
Aku menikahi Ailsa saat usiaku baru sembilan belas. Saat itu klan masih memiliki pelindung. Aku hanyalah pemuda biasa yang menikahi wanita biasa yang bekerja sebagai pelayan di kastil." Tuan Scott memulai ceritanya.
"Suatu hari di pertengahan musim gugur. Kami baru saja memanen hasil ladang. Ketua Klan dan beberapa pekerja pergi untuk mengirim woll pada pembuat benang untuk dicelup dengan warna. Kami berpesta. Banyak yang minum hingga mabuk malam itu. Higga tidak siap untuk serangan dari klan lain. Sebagai pemuda dan pekerja di kastil, aku bertarung sebisaku mengusir mereka. Aku harus menjaga bukan hanya kastil dan harta benda yang ada, tapi juga istri yang baru kunikahi di musim semi."
"Aku sudah biasa berburu, tapi malam itu kami memang sangat kewalahan. Mereka terlalu banyak, sementara sebagian pekerja dan penjaga dibawa Ketua Klan untuk menemaninya. Hingga sebuah pedang menusuk punggungku hingga tembus ke depan. Aku ambruk. Kukira itulah akhirku. Tapi kulihat Ailsa berlari mendekat. Menghapus air matanya lalu mengambil alih pedang dari tanganku yang tak berdaya. Dia berdiri tepat di depanku, menantang para penyerang yang ingin mengambilnya."
"Itulah hal terakhir yang kuingat darinya. Aku tersadar ketika Ketua Klan yang segera mengejar pulang setelah mendengar berita tersebut. Tabib menemukan aku masih hidup dengan pedang masih tertancap di punggung. Saat tersadar mereka mengabarkan bahwa Ailsa tewas dengan tubuh penuh luka tusukan pedang, Istriku tercinta tewas di sebelahku. Membawa satu-satunya kesempatanku untuk memiliki putra. Dia sedang hamil empat bulan saat itu.
"Mereka merawatku hingga sembuh. Dalam pertempuran itu, pelindung klan tewas. Diperkirakan terbunuh oleh pelindung klan lain yang datang menyerang. Dan entah bagaimana, Dewa memutuskan untuk menjadikanku penerusnya. Melindungi klan hingga berabad-abad." Mata pria itu terpaku pada sketsa istri pertamanya, Ailsa.
Gaby bisa melihat mata itu begitu penuh penderitaan. Rasa sedih, rindu, dan kesepian, mungkin itulah yang dirasakannya kini. Hal itu membuatnya diam dan tak ingin mengucapkan kata-kata pedas lagi. Pria itu tidak seperti yang dipikirkannya selama ini. Terlihat tenang, seakan tak pernah ada badai yang menerpa.
"apa kau tidak punya putra daei istrimu yang lain?" tanya Gaby.
"Seorang pelindung tidak akan memiliki putra. Itu imbalan untuk umur panjangnya." Tuan Scott menggulung lagi lukisan ketiga istrinya.
"Tapi, di buku itu kubaca, seorang wanita terpilih bisa menjadi istri dan memberi keturunan untuk seorang pelindung," ujar Gaby,
Tuan Scott mengganguk. "Begitulah yang dikatakan para druids jaman itu. Tapi seingatku, para pelindung jaman dulu dulu tak ada yang memiliki putra. Jadi memang belum ada yang membuktikannya."
Gaby meliat pria itu kembali naik ke lantai tiga dengan membawa gulungan lukisan. "Apakah mereka mengejarku karena mengira aku wanita terpilih yang bisa melahirkan putra penerus seorang pelindung?" batin Gaby.
__ADS_1
Tuan Scott kembali dan duduk di kursi baca dekat perapian. Dibuangnya teh dingin yang ada di teko, kemudian menyeduh teh baru dengan air panas yang sengaja dihangatkan di dekat perapian. Dituangkannya teh hangat ke cangkir Gaby dan ke cangkirnya sendiri. Kemudian menambahkan madu dan mengaduknya sebentar.
"Kau pasti bertanya-tanya tentang dirimu sendiri, bukan?" Tuan Scott meniup uap teh sebelum meneguknya perlahan.
""Menurutmu aku adalah wanita yang terpilih itu?" tanya Gaby.
"Aku tak bisa menjelaskan bagaimana, tapi kami akan mengetahuinya begitu saja. Seperti halnya angsa jantan yang bisa mengenali angsa betina yang akan menjadi pasangannya seumur hidup. Begitu pula dengan angsa betina."
Menurut Gaby itu perumpamaan yang sangatlah kasar. Tak bisakah dia menjelaskan secara ilmiah? Diumpamakan angsa, membuat Gaby cemberut.
"Mungkin istilah ilmiahnya, kau memancarkan feromon yang bisa memikat manusia sejenis kami," ujar Tuan Scott seperti mengerti pemikiran wanita muda itu.
"Pria yang menegurmu di depan toko tadi bukan Watson. Mungkin dia sedang berkunjung ke kota ini, Tak menyangka mencium aromamu di udara. Itulah yang membawanya datang ke tempatmu subuh tadi. Penjelasan sederhanaku seperti itu."
"Kau tidak bau. Aku hanya berusaha memberimu beberapa penjelasan yang mudah dipahami." Tuan Scott sedikit menjelaskan maksud perkataannya.
Gaby kembali duduk dengan tenang. "Apakah saat pertama aku ke toko buku, kau sudah mengenaliku?" tanya Gaby ingin tahu.
"Aku merasakannya. Tapi aku melihat cincin di jarimu. Dan aku tidak terlalu percaya ramalan di buku itu. Jadi aku mengabaikannya," jawabnya jujur.
"Bagaimana dengan sekarang?" desak Gaby.
__ADS_1
"Setelah melihat begitu banyak yang mendekatimu saat ini, maka kurasa ramalan itu benar adanya. Jadi berhati-hatilah ... akan datang lebih banyak lagi yang seperti kami," ujarnya sambil menatap Gaby lurus.
"Apa ramalan tentang keturunan pelindung itu?" tanya Gaby untuk menghilangkan rasa jengah akibat tatapan pria itu.
"Kau pasti belum membaca buku itu hingga tamat." Tuan Scott mengambil sepotong shortbread buatan Emily dan memasukkannya ke mulut.
Gaby menelan ludah melihat pria itu memakan biskuit. "Ada apa denganku?" pikirnya heran. Kepalanya menunduk menatap buku di pangkuan. Tapi dia sama sekali tidak sedang membaca.
"Apakah wanita yang terpilih itu juga mengetahui siapa yang akan menjadi pasangannya dari begitu banyak pelindung?" tanya Gaby berani. Dia ingin tahu, sangat ingin tahu. apakah yang dirasakannya setiap kali melihat Tuan Scott adalah hal normal.
"Entahlah ... aku bukan dirimu. Apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dari begitu banyak pelindung yang sudah kau temui? Siapa diantara kami yang memikat hatimu?"
Pertanyaan telak Tuan Scott membuat wanita muda itu terdiam. Dia tak tahu siapa yang memikat hatinya, Dan itu juga tidak perlu. Dirinya sudah menikah. Maka itu tak mungkin terjadi.
"Aku sudah menikah, tak perlu memikirkan hal ini terlalu jauh. Kukira pembahasannya cukup sampai di sini saja," suara Gaby tegas. Dia menemukan kembali kewarasannya.
Ditutupnya buku tebal dan kuno itu. Meneguk sedikit teh yang sudah hampir dingin lagi, kemudian mengembalikannya dengan sopan. Kemudian berdiri. "Terima kasih untuk waktu anda, Tuan Scott."
Tuan Scott hanya diam, tak ikut berdiri untuk mengantarnya turun, sebagai aturan kesopanan. Cangkir teh masih dipegang ditangan kanannya. Setelah meneguk isinya, dia mengangkat kepalanya. Menatap Gaby dengan kelembutan yang tak bisa ditolak wanita muda itu. Dia menatapnya balik dengan kelembutan dan kehangatan yang sama, tanpa disadarinya.
Pria yang ternyata sudah berusia ratusan tahun itu tersenyum samar. "Meski kau mengelak, kau tak bisa menolak takdirmu. Mungkin itu sebabnya orang tuamu membawamu pergi jauh ke Amerika, agar tidak menimbulkan mala petaka bagi pada Guardian. Tapi dewa membawamu kembali ke tanah ini. Untuk menjadi pasangan salah satu dari kami."
__ADS_1
Wajah Gaby memerah. Dia berbalik cepat sembari menyemburkan umpatan. "Omong kosong!" Terburu-buru dia turun ke lantai satu dan keluar dari toko itu.
********