The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
92. Rumor Bonnie


__ADS_3

"Kalian mau bertarung tanpa aku?" Elliot melompat tinggi dan memukulkan pedangnya tepat saat pedang Watson melayang ingin menebas leher Jamie.


Watson merasakan tangannya kesemutan akibat hantaman pedang dari arah yang tidak diperhitungkannya. Wajahnya memerah karena tak senang. Dia hampir saja menyelesaikan pertarungannya dengan Jamie.


"Jangan lupakan aku, Watson. Aku belum membalaskan luka-luka yang kau torehkan kemarin!" Elliot sudah berdiri dengan kuda-kuda yang sempurna. Pedang besar itu sudah berada dalam genggaman kedua tangannya.


"Kau sungguh ingin mati, Bonnie?"


Mata Watson berkilat marah. Kali ini dia tak ingin bermain-main lagi. Pertarungan itu harus segera diselesaikan. Dia tak boleh memberi waktu bagi tiga highlander lainnya untuk sadar dan ikut serta mengeroyoknya.


"Bukankah kemarin hanya pemanasan? Ayo kita mulai!" Elliot sudah melompat lebih dulu sambil bersuit nyaring melengking.


Watson dan Jamie merinding mendengar suitan itu. Mereka hanya pernah mendengar rumor bahwa Elliot punya kemampuan khusus yang hanya akan dikerahkan saat menghadapi musuh besarnya. Kemampuan khususnya selalu dimulai dengan suitan nyaring melengking yang membuat bulu roma berdiri ngeri.


Mata lebar Jamie melihat dengan ekspresi tak percaya. "Itu bukan rumor," desisnya terpana.


Tebasan pedang Elliot seperti angin yang tak bermata. Pria tampan itu seakan sedang menari di udara. Dia melayang tinggi dan bergerak ke kanan kiri sambil terus menebaskan pedang yang mengandung hawa panas luar biasa. Hanya panas itu memberi efek terbakar seperti api.


"Aku bahkan masih harus mencari tumpuan untuk melompat. Tapi dia seperti burung yang terbang mengelilingi Watson." Jamie berkata sendiri dalam ketakjubannya.


"Kau sedang menonton apa? Ayo bantu!" Stuart memukul punggung Jamie dan segera masuk dalam gulungan angin yang dipenuhi daun serta rumput beterbangan.


Jamie sedikit terkejut. Dilihatnya di belakang, teman-temannya yang lain berteriak, menyuruhnya ikut membantu dua anggota tim lain.


Tak menunggu lagi, Jamie ikut menerjang masuk juga dalam pusaran angin yang tercipta akibat putaran pedang ketiga pelindung highlander itu.


Denting suara pedang yang nyaring halus selalu diikuti dengan percikan kilat yang menyebar, seperti kembang api dalam perayaan tahun baru, Hanya saja, suara yang tercipta adalah gelegar dahsyat seperti suara guntur.


Duncan dan Angus menyerbu masuk juga ke dalam pusaran angin dan kilatan petir yang terus menyambar ke sana ke mari. Mereka sama sekali tak memikirkan bahwa tadi baru saja mengalami kecelakaan mobil yang parah.


Martin yang tadi ikut tersadar dan dibopong oleh Duncan, kini sedang memeriksa mobil antik Tuan Scott yang sudah rusak parah.

__ADS_1


"Gaby ... Gaby!" panggilnya panik. Dia tak menemukan istri dan bayi itu, juga Oliver.


Dalam kebingungannya dan kepala pusing serta tubuh remuk, Dia menelepon Steve.


"Kami dicegat Watson di jalan tol. Mobil rusak dan aku luka-luka. Para highlander itu sedang bertarung hebat. Tapi Gaby dan ayahmu tak terlihat. Coba kau datang ke sini dan cari mereka! Tolong, sembunyikan istriku!" pinta Martin putus asa.


"Ya! Aku segera ke sana!" Panggilan telepon itu terputus. Martin bingung mau mencari Gaby dan Oliver ke mana.


"Tak mungkin mereka ke jalan raya. Itu terlalu jauh dan ... Watson datang dari jalan. Berarti ...."


Martin segera memaksa dirinya untuk melangkah menuju hutan. Hanya arah itu yang tersisa bagi Oliver dan Gaby untuk menghindari kedatangan Watson tadi.


"Gaby ... Honey! Oliver! Kalian di mana!" teriak Martin di batas hutan. Dia berdiri kelelahan di situ. Kaki dan dadanya sangat sakit dan nafasnya mulai sesak.


Pria itu sudah tak sanggup berlari. Kakinya yang terluka hanya bisa diseret dan dipaksa memasuki area hutan yang rumputnya makin tinggi.


Martin sungguh tak tahu di sebelah mana istrinya bersembunyi. "Apakah Oliver membawa mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan?" pikirnya putus asa.


Martin terus masuk dengan terseok-seok. Sesekali dia memanggil Gaby dan Oliver. Hingga dia sendiri tak mampu lagi bertahan. Tubuhnya yang penuh luka dan hanya manusia biasa, tak bisa dipaksa untuk terus bergerak. Martin jatuh terlentang dengan pandangan penuh kabut.


"Di mana pun kalian, kuharap kalian selamat dan bahagia," lirihnya sebelum menutup mata.


*


*


Steve yang menerima telepon Martin akhirnya memutuskan untuk ijin tidak masuk lagi hari itu. Dia segera memacu mobilnya menuju ke luar kota.


"Jika jalan tol penuh dengan mobil yang tabrakan, maka aku tak bisa lewat sana. Aku harus mencari jalan alternatif untuk mencapai lokasi!" gumamnya.


Mobilnya dipacu memasuki tol pertama. Dia berkendara dengan pikiran khawatir. Ayahnya meskipun panjang umur, tapi tetaplah manusia biasa yang bisa terluka dan butuh waktu lama untuk pulih.

__ADS_1


Ditambah lagi sekarang sudah bertemu dengan Gaby yang dipercaya pria tua itu sebagai alasan dia diberi umur panjang. Maka bisa saja ayahnya tewas setelah menyelamatkan Gaby, jika tidak segera mendapatkan perawatan medis yang memadai.


Di pintu keluar tol pertama, Steve membelokkan mobilnya dan terus berkendara. Dia yakin lokasi itu sudah tak jauh lagi, karena suara sirine ambulan, polisi dan pemadam kebakaran saling bersahutan dari arah depannya.


"Sial!" umpatnya. Tangannya memukul setir dengan kesal.


Sepertinya, semua orang berpikiran sama dengan Steve. Setelah ada pemberitahuan bahwa jalan tol ditutup akibat kecelakaan, maka jalan antar kota yang biasanya hanya dilintasi penduduk setempat, kini jadi sangat ramai dan padat. Mobilnya bergerak dengan lambat, padahal dia harus segera sampai sana untuk menyelamatkan ayah, Gaby serta bayi itu.


Dicobanya menelepon Martin untuk mengetahui posisi mereka berada, tapi panggilan itu tak terjawab. Steve menjadi makin khawatir sekarang. Dia ingat bahwa tadi Martin mengatakan kondisiya yang buruk. Dan Martin jelas manusia biasa!


Dia mencoba mencari jejak keberadaan ponsel Martin lewat gps. Dengan patokan itu, dia akan mencari keberadaan empat orang biasa yang harus diselamatkannya.


Sebuah jalan kecil di kiri, terlihat oleh Steve. Dia tiba-tiba membelokkan mobilnya ke kiri. Meskipun harus menerima klason protes dari pengemudi di belakangnya, pria itu tak peduli. Dia terus memaksa belok ke kiri di jalan yang padat. Seorang polisi membantunya lewat, agar tidak membuat kemacetan semakin panjang.


"Terima kasih!" teriak Steve sambil meninggalkan kekacauan di jalan itu. Sekarang mobilnya bisa dipacu lebih cepat. Dia sudah membuang waktu percuma selama setengah jam di jalan antar kota tadi.


Dengan terus memperhatikan titik merah pada ponselnya, Steve terus melaju. Hingga pada satu titik, tanda merah posisi Martin hampir sejajar dengan keberadaannya, hanya saja, posisi Martin berada jauh di dalam hutan lebat yang ada di kiri jalan.


Tanpa keraguan sedikitpun, pria itu membelokkan mobil memasuki hutan dengan hati-hati sebab tanahnya tidak rata. Namun mobil itu terpaksa berhenti karena di depannya ada gundukan tanah yang meninggi. Mobilnya tak mungkin memanjat ke atas sana.


"Hah!" Steve keluar dan membanting pintu mobil dengan kesal. Dia mendaki ke atas tanah yang tinggi itu untuk melihat situasi dan mengetahui posisinya.


"Di mana kau!" desisnya sambil mengamati ponsel, mencari posisi ponsel Martin.


Bugh!


"Ahhh ...!"


"Siapa kau?"


*********

__ADS_1


__ADS_2