kasih, Tuan Scott," ujarnya lirih.


"Kau lihat? Dia tak keberatan. Malah dia yang menghubungi sendiri, seakan punya telepati!" kata Tuan Edward.


"Itu karena kita membicarakannya!" bantah Emily.


"Kita tak menyebut namanya!" sangkal Tuan Edward.


"Kita membayangkannya! Dan kau sangat tahu kalau dia punya kemampuan hebat. Semua orang di sini dikenalnya. Jiwanya sudah tertanam dan berakar di sini. Dia leluhur kita! Tak mungkin dia tak menyadari jika kita sedang mengingatnya disaat kesulitan!" Emily mengoceh panjang pendek.


"Jadi, sekarang bagaimana? Apa mau menunggu di sini? Apa yang dikatakannya?" tanya Tuan Edward. Dia mengalah dan suaranya melunak.


Pria itu melihat kilatan petir di langit. Emily juga melihatnya. Kilatan petir keemasan yang jarang sekali terlihat. Dan dia tak berharap untuk melihatnya.


"Dia tak mengatakaan apapun. Jadi mari pulang saja. Aku tak mau berada di luar dalam situasi ini." Mata Emily mengguratkan kesedihan yang dalam.


Tuan Edward tak mau mendebat lagi. Dia memutar kemudi mobil dan berlalu dari sana. Langit makin gelap dan petir terus menyambar. Itu bukan petir yang biasa. Orang-orang di kota itu tahu, pasti terjadi suatu hal buruk yang membuat petir itu muncul.


*


*******


Seorang wanita tergeletak tak berdaya, tubuh yang basah kuyup itu menggigil. Sebuah perapian menyala tak jauh dari tempatnya dibaringkan.


Pria itu mendongak keluar jendela, melihat kilatan petir keemasan yang menggelegar di langit. Itu petir yang menyiratkan peringatan dan ancaman pada musuhnya.


"Akhirnya aku menemukanmu!" ujar pria itu sambil menyeringai. Dia menoleh pada wanita yang kebasahan di atas sofa.


"Kau dewi keberuntunganku!" tatapan matanya berkilat menyeramkan.


Orang itu pergi ke sebuah ruangan. Dia keluar tak lama kemudian. Di tangannya ada sebilah pedang besar. Terlihat tua, namun masih berkilat tajam saat diterpa kilatan petir di luar sana. Pedang itu seperti memiliki aroma tajam, Makin banyak darah yang ditumpahkannya, makin tajam baunya, dan makin kuat pula pemiliknya.


Orang itu menyeringai lebar, saat pintu rumahnya diketuk. Dengan langkah tenang, dia berjalan ke sana. Seakan menikmati rasa khawatir yang muncul dari orang yang datang itu. Tangannya membuka pintu, dan dia langsung keluar. Pintu kembali ditutup rapat di belakang punggungnya sambil menyembunyikan pedang.


"Hai, aku Watson. Apakah ada yang bisa kubantu?" tanyanya berbasa-basi.


"Serahkan dia padaku! Bukankah kau tau ada ssseorang pelindung di kota ini? Kenapa kau masih berani melakukan hal ini?" tuduhnya tajam.


"Apa maksudmu? Aku tak melakukan hal yang mengganggu penduduk kota ini!" sangkalnya.

__ADS_1


"Gadis yang kau culik itu, aku mengenalnya!" jawab pria yang masih berdiri di bawah hujan.


"Dia bukan orang kota ini!" pria itu membela diri.


"Apa kau ingin menantangku?" tanyanya tak sabar.


"Hahahaa ... namamu sangat terkenal hingga ke kota lain. Aku jadi penasaran seberapa kuat pelindung kota ini!" Orang itu menyeringai jelek.


"Kau yakin ingin menantangku?" sekilas di matanya menyala api yang berkobar.


"Bukankah memang harus seperti itu, jika aku ingin mengambil posisimu sebagai pelindung kota?" katanya congkak.


"Serahkan wanita itu. Dia tak terkait sama sekali dengan urusanmu! Kau tunggu tiga purnama berikutnya. Aku harus memberekan beberapa urusanku dulu sebelum menerima tantanganmu!" kata Scott dingin.


"Sepakat!" Orang itu mengulurkan tangan untuk berjabatan, tapi Scott mengabaikan dan melesat cepat menerjang pintu tertutup di belakang punggung Watson.


Watson sedikit terkejut melihat kekuatan yang ditunjukkan Scott. Jadi, dia menyingkir dari tengah pintu dan memberi Scott yang sedang membopong tubuh basah itu, ruang untuk melewati pintu.


Dalam sekejap, tubuh kedua orang itu menghilang dalam gelapnya malam.


*


*******


Pintu rumah Emily diketuk dari luar. Dia menutup toko lebih cepat, karena hujan yang seperti ini, membuat orang enggan keluar rumah.


Dengan cepat dibukanya pintu. Dilihatnya seorang pria berdiri di bawah hujan, sambi membopong tubuh Gabriela.


"Anda menemukannya!" ujarnya bahagia. "Ah ... ayo bawa ke kamarnya saja!" Emily meraih rangkaian kunci untuk membuka pintu kamar Gaby.


Pria itu sudah berada di tangga, depan kamar Gaby. Emily sedikit terkejut, tapi kemudian bersikap biasa lagi. Wanita paruh baya itu bergegas menyusul naik dan membukakan pintu kamar, agar Tuan Scott tidak terlalu lama menunggu.


Gaby dibawa masuk kamar dan dibaringkan di tempat tidur. Dia masih tidak sadarkan diri.


"Aku rasa dia demam," ujar Emily yang sedang menyalakan penghangat ruangan.


"Jika dia sudah sadar, minta dia memeriksa barang apa saja yang hilang. Lalu katakan padaku!" ujar pria itu. Dia melangkah ke pintu.


"Anda juga basah, Tuan Scott. Apa anda bersedia minum teh hangat sebagai rasa terima kasihku?" tawar Emily.


"Tidak perlu!" tolaknya. Pria itu sudah berdiri di ambang pintu.


"Terima kasih, Tuan Scott. Saya merasa bersalah telah menyusahkan anda," lirih Emily sambil menunduk hikmat.

__ADS_1


Karena tak mendengar jawaban, Emily mengangkat kepala. Pria itu telah menghilang. Datang dan pergi seperti angin. Ditutupnya pintu dan segera membantu Gaby agar tidak mengalami flu berat besok pagi.


*********


__ADS_2