
Penumpang antara lega dan cemas. Semua berharap, masalah itu sudah selesai, dan monster di bandara tidak berhasil mengejar.
Di kokpit.
Teknisi yang membantu menerbangkan pesawat dengan panduan dari menara pengawas, mengalami kesulitan untuk mengangkat bagian ekor pesawat lebih tinggi.
"Seperti ada yang menahan bagian belakang pesawat!" kata teknisi itu, setelah melihat panel di bagian atas kepalanya. Ada satu tombol yang berkedip-kedip di sana.
"Apa mungkin dia berhasil melompat ke pesawat?" Jamie bertanya-tanya sendiri. Tapi tak ada yang tahu jawabannya.
"Apa tindakan yang bisa kita lakukan?" tanya Duncan.
"Biasanya, kalau pesawat sudah mengudara dan terjadi sedikit masalah, saya akan diminta memeriksa. Jika bisa diatasi di atas, maka pesawat tak perlu mendarat," jawab teknisi itu.
"Sekarang bagaimana!" desak Jamie tak sabar.
"Sekarang kita harus berhenti dan kembali ke landasan. Pesawat ini tak akan bisa terbang tinggi, Berbahaya juga jika itu ternyata adalah kerusakan fatal!" jelas teknisi itu jujur.
Jamie meremas rambutnya dengan kesal. "Daratkan pesawat ini! Tapi jangan dekat dengan bandara. Bahaya!" pesannya.
"Apa maksudmu!" tanya Duncan tak mengerti.
"Hanya kita yang bisa menghentikan bajingan gila itu, sebelum jatuh korban lebih banyak!" Jamie tampak sudah bertekad.
Duncan hanya bisa menggeleng. Kemudian dia membantu teknisi itu untuk memutar balik muncung pesawat, setelah menara menyetujui mereka untuk kembali, akibat ada trouble di ekor pesawat.
Jamie keluar dari kokpit dan menghampiri Gaby. "Ma'am, ada kerusakan di ekor pesawat yang membuat pesawat ini tidak bisa terbang. Saya minta ijin Anda untuk menghadapi Watson, saat pesawat ini mendarat, nanti," kata Jamie.
"Apa?" Stuart terkejut mendengar penjelasan Jamie. Pantas saja pesawat itu terasa terbang sangat rendah.
Gaby mengangguk. "Kita harus menghadapinya. Aku tak mau terus hidup seperti pelarian, pada hal tidak punya kesalahan apa pun padanya!" tegas Gaby.
"Ma'am, saya harap Anda dan Oliver tetap tinggal di dalam pesawat dan terus terbang, saat trouble berhasil diatasi," bujuk Jamie.
"Tidak, Tuan Mac Kay. Dia harus tahu bahwa aku tak takut sedikitpun padanya! Aku akan menghadapinya!" Gaby sudah membuat keputusannya. Tekadnya yang kuat tergambar jelas di sinar matanya yang membara.
"Kami akan melindungi Anda!" Stuart menanggapi dengan cepat.
__ADS_1
"Apakah kau merasakan pesawat ini kembali turun?" bisik penumpang satu sama lain. Tak lama, sebuah pengumuman terdengar.
"Kami minta maaf karena kita tak dapat melanjutkan penerbangan. Ada trouble di ekor pesawat yang membuat pesawat ini tak bisa naik!"
Kepanikan melanda seisi pesawat. Mereka langsung melihat ke bagian belakang, namun tak melihat ada asap atau apapun yang mungkin jadi pertanda kerusakan.
"Apakah monster itu menahan bagian ekor pesawat, hingga kita tak bisa terbang?" Mereka saling berpekulasi dan menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya.
"Kami akan menghentikan pesawat jauh dari bandara, agar tidak terkena sambaran api dari kekacauan di bandara. Ikuti petunjuk pramugari agar bisa keluar dengan selamat. Dan menjauhlah dari bandara!" Pengumuman kembali terdengar.
Suasana kembali riuh. Beberapa orang sibuk mengambil bagasi mereka di laci kabin. Mereka ingin membawa sebagian kecil barang yang bisa diselamatkan. Kemudian, ketegangan meningkat saat pesawat sudah berjalan pelan di ujung landasan.
Mereka dapat melihat dari jendela, bahwa di pinggir landasan adalah tanah kosong berumput. Pramugari sudah siap untuk memandu para penumpang turun lewat jalur darurat, karena di situ tak ada tangga yang bisa mereka gunakan.
Begitu pesawat berhenti, pintu darurat dibuka. Sebuah perosotan karet berisi udara langsung terbentang hingga ke tanah. Pramugari langsung meminta masing-masing mereka meluncur di sana dan menjauh dari pesawat.
Duncan segera kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. Mereka sudah memegang pedang masing-masing dan meletakkannya di punggung. Mereka mengelilingi Gaby, menjaganya dari pandangan siapapun.
"Anda dan Tuan Oliver harus segera keluar, Nyonya," saran Elliot.
"Agar Nyonya bisa menyamar di antara kerumunan!" jelas Elliot.
"Apa kau bisa menjaga Nyonya sampai kami turun?" tanya Jamie pada Oliver.
"Aku akan menyamarkannya dari pencarian Watson!" Oliver menjawab dengan yakin.
"Bagus! Kita lakukan seperti itu saja." Jamie memutuskan.
Oliver dan Gaby masuk dalam barisan penumpang yang akan segera meluncur. Diselingi beberapa orang di belakang, Jamie dan timnya menyusul.
"Giliran Anda, Nyonya," ujar pramugari pada Gaby.
"Saya harus bersama Nyonya, untuk menjaga bayinya," kata Oliver.
Pramugari tidak dapat melarang, karena tatapan tajam Jamie Mac Kay di belakang. Jadi dia hanya mengangguk. "Hati-hati!"
Dengan saling berpegangan, Gaby dan Oliver meluncur turun. Baby Keane tidak menyulitkan sedikitpun, dia tak rewel ataupun menangis dengan situasi kacau di sekitarnya. Gaby menyembunyikannya di dalam jaket, agar tidak terlihat oleh siapapun.
__ADS_1
"Monster itu datang!" teriak beberapa orang yang sudah mendarat. Mereka berlarian tercerai berai. Oliver menggamit lengan Gaby dan membawanya lari menjauh dari pesawat.
Pramugari menghentikan penumpang yang ingin turun selanjutnya.
"Kami harus keluar sekarang! Nyonya dan tuan muda kami dalam bahaya!" bentak Jamie. Dengan kasar, disibaknya orang-orang yang mengantri di depan, tapi kebingungan dan takut untuk turun. Terutama karena monster yang mereka takuti itu sudah berdiri di depan tangga darurat pesawat.
Matanya menatap nyalang ke pintu darurat, dimana Jamie dan timnya berdiri.
Tanpa banyak bicara, Jamie langsung meluncur, diikuti yang lainnya. Mereka langsung berdiri berhadapan di depan Watson.
"Apakah kau sangat haus darah dan terus ingin mengorbankan darah orang-orang tak bersalah demi ambisimu!" tanya Jamie.
"Aku hanya bertahan hidup dengan cara yang kutahu!" tangkisnya.
"Kau menjadi semakin buas setiap kali mendapat kekuatan baru!" kecamnya.
"Seperti itulah kita diajarkan!" tangkis Watson.
"Ini bukan hutan belantara, Watson. Manusia berbeda dengan binatang buruan!" sambar Duncan emosi.
"Sudahlah, mari kita langsung bertarung, dari pada banyak basa-basi!" Elliot sudah mengeluarkan pedangnya dan menggenggamnya erat.
Tim itu menyebar, mengelilingi Watson, sembari membawanya menjauh dari tangga darurat, agar para penumpang bisa keluar seluruhnya.
Pramugarai langsung menyuruh sisa penumpang untuk turun, saat melihat Jamie membawa monster itu menjauh dari pesawat.
"Apakah mereka bisa melawan monster itu?" gumam teknisi yang sekarang sudah berdiri di depan pintu darurat, bersama pilot dan kopilot. Mereka adalah orang-orang terakhir yag akan turun dari pesawat itu.
"Mereka satu komplotan!" tuduh pilot dengan sinis. Dia masih menyimpan dendam pada Jamie yang menyayat lehernya.
Pramugarai tak menjawab. Dirinya tidak setuju dengan pendapat pilot. Dia dapat melihat bahwa Jamie dan teman-temannya sedang melindungi nyonya dan tuan muda mereka seperti yang tadi dikatakan pria itu.
"Mari cepat turun!" pramugari mengingatkan. Dia meluncur turun, mengikuti pramugari lain.
"Awas!" Teknisi pesawat berteriak memperingatkan.
*********
__ADS_1