
"Orang yang namanya kau tuliskan sebagai penjamin ini juga akan berakhir hidupnya, jika kau macam-macam dengan kami!" ancam Jamie.
"Dia putraku. Aku tak akan pernah membahayakan nyawanya!" tegas Oliver Stout.
"Bagus! Atau orang kami yang ada di Rumah Sakit tempat putramu bekerja, akan langsung membereskannya!" Jamie tak mengendurkan ancamannya.
"O-orangmu?"
Pria tua itu jelas sangat terkejut. Dia tak mengira akan ada pelindung lain di rumah sakit tempat putranya bekerja. Dia sudah pergi ke sana dua kali. Dan tak sekalipun dia meraskan adanya seorang pelindung yang bekerja di rumah sakit.
Jamie tertawa mengejek. "Apa kau kira aku hanya tinggal sendirian di kota ini?"
"Jelas sekali kemampuanmu sudah berkarat, Pak Tua!"
Stuart menimpali. Dia menetahui dari Jamie bahwa suami Gaby pindah bekerja di rumah sakit kota kecil itu, di mana Steve putra Oliver juga bekerja. Dan sangat jelas bahwa Martin bukanlah seorang highlander.
Penyihir itu terpaku. Dia akhirnya harus mengakui bahwa kemampuannya atelah berkurang banyak. "Aku akan berlatih malam ini. Mencoba mencari di mana keberadaan Sang Dewi," ujarnya bersungguh-sungguh.
"Jika kau mengetahuinya, segera kabarkan padaku. Ingat! Jangan bermain trik dengan kami. Atau putramu bayarannya!" tegas Jamie.
"Tentu saja." Jamie mengantarkan Oliver ke flat di mana Steve tinggal. Kemudian dia pergi bersama Stuart.
"Kau mempercayainya?" tanya Stuart.
Jamie menepikan mobilnya. "Kau turun di sini dan awasi dia tanpa diketahui!" pesannya sebelum meninggalkan Stuart lagi di kota kecil itu. Sementara dirinya kembali ke luar kota untuk pulang.
*
*
"Kau awasi Steve dan ayahnya, jika penyihir itu datang lagi ke rumah sakit!" pesan Jamie pada Martin.
"Apakah mereka termasuk dalam kelompok yang memburu Gaby?" balas Martin.
"Aku sedang berusaha menariknya ke sisi kita. Kita butuh lebih banyak sekutu. Dan Gaby mempercayai penyihir itu!" Jamie membalas pesan Martin.
__ADS_1
"Kenapa dia mempercayainya? Mereka bkan belum pernah bertemu!" tanya Martin heran.
"Ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan nalar di sini. Jadi jangan terlalu kau pusingkan soal itu!" Jamie memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia turun dari mobil dan kembali mengurusi ternak yang dipeliharanya di tanah kosong tak jauh dari rumah mungil mereka.
Malam hari, pesan dari Stuart masuk. "Pria itu tak keluar dari rumahnya. Dan kau tahu, aku tak mungkin memasuki rumahnya diam-diam seperti pencuri!"
"Apa kau khawatir diaa memasang mantera di jendelanya?" tanya Jamie.
"Ya!" balas Stuart.
"Seorang pelindung takut pada mantera? Lemah!" ejek Jamie.
"Itu karena kau tak pernah merasakannya!" balas Stuart sengit.
"Itu karena aku tidak bodoh!" balas Jamie tak mau kalah. Dia tertawa dalam hati membayangkan Stuart yang sewot mendapatkan ejekan atas kelemahannya.
Sudah menjadi rahasia umum bagi para highlander di tanah Scottland, cerita cinta Stuart yang kandas. Penyihir wanita yang ditaksirnya menolak cintanya mentah-mentah. Wanita itu membalas sikap keras kepala Stuart dengan sihir yang butuh puluhan tahun baru hilang. Itupun, karena wanita idamannya itu akhirnya meninggal dunia sebab usia tua.
Laporan dari Martin juga diterima Jamie. "Steve tiddak melakukan hal-hal yang mencurigakan."
Satu hari berlalu. Keesokan pagi. Justru Oliver menghubunginya. "aku merasa Sang Dewi disembunyikan. Atau, menyembunyikan diri. Aku bisa merasakan getarannya sedikit ke luar kota."
"Oliver bilang dia bisa mengetahui di mana Nyonya Gaby berada. Aku akan menjemputmu dan menurunkanmu di desa." pesan Jamie pada Stuart.
"Kenapa aku tidak ikut serta denganmu?" protes Stuart. Dia juga ingin menemui Gaby.
"Apa kau lupa tugasmu untuk menghadang para pelindung lain yang mendekat ke desa? Jika desa itu dapat mereka lewati, maka kediaman kami akan segera diketahui!" tegas Jamie.
Akhirnya, sesuai dengan pengaturan yang dibuat Jamie, Stuart turun di desa, dan Jamie mengikuti petunjuk Oliver untuk mencari tempat persembunyian Gaby.
"Kau mengetahuinya atau tidak?" dengus Jamie. "Kita sudah berputar-putar di area ini tiga kali!"
"Aku yakin dia ada di sekitar sini. Firasat menuntunku ke sini." Kedua orang itu berhenti di pinggir ladang gandum yang luas. Tanah tu sedang diolah untuk ditanami kembali musim semi ini.
"Apa kau pikir Sang Dewi adalah biji gandum yang akan disemai?" ejek Jamie tertawa keras.
__ADS_1
Penyihir tua itu termenung. Dia sendiri juga bingung, kenapa firasat yang dia percayai, membimbingnya ke tanah itu. Tempat yang sama sekali mustahil untuk bersembunyi.
Memang mereka sudah mengelilingi areal pertanian itu tiga kali, dan tak menemukan satu celah pun ditanah kosong luas itu yang memungkinkan Gaby untuk bersembunyi.
"Atau ... jangan-jangan dia sudah tewas?" Oliver sendiri terkejut dengan pemikirannya.
"Kau gila! Kau sendiri yang tak punya kemampuan, lalu menutupinya dengan asumsi segampang itu. Ingat! Jika kau tak berhasil menemukannya, putramu Steve yang akan kukubur di tanah pertanian itu!" Jamie menggeram marah.
"Aku akan berusaha lagi," ujarnya. Pria tua itu mengguratkan garis melingkar di rerumputan pinggir jalan, Dikeluarkannya beberapa benda yang hanya dirinya yang mengetahui apa fungsinya. Semua benda aneh itu diletakkan di tempat-tempat tertentu, membentu pola. Kemudian dia duduk di tengah-tengah lingkaran. Memejamkan mata dan mengucapkan mantra dengan bahasa-bahasa asing, yang bahkan Jamie tidak memahaminya.
Jamie hanya mengawasi dari mobilnya. Dia sama sekali tak mungkin membantu. Dia tak mengerti dan tak terlalu tertaik juga dengan segala macam ritual aneh yang menurutnya tak masuk akal. Bagi Jamie, jika ada masalah menghadang, maka mata pedangnya bisa lebih cepat menyelesaikan masalah ketimbang sebuah mantera.
Satu jam berlalu. Oliver berdiri dari duduknya dan tersenyum. Dengan langkah panjang tanpa ragu, dia menerobos masuk ke tanah basah.
Di mobil, Jamie memperhatikannya sambil mengulum senyum. Dilihatnya pria itu berhasil menemukan apa yang sebelumnya diletakkan Jamie di tengah ladang. Oliver setengah berlari dan melambai-lambaikan kain di tangannya dengan gembira.
"Aku mengetahui sebabnya!" teriaknya berulang kali. Penyihir tua itu membereskan lingkaran sihirnaya sebelum mengarah pada Jamie yang melihatnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Kau sengaja mengecohku dengan meletakkan ini di sana!" ujarnya dengan sangat yakin.
"Pasti kau yang menyembunyikan Sang Dewi!" tuduhnya langsung.
"Kau harus membuktikan dulu kalau itu memang pekerjaanku, sebelum menuduh!" sengit Jamie tak mau menyerah begitu saja.
"Baik!"
Oliver berdiri dan memejamkan mata. Kemudian selarik cahaya merah keluar dari lembaran kain yang dipegangnya dan melompat ke arah Jamie.
Jamie mengelak dari serangan yang dikirim Oliver. Dia mengarahkan pedangnya menangkis cahaya merah yang menukik ke dadanya. Cahaya itu dihadang oleh pedang dan terhenti di sana. Jamie sedikit mundur oleh dorongan kuat yang ditimbulkan oleh tusukan cahaya merah. Dilihatnya apa yang menyentuh bilah pedangnya. Setetes darah merah menempel dan meninggalkan jejak baru di bilah pedang tajamnya.
"Apa ini? Ini tak membuktikan apapun!" sergah Jamie tak mengerti. Diperhatikannya noda itu dengan seksama.
"Itu adalah jejakmu yang tertinggal di kain ini. Entah keringat atau apapun yang menjadi bagian dari dirimu. Aku tak tahu. Tapi itu adalah bagian dari dirimu!" Oliver menjawab tegas.
Jamie tak menjawab lagi. Dia tak ingin mendebat. Setidaknya sekarang dia tahu bahwa Oliver punya kemampuan. Dia bahkan dapat menemukan kain yang sudah disentuh Gaby.
__ADS_1
"Musnahkan kain itu dan ikut denganku!" ajak Jamie.
*******