The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
53. Jamie Mac Kay


__ADS_3

Seperti janji yang dibuat Tuan Scott sebelumnya. Setelah urusan hukum dengan pengacara Thomas Menzies selesai, Tuan Scott segera mengajak Gaby pergi untuk melihat properti yang akan diwarisi secara pribadi nantinya.


Rumah itu, seperti juga bangunan lain di Edinburgh, benar-benar bangunan tua. Mungkin dulu haman rumah ini cukup luas, lalu terkena pelebaran jalan. Namun keindahan kediaman pribadi yang mirip sebuah kastil kecil itu, benar-benar terjaga. Beberapa ukiran besi sebagai pembatas balkon, terlihat masih asli dan menambah keindahan bangunan itu.


"ini kediamanmu?" tanya Gaby. Dia tak bisaa menyembunyikan kekagumannya pada rumah itu.


"Sudah jadi rumahku sejak dua ratus tahun yang lalu!" jawab pria itu santai. Dibukakannya pintu mobil agar Gaby bisa keluar dan menikmati suasana yang berbeda dari sudut Edinburgh lainnya.


"Aku baru tahu bahwa kau benar-benar seorang Land Lord. Kukira itu hanya sekedar gelar kosong, setelah sistem klan dihapuskan oleh pemerintahan Inggris waktu itu," ujar Gaby.


"Ya, Aku juga terkena dampaknya. Beberapa bagian tanah yang menjadi milik klan, telah diambil alih oleh pemerintah waktu itu.Yang tersisa adalah beberapa properti pribadi dan sedikit tanah yang tersisa untuk menunjang kehidupan sendiri," jawabnya getir.


"Itu masa-masa suram ya?" nilai Gaby. Tuan Scott mengangguk.


"Silakan masuk, My Dear," Tuan Scott membukakan pintu rumah itu untuk Gaby.


Gaby masuk ke dalam bangunan batu itu. Isi di dalamnya kontradiktif dengan tampilan luar yang tua dan kuno. Di dalam gedung itu, perabotannya ditata secara estetik dan moderen. Beberapa perabotan yang harusnya terlihat kuno, tampaknya sudah direstorasi hingga layak untuk tetap dipakai di jaman milenium!


Seorang pria terlihat berdiri dari duduknya di ruang tamu dan menyambut Tuan Scott.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Tuan Scott dengan ekspresi menyesal.


"Sekitar setengah jam," jawabnya jujur.


"Ini Jamie Mac Kay seperti yang tadi kukatakan."


Tuan Scott memperkenalkan pria tua yang sekarang berdiri di hadapan Gabriela. Pria itu mengelilingi tubuh Gaby dengan ekspresi tak percaya.


"Ramalan itu terbukti!" ujarnya dengan ekspresi rumit. Lalu dia menoleh pada Tuan Scott yang tersenyum dan mengangguk.


"No way!" ujar pria tua itu.


Tuan Scott kembali mengangguk dan memasang senyuman paling lebar yang dia bisa.

__ADS_1


"Kau sudah hamil berapa bulan, Maam? tanya Jamie penasaran.


"Satu bulan!" jawab Gaby.


Jamie mengangguk mendengar jawaban Gaby. "Lalu, apa tujuanmu memanggilku ke sini? Katamu sangat penting!" Perhatiannya kembali beralih pada Tuan Scott.


"Dia melihat aku mati!" Tuan Scott membimbing Gaby untuk duduk di sofa berukir yang dilapis dengan cat emas.


"Apa?" Pria itu sangat terkejut mendengar kata-kata Tuan Scott.


"Apa kau menerima tantangan dari seseorang?" selidiknya.


"Ya! Dari Watson," jawab Tuan Scott


"Lalu bagaimana dengannya?" tunjuknya ke arah Gaby.


Tuan Scott menoleh padanya dengan tatapan serius. Awalnya pria itu tak mengerti maksudnya. Tapi kemudian dia sangat terkejut.


"Maksudmu, aku ... dia?" Jarinya menunjuk beralih-alih dari Tuan Scott, Gaby dan dirinya sendiri.


"Apakah aku punya pilihan lain?" Tuan Scott balik bertanya.


Pria tua itu akhirnya mengangguk mengerti. "Apa kau ingin aku menjaga dia dan putramu setelah kau tiada? Itu sebabnya kau membawanya ke sini?" Berondongan pertanyaannya terlontar karena rasa penasaran yang kuat.


"Tidak! Dia akan kembali ke Amerika. Dan kuharap kau bersedia pergi ke sana untuk menjaga dan melindungi mereka berdua!" pinta Tuan Scott.


"Amerika?" pria itu menoleh pada Gaby. "Kau bukan orang sini?" Keningnya mengerut kebingungan.


"Apa dia bukan orang Scotland?" kali ini pertanyaan itu ditujukan pada Tuan Scott.


"Dia pasti orang Scott. Tapi dibawa ke Amerika dan tinggal di sana! Dan kupikir, akan lebih aman baginya jika kembali ke sana. Tak banyak yang akan mengetahui tentang ramalan itu di negara lain, bukan?" terang Tuan Scott.


Pria itu mengangguk setuju, lalu menoleh pada Gaby lagi. "Apa kau yakin tentang mimpimu yang menunjukkan dia mati?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Entahlah. Aku hanya melihat itu, seperti sebuah bagian film yang diputar di depan mataku!" jawab Gaby.


"Tak ada petunjuk waktu tentang kejadian tepatnya seperti apa," timpal Tuan Scott.


"Aku mengerti maksudmu. Tapi tentu sangat disayangkan karena kau bahkan tak sempat melihat putramu lahir, nanti." Pria tua itu menghempaskan tubuhnya ke kursi ruang tamu.


"Itu sebabnya aku mempercayaimu untuk menjaga wanitaku dan keturunanku satu-satunya," Keinginan Tuan Scott lebih jelas sekarang.


Pria itu mengangguk setuju. Kapan dia kembali? tanyanya.


"Besok hari dari bandara!" ujar Tuan Scott.


"Mendadak sekali!" Pria itu mudur selangkah.


"Kepulangannya sudah direncanakan sedari awal. Sekarang semua urusan hukum dan warisan sudah kubereskan. Dia tinggal pergi saja, besok," ujar Tuan Scott.


"Baiklah. Aku kembali dulu, lalu membereskan yang perlu dibawa," jawab pria itu.


"Baik. Besok tunggu di bandara Edinburg satu jam sebelumnya." Tuan Scott menambahi.


"Okey!"


Pria itu memandang Gaby dengan serius. "Kehidupanmu akan berat, Maam," katanya memperingatkan.


"Bukankah kita semua juga akan melalui bagian terberat dalam hidup kita masing-masing? Setiap orang sudah diukur kadar kesanggupannya oleh Tuhan. Kita tinggal menjalaninya saja," timpal Gaby bijak/


"Aku harap kau akan terus berpikir positif dan optimis seperti ini di waktu-waktu ke depan," katanya.


Gaby mengangguk tanpa menjawab.


"Sudah waktunya aku pergi, agar bisa segera kembali esok," pamitnya.


Tuan Scott dan Gaby mengangguk mempersilakan pria itu pergi.

__ADS_1


*******


__ADS_2