The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
42. Takdir Aine dan Wingnut


__ADS_3

Nenek naik ke loteng dan menemui Gaby. Dia berdiri di ujung tangga. Menatap tajam wanita muda berpakaian asing yang berdiri di depannya.


"Kau tahu kesalahanmu?" yanya nenek tajam.


Gaby mengangguk dan membuka mulutnya ingin memberikan alasan. Namun suaranya tak keluar sedikitpun meski mulutnya komat-kamit.


"Kalau Wingnut tak ada di sana, maka kau akan berakhir di rumah pelacuran!" ujar nenek tajam.


Wajah Gaby memucat. Dia tak menyangka akan seberbahaya itu jika dia berkeliaran sendirian.


"Kau orang asing di sini. Jadi berhati-hatilah. Penjagamu di sini hanya Scott. Jangan lupakan itu!"


Nenek berbalik dan menapaki tangga kayu. Tapi kemudian berhenti di tengah jalan. Dia bicara tanpa menoleh.


"Dan kau memang Aine. Kau punya takdir dengan Wingnut dan akan melahirkan keturunan guardian yang terhebat. Jadi berhati-hatilah dan jaga bayi itu dengan nyawamu!" Nenek kemudian melanjutkan turun tangga dan menghilang di keremangan ruangan bawah.


"Apa?"


"Bayi apa?"


"Siapa itu Aine?"


"Punya takdir dengan Tuan Scott?" Gaby kebingungan. Dia sudah menikah dengan Martin. Bagaimana bisa punya takdir untuk melahirkan bayi guardian?


"Aku harus secepatnya keluar dari lingkaran sihir ini. Sungguh tak masuk akal sama sekali!" suaranya gamang.

__ADS_1


"Tapi bagaimana cara keluar dari tempat penuh sihir ini?" pikirnya kalut.


Beberapa waktu sudah berlalu. Suara Tuan Scott tak juga terdengar. Yang tercium di udara adalah aroma daging direbus.


Gaby turun karena deraan perut lapar. Dilihatnya nenek sedang memasak sesuatu di perapian. Sementara Tuan Scott pingsan di kursi kayu panjang yang kemarin jadi tempat tidur nenek. Gaby mendekati perapian.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Gaby dengan suara rendah.


"Kau pasti lapar. Tunggulah di sana," balas nenek.


Tak punya pilihan lain, akhirnya dia duduk dan menunggu di depan meja makan. Dilihatnya pria yang telah berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Pandangannya berubah sedih.


Harus diakuinya bahwa Tuan Scott adalah pria yang baik dan tak peduli pada nyawanya sendiri untuk melindungi Gaby. Tapi takdir yang dikatakan nenek, itu tak mungkin. Sebab dia sudah menikah. Dan Gaby tak ada keinginan untuk mengkhianari Martin.


Gaby juga mengakui bahwa dia kadang tanpa bisa dikendalikan, terpikat pada pria itu. Mungkin bukan hanya dirinya saja wanita yang tergoda pada penampilan memikat Tuan Scott. Pria itu tidak setampan bintang film, tapi auranya memabukkan.


Gaby mengacak-acak rambutnya tanpa sadar. Dia terlalu pusing dengan urusan guardian yang mengejarnya di Edinburgh. Sekarang harus pula memikirkan cara kembali dari dunia asing yang penuh sihir ini. Kepala Gaby terasa mau pecah.


"Ini makananmu!" nenek meletakkan satu mangkuk makanan yang berisi potongan daging rebus dan kentang.


Aroma kaldu daging menggugah seleranya. Dengan cepat dia mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih."


Tangannya mengaduk kaldu dengan sendok sebentar, untuk membuatnya sedikit lebih dingin, agar tidak membakar lidah. Mulutnya meniup-niup kuah kaldu di sendok sebelum menyuapkannya ke mulut.


Gaby terbatuk-batuk saat menelan kuah di sendok. Keningnya mengerut. Rassanya sangat aneh untuk bisa disebut sebagai sup di dunia modern.

__ADS_1


"Ini lebih buruk dari pada rasa wiskey tadi malam," batinnya suram. Tapi nenek menatap tajam sambil menyuap isi mangkuknya sendiri. Artinya, dia memang harus menghabiskan makanan itu.


"Ayolah Gaby, telan saja. Hargai makanan yang disediakan orang. Mungkin mereka hanya belum mengenal beragam rempah seperti yang dikenal orang moderen." Gaby mensugesti dirinya sendiri untuk menghabiskan sup yang terasa aneh itu.


Meskipun rasanya tak karuan, tapi perutnya ternyata bisa menerima. Tak ada rasa mual seperti umumnya jika orang memakan sesuatu yang tidak disukainya. "Apa karena lidahku belum terbiasa?" pikirnya


Selesai makan, Gaby membantu membersihkan mangkuk mereka berdua. Dilihatnya di perapian masih ada sepanci sup aneh untuk Tuan Scott. Tanpa sadar dia tersenyum geli membayangkan pria itu tersedak masakan neneknya.


Nenek masih berkutat dengan buku tuanya. Membolak-balik halaman. Dia terlihat sangat serius. Gaby yang tak ingin mengganggu, akhirnya melihat-lihat rak dinding di mana terdapat jejeran botol tanah liat yang berwarna hitam kusam. Ada simbol-simbol yang tak dimengertinya di setiap botol.


"Tak bisakah kau duduk atau kembali ke atas saja? Kau membuatku pusing!" tegur nenek ketus.


Gaby akhirnya duduk di kursi makan. Menatap dua orang di depannya. Tuan Scott yang pingsan, harus menunggu tubuhnya memulihkan dirinya sendiri, baru bisa bangun. Dan itu entah kapan.


Sementara nenek sibuk dengan buku tebal dan tua. membolak balik lembaran, kemudian memilih beragam botol yang diletakkannya di meja.


"Apakah ini botol berisi perlengkapan sihir?" pikir Gaby. Diamatinya nenek tua yang terus menggumamkan kata-kata yang dibacanya.


Beberapa waktu berikutnya, Gaby merasa kepalanya sedikit pusing. Dia segera berdiri dan berjalan menuju tangga. "Aku ingin istirahat di atas." Gaby memberi tahu nenek. Tapi wanita itu sepertinya tidak mendengar, karena sedang sangat sibuk membaca bukunya.


Gaby memilih terus naik dan segera membaringkan diri, ketimbang merepotkan wanita tua yang sedang sibuk mencari cara untuk mengirim mereka kembali ke masa depan.


Dilihatnya sekilas Tuan Scott yang masih terbaring pingsan. Hatinya merasa sakit melihat pria itu terbaring diam. Gaby menggelengkan kepala karena memikirkan hal itu.


"Aku mulai gila," gumamnya kesal.

__ADS_1


*****


__ADS_2