
Sore itu, Tuan Scott perlahan sadar dari pingsannya. Kepalanya mengernyit. dan melihat sekeliling. Lalu pandangannya tertumbuk pada nenek yang sedang menyusun botol-botolnya ke dinding.
"Mow?" panggilnya.
Wanita tua itu menoleh padanya. Beberapa botol melayang di udara. "Bagus, kau sudah sadar."
Nenek melanjutkan lagi pekerjaannya. Tuan Scott bangkit dan mencari sesuatu.
"Di mana Gaby?" tanyanya.
"Dia ke luar," jawab nenek.
"Sial!" Tuan Scott segera bangkit, untuk mencari ke luar. Setelah pintu dibuka, dilihatnya seorang wanita berpakaian tradisional Scott, berada di padang rumput depan rumah nenek.
Tuan Scott berlari mencari ke jalan berbatu yang sebelumnya dilalui Gaby untuk lari. "Gaby!" panggilnya panik.
Wanita di padang rumput itu menoleh dan terheran-heran melihat Tuan Scott lari ke jalan yang mereka tempuh sebelumnya.
Ditinggalkannya bunga-unga liar yang tadi dipetik. Dia segera lari menyusul Tuan Scott.
"Tuan Scott! Kau mau ke mana?" teriaknya dari belakang.
Tuan Scott mendengar suara Gaby ada di belakang, segera berhenti lari dan menoleh ke belakang. Dilihatnya wanita berpakaian tradisional itu dengan seksama. "Gaby?" tanyanya.
"Ya? Kau mau ke mana?" tanya Gaby setelah keduanya lebih dekat.
"Syukurlah. Kukira kau lari lagi," Tuan Scott merasa lega.
"Ato masuk. sebentar lagi hari gelap," ajak Tuan Scott.
Keduanya berjalan beriringan. Tuan Scott menunggu Gaby memungut lagi bunga-bunga yang tadi dicampakkannya di rerumputan.
Di dalam rumah, nenek sudah mulai memasak. Gaby ingin membantu, tapi ditolak. Jadi dia memilih untuk menyusun bunga-bunga yang tadi dipetiknya ke dalam cangkir.
"Wingnut, ganti pakaianmu dengan yang kuletakkan di kursi!" perintah nenek.
"Aye!" Tuan Scott mengangguk patuh.
Tak butuh waktu lama bagi Tuan Scott untuk berganti pakaian. Itu adalah model pakaian tradisional yang dulu pernah dikenakannya dengan bangga.
Gaby terkesima melihat pria mengenakan kilt dan kain tartan yang disampirkan dari pinggang ke dada hingga bahunya. Ketampanannya terlihat jelas. Terlihat sangat jantan dan rambutnya berkilau kemerahan, di bawah cahaya pelita.
"Apa kau bari tahu kalau dia sangat tampan?" tanya nenek sambil membawa mangkuk berisi makanan ke meja.
Ketiganya duduk di tempat masing-masing. Nenek mengambil satu mangkuk yang berisi makanan berbeda dengan dua lainnya.
__ADS_1
"Ini makanan untukmu. Habiskan!" perintah nenek pada Gaby.
"Kenapa aku harus memakan ini?" tanya Gaby curiga. Dia ingat makanan yang tersisa tadi siang.
"Itu kubuat khusus untuk menjaga kandunganmu!" ujar nenek.
Tuan Scott juga mendapatkan mangkuknya sendiri.
"Kandungan apa maksudmu?" tanya Gaby heran.
Tuan Scott juga meminta penjelasan dengan matanya.
"Kau sedang hamil sekarang!" jawab nenek dengan suara yakin.
"Apa? Bagaimana kau bisa tahu?" Gaby terheran-heran.
"Aku bisa mengetahuinya. Dan itu anak Wingnut!" nenek mengatakannya tanpa ragu sedikitpun.
Tuan Scott tercengang mendengarnya, hingga mulutnya terbuka sedikit. Tapi sebelum dia bicara, Gaby sudah angkat suara.
"Bagaimana mungkin! Aku sudah menikah dengan pria lain. Ini mungkin saja anak suamiku!" bantah Gaby.
Tuan Scott terlihat sedikit kecewa, tapi dia setuju pendapat Gaby. Mereka baru dua kali berhubungan tanpa sengaja, beberapa hari yang lalu. Sangat tak mungkin Gaby langsung jadi hamil karenanya.
"Suamimu mandul!" jawab nenek dingin.
"Tak mungkin secepat itu, Mow." Tuan Scott lebih dulu menyadari keadaan dan membantah perkataan neneknya.
Wanita tua itu menatap tajam. "Kau meragukanku?"
"Bukan seperti itu. Tapi bagaimana bisa---"
"Itu takdir kalian yang tertunda." Nenek memotong kata-kata Tuan Scott.
"Takdir tertunda apa?" tanya Tuan Scott tak mengerti tak mengerti.
"Kau sudah melihatnya, bukan?" Nenek bertanya pada Gaby.
"Melihat apa?" Gaby bingung.
"Mimpimu siang tadi!" sahut nenek.
"Apa? Bagaimana kau tahu tentang mimpiku?"
"Aku tahu semua yang terjadi di rumah ini," jawab nenek datar.
__ADS_1
Jawaban itu membuat wajah Tuan Scott dan Gaby memerah. Keduanya menunduk.
"Sekarang, makan. Kalian membuat makanan ini jadi dingin!" ujarnya ketus.
Tuan Scott mulai menyendok makanannya dengan patuh. DIa menelannya dengan cepat. Sementara Gaby memandangi makanan di mangkuk dengan ragu. Dia ingat rasanya tadi pagi. Tapi, kalau tidak dimakan, dia akan kelaparan. Di udara dingin, perut yang lapar di malam hari akan sangat menyiksa.
Dengan terpaksa disendokkannya makanan itu ke mulut. Rasanya masih sama. Aneh. Tapi bukannya tidak dapat dimakan sama sekali. mungkin dia yang belum terbiasa dengan rasa seperti itu.
Sambil makan, nenek mengamati dua orang di depannya, makan dengan menunduk dan hening. Senyuman samar tampak sekilas di wajahnya. Namun tak ada yang memperhatikan.
Selesai makan, suasana masih terasa canggung. Tuan Scott meminta bagpipe milik kakeknya pada nenek. Dengan alat musik tua dan sederhana itu, dia mencoba memecah kecanggungan yang menggayuti seisi rumah.
Ayahnya Gaby hanya mendengarkan dengan tenang. Tuan Scott juga tidak bermain terlalu bagus. Atau, mungkin alat musik itu yang tidak terlalu bagus. Namun lama kelamaan musik itu mengalun seperti air mengalir. Jernih dan merasuki hatinya. Kepala Gaby mulai bergoyang mengikuti irama. Hingga kemudian, dia ikut bertepuk tangan dana menari di tengah rumah.
Nenek tersenyum melihat mereka berdua kembali seperti semula.
Beberapa jam berlalu. Nenek mulai menguap. "Sudah. Kalian kembalilah ke atas. Aku mau tidur," ujar nenek.
"Aku akan tidur di sini saja," tolak Tuan Scott. Dia tak ingin membuat Gaby merasa tak nyaman lagi.
"Lalu, di mana aku harus tidur?" tanya nenek tak senang.
"Aku bisa menjagamu dan tidur di sana." Tuan Scott menunjukk dua bangku di samping meja makan.
"Terserah kalian!" nenek sudah meletakkan selimutnya di kursi panjang. Dia ingin tidur di situ. Tangannya mengibas kain selimut ke udara beberapa kali, sebelum menyusunnya dengan rapi.
"Jangan ganggu nenek. Kau tidur di atas saja," ujar Gaby akhirnya.
Tuan Scott ingin menolak, tapi Gaby telah meninggalkannya. Nenek juga sudah mulai berbaring di kursi panjang.
"Mow, tidakkah di sini dingin? Kenapa tidak naik dan tidur di tempat tidur atas?" bujuk Tuan Scott.
"Di atas justru jauh lebih dingin. Aku sudah bertahun-tahun tidur di sini sejak kakekmu pergi. Hangat karena dekat perapian," jawabnya.
"Bukankah ini tidak terlalu nyaman?" tanya Tuan Scott lagi.
"Tidur itu hanya sebentar. Sekejapan mimpi." nenek mengibaskan tangannya, melarang Tuan Scott bicara lagi.
Tuan Scott duduk di kursi, memandangi neneknya yang tertidur dengan cepat.
"Rasanya aku harus memperbaikin kursi ini agar nenek bisa tidur dengan nyaman," batin Tuan Scott.
Tak lama dia merasa bosan. Akhirnya dia naik ke atas untuk melihat Gaby. Benar saja. Udara di loteng memang terasa lebih dingin. Di lantai, Gaby sudah meletakkan selimut untuk dirinya berbaring.
Dilihatnya wanita yang meringkuk itu, hanya menutupi diri dengan selimut tipis. Gigil tubuhnya terlihat samar. Tuan Scott mengambil selimut di lantai dan memasangkannya ke tubuh Gaby.
__ADS_1
********