
Gaby beristirahat dengan tenang di kereta. Matanya terpejam rapat dan napasnya teratur. Atau, itulah yang ingin dikesankannya pada penumpang lain yang duduk di depannya. Setelah insiden memalukan di peron sore tadi, dia tak punya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain lagi.
"Kenapa aku terpikir dia terus sih? Pada hal dia mungkin sedang bersantai dan bercengkrama dengan seorang wanita di Edinburgh!" kesalnya.
Gaby menaiki bus dari stasiun Edinburg menuju ke kediaman Emily. Dan tak diduga, bus itu bukan berhenti di depan cafe yang biasa, tapi di depan toko ponsel Tuan Johnstone.
Dengan enggan dia turun dan melangkah melewati pintu tuko buku yang berada di sebelahnya. Gaby bersyukur tak ada insiden memalukan yang dilakukannya lagi di depan toko buku itu seperti beberapa hari sebelumnya. Dia menyesali telah marah-marah tidak jelas pada penjaga toko buku itu beberapa hari lalu.
Kakinya terus melangkah dan mampir ke cafe untuk memesan makanan take away. Dia ingin menulis sambil menikmati makanan di kamarnya.
Ponselnya bergetar. Qanita itu segera mengangkatnya dan menjawab. "Ya, sayang. Aku sudah kembali di Edinburgh. Sekarang sedang memesan makan malam," ujarnya sebelum mendengar pertanyaan Martin.
Sambil menunggu pesanannya, dia berbincang di telepon. dilanjutkan sambil menemaninya berjalan kaki menuju flat du tempat Emily.
"Kau tidak bersemangat menerima teleponku, ada apa?" Martin mengajuk hatinya.
"Aku terlalu lelah, Martin," sahut Gaby. Dia sedang tak ingin banyak bicara saat ini. Pikiran dan hatinya masih kacau dan merasa terpengaruh oleh Tuan Scott. Itu yang tak dimengerti oleh Gaby.
"Kau sudah kembali!" Dokter Thompson menyapanya begitu keluar dari toko Emily, dan Gaby melintas di depannya menuju tangga.
"Selamat malam Tuan Thompson. Ya, Aku sudah kembali," sahut Gaby mencoba bersikap ramah. Lalu kembali fokus pada suara Martin di telepon dan menaiki tangga.
"siapa yang menyapamu tadi? tanya Martin.
"Dokter Thompson. Dokter tua yang waktu itu merawatku saat flu!" jawab Gaby acuh.
"Oh, syukurlah. Aku tak ingin ada pria muda lain yang memberi perhatian pada istriku!" candra Martin.
"Oh, jadi menurutmu, jika pria tua seperti Tuan Thompson dan Tuan Edward, boleh memberiku perhatian?" tanya Emily balik sambil tersenyum.
"Mereka tak akan merebutmu dariku!" Balas Martin yakin.
"Bagaiman jika ada yang lebih tua dari mereka ternyata menyukaiku?" tantang Gaby.
__ADS_1
"Kau cantik dan cerdas, wajar saja jika ada yang menyukaimu. Asalkan tidak merebutmu dariku!" tegas pria itu. Gaby tergelak melihat ekspresi Martin di video.
"Kukira kau tak kan pernah cemburu," goda Gaby.
"Sebentar, aku harus membuka pintu dulu." Gaby mencari kunci dari dalam tasnya, kemudian membuka pintu dan masuk kamar, untuk menghindari udara malam yang terasa basah.
"Apa kau sudah makan di sana?" tanya Gaby.
"Belum," sahut Martin. "Ada meeting sebentar lagi untuk membahas progress pekerjaan kami. Mudah-mudahan tidak ada kendala apapun lagi," Martin terlihat tak bersemangat.
"Kau kelihatan pesimis," tegur Gaby.
"Sambil makan ya. Setelah ini aku akan mengetik dan tak ingin terganggu," tambahnya.
"Makanlah!" Martin mengangguk.
Tak begitu lama lagi perbincangan mereka karena Martin telah dipanggil untuk mengikuti meeting.
Sekarang Gaby kembali sendiri. Kesepian menyergapnya. Tapi dia memang butuh kesendirian untuk berpikir. Memikirkan dengan jernih isi kepala dan perasaannya terhadap Tuan Scott.
"Sepertinya besok aku harus meluruskan hal ini dan menanyakan langsung padanya. Tentang gelang, juga sebab musabab dia dan Stuart yang hanya bertemu di jalan bisa mengira dirinya orang Scotland," putus Gaby.
Dia tak ingin pertanyaan yang menggantung di pikirannya itu merusak hati dan pikirannya di kemudian hari. Hal ini harus dituntaskan secepatnya agar tak ada kesalah pahaman lagi.
"Oh ya, aku juga harus menanyakan hal itu pada mommy. Mereka pasti tau asal usulku sebelum mengadopsi," gumamnya.
Setelah mengemasi bekas makan malam, Gaby duduk di tempat tidur dan mulai menghubungi ibunya. Dia tak terlalu sering berkomunikasi dengan wanita yang merawatnya itu. Mereka tidak cukup dekat untuk bisa disebut sebagai ibu dan putri yang harmonis. Tapi dia tetap menghormati wanita itu sebab telah mengasuhnya sejak bayi, bahkan dalam kesulitan yang mereka alami.
"Siapa ini?" terdengar pertanyaan bernada curiga dari ujung sana. Tentu saja, nomor baru Gaby berkode Scotlandia.
"Malam, mommy, Ini aku, Gaby<" sapanya.
"Gaby? Ini nomor telepon mana? Kau ada di mana sekarang?" suara itu terdengar khawatir sekarang.
__ADS_1
"Aku sedang ada di Edinburgh, Mom,'" sahutnya.
"Edinburgh? Scotland?" suara terkejut itu terdengar nyata di telinga Gaby yang tajam.
"Ya, Mom. Aku sudah beberapa hari ini berlibur di Edinburgh." Gaby meyakinkan wanita itu.
"Apa kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan di sana?" Mommy telah mendapatkan ketenangannya lagi. Suaranya kembali datar dan dingin seperti biasanya.
"Aku hanya berlibur dan mencari inspirasi untuk bahan tulisanku berikutnya," jawab Gaby ... juga dengan nada datar yang sama.
Seperti itulah mereka menjaga jarak antara ibu dan putri. Mommy mengajarkannya untuk tidak memperlihatkan emosi satu sama lain. Kata mommy, bukan berarti dia tidak menyayangi Gaby, tapi itu untuk melatih kedewasaan Gaby menghadapi kerasnya hidup di keluarga miskin.
"Dari semua tempat di dunia, kau memilih Scotland. Dan di bulan-bulan menjelang musim dingin yang berat di sana!" tegurnya.
"Aku hanya mengambil libur sebulan. Sebelum Desember aku akan kembali," ujar Gay berusaha menenteramkan kekhawatiran yang coba disembunyikan mommy.
"Jangan lupa kenakan mantel panjang dan baju hangat di sana!" wanita itu mengingatkan dengan nada dingin, seakan itu hal yang biasa saja.
"Hemm , aku tahu. Terima Kasih," ujar Gaby masih mempertahankan kesopanannya.
"Baiklah, terima kasih sudah mengabariku. Berhati-hatilah dan selamat menikmati liburanmu!" Mommy akan segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Gaby langsung menyela, sebelum wanita itu memutuskan panggilan telepon. "Tapi Mom, aku ingin menanyakan sesuatu." kata-katanya mencegah panggilan itu terputus.
Mommy tak langsung menjawab. Rasanya Gaby bisa melihat wanita itu menghela nafasnya seperti biasa, seperti setiap kali dia mendapati Gaby melakukan sesuatu yang diklasifikasikannya sebagai hal yang nakal.
"Mom?" panggilnya.
"a, katakan apa yang ingin kau tanyakan. Aku harus membereskan pekerjaan ini sebelum berangkat tidur!" katanya tajam.
"Apakah Mommy tahu orang tua kandungku? Siapakah mereka? Apakah mereka berasal dari sini?" Pertanyaan Gaby memberondong wanita itu.
"Siapa yang mencuci otakmu hingga kau berpikir orang tuamu dari Scotland?" Dengusan Mommy terdengar seperti mengejek. Tapi Gaby merasa, mommy hanya mengalihkan inti percakapan mereka.
__ADS_1
"Apakah aku benar?" desak Gaby. "Beberapa orang di sini menebak seperti itu. Padahal mereka tak mengenalku sama sekali!" jelas Gaby.
********