
Ponsel Tuan Scott berdering. Sebuah Nomor asing melakukan panggilan. "Ya?" sahutnya singkat.
"Ini aku, Gaby," sahut sebuah suara dari seberang.
"Masih ada yang ingin kau tanyakan?" tanyanya.
"Ya. Tadi pria yang menguntitku mengatakan bahwa kau menerima tantangan Tuan Watson demiku. Kenapa kau membahayakan nyawamu demi seorang asing?" cecar Gaby.
"Dia salah menyimpulkan. Watson memang telah menantang beberapa guardian lain. Aku hanya seorang yang berada dalam daftarnya. Kau hanya sebuah alasan untuk memancingku keluar," jawabnya datar.
"Dia telah melawan beberapa yang lainnya?" tanya Gaby terkejut.
"Itulah yang kudengar." Tuan Scott menegaskan.
"Apakah itu juga pertarungan hidup dan mati?" tanya Gaby dengan suara bergetar.
"Ya."
"Jika dia masih hidup, berarti guardian yang ditantangnya tewas?" suara Gaby yang gentar karena takut, dapat dirasakan oleh Tuan Scott.
"Ya."
"Apa kau juga akan mengalami nasib yang sama? Apakah dia begitu hebat?" Ketenangan Gaby telah lama hilang. Dia mulai panik sekarang.
"Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi aku tahu dia kuat saat bertemu dengannya untuk mengambilmu dari tempatnya," sahut Tuan Scott. Kata-kata datar yang sama.
"Kau tak takut dia menghabisimu?" tanya Gaby heran.
"Itu cara terhormat untuk mati. Maka tugas ratusan tahun di pundakku akan selesai. Aku telah dibebaskan. Bukankah itu bagus?"
Gaby tak bisa mengerti jalan pikiran pria itu. "Lalu bagaimana dengan kota ini?"
"Itu urusan Dewa!" ujarnya tak peduli.
"Bagaimana jika Watson menculikku lagi setelah kau tak ada?"
"Kau sebaiknya kembali ke negaramu lebih cepat!" saran Tuan Scott.
Entah kenapa, ada rasa kecewa hinggap di hatinya mendengar jawaban sedingin itu. Dia menutup panggilan setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa kecewa? Apa sebenarnya yang ingin kudengar darinya?" Dirinya sendiri juga keheranan dengan reaksinya sendiri.
Gaby membuka laptop dan mulai mengetik lagi. Setelah beberapa waktu, pemikiran tentang Tuan Scott telah hilang sepernuhnya dari kepalanya. Dia tenggelam dalam imajinasi yang ditumpahkannya lewat ketukan lincah jari-jari di atas keyboard.
Pukul delapan malam, Gaby turun untuk makan malam di cafe. Dia melangkah cepat. Angin agak kencang, menjatuhkan daun-daun kering ke jalanan. Dan udara teramat dingin. Mantel panjang dipasangnya menyilang di dada. Tak lupa membawa payung, mengantisipasi turunnya hujan tiba-tiba.
Gaby memilih makan di sana, karena cafe tidak terlalu ramai saat it. Dan dia juga memang sedang ingin mendapatkan suasana baru. Dia sengaja membawa laptop dan terus bekerja sambil menunggu pesanannya datang.
Waitres menyajikan makan malamnya di meja, sembari berkata bahwa cafe sedang menyelenggarakan undian wisata ke Inverness di akhir pekan ini. Para pengunjung bisa mengisi kertas undian yang akan diundi keesokan hari.
"Oh, apakah itu pergi sendiri atau dengan beberapa orang?" tanya Gaby.
"Undian untuk tiga pemenang yang bisa pergi bersama pasangannya. Disediakan akomodasi dan guide juga," jawab waitres itu sopan.
"Baiklah, akan kuisi," senyum Gaby.
Dengan cepat diisinya kertas undian dan menyerahkannya pada waitres. Kemudian menikmati makan malam sambil terus mengetik.
Pukul sepuluh malam, Gaby menghentikan kegiatannya dan pulang. Dia sangat lelah dan ingin membaringkan tubuhnya sekarang.
Gerimis mengiringi langkahnya yang dipercepat. Perasaannya tidak enak. Tapi dia tak menemukan siapapun disekitarnya. Jadi dia bergegas melangkah. Hatinya menjadi kecut karena toko Emily ternyata sudah gelap.
"Aku terlalu lama di luar," sesalnya. dengan gesit kakinya menapaki anak tangga dan langsung menuju ke flat lantai tiga.
*
*
Pagi itu hujan turun. Tidak terlalu deras. Tapi hujannya awet. Tetapi itu tak menghentikan langkah-langkah kaki para pekerja. Mereka tetap berangkat dan beraktifitas seperti biasa. Bus-bus tetap berjalan sesuai jadwal.
Namun tidak bagi Gaby. Dia terlalu malas untuk keluar dari flat. Dia enggan berbasah-basah saat ini. Jadi dia memasak teh dengan teko elektrik di kamar, dan menikmati biskuit sebagai sarapan. Kemudian duduk di depan meja dan mulai mengetik lagi. Dia sedang mendapat tambahan ide untuk tulisannya. Wanita muda itu sepenuhnya tenggelam dalam dunia khayalannya sendiri.
"Panggilan masuk dari Martin mengganggu konsentrasinya. Dan dia sedikit bersungut saat menerima panggilan.
"Ya, ada apa?" tanyanya tak acuh.
"Selamat pagi sayangku," spa Martin hangat. Tak peduli respon Gaby yang tak seperti harapannya.
"Pagi," sahut Gaby. Bibirnya menjawab otomatis, karena perhatiannya sepenuhnya tertuju pada layar komputer.
__ADS_1
"Tampaknya kau sedang sibuk pagi ini," ujar Martin.
"Hemm." Gaby mengangguk.
"Apa aku menganggumu?" tanya Martin lagi.
Wanita muda itu kembali menggeleng. Jarinya mengetuk keyboard dengan lincah dan matanya terpaku pada layar. Membaca, mengetik lagi, membaca dan mengetik kembali.
"Kurasa waktuku tidak tepat. Baiklah, jangan lupa sarapan. dan jaga kesehatanmu. I love you!" Martin memutuskan panggilan video mereka. Gaby terus saja mengetik dan tak mempedulikan apapun.
Pukul satu siang.
Perutnya yang mulai perih melilit tak mempan lagi jika hanya diisi biskuit dan teh hangat. Akhirnya Gaby menghentikan pekerjaannya. Meregangkan tubuh sebentar di kursi sambil memijat tengkuknya yang terasa pegal.
Udara terlihat penuh dengan titik air. Udara sejuk masuk lewat jendela yang disingkapnya. Halaman toko Emily ditutupi oleh guguran daun yang menguning kecokelatan dan basah. Tapi pemandangan itu terlihat indah dari atas. Jalanan basah dan dipenuhi guguran dedaunan aneka warna, tampak indah dan romantis.
Dengan cepat digantinya pakaian dan mengemas tas. Mantel di balik pintu disambar dan dikenakan dengan cepat sebelum dia membuka kunci pintu. Kakinya menapaki tangga dan mengambil jalan lain untuk mencari makan siang.
Gaby ingat, tak jauh dari Toko Farmasi ada sebuah restoran cepat saji. Dan sekarang dia sedang ingin ke sana. Pasti makanannya akan berbeda dengan kafe yang diujung jalan.
Sebuah syall melilit leher dan menutupi sedikit kepalanya. Tangan dimasukkan ke saku mantel. Gaby berjalan cepat. Hari memang tidak hujan. Tapi udara mengandung uap air yang jika dia kelamaan di luar, itu sama juga dengan kebasahan.
"Selamat siang, Nona. Selamat datang." Seorang waitres wanita menyapanya begitu memasuki pintu restoran. Gaby mengangguk, kemudian menyapu ruangan. Ruangan hanya setengah penuh. Dilangkahkannya kakinya menuju satu meja yang berada dekat perapian.
Seorang waitres lain datang dan memberikan kertas menu padanya. Gaby memeriksa. Menu di situ tak jauh beda dengan menu restoran cepat saji di negaranya. Jadi dia dengan cepat memilih beberapa sajian dan memesan beberapa sajian lain untuk dibawa pulang. Dia sedang tak ingin keluar lagi malam nanti.
"Selamat siang, boleh aku duduk di sini?" sapa seorang pria begitu si waitres pergi.
Gaby menatapnya tajam, kemudian ke arah bangku kosong lain tak jauh dari situ.
"Tak boleh!" tolak Gaby tegas.
"Kenapa? Bukankah di sini tak ada yang menduduki?" desak pria itu.
"Aku sedang menunggu seseorang!" Gaby memberi alasan sekenanya.
"Seorang pria?" tanyanya menyelidik.
Gaby menatapnya tak suka. "Itu bukan urusan anda. Tapi ya, saya menunggu seorang pria!" jawab Gaby ketus sambil menunjukkan tangannya yang memakai gelang pemberian Tuan Scott serta cincin di jari manis itu.
__ADS_1
Pria asing itu mengatup rapat bibirnya dan menjauh tanpa mendebat lagi.
**********