The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
19. Stuart Grant


__ADS_3

Pagi berikutnya, Gaby kembali melangkah dengan riang. Dia sudah lebih percaya diri untuk berjalan-jalan. Dan kali ini, tampaknya lebih dari sekedar keliling kota. Dia membawa tas tangan besar bersamanya.


Setelah mencapai anak tangga terbawah, dia melangkah ke toko Emily.


"Good morning, Emily!" Sapaannya terdengar penuh semangat.


"Good morning, Dear," sahut Emily dengan senyum khasnya. Dan segera matanya yang kecil itu membulat heran melihat tas tangan besar itu diletakkan di atas meja.


Gaby seakan tahu pertanyaan di mata Emily, dan dia segera mengangguk dengan anggukan kuat. "Aku akan naik kereta ke Glasgow, ujarnya percaya diri.


"Apa kau yakin?" tanya Emily. Tentu saja dia khawatir. Tapi tak mungkin melarang seorang wisatawan untuk pergi melihat-lihat tempat yang memang ingin dilihatnya. Terlebih lagi, Gaby datang jauh dari Amerika. Tentu akan merasa rugi besar jika hanya mengurung diri di rumah selama sebulan.


"Ya. Aku sudah melihat-lihat tempat yang ingin kutuju di sana. Setelah itu kembali ke mari lagi," ucapnya dengan sedikit nada sedih di dalamnya.


"Apa kau sedih karen tak bisa pergi berkeliling Scotland?" tebak Emily.


"Ya. Aku sebenarnya sudah mengangankan untuk menikmati dataran tinggi dan melihat alam Scotlanf yang cantik. Tapi Martin sangat protektif. Tidak mudah untuk mendapatkan ijinnya. Aku harus bersabar menunggu dia mendapatkan liburannya, baru kami bisa pergi bersama." Wanita muda itu menjelaskan tanpa diminta.


"Oh, jadi dia juga akan menyusulmu ke sini? Bagus sekali!" Emily menerima kabar itu dengan antusias.


"Yah ... semoga saja tidak ada hambatan," harap Gaby.


"Apa aku bisa mendapatkan roti sandwich untuk kubawa, Emily?" tanya Gaby.


"Tentu saja, Akan segera kubuatkan! Apa lagi yang kau butuhkan untuk di jalan?" tanya wanita paruh baya itu sambil menyibukkan diri.


Gaby menunggu sebentar. Dua buah sandwich isi bebek panggang iris ekstra keju yang lezat serta satu tumbler teh madu hangat diserahkan Emily padanya.


"Baiklah, aku berangkat dulu. Kurasa taksi yang kupesan sebentar lagi sampai," pamit Gaby.


"Kau sudah memesan taksi untuk ke stasiun?" Emily menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Ya, kupesan barusan, setelah memesan sandwich," jelas Gaby.


"Oh ... apakah mungkin taksi yang menunggu di depan itu?" tunjuk Emily ke jalan depan toko.


"Ah, ternyata dia sudah sampai. Aku berangkat, Emily." Gaby melambaikan tangan dan mendekati mobil itu. Dia berjalan ke depan untuk melihat nomor kendaraan, apakah sesuai dengan mobil pesanannya.


"Apa anda Miss Gabriela?" tanya sopir dari balik jendela kaca yang diturunkan.


"Ya!. Kenapa tidak mengabariku kalau kau sudah tiba?" tanya Gaby.


"Tidak berapa lama saya sampai, anda sudah keluar, Miss," sahut pria pengemudi itu.


"Oh, baiklah. Kukira kau sudah menunggu lama." Gaby masuk mobil dan duduk dengan tenang.


"Kita ke stasiun kereta!" perintahnya.


"Baik!" Roda mobil meggelinding pergi menyusuri jalanan berbatu, menuju stasiun kereta api. Gaby sudah memesan tiket kereta ke Glasgow untuk pukul sepuluh. Jadi dia tak khawatir akan terlambat. DIa berencana menikmati kota itu seharian besok, lalu kembali di pagi hari berikutnya.


Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kereta menuju Glasgow datang. Jadi dia memilih untuk menikmati sepotong sandwichnya dengan santai di peron stasiun. Matanya tak lepas dari mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Sesekali kameranya menangkap sesuatu yang menurutnya menarik.


Mata Gaby terus mengikuti rombongan itu hingga hilang diantara kerumunan. Dia sangat tertarik dengan budaya para Highlander yang penuh misteri. Dia sudah beberapa kali membaca tentang sanjungan yang memuja para Highlander itu sebahai orang yang gagah perkasa, petarung hebat yang dapat menggentarkan Inggris pada masanya.


Pikiran Gaby melayang, membayangkan masa-masa para highlander itu masih berjaya. Gunung, bukit, hutan, hamparan rumput dan tanah-tanah pertanian klan yang tersebar dari Scotlandia utara hingga ke selatan, dipenuhi para pria perkasa yang mengenakan kilt dengan beragam disain tartan sesuai nama klan mereka. "Alangkah gagahnya!" batinnya.


Tak lama terdengar peluit kereta. Kemudian pemberitahuan dari pengeras suara, kereta menuju Glasgow telah tiba. Gaby berdiri dari duduknya di peron. Kereta berhenti, Wanita muda itu melihat nomor tiket dan mencari gerbong yang sesuai.


Stasiun itu lumayan ramai. dan kereta masih akan menunggu sepuluh menit sebelum berangkat. Jadi dia mulai mengeluarkan kamera dan memotret beberapa hal yang menarik dan mungkin jadi suatu ide nanti.


Akhirnya kereta mulai bergerak. Tiba-tiba seseorang menghempaskan tubuhnya ke ke kursi di sebelah Gaby. Seorang pria tampan dengan rambut ikal kemerahan awut-awutan. Pria itu tersenyum pada Gaby.


"Maaf mengejutkan anda, Miss," ujarnya dengan mata jenaka. Gaby mengangguk. Dia tak ingin terlalu menanggapi. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun! Wanita itu mengambil pelajarannya dengan baik.

__ADS_1


Jadi, untuk menghindari perbincangan yang tak perlu, Gaby memilih untuk mengamati pemandangan di luar dan sesekali merekam pemandangan dari jendela.


"Sebentar lagi kita akan keluar kota Edinburgh. Pemandangannya sangat bagus. Anda bisa memotret hingga puas!" pria itu bicara tanpa permisi.


Gaby menoleh malas, kemudian mengangguk samar. Dia memeriksa lagi foto dan rekaman yang ada. Beberapa yang kurang bagus, dihapusnya. Kemudian siap untuk menangkap moment yang akan sulit didapat untuk kedua kali, karena laju kereta yang makin cepat.


Kemudian, rasa bosan menderanya. Akhirnya Gaby mengeluarkan tablet dan mulai mencatat beberapa hal menarik yang tadi dilihatnya di stasiun, sebelum lupa.


"Apa yang anda kerjakan?" tanya pria itu ingin tahu. Gaby meliriknya dengan pandangan tak terlalu senang yang nyata.


"Ah, maaf ketidak sopananku. Aku belum memperkenalkan diri dengan pantas," katanya, menyadari kesalahan. "Aku Grant. Stuart Grant," ujarnya memperkenalkan dirinya.


Sekarang, dengan sedikit mengeluh, Gaby terpaksa harus memperkenalkan diri juga, demi sebuah sopan santun. "Aku Gabriela!" Kepalanya menunduk sedikit dan meletakkan tangan kanannya di dada.


Pria itu bisa melihat dengan jelas cincin pernikahan di jari manis wanita yang duduk di depannya.


"Senang bisa seperjalanan dengan anda, Nyonya Gabriela." Stuart memperbaiki panggilannya pada Gaby menjadi nyonya sekarang.


Gaby tersenyum manis dana kemudian kembali menyibukkan diri dengan catatannya. Pria muda di depannya tampak tidak terlalu tertarik lagi untuk mengajaknya berbincang-bincang.


Setengah jam berlalu. Gaby merasa sudah tak memiliki ide lagi untuk ditulis di catatannya. Jadi dia menutup pekerjaan dan mulai memasukkan semua yang tak peenting ke dalam tas.


Dilihatnya pria muda di depan yang kini tertidur karena bosan. Gaby mengeluarkan kamera dan mencoba untuk mengambil beberapa hal di luar sana. Pemandangan sangat bagus. Namun sayang, kereta melaju terlalu cepat, hingga dia tidak mendapatkan cukup bahan yang bagus.


Tak lama terdengar pemberitahuan bahwa kereta akan segera sampai di stasiun Glasgow. Gaby bersiap dan menyimpan kamera dalam tas. Dibangunkannya pria di depan, jika dia turun di stasiun yang sama.


"Pria itu membuka mata dan melihatnya dengan mengerjapkan mata beberapa kali. Kereta berhenti. Dia berdiri dan ingin berjalan keluar. Tapi kemudian menoleh pada Gaby lagi. "Apa anda orang Scotland?" tanyanya. Gaby menggeleng.


"Sebaiknya anda sedikit berhati-hati dengan beberapa orang," ujarnya. Kemudian mengangsurkan tangan untuk menyalami Gaby. Gaby menanggapinya sambil mengucapkan terima kasih.


"Pria itu melihat gelang yang dipakai Gaby. Kemudian dia tersenyum. "Jangan lepaskan gelang ini!" pesannya sebelum berlalu.

__ADS_1


Gaby menatapnya bingung. Lalu melihat gelang di tangannya degan tak mengerti.


*******


__ADS_2