
Pagi hari, Tuan Scott ikut terbangun karena Gaby bergerak bangun dari pelukannya. "Kau sudah bangun?" tanyanya.
Gaby mengangguk. Matanya masih mengarah ke jendela loteng. Tuan Scott yang mengerti ketakutan wanita itu, segera bangun dan berdiri. Dia melihat ke luar jendela.
"Di sebelah mana kau melihat cahaya tadi malam?" tanyanya.
Gaby ikut berdiri dan melihat ke luar jendela. "Muncul di sebelah sana. Lalu terbang ke sana!" tunjuk Gaby.
"Turunlah. Mow akan menjagamu. Aku akan melihat ke tempat itu dulu!" ujar Tuan Scott.
"Hati-hati," pesan Gaby.
"Hemm ...."
Tuan Scott mengiringi Gaby yang turun ke lantai bawah. Dia langsung ke luar rumah.
"Aku sudah memeriksanya. Dia sudah pergi tadi malam!" ujar nenek dari dapur.
"Siapa, Mow?" tanya Tuan Scott.
"Aku tidak tahu. Tapi sebelumnya tak ada yang seperti itu." Nenek tampak khawatir.
"Kurasa, kehadirannya sudah tercium oleh guardian yang lain," tambah nenek.
Tuan Scott menoleh pada Gaby. Dan Gaby juga mengerti bahwa yang dimaksud nenek adalah dirinya. Hatinya kecut membayangkan ada guardian lain yang mencium aromanya di udara dan datang ke sini. Lalu pergi karena dirinya menjerit.
"Apakah ada cara untuk membuat mereka menjauh?" tanya Gaby.
Nenek menggeleng. "Jika bayi kalian sudah cukup besar, dia bisa melindungimu. Tapi, dia masih sangat rentan. Jadi, kitalah yang harus melindungimu, juga dirinya."
"Kau jangan ke mana-mana lagi," pesan Tuan Scott. Gaby mengangguk mengerti. Dia juga tak mau berpindah-pindah pria. Dia hanya ingin kembali ke masa depan.
"Akan kubuatkan perlindungan tambahan untukmu dan bayi itu," kata nenek.
__ADS_1
Gaby merasa bingung. Dia tak kan pernah terbiasa denga segala perlindungan atau apapun yang dua orang ini jelaskan padanya. Meskipun perpindahan mereka ke tempat ini tak dapat dijelaskannya dengan logika, tapi, membayangkan sihir bisa melempar mereka berdua sejauh itu, sungguh tak dapat diterima logika. Namun itulah yang terjadi.
Hingga sore, nenek menyiapkan alat perlindungan tambahan untuk Gaby. Tak banyak yang dilakukannya di rumah, selain memasak dan membersihkan peralatan makan yang kotor.
Hari ke tujuh.
Perkiraan nenek, malam ini seharusnya adalah malam purnama. Nenek sudah menyiapkan semua bahan untuk sihirnya. Dia sudah mengecek ulang semuanya agar tak terjadi kesalahan. Dan untuk syarat persembahan itu, tak ada pilihan selain mengorbankan darah Tuan Scott.
Meskipun Gaby tak setuju, itu tak ada gunanya lagi. Nenek juga bersikeras untuk mencoba cara ini. Tuan Scott merasa nenek menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mow, apakah cahaya terbang yang dilihat Gaby ada kaitannya dengan teman yang kau kunjungi waktu itu? Atau ini karena rencana sihirmu sudah diketahui orang?" tanya Tuan Scott.
Selama dua hari ini, dia terus memancing dan mengorek keterangan dari nenek. Tapi nenek tetap pada jawabannya semula, bahwa dia tidak tahu!
Tuan Scott sangat cemas. Dia ingat bagaimana akhir hidup neneknya. Wanita tua itu dibakar hidup-hidup karena melakukan praktek sihir. Tuan Scott tak ingat kejadian yang memicu peristiwa itu. Dia masih sangat kecil untuk mengerti urusan sihir dan sebagainya.
Tuan Scott ingin mengatakan tentang peristiwa itu pada nenek, agar dia berhati-hati. Tapi rasanya tak tega menakuti dan membuat resah hidup neneknya. Jadi dia menahan diri.
"Mow, ikutlah dengan kami. Itu demi keamananmu. Tinggal di sini sendiri tanpa kakek, sangat berbahaya!" bujuk Tuan Scott lagi.
Wanita tua itu menatapnya dengan penuh selidik. "Aku lupa bahwa kau dari masa depan. Dengan umurmu yang begitu panjang, kau pasti mengetahui bagaimana akhir hidupku, ayah, juga ibumu. "Bisakah kau mengatakannya?" tanya nenek pada akhirnya.
Tuan Scott mengembuskan napas berat. "Aku tahu. Tapi tak boleh mengatakannya. Jadi, sebaiknya ikutilah saranku," bujuk Tuan Scott sedih.
Nenek mengamati mata cucunya dengan seksama. Dia seperti bisa membaca apa yang pernah dilihat oleh pria itu di masa lalu, lewat cahaya kesedihan yang terpancar di sana.
"Aku menyayangimu, Wingnut," ujarnya lirih.
"Jadi mari kita siapkan upacara keberangkatan kalian ke masa depan. Begitu malam turun, kita harus bergegas. Aku khawatir orang-orang itu akan datang untuk memeriksa lagi," ujar nenek akhirnya.
Tuan Scott mengangguk lemah. Dipeluknya wanita tua itu dengan kasih sayang dan mencium keningnya. "Aku menyayangimu, Mow," balas Tuan Scott lirih.
Wanita tua itu mengangguk. "Hiduplah dengan baik di sana," pesannya.
__ADS_1
"Aku akan mengingatnya," jawab Tuan Scott cepat.
Sore hari, Gaby dan Tuan Scott sudah mengenakan lagi pakaian mereka yang semula. Semua bahan yang dibutuhkan nenek, dimasukkan dalan kotak kulit yang menyerupai koper kecil. Ada juga buku sihir di dalamnya. Nenek tak ingin terjadi kesalahan dalam membaca mantera.
"Ayo kita pergi!" ujar nenek. Beriringan tiga orang itu melangkah menuju hutan kecil, melewati ladang. Setelah hutan itu terlewati. mereka sampai pada padang terbuka yang dipenuhi oleh batu-batu besar.
Tuan Scott dan Gaby hanya mengikuti ke mana nenek melangkah. Wanita tua itu menuju satu batu besar. Dengan segera semua perlengkapan dikeluarkan dan disusun di sekeliling batu.
Malam sudah jatuh. Namun langit mendung menyembunyikan bulatan cahaya bulan. Tiga orang itu gelisah memandang langit gelap.
"Waktunya sebentar lagi. Kalian harus berada di posisi masing-masing," perintah nenek.
Nenek mengatur posisi Gaby dan Tuan Scott. Juga tempatnya sendiri. Ketiganya kembali memandang langit. Awan yang menutupi cahaya bulan yang terang sudah mulai tersingkap.
"Kita mulai. Kalian harus saling berpegangan yang erat agar tidak berpisah!" perintah nenek.
Tuan Scott memegang tangan Gaby dengan erat. Keduanya mendengarkan nenek melagukan mantera yang dipercayainya.
"Berikan tanganmu!" pinta nenek pada Tuan Scott. Di tangannya yang lain, terhunus pisau yang sangat tajam. Mata pisau itu segera menggores telapak tangan Tuan Scott. Darah mengucur deras dan jatuh menetes ke atas batu yang telah ditulisi nenek dengan pelbagai lambang.
Lingkaran cahaya muncul dari tengah batu, kemudian membesar sesuai gambar yang dibuat nenek. Tuan Scott dan Gaby berada dalam lingkaran cahaya.
Suara nenek yang membaca mantera makin keras dan lantang. Berirama seperti sebuah lagu. Gaby merasa cemas dan khawatir. Khawatir kalau mereka melenceng dari tujuan. Karena belum ada yang membuktikan bahwa mantera itu berhasil atau tidak.
Dan Tuan Scott juga cemas. Cemas memikirkan nasib neneknya. "Apakah karena praktek ini, nenek jadi dibidik oleh orang-orang Roma yang anti sihir itu?" pikirnya galau.
Bulan di langit menampakkan kecantikannya. Cahaya terangnya yang sempurna, menerangi tiga orang di padang terbuka. Cahaya kemerahan menyelubungi dua orang yang berdiri berdampingan di depan sebuah batu besar penuh dengan tanda-tanda sihir.
Lagu sihir yang dibacakan nenek makin terdengar nyaring. Kemudian tangannya yang memegang sebatang tongkat kecil bergerak menari berirama. titik-titik cahaya kecil beterbangan dan mengitari Gaby serta Tuan Scott.
Seiring puncak nada, tangan nenek juga mengarah ke atas dalam teriakannya yang terakhir. Cahaya yang menyelubungi dua orang itu berputar cepat seperti putaran tornado. Angin berkesiuran dengan kencang. Meniup rumput-rumput di sekitar. Bahkan membuat nenek jatuh terduduk di tanah lembab.
Mata tua itu terus menunggu hingga cahaya terang itu hilang sepenuhnya. Langit gelap. Dan bulan kembali disaput awan. Seorang wanita tua membereskan sisa-sisa pekerjaannya di tempat itu. Kemudian bergegas pulang dengan mata basah.
__ADS_1
"Aku sangat menyayangimu, Wingnut," gumamnya lirih.
*******