The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
97. Ledakan


__ADS_3

"Aku menemukannya!" Terdengar teriakan seseorang dari belakang Steve. Pria itu terkejut dan berharap, proses regenerasi tubuhnya tidak dilihat orang.


Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Belum pernah Steve berada dalam posisi seperti ini. Biasanya, jika dia mengalami keuslitan akibat percobaan sihir yang salah, ayahnya akan segera datang membantu.


"Harusnya aku tak pernah melakukannya!" sesalnya dalam hati.


Dua orang berpakaian medis dan membawa tandu, datang berlari. Kemudian berdiri tercengang.


"Dokter Steve! Bagaimana Anda bisa ada di sini? Korban kecelakaan lain ada di dekat jalan raya!" Pria yang membawa tas medis, bertanya sambil berjongkok.


"Ak-ku, ja-tuh dari pohon ...." Steve menjawab dengan suara lirih sambil menunjuk ke atasnya.


Dua petugas medis itu melihat ke arah atas dan menemukan batang dan ranting-ranting yang patah, serta daun-daun yang berhamburan di tanah, bahkan sebagian tersangkut di tubuh dokter itu.


"Astaga! Itu jatuh yang mengerikan!" ujar mereka. Darah di tubuh dan luka-luka yang dialami dokter itu menguatkan pernyataannya.


"Apa kau sedang belajar terbang?" canda salah seorang, saat memeriksa posisi tulang-tulang Sreve. Temannya tertawa geli.Sementara Steve hanya bisa meringis menahan nyeri. Mereka bekerja dengan cekatan, membersihkan luka dan membalut yang terkoyak.


"Ayo kita bawa ke pos!"


Steve tak bisa menolak tindakan petugas medis itu. Dia tak mungkin bilang bahwa dia baik-baik saja dan sebentar lagi bisa jalan. Bahwa dia sedang mencari ayahnya.


"Sia-sia saja semua ini!" gerutunya pasrah. Dalam perjalanan menuju pinggir tol, terdengar ledakan besar dari arah hutan yang lebih jauh dari tempat ketiganya berdiri.


"Apa itu?" tanya Steve pura-pura terkejut.


"Di sana ada para monster alien berkelahi. Kuat dugaan mereka juga lah yang mengakibatkan kecelakaan di jalan tol ini." jelas petugas itu, kemudian melanjutkan langkah.


"Kalian tidak memeriksa ke sana? Mungkin saja ada korban lain," tanya Steve.


"Kita tak boleh mendekat. Sudah ada tentara yang mengatasi di sana." Petugas medis itu sangat percaya bahwa tentara yang diturunkan, mempu mengatasi para monster alien yang berkelahi.


"Siapa yang mengatakan itu monster alien? Bagaimana kalau ternyata itu manusia dan butuh bantuan kalian?"


Dua petugas medis itu berhenti jalan sejenak. Tapi kemudian kembali melanjutkan langkah dengan santai. "Kita hanya bisa menolong orang jika para tentara itu sudah memberi ijin untuk mendekat, Dok!" jawab salah seorang.


Steve tak bertanya lagi. Memang seperti itulah kenyataannya. Petugas medis hanya bisa masuk ke satu lokasi, setelah mendapatkan lampu hijau dari aparat keamanan.


Akhirnya Steve sampai di pinggir jalan tol. Dia masih harus menunggu giliran mobil ambulans lain datang mengangkatnya. Jadi, tandunya diletakkan di bawah payung pantai warna merah, yang dijadikan pos medis darurat.


"Hei, kalian. Ayo ikut ke sana!" panggil orang berseragam medis lain. Beberapa petugas medis, berlarian kembali ke arah hutan.


Steve menoleh dan dapat melihat bahwa mereka pergi menuju ke arah suara ledakan yang tadi terdengar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" batinnya. Sangat jelas hal itu mengkhawatirkan Steve. Dia yakin, teman dan ayahnya berada di lokasi ledakan itu.


"Hei, bisa katakan padaku, apa yang terjadi? Aku mendengar suara ledakan tadi," cecar Steve gelisah pada beberapa orang yang lewat.


"Mungkin para tentara itu memutuskan untuk meledakkan monster alien yang membuat keributan dikota kemarin itu." Seorang pasien yang juga berada di atas tandu di sebelah Steve, menjawab.


"Apa?"


Wajah Steve memucat. Bagaimana dengan ayahnya? Martin, Gaby dan bayi mungil lucu yang baru lahir kemarin itu? Steve berpikir keras. "Bagaimana caraku bisa ke sana, ya."


*


*****


Gaby dan sisa pengawal serta Martin yang masih pingsan, menunggu Jamie serta Elliot dengan gelisah. Tiga highlander itu bertarung habis-habisan.


Tanpa bantuan ketiga temannya, Jamie dan Elliot benar-benar dibuat tak berkutik. Mereka hanya bisa bertahan dan menangkis. Tanpa bisa melakukan perlawanan sama sekali.


Bantuan sihir perlindungan yang dikirim Oliver tidak membantu banyak. Kedua highlander itu sudah mengalami luka-luka serius sekarang.


"Aku harus membantu mereka."


Angus berdiri, kemudian berlari cepat menuju Arena pertarungan. Gaby tak bisa mencegah pria itu ikut serta. DIa juga sudah tak punya pilihan. Stuart dan Duncan mengalami luka tembak.


Sementara itu, jika hanya Jamie dan Elliot yang menahan Watson, maka itu tak akan berlangsung lama.


Oliver membuka tas kulit yang disampirkan dipunggung. Mencari beberapa saat, kemudian mengeluarkan satu kantong plastik yang berisi jepitan medis dan obat luka serta jarum jahit. Kantong plastik itu disodorkan kepada Duncan.


Stuart membantu mencabut peluru di betis Duncan. Setelah beberapa saat yang diisi oleh desis kesakitan Duncan, akhirnya pria itu bisa merasa lega. Peluru yag tertanam bisa dikeluarkan. Stuart menyiramkan pembersih luka, menjahit dan menutupinya dengan kasa.


"Gantian!" katanya pada Duncan, sambil menyerahkan gunting pada temannya itu.


Begitulah keduanya saling membantu. Gaby merasa takjub melihat dua pria di dekatnya itu. Mereka sama sekali tidak menjerit-jerit kesakitan.


"Apa kalian bisa memeriksa Martin? Dia masih belum sadar juga sejak tadi!" suara Gaby terdengar khawatir.


Stuart menunduk dan mendekatkan kepalanya ke dada Martin. "Suami Anda masih hidup, Nyonya," jawab Stuart.


Gaby merasa jengah mendengar kata suami disebutkan Stuart tadi. Meskipun mereka belum resmi bercerai, tapi Gaby sudah berkali-kali meminta perceraian dari pria baik hati itu.


Dipalingkannya wajah dengan terkejut saat sebuah ledakan besar terdengar dari tempat pertarungan. Oliver menarik Gaby dan merundukkan kepala ibu dan anak itu dekat ke tanah. Hal itu untuk melindungi kepala keduanya dari lontaran panas dan semburan rumput serta kayu yang beterbangan akibat ledakan dahsyat itu.


"Apa yang terjadi?" suara Gaby bergetar. Dia sangat ketakutan sekarang.

__ADS_1


"Belum tahu, Nyonya." Stuart menjawab dari balik kayu perlindungannya, dia mengintip ke arah asap yang mengepul. Hawa panas sangat terasa, bahkan hingga tempat persembunyian mereka.


"Apa tentara meledakkan bom untuk membunuh mereka?" tanya Gaby cemas.


"Suara ledakan bom tidak seperti itu, Nyonya." Duncan menjawab pertanyaan Gaby.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Gaby kritis.


"Akan kucari tahu!" Stuart berdiri dan hendak pergi melihat ke tempat ledakan.


"Jangan pergi!" cegah Gaby.


"Bagaimana kalau Jamie, Bonnie atau Angus membutuhkan bantuan sekarang?" Stuart memberi argumen. Dia khawatir pada ketia orang itu.


"Bagaimana kalau Watson membunuhmu begitu kau datang?" Mata Gaby yang menyorotkan kengerian, membuat tiga pria yang bersamanya, menghela napas.


"Nyonya, jika itu yang terjadi, maka tinggal saya dan Duncan yang melindungi Anda. Saran saya, pergilah dengan Oliver ke dalam hutan itu. Lebih cepat, lebih jauh, lebih bagus!"


Stuart berdiri dan melangkah ke tempat yang masih penuh asap, tapi sudah sunyi. Tak ada lagi denting pedang yang diikuti gelegar petir dan guntur serta bunga api yang memercik ke udara.


Di belakangnya, menyusul juga Duncan. Kedua highlander yang tersisa itu, melangkah terseok, karena kaki mereka baru saja mendapat tindakan medis kecil, sakitnya masih sangat terasa.


Sambil mengibaskan asap dan debu yang beterbangan di udara, Stuart mencari-cari keberadaan ketiga teman mereka. Jamie, Elliot serta Angus tergeletak dengan tubuh koyak-moyak. Dua orang itu tertegun.


"Cepat!" Duncan menggamit lengan Stuart, untuk bergegas menyelamatkan tiga orang yang tak berdaya itu.


Stuart melompat, menyeret Bonnie dan Angus. Sementara Duncan harus lebih berusaha lagi, untuk menarik tubuh Jamie dari bawah tubuh Watson. Entah keduanya pingsan atau hanya kelelahan, dia tetap harus hati-hati, namun cepat. Jangan sampai Watson sadar sebelum posisi mereka aman.


Duncan baru saja menyeret Jamie menjauh, ketika Stuart kembali berlari ke arahnya dan terus ke belakang.


Pria itu akan menyelamatkan pedang ketiga temannya dan membawanya pergi. Sementara pedang Watson, dilemparkannya jauh ke tengah hutan.


Stuart masih setengah jalan, saat suara ribut di belakang terdengar. Itu suara para tentara yang tadi diselamatkan oleh Jamie dari kematian. Stuart langsung berlari menuju Gaby.


"Mereka lari!" teriak beberapa tentara sambil mengangkat senapan lagi.


"Mereka tidak mengganggu kita sama sekali. Yang jahat yang itu!" tunjuk orang itu ke arah tubuh besar yang terkapar di tengah asap.


"Apa dia mati?" tanya seseorang.


"Apa kita akan membiarkan mereka kabur?" tanya yang lainnya tak puas.


"Kali ini kita lepaskan mereka sebagai rasa terima kasih untuk nyawa kita. Tapi tidak lain kali, jika mereka membuat ulah lagi!" kata orang itu tegas.

__ADS_1


"Mari kita ringkus dia!"


*******


__ADS_2