The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
56. Kembali ke Rumah


__ADS_3

Di bandara Edinburgh, Tuan Jamie Mac Kay sudah menunggu kedatangan Gaby. Pria itu membawa satu koper bersamanya dan satu tas berukuran panjang yang dijinjingnya.


"Kau sudah di sini." Tuan Scott menyapanya. Jamie mengangguk.


"Apa kita naik pesawat yang sama?" tanya Gaby.


"Kuharap begitu, Maam. Pesawat pukul sebelas ke Amerika hanya ada satu. Aku memesan tiket itu. Jamie menunjukkan tiket elektronik di ponselnya pada Gaby.


"Kau sangat beruntung, Tuan Mac Kay. Kita berada di pesawat yang sama," kata Gaby.


"Keberuntungan yang bagus. Kita butuh keberuntungan yang lebih banyak, Maam," timpal Jamie.


Pria itu mengalihkan pandangan pada Tuan Scott. "Kalian bisa saling mengucapkan selamat tinggal. Aku akan menunggu di sana." Jamie menawarkan membawa koper besar wanita itu bersamanya.


Gaby menoleh pada pria yang mulai mengisi hatinya itu. "Ayo ikut ke Amerika," ajaknya sekali lagi.


"Aku akan segera menyusulmu setelah mengurus beberapa hal," jawab pria itu.


Dipeluknya Gaby. Hal tersulit adalah berpisah saat hati sudah saling terikat seperti ini.


"Bagaimana dengan suamimu?" taya Tuan Scott. Dia ingin menanyakan hal ini sejak kemarin. Tapi tak ingin pertanyaan itu merusak suasana hati Gaby.


"Aku akan bicara terus terang padanya," ujar Gaby.


"Kukira, aku akan memilih untuk tinggal terpisah darinya. Itu lebih baik dan aman buatnya," kata Gaby.


"Aku akan mendukung apapun keputusan yang kau ambil. Jika pun dia bersedia menerima anak kita, aku akan sangat berterima kasih, adanya," ujar Tuan Scott.


"Tidak. Lebih baik aku tinggal dan berada dalam penjagaan Tuan Mac Kay saja. Bagaimana pun juga, putra kita membutuhkan perlindungan ekstra hingga dia cukup mampu unntuk melindungi dirinya sendiri!" jawab Gaby tegas.


"Baiklah ... aku percaya pada keputusanmu. Jika kau belum memutuskan akan tinggal di mana, biarkan Jamie membawamu ke tempat yang dipilihnya. Kau akan aman di sana. Aku akan menyusul secepatnya."


Gaby mengangguk di dalam pelukan pria itu. Dia sungguh enggan berpisah. Suara panggilan operator informasi, mengingatkan Gaby untuk segera cek in.


"Aku harus segera cek in." Gaby melepaskan pelukannya. Pria itu mengangguk. Dia mencium bibir wanita itu sekali lagi, sebelum melepasnya pergi.


Gaby menyusul Tuan Mac Kay yang berdiri tak jauh dari keduanya. Pria itu membantu Gaby dengan gesit. Seakan Gaby adalah orang yang sangat berharga. Hal itu sangat memudahkan berbagai urusan cek in Gaby.


"Nomer bangku kita berbeda," kata Tuan Mac Kay.

__ADS_1


"Tak apa. Asalkan anda ada di pesawat yang sama, saya merasa tenang," sahut Gaby.


Tuan Mac Kay membantu menaikkan beberapa tas Gaby yang kecil, ke bagasi di kabin. "Saya duduk tiga baris di belakang," tunjuknya ke arah belakang.


Gaby melihat tempat yang ditunjukkan pria itu. Kemudian mengangguk. Dia duduk dengan tenang di tempatnya. Menunggu pesawat mengudara membawanya kembali ke rumah yang sekarang rasanya asing.


*


*


Tuan Mac Kay banyak membantu saat keluar dari bandara. Terutama karena Gaby meraskan ketidak nyamanan setelah beberapa lama di pesawat.


"Gaby!" panggilan seseorang menyadarkan Gaby, bahwa Martin sudah mengatakan akan menjemputnya di bandara.


Dia menoleh ke asal suara. Seorang pria tampan dan tinggi berjalan cepat menuju ke arahnya. Tuan Mac Kay bertanya. "Siapa itu, Maam?"


"Suamiku," jawab Gaby tersenyum kecut.


"Ini akan menjadi rumit, Maam," balas Tuan Mac Kay. Dia memasang wajah ramah pada Martin yang sudah dekat.


"Aku akan menjelaskan semuanya padanya," ujar Gaby.


"Terima kasih, Tuan Mac Kay." Gaby mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Martin.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tanyanya.


"Sekitar satu jam," jawab pria itu. Dipeluknya wanita itu dengan penuh rindu.


Gaby ingin sekali bersikap biasa, tapi penolakannya tetap dapat dirasakan oleh Martin. Dia melepaskan pelukan dan melihat ke mata Gaby.


"Apa yang berubah?" tanyanya. "Apa kau tak merasa rindu padaku?"


"Tak ada yang berubah," elak Gaby. Kemudian dia menoleh pada Tuan Mac Kay.


"Ini Tuan Mac Kay. Dia banyak membantuku selama di perjalanan," ujarnya memperkenalkan pria itu pada Martin.


"Oh ... hallo Tuan Mac Kay. Saya Martin, suami Gaby. Terima kasih untuk bantuan anda selama perjalanannya.


"Tak masalah, Tuan. Itu memang tugas saya," jawab Jamie.

__ADS_1


"Tugas?" Martin menoleh pada Gaby, meminta jawaban.


"Dia akan menjadi pengawalku sejak sekarang," jawab Gaby acuh. "Di mana mobilmu diparkir?" tanya Gaby.


"Di sana. Tapi, apa maksudmu dengan pengawal? Sejak kapan kau memutuskan menyewa seorang pengawal?" Kenapa aku tak diberi tahu tentang itu?" protes Martin.


"Mari kita bicarakan di rumah. Atau di sini saja?" Gaby berhenti melangkah dan menatap Martin tajam. Martin belum puas dn masih ingin bertanya.


"Nyonya Gaby sudah sangat kelelahan. Bisakah kita pulang sekarang? Atau, apa perlu kucarikan hotel untuknya beristirahat?" tanya Jamie. Suaranya mengancam dan tak ingin dibantah.


"Mari kita pulang." Martin membantu membawa koper-koper Gaby ke arah mobilnya.


Suasana mobil itu hening. Banyak pertanyaan berlompatan di kepala Martin, tapi entah bagaimana, dia merasa terintimidasi dengan sikap Jamie. Pria itu duduk di jok belakang. Tapi seperti siap untuk menerkamnya jika menganggu Gaby yang sedang menyandarkan tubuh di sisi mobil.


Sesampai di rumah, Tuan Mac Kay dengan sigap menopang tubuh Gaby yang akan tumbang. Sementara Martin yang sedang membuka bagasi belakang, terkejut melihat apayang terjadi.


"Gaby!" ditinggalkannya pintu belakang mobil dan mengejar istrinya yang berwajah pucat, bersandar pada Tuan Mac Kay.


"Apa yang terjadi padanya?" tanyanya cemas.


"Bawa saja ke dalam. Biar saya bereskan barang-barang ini." Jamie menyarankan Martin untuk tidak banyak bertanya dulu.


"Ayo, kau istirahat di kamar dulu. Jika kau sakit, kan bisa katakan padaku," sesal Martin diantara rasa kuatirnya.


Martin membiarkan Gaby beristirahat, lalu mencari Tuan Mac Kay. "Katakan padaku, apa yang terjadi padanya. Katanya kau pengawalnya. Seharusnya kau tahu apa yang terjadi, kan?" Martin memberondong Jamie Mac Kay dengan berbagai pertanyaan.


"Bisakah kau katakan padaku, di mana toilet? Aku sudah menahannya sejak tadi." Jamie tak menjawab pertanyaan Martin.


"Katakan dulu!" desak Martin.


"Aku tak akan mencampuri urusan kalian. Tugasku hanya menjaganya. Hal di luar itu bukan kewajibanku!" jawab Jamie tegas.


"Hei! Ini rmahku. Tolong ikuti aturanku dan jangan berbelit-belit!" suara Martin meninggi.


"Jika anda tak menginginkan saya di sini, maka saya akan membawa Nyonya Gaby ke tempat lain, di mana saya dapat menjaganya tanpa gangguan!"


Jamie menatap Martin dengan sorot mata tajam.


"Dengar Tuan, Saya bukanlah musuh anda. Dan jika anda mencintai istri anda, maka biarkan saya menjaganya. tugas saya, harus menjaganya, seperti menjaga nyawa saya sendiri!" Jamie Mac Kay menjelaskan sedikit bagian yang bisa dijelaskannya. Dia tak ingin ikut campur urusan Gaby dan Martin.

__ADS_1


******


__ADS_2