
Beberapa hari kemudian, Jamie dan Stuart sepakat untuk mengunjungi Penyihir itu di kantor polisi, mengikuti saran Gaby.
"Apa lagi maumu!" katanya ketus. "Kau sekarang membawa temanmu untuk mengintimidasiku?"
"Kami ingin tahu cerita versimu tentang Dewi Aine!" kali ini Stuart yang mengajukan pertanyaan. Dia jauh lebih tenang dan sabar ketimbang Jamie.
"Kalian benar-benar tidak mengetahuinya?" tanyanya tak percaya kepolosan Stuart.
"Yang kami tahu hanya cerita turun temurun. Mungkin seiring waktu cerita itu teah ditambah atau dikurangi. Jadi, karena kau bilang bahwa kau adalah penyihir terakhir Bangsa Alba, mungkin kau punya cerita otentik tentang Sang Dewi." Stuart sangat cerdas untuk memutar kata-kata membujuk orang lain.
"Yah, Dewi Aine adalah satu-satunya pasangan yang memungkinkan para pelindung highlander untuk memiliki keturunan. Kalian bisa saja menikah dengan wanita manapun. Tapi kalian tak akan pernah punya keturunan jika tidak dengannya!" Pria tua itu berkata dengan tegas.
"Lalu, tugasmu sebagai penyihir dalam hal ini, apa? Bukankah kami hanya perlu mencari dan mendapatkannya? Kami tak butuh bantuanmu cuma untuk kawin!" Jamie berkata dengan kasar.
Pria tua itu menatap dua pria di depannya tak percaya.
"Kalian belum menemukannya?" Stuart mengangguk yakin. Pria itu dapat melihat kejujuran di pata polos pria yang teramat tampan itu.
"Bodoh! Jadi di mana Sang Dewi sekarang? Kalau dia bersembunyi sendirian, maka para pengejarnya akan segera menemukannya!" Mata pria itu terlihat khawatir. Jamie bisa mengetahui hal itu.
"Memangnya kau mau apa jika bertemu dengannya? Apa kau juga bisa punya keturunan jika menikah dengannya?" selidik Jamie
"Aku bisa punya keturunan dengan wanita manapun yang kumau! Aku mencarinya, untuk menyelamatkannya dari kejaran para pelindung highlander itu," jelasnya tak sabar.
"Kau kira kami bisa dihalau dengan mantera?" ejek Jamie.
"Aku hanya harus menyembunyikannya hingga waktunya tiba! Menurut mimpiku, dia sedang berbadan dua sekarang. Dan firasat membawaku ke sini. Ke kota kecil ini!" katanya.
"Kau saja tak bisa menemukannya. Artinya, dia bisa bersembunyi dengan baik tanpa bantuanmu." tegas Stuart.
"Tak lama lagi, persembunyiannya akan diketahui oleh yang terkuat di antara kalian! Dan kalian yang memilih hidup tenang di sini pun, tak akan luput dari imbasnya." mata pria tua itu memperlihatkan kesungguhan.
"Kami tidak takut!" ujar Stuart.
"Sebaiknya kalian pergi jauh dari kota ini untuk sementara, agar bisa terus hidup dalam ketenangan dan jauh dari masalah."
"Penghinaanmu itu!" geram Jamie emosi. "Tadinya aku datang untuk mengajakmu bekerja sama mencari Sang Dewi. Namun sikapmu membuatku muak!" ketus Jamie.
"Tenang dulu," bujuk Stuart.
__ADS_1
"Tidak. Lupakan saja memberinya keringanan hukuman untuk kerusakan mobil itu. Mari kita cari sendiri Sang Dewi. Kita pasti bisa menemukannya!" Jamie bersikeras.
"Ayo pulang!" Jamie menarik lengan Stuart untuk meninggalkan ruangan tempat mereka menemui tahanan sementara kepolisian. Stuart mengangkat kedua telapak tangannya ke atas.
Pandangannya terarah pada Pria tua itu. Dia mengesankan bahwa dia mengikuti Jamie dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Tunggu!" tahan pria itu.
"Kita bisa bernegosiasi. Katakan apa maumu! Aku harus keluar dari sini secepatnya, sebelum Sang Dewi dibawa lari orang lain, ataupu tewas!"
Stuart bisa melihat jelas kekhawatiran di mata tua itu. Tangannya menahan Jamie agar bersedia bernegosiasi lagi dengannya.
"Dia hanya mencoba mencuri sebagian uang ganti rugiku!" dengus Jamie tak acuh.
"Tidak! Katakan penawaranmu yang masuk akal. Jika aku sanggup, akan kupenuhi," ujarnya menahan langkah Jamie.
Jamie berhenti. Tanpa menoleh dia berkata. "Bantu kami menemukan Sang Dewi dan menyembunyikannya dari pencarian para pelindung lain. Apa kau sanggup?" tanya Jamie.
"Tanpa harus membayar ganti rugi jutaan dollar?" tanya pria itu ingin kepastian.
"Tanpa ganti rugi sepeserpun!" tegas Jamie.
"Aku bebas?" pria itu ingin meyakinkan dirinya.
"Aku bersedia!" ujarnya cepat dengan wajah berseri-seri.
"Kau yakin sanggup? Jangan tukar uang empat juta dollar dengan nyawamu!" Jamie kembali menegaskan perjanjian mereka.
"Aku yakin dengan kemampuanku!" sahut pria tua itu percaya diri.
"Kapan kau terakhir kali melakukan praktek sihir?" uji Stuart yang sejak tadi mengamati.
"Ehm ... sekitar empat atau---"
"Empat tahun yang lalu?" kejar Stuart.
"Bukan, empat puluh tahun yang lalu kalau tak salah!" jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
"Hah! Dia sudah karatan!" Jamie menghina. Kakinya sudah kembali melangkah meninggalkan pria itu.
__ADS_1
"Kau tak kredibel. Perjanjian batal!" ujarnya cuek.
"Percayalah padaku. Hanya aku yang mampu melindunginya! Aku diberi umur panjang, mungkin dengan tujuan ini. Aku yakin itu!" teriak pria itu putus asa.
"Kau terlalu percaya diri, Pak Tua!" Jamie terus melangkah dan menghilang di balik pintu, meninggalkan penyihir itu termenung dan gusar.
Di halaman kantor polisi.
"Bagaimana dia menurutmu?" tanya Jamie pada Stuart.
"Berdasarkan pengamatanku, dia pria yang bisa dipercaya. Tapi kemampuannya tentu saja tak bisa kubuktian. Karena aku belum pernah melihatnya sendiri."
"Baik. Aku akan melaporkan dulu hal ini pada Nyonya Gaby. Kau tunggu saja kabar dariku!" perintah Jamie. Stuart mengangguk dan mereka akhirnya berpisah.
Jamie sekalian berbelanja sebelum pulang ke rumah. Dibiarkannya Stuart melihat-lihat kota. Dia tak khawatir tentang bagaimana cara pria itu kembali ke desa. Dia orang yang sudah berumur ratusan tahun. Dia pasti akan menemukan jalan sendiri.
Dua hari kemudian, Jamie dan Stuart kembali mengunjungi kantor polisi. Pria tua itu sedikit bersemangat melihat dua highlander itu kembali. Dia merasa negosiasi dua hari sebelumnya itu, akan disetujui.
"Apa kalian datang untuk membebaskanku?" tanyanya dengan binar harapan di matanya.
"Siapa yang memberimu ide gila itu?" tanya Jamie ketus. Diletakkannya dua lembar kertas di atas meja. Kertas laporan kejahatannya yang telah dikirim ke pengadilan. Minggu berikutnya dia akan diadili, jika Jamie tidak juga menarik tuntutannya.
Dengan lesu, pria itu menatap mata Stuart. "Aku minta kau lihat hatiku. Aku mempercayai pandanganmu. Aku tidak takut dihukum penjara meski seratus tahun. Aku cuma takut Sang Dewi tidak selamat dan yang memberiku pertanda akan mengejarku meski aku jadi hantu!" ujarnya putus asa.
Stuart mengamati kedalaman jiwa pria tua itu lewat matanya. Akhirnya dia mendesah. "Lakukan!" perintahnya pada Jamie.
"Huh! Awas kalau kau menipuku. Aku tak akan memafkanmu! Mata pedangku akan bersarang di tubuhmu!" sumpah Jamie.
"Ya!" sahutnya segera.
Jamie pergi meninggalkan kedua orang itu ditempat pertemuan. Tinggal Stuart yang ada bersama penyihir itu. Dia beringsut mendekati Stuart.
"Jangan mempengaruhiku. Jika kau lakukan, maka kesepakatan ini batal!" tegas Stuart.
Pria tua itu kebali ke tempat duduknya dan tak melakukan apapun lagi.
Jamie kembali dengan surat lain di tangannya. Ditunjukkannya surat pencabutan tuntutan itu pada tahanan. Stuart langsung menyodorkan kertas perjanjian yang harus ditanda tangani pria tua itu sebelum pembebasannya berlaku.
Dengan cepat berkas itu ditanda tangani dan menyerahkannya lagi pada Stuart. Seorang polisi menyusul masuk dan membuka borgol yang melingkari kedua tangan tahanan itu. Sekarang dia bebas dengan membuat sebuah kesepakatan.
__ADS_1
"Jangan macam-macam. Mari kita keluar!" Jamie memberi aba-aba. Dua pria di belakangnya mengikuti dengan patuh.
******