
Mereka berdua terus berjalan melintasi hutan lembab dan berlumut. Tuan Scott sangat hati-hati. Tiap sebentar dia menoleh ke belakang dan sekeliling mereka.
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Gaby yang jadi ikut khawatir juga.
"Kehadiran para guardian lain. Tentu saja karena aromamu mungkin bisa tercium di udara sejauh puluhan mil!" sahut Tuan Scott.
"Apa?" Gaby terperangah.
"Apakah ini akan lebih berbahaya dari pada menghadapi Watson?" ujarnya dengan perasaan kecut yang menghinggapi.
Tuan Scott tak menjawab. Dia terus berjalan dan sesekali mengulurkan tangan untuk membantu Gaby melintasi beberapa bagian yang berbahaya.
Setelah sekian lama berjalan dengan saling membisu, Gaby bertanya lagi. "Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Gaby. Mereka telah berdua telah sangat jauh berjalan. Bayangan biru danau Ness sudah lama hilang dari balik pepohonan.
"Aku hanya ingin menjauh dari tanah klan Urquhart," jawab Tuan Scott.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini!" diulurkannya lagi tangan ke arah Gaby. Mereka mempercepat langkah.
"Kau takut pada mereka?" tanya Gaby. Sedikit heran, bahwa Tuan Scott juga bisa merasa takut pada klan lain.
"Aku hanya ingin melindungimu," jawabnya sambil lalu. Tangannya terus menggenggam tangan Gaby. Dan Gaby juga tak menyadari bahwa mereka telah saling bergenggaman tangan cukup lama.
Gaby diam lagi mendengarkan penjelasan Tuan Scott. Bagaimana mungkin mendebat pria yang ingin melindunginya di tempat asing seperti ini?
"Apakah tanah klan Urquhart sangat luas?" tanya Gaby.
"Ya. Setelah keluar dari tempat ini, masih ada tanah klan lain. Tapi mereka bukanlah musuh klan Sutherland. Kecuali ...."
"Kecuali apa?" tanya Gaby, karena Tuan Scott tidak melanjutkan ucapannya.
"Kecuali mereka ingin merebut wanitaku. Maka mereka akan jadi musuhku!" jawab Tuan Scott tegas.
Mulut Gaby terbuka mendengar klaim pria itu. "Wanitamu? Siapa yang wanitamu!" jengkelnya dalam hati.
**
__ADS_1
Gambar: Peta sebaran klan Scotland. Area hijau adalah daerah dataran tinggi (highland).
Highlander \= orang-orang yang tinggal di dataran tinggi.
Scottish \= orang-orang Scotland.
Sassanack \= orang-orang Inggris.
Lowlander \= orang-orang yang tinggal di dataran rendah.
**
"Apakah kita akan kembali ke Inverness?" tanya Gaby.
"Terlalu ramai di di sana. Kita akan sering bertemu dengan anggota klan lain. Dan aku yakin ini masa yang jauh berbeda dengan saat kita datang ke sini. Saat ini bukanlah masa-masa damai antar klan," jelas Tuan Scott.
"Lalu, rencanamu mau ke mana?" tanya Gaby tak sabar, Sejak tadi dia bertanya-tanya, tapi Tuan Scott tak juga memberi jawaban.
"Menuju tanah Klan Sutherland!" Akhirnya Tuan Scott menjawab.
"Aahhh ... aku lelah mendengar semua cerita tentang klan dan masa berbeda yang tak masuk akal begini. Aku ini penulis. Aku tahu bahwa ada banyak cerita karangan seperti itu muncul dan menjadi cerita yang menarik. Tetapi itu hanya daya khayal penulis saja. Tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata!" sergah Gaby marah.
Dia berhenti jalan dan menarik kasar tangannya yang sejak lama digenggam pria itu. Matanya menyorot tajam, tepat ke arah mata Tuan Scott yang terlihat putus asa menjelaskan bahaya yang sedang mereka hadapi.
"Aku tahu kau lelah dan lapar. Kau juga pasti kedinginan. Tapi kita tak bisa berhenti di sini!" jelas Tuan Scott tegas.
Dilepasnya mantel besar dan berat karena masih lembab oleh air danau. "Kenakan ini! Nanti kita cari makanan lain untuk mengisi perutmu."
"Sekarang, kita harus keluar dari tanah klan Urquhart. Apa kau mengerti?" pandangannya begitu memohon pengertian dari Gaby.
Wanita muda itu menghela napas. Dia merasa seperti bocah kecil yang sedang tantrum. Akhirnya, dengan terpaksa dia mengangguk. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Langit sudah mulai remang-remang petang. Tapi Tuan Scott justru makin mempercepat langkahnya. Mereka mulai berjalan menurun. Dengan sabar dan hati-hati dibimbingnya Gaby melangkah.
Wanita itu hanya bisa menurut saja. Kakinya berkali-kali kram karena dipaksa berjalan jauh di tanah liar. Kadang keras, licin, basah, lembek, bahkan kadang kakinya terbenam dalam lumpur.
Gaby bersyukur karena telah membekali dirinya dengan sepatu kets, untuk mengeksplorasi kota Invermess. Sepatu itu banyak membantu dan memberinya sedikit kenyamanan dalam berjalan.
__ADS_1
Hari sudah gelap. Tapi Tuan Scott seperti punya mata yang bisa menembus kegelapan. Pria itu terus berjalan menembus tanah yang sekarang mulai terbuka. Masih ada beberapa pohon, tapi tidak serapat sebelumnya.
"Masih jauhkah tempat aman yang kau maksud? Kakiku sudah mau patah!" protes Gaby.
Tuan Scott berhenti. Dia berjongkok di tanah. "Kita harus terus berjalan. terutama di daerah terbuka seperti ini. Jadi, mari naik ke punggungku, agar kita bisa melanjutkan perjalanan."
Gaby memejamkan matanya muak. Tapi tak ada pilihan selain terus berjalan. Namun dia tak sudi naik ke gendongan pria itu.
"Ayo!" ujarnya kasar dan mulai berjalan lagi. Tuan Scott hanya menggeleng. Tapi tak berkomentar apapun. Dia sangat fokus memilih jalan dengan mengandalkan pengalaman hidupnya ratusan tahun.
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya Tuan Scott berhenti. Dia melihat ke kejauhan. Entah apa, Gaby tak tahu. Lalu arah tuhuan mereka berbelok ke kanan.
"Kita masih harus jalan sekitar satu jam lagi," ujar Tuan Scott.
"Aku tak sanggup lagi," suara Gaby bergetar dan teramat lirih. Kondisinya memang memprihatinkan.
Tuan Scott kembali berjongkok dan menyediakan punggungnya untuk Gaby. "Ayo naik. Satu jam lagi, kita sampai di tempat aman," ujarnya membujuk.
Gaby tak lagi menolak tawaran itu. Dia naik ke punggung Tuan Scott. Pria itu kembali berdiri dan berjalan. Tetap gagah dan teguh. Seakan mereka hanya wisata sejam yang lalu saja.
"Kau pasti juga lelah, kan?" tuduh Gaby sambil mengeratkan rangkulan tangannya di leher pria itu.
"Untukmu, semua ini sepadan," jawabnya sambil terus berjalan.
"Apa kau mulai menyukaiku, Tuan Scott?" tanya Gaby dengan mata terpejam. Dia sangat mengantuk dan juga lelah. Dan lapar tentu saja.
"Tak ada pria yang tak menyukai wanitanya. Dewa telah memilih dan mengantarkanmu untukku. Maka aku harus menjagamu." Pria itu mengatakan sesuatu yang asing di telinga Gaby, seakan itu adalah hal yang biasa baginya.
"Oh aku lupa, Usianya sudah ratusan tahun. Tentu saja dia sangat berpengalaman merayu wanita." Gaby merasa bodoh dalam hatinya.
Pada akhirnya Tuan Scot berhenti di salah satu tebing. Dibaringkannya tubuh Gaby yang tertidur dan menyelimutinya dengan mantel panjangnya yang berat. Pria itu juga membaringkan diri di sebelahnya. Mengulurkan tangan untuk memeluk tubuh Gaby.
Selama beberapa waktu, dahinya mengerut karena kewaspadaan tinggi. Namun makin lama, kesadarannya akhirnya menghilang dalam tidur lelap.
******
__ADS_1