
Gaby tak tahu, dia mendapatkan kekuatan dari mana. Tapi akhirnya dia berhasil menjangkau tangan Tuan Scott. Pegangannya dipererat dan dia menarik tubuh pria itu kearahnya.
Sekarang Tuan Scott sudah berada dalam pelukannya. Dia menghela tubuh untuk berenang naik. Itu menjadi semakin tak mudah karena permukaan danau yang mulai menggelap. Tapi dia tak menyerah, meskipun rasanya nyawanya sudah sampai di tenggorokan, karena dirinya sudah terlalu lama berada di dalam air.
Curahan air hujan disertai petir menyambut dua kepala yang menyembul ke permukaan danau. Gaby ingin menepi, tapi kemudian terheran-heran melihat betapa jauhnya letak kastil yang tadi mereka datangi. Dilihatnya berkeliling, mencari tempat terdekat untuk menepi.
Akhirnya diputuskannya menuju satu ceruk gelap yang ada di sisi kanannya. Ditariknya tubuh Tuan Scott yang masih pingsan menuju ke tepian tersebut. Entah berapa lama waktu yang dilewatinya, meskipun merasa bahwa tenaganya hampir habis, tapi dirinya terus saja menarik Tuan Scott ke tepi.
Dengan sudah payah ditariknya Tuan Scott naik ke atas permukaan berbatu. Dia atas mereka ada bongkahan batu besar yang dapat melindungi mereka berdua dari guyuran hujan deras.
Dengan mata terpejam dan napas terengah-engah, ditutupnya mata. melepaskan kelelahan yang rasanya seperti merontokkan seluruh sendi tubuhnya.
Setelah beberapa waktu, diliriknya ke samping. Pria itu masih tak bergerak. Gaby bangkit dan mencoba mendengarkan detak jantungnya. Entah karena diganggu suara petir, tapi Gaby tak bisa mendengarkan suara detak jantung Tuan Scott.
Gaby ingat mendapatkan hentakan saat mereka meluncur di tebing. Dengan khawatir dimiringkannya tubuh pria itu untuk melihat bagian punggung atau kepalanya yang mungkin membentur sesuatu.
Tempat itu gelap. Gaby tak bisa melihat apakah ada sesuatu di sana. Jadi tangannya meraba ke balik mantel pria itu untuk mencari tahu sesuatu.
Kekhawatirannya terbukti. Dia merasakan sesuatu yang hangat membasahi tangannya. "Darah?" pikirnya. Dengan khawatir, ditariknya tangan dan mencari tempat yang cukup terang untuk melihat apa yang tadi dipegangnya.
"Darah! Dia terluka parah untuk menyelamatkanku," lirihnya tak percaya melihat darah merah segar membasahi telapak tangannya.
Gaby melihat ke sekeliling tepian Danau. Dengan patokan kastil, dia tahu bahwa mereka sudah terhanyut terlalu jauh dari tempat semula.
"Dia tak akan mati jika bukan karena pertarungan antar guardian. Jadi dia akan tetap selamat. tapi bagaimana dengan punggungnya? Apakah patah tulang belakang juga akan sembuh jika dia berhasil melewati masa kritis?" batin Gaby.
__ADS_1
Didekatinya Tuan Scott yang masih berbaring kaku. "Apa kau akan baik-baik saja?" bisik Gaby sendu.
"Maafkan aku, yang menyebabkanmu begini," lirihnya. Suara petir yang menggelegar di atas mereka, mengagetkan Gaby.
Udara yang sangat dingin menggigilkan tulang-tulangnya. dilepasnya kamera yang talinya masih tersangkut di leher. Dia tak mempedulikan jika kamera itu rusak. Benda itu diletakkannya di samping. dilepasnya tas ransel yang meneteskan air. Pasti semua isinya sudah basah kuyup.
Kemudian melepas mantel tebal yang sekarang memberati pundaknya, dengan air yang terus menetes tanpa henti. Dilihatnya ponsel di saku mantel yang sudah mati sepenuhnya akibat terendam dalam air danau begitu lama.
"Bagaimana menghubungi orang lain dan minta pertolongan?" gumamnya risau.
Dilihatnya lagi Tuan Scott yang terbujur kaku dengan kulit pucat. "Apa dia sudah mati sekarang?" pikirnya khawatir. Ide bahwa pria itu bisa hidup lagi, sungguh sulit untu dipercaya nalarnya.
"Bagaimana kalau dia mati betulan?" batinnya khawatir. Gaby tak ingin berutang nyawa pada siapapun. Itu terasa mengerikan baginya.
Merasakan angin yang sangat dingin, Gaby melihat Tuan Scott yang masih mengenakan mantel tebal. Jika nanti dia bangun, dia bisa sakit flu karena terendam dalam mantel basah.
Dengan susah payah dan usaha keras, mantel itu berhasil dilepaskan. Gaby melipatnya dua dan menjadikannya sebaga alas bagi punggung Tuan Scott. Dia berharap, dengan begitu, punggungnya yang terluka tidak akan terlalu sakit sakit karena langsung menyentuh permukaan batu kasar.
Mantelnya sendiri dilipatnya untuk menjadi alas bagi kepala Tuan Scott. Dia mengangguk puas dengan upayanya membuat Tuan Scott merasa nyaman.
"Sekarang kau kutinggal sebentar. aku ingin melihat keadaan di luar. Mungkin saja ada rumah penduduk di sekitar sini," ujar Gaby.
Dilihatnya Tuan Scott cukup lama. Bukan karena dia menunggu jawaban yang pasti tidak akan terjadi. tapi dia sendiri ragu untuk menjelajah keluar dari tempat itu. Hanya karena tak ada orang lain lagi yang bisa diandalkannya, maka dia harus bergerak sendiri mencari pertolongan.
Gaby berjalan keluar dari ceruk batu. Ditolehnya ke belakang, ke arah Tuan Scott yang sedang terbaring, entah hanya pingsan atau sudah tewas. Setelah yakin bahwa pria itu akan aman dan terlindung dari curahan hujan deras, kakinya melangkah keluar.
__ADS_1
Gaby menyusuri jalan basah, licin dan curam dengan hati-hati, Sesekali tangannya menjangkau rerumputan agar bisa menarik tubuhnya lebih ke atas lagi. Sepanjang dia melangkah sejauah lebih kurang lima ratus meter dari tempat semula, Gaby hanya melihat pepohonan dan tanaman liar. Dia tak melihat bahkan seberkas cahaya samar di kejauhan sebagai tanda hadirnya manusia lain.
"Apakah aku memilih sisi danau yang merupakan hutan?" pikirnya sambil meremas kepala karena kesal. Dilihatnya langit yang semakin gelap. Gelap yang menandakan hari mulai petang.
"Aku harus kembali. Jika tersesat di hutan, maka tak ada lagi yang bisa menemukanku," gumamnya. Kakinya berbalik dan mengamati jalan yang tadi dilaluinya untuk naik.
"Ya Tuhan, jauh sekali ke bawah sana," pikirnya. Tapi kakinya terus melangkah dengan hati-hati. Karena jalan menurun di saat hujan, jauh lebih sulit ketimbang mendaki. Gaby tak ingin dirinya kembali tercebur ke danau yang dalam dan dingin.
Hampir satu jam dia menyusuri jalan untuk kembali. Hampir saja dia keliru memilih jalan. Karena guyuran hujan segera menghapus tanda-tanda bekas kakinya di permukaan tanah. Setelah sedikit tersesat, akhirnya dia menemukan ceruk itu.
"Ah, kau tak tahu bagaimana senangnya aku menemukan ceruk batu ini lagi, Tuan Scott," ujar Gaby saat sampai di sana.
Tapi tentu saja Tuan Scott tidak dapat menjawabnya. Gaby memilih duduk disamping pria itu. "Kurasa aku memilih sisi danau yang salah, Tuan Scott. Di atas sana hanya ada hutan," sesal Gaby.
"Dan sialnya, aku tak bisa membuat api unggun untuk menghangatkan ceruk ini." keluhnya lagi.
Keadaan itu tak mungkin lebih buruk lagi, jika tidak disertai bunyi perutnya yang keroncongan. "Dan aku merasa lapar sekarang," gumamnya lirih.
Dengan sedih, Gaby memeriksa tasnya. Mencari permen ataupun coklat yang mungkin tersisa di dalam saku tas. Tapi dia menemukan kotak Brunch yang diberikan Tuan Duncan sehari sebelumnya. Dia bahkan lupa bahwa ada kotak makanan di dalam tas. Dibukanya kotak dengan sedikit khawatir. Khawatir kecewa jika makanan di dalam situ ternyata basi.
"Aku rasa ini masih bisa dimakan, Tuan Scott," ujar Gaby setelah mengendus makanan di dalam kotak plastik itu.
Dibukanya bungkusan aluminium foil. Dilihatnya sepotong daging yang dipanggang kering. Kemudian bungkusan alu foil lain yang berisi dua keping roti panggang. Di tempat lain ada saus keju dibungkus plastik yang ternyata sudah basi.
"Terima kasih Tuhan, untuk makanan ini," gumamnya sebelum menikmati makanannya dengan nikmat. Dilihatnya di dalam tas, masih ada satu kotak lagi yang merupakan jatah makan Tuan Scott.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengambil jatah makan malammu. Jadi, segeralah bangun," ujarnya pada pria yang terbaring di atas batu.
*********