
"Maam, saya ingin pergi ke kota membeli beberapa persediaan." Jamie meminta ijin siang itu. Dia sudah memberi makan semua domba dan ayam-ayam mereka.
"Pergilah. Aku akan menulis saja di sini," sahut Gaby. Kepalanya sedang diliputi inspirasi untuk novel terbarunya. Jadi Gaby sedang sangat bersemangat sekarang.
Jamie naik ke lantai atas. Kembali menutupi jalan masuk ke lantai bawah dengan tempat tidurnya. Debu-debu dari perapian juga ditiupkan untuk menutupi jejak yang ditinggalkannya.
Jamie Mac Kay mengendus udara di dalam rumah sebelum mengunci pintu dan membawa mobil pergi. Dia sangat yakin bahwa rumah mereka sangat aman. Jejak bau Gaby tak lagi tercium di udara.
Jalanan cukup lengang. Langit yang agak kelabu mungkin jadi penyebab para petani lebih cepat pulang dan muda-mudi enggan keluar menikmati suasana awal musim semi yang masih sangat sejuk ini.
Jamie mempercepat laju mobil agar dapat segera sampai di kota sebelum toko grosir tutup. Dia ingin membeli cukup banyak persediaan agar tak perlu sering-sering keluar rumah meninggalkan nyonya mudanya.
Melewati tempat pengisian bahan bakar sebelum masuk ke pusat kota, mobilnya ditabrak oleh kendaraan lain dari arah depan. Jamie sangat yakin bahwa pria gila di depan itu tadi berada di jalur yang berbeda, kemudian tanpa aba-aba menabrak mobil antik Tuan Scott.
Setelah berhasil meguasai kendaraannya dan berhenti, Jamie keluar dari mobil dengan marah. Diperiksanya kerusakan bagian depan mobilnya. DItatapnya pria di depannya dengan pandangan tajam. Namun anehnya pria itu sama sekali tak berniat turun dari kursi kemudinya. Dia malah balas menatap Jamie dengan ekspresi penuh permusuhan.
"Apa yang kau lakukan! Apa kau tahu betapa mahal harga mobil ini? Apa kau kehilangan akal sehat?" Teriak Jamie marah.
"Aku harus menghancurkanmu!" teriak pengemudi yang tak dikenalnya itu.
"Apa? Anda mungkin salah mengenali orang, Sir! Saya tidak mengenal anda, artinya saya tidak berbuat salah pada anda. Saya akan menelepon polisi!" Jamie mengeluarkan ponselnya, hendak menelepon polisi. Dia tak ingin berdebat dengan pria mabuk yang tak jelas seperti orang di depannya itu.
"Apakah sekarang seorang pelindung membutuhkan polisi untuk melindunginya?" Pria itu mengejek.
Tangan Jamie yang sedang menekan tombol ponsel mengambang di udara. Wajahnya menegang seketika. Sikapnya sangat waspada. Dengan cepat dia mendekati pintu mobil untuk mengambil pedang panjang yang ditaruhnya di belakang jok depan.
Jamie memegang gagang pedang dan bersiap menghadapi pria yang sama sekali tak beranjak dari duduknya di mobil. Dahi Jamie mengerut sedikit. Dia merasakan keanehan tentang pria itu.
"Kau bukan seorang pelindung. Bagaimana kau bisa mengenaliku?" tanya Jamie Mac Kay serius.
__ADS_1
"Aku seorang penyihir! Penyihir terakhir bangsa Alba!" ujarnya penuh kesungguhan.
Mata Jamie membulat. Sangat jelas dia tak percaya. Kemudian seulas senyum sinis tersungging di bibir Jamie.
"Tuan, masa kejayaan bangsa Alba sudah berakhir. Yang ada hanya bangsa Scott. Jadi jangan coba-coba membodohi seakan saya tidak mengetahui sejarah!" ejek Jamie.
"Usiaku lebih tua darimu. Itu sebabnya kau tak mengetahui tentang penyihir besar yang menghilang saat bangsa Roma datang!" ujarnya masih dengan teka-teki.
"Kau sedang menceritakan biografimu?" Jamie tertawa mengejek. "Maaf, Sir. Aku tak punya waktu." Jamie memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang urusan tabrakan tadi. Dia ingin menjauh dari pria yang mengaku sebagai penyihir itu.
"Aku tak akan membiarkanmu masuk ke kota!" Pria itu memainkan gas mobilnya, bersiap hendak menabrak mobil Jamie kembali.
"Apa maksudmu! Aku harus bergegas ke toko grosir sebelum tutup!" teriak Jamie kesal.
"Kau ... mau ke toko grosir?" tanya pria itu dengan mata tak percaya.
Jamie masuk ke mobil dan membanting pintunya dengan emosi meluap. Dia tertahan tanpa alasan jelas. Sementara Gaby tak boleh dibiarkan sendiri terlalu lama. Itu bisa berbahaya.
"Apa kau tinggal di sini?" tanya pria itu lagi. Dia masih belum bersedia memundurkan mobilnya dan menjauh dari Jamie.
"Ya! Dan bisakah kau menyingkir sekarang? Atau aku akan benar-benar melaporkanmu pada polisi!" Jamie mengambil kembali ponselnya dan memotret mobil serta pria itu.
"Aku akan menagih pembayaran untuk kerusakan ini. Ingat itu!" Jamie memundurkan mobilnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan pria tua yang termangu-mangu di mobilnya.
"Aku salah sangka. Ternyata, ada juga seorang pelindung yang mencari kedamaian dan menjauh dari tanah leluhurnya." Pria itu memutar mobil dan mengikuti Jamie ke arah pusat kota. Dia ingin memastikan bahwa Jamie berkata jujur.
Kemudian dia ikut menghentikan mobil saat melihat mobil Jamie berhenti di depan sebuah toko grosir kebutuhan sehari-hari. Diperhatikannya dari kejauhan, Jamie memasuki toko dengan tergesa-gesa. Dan memang tak butuh waktu lama, pria yang diamatinya itu segera keluar dengan setumpuk barang belanjaan.
"Dia sama sekali tidak mencurigakan. Seseorang yang mungkin tergesa-gesa membeli bahan makanan untuk seminggu, sebelum toko tutup," gumamnya.
__ADS_1
Dia melihat mobil Jamie melintasinya dan melaju cepat ke arah mereka datang tadi.
"Dia bahkan tidak menyandang pedangnya. Jika memang dia sedang mengejar Dewi itu, maka pedangnya pasti tak akan pernah jauh dari tangannya. Atau, dia sama sekali tidak mendapatkan kabar itu?"
"Melihat ketidak waspadaannya, artinya dia belum bertemu dengan pelindung lainnya. Apakah dia belum bertemu dengan Dewi Aine? Atau menyembunyikannya untuk dirinya sendiri?"
Segala macam pemikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Mimpinya mengatakan bahwa dewi itu ada di bagian utara Amerika. Dia mengikuti rasa di hatinya. Seakan sebuah panggilan kuat yang menarik dirinya ke sini.
Tapi dia bukan seorang pelindung yang bisa mengenali aroma sang Dewi dari jarak puluhan kilometer. Dia hanya mengandalkan mimpi dan petunjuk yang dirasakan oleh hatinya.
Dan terus terang, sejak memasuki kota kecil ini, dia seperti kehilangan kontak batin dengan Dewi Aine. Dia tak dapat mengira ke mana harus mencari. Itu sebabnya dia menemui Steve, putra angkatnya. Berharap dokter itu bisa membantunya menemukan Sang Dewi lebih dulu dari pada para pelindung yang sedang memburunya ke negara ini.
Dengan lesu dia menjalankan mobil menuju flat yang ditempati Steve. Sepertinya dia harus membuat satu ritual malam nanti, untuk membuka tabir yang menghalangi pandangannya dengan Sang Dewi.
Dia sudah mengajari Steve tentang hal-hal supranatural yang diketahuinya. Berharap pria itu dapat menjadi penerusnya. Namun Steve lebih tertarik dengan dunia medis.
*
*
Jamie merasa lega saat melirik ke kaca spion, pria yang mengaku penyihir Alba itu tak mengikutinya dari depan toko grosir.
"Aku sudah beberapa kali datang ke kota ini sebelumnya. Tak pernah sekalipun aku mendengar tentang penyihir Alba. Tuan Scott juga tak ada menyinggung hal itu." Jamie menyetir dengan pikiran penuh.
"Ataukah dia termasuk dalam rombongan pemburu Nyonya Gaby?" pikirnya khawatir.
"Jika satu orang sudah terlihat, maka yang lain pun akan segera muncul!" Jamie menjadi sangat waspada. Dia menyetir dengan hati-hati dan tanpa menurunkan kecepatan.
Sebelum petang, mobil tua itu sudah terparkir di depan rumah. Bergegas diturunkannya semua bahan kebutuhan sehari-hari yang tadi dibeli. Harusnya itu cukup untuk persediaan seminggu.
__ADS_1