The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
89. Campur Tangan Polisi


__ADS_3

"Ma'am, bagaimana keadaan Anda sekarang?" tanya Jamie. Dilihatnya piring makan malam belum disentuh Gaby.


"Apa Kau tadi pergi, Tuan Mac Kay?" tanya Gaby tanpa mejawab pertanyaan Jamie.


"Yes, Ma'am. Sebelum Anda melahirkan, Duncan mengatakan bahwa mereka sudah bertemu dengan Watson. Sebelumnya, saya sudah meminta Stuart untuk berhabung bersama mereka. Setelah persalinan Anda yang lama, saya tidak mendapatkan kabar satupun. Itu sangat mengkhawatirkan."


"Ditambah lagi Oliver yang terus membacakan mantera di tepi hutan. Dugaan saya, keempat teman kita itu sedang kesulitan. Jadi saya putuskan untuk menyusul." Jamie menjelaskan dengan panjang lebar.


Gaby mengangguk mengerti. "Sekarang Kau sudah kembali. Jadi, bagaimana situasinya?"


"Kekuatan gabungan keempat teman kita itu seimbang dengan Watson. Maka, untuk membuat perubahan, saya harus ikut serta dalam pertarungan tim kita." jelas Jamie.


"Lakukanlah yang terbaik." Gaby menatap bayi yang terlelap dalam pelukannya.


"Ma'am, saya ingin mengatakan pada Anda bahwa kita akan bertahan di sini. Karena jika saya ikut dalam pertarungan yang jauh, maka tidak ada yang menjaga Anda dan Tuan Muda kami. Bagaimana pendapat Anda?" tanya Jamie.


"Saya tidak mengerti hal-hal yang seperti itu, Tuan Mac Kay. Lakukanlah yang menurut pertimbanganmu baik." Gaby menyerahkan keputusan itu pada pengawalnya.


"Baik, Ma'am. Saya akan ke atas dan mendiskusikan hal ini dengan yang lainnya." Jamie berbalik tapi tak langsung jalan.


"Demi bayi itu, sebaiknya makan malam itu dihabiskan. Saya ingin Anda segera pulih dan bisa melarikan diri bersama Tuan Martin, jika keadaan terdesak!" Tanpa menunggu jawaban Gaby, Jamie pergi meninggalkannya.


Mendengar instruksi pengawalnya, Gaby menoleh ke arah meja kecil, dimana tadi Martin meletakkan makan malamnya. "Apakah aku terlalu memperturutkan perasaanku? Meski sibuk dan khawatir pada hal lainnya, Jamie masih mengingatkan soal makan. Bukan karena dia sangat peduli tentang makanan, tetapi karena mengharapkan aku kuat untuk melarikan diri!"


Gaby meletakkan bayinya di tempat tidur dan mengambil piring. Itu adalah makanan kesukaan yang dulu kerap dimasak Martin saat mereka masih bersama. Hal itu juga yang membuatnya enggan untuk makan.


"Apakah aku sudah terlalu egois selama ini? Apa aku terlalu menyakitinya?" batin Gaby.


Suapannya disertai tetesan air mata. Gaby sangat tahu bahwa Martin mencintainya dengan tulus. Tapi dia juga tak mengerti kenapa setiap melihat Martin hatinya teriris sakit.


Karena itu dia ingin pria itu pergi menjauh, agar tidak lagi mengingatkan pada pengkhianatan yang sudah dilakukannya.


"Aku yang salah, tapi aku juga yang terus menyakiti perasaannya," gumam Gaby lirih. Ditolehnya bayi mungil bermata biru dan berambut kemerahan yang terlelap disamping.

__ADS_1


"Apa kau akan senang jika mommy kembali padanya? Apa kau tak keberatan jika dia menjadi daddymu?" tanyanya lirih dalam derai air mata.


Kamar basement itu hening, seakan si bayi tak hendak mengganggu istirahat ibunya yang masih belum pulih. Dia hanya menangis saat lapar, dan Gaby sudah menyusui hingga bayi itu puas dan tertidur kembali.


*****


"Ini pakaian yang ada. Semoga cocok untuk kalian." Jamie meletakkan setumpuk pakaian di meja, kemudian ikut duduk dan makan malam.


Sebagian dari mereka sudah selesai makan dan memilih pakaian yang disapkan Jamie, lalu menghilang ke dalam kamar Jamie.


"Peralatan medis ada di dalam kamar, di meja. Sudah kusiapkan!" teriak Jamie, agar terdengar ke dalam kamar.


"Ya!" jawab Duncan dari kamar.


Bergantian mereka mengobati luka yang sebagian masih terbuka. Yang sudah selesai, duduk di ruang depan untuk menonton acara tivi.


"Pertarungan tadi ternyata disiarkan tivi lokal!" teriak Elliot. Teman-temannya ikutan memperhatikan acara itu.


"Gila ulasannya! Kita dianggap sebagai makhluk ruang angkasa yang ingin mengekspansi daerah ini? Hahahaa." Angus tertawa terbahak-bahak. Yang lain ikut tersenyum geli.


Mereka terus mengikuti acara itu untuk mengetahui keadaan Watson.


"Mereka menembaknya dengan senapan berat milik tentara!" seru Angus. Dia kelihatan senang melihat Watson yang akhirnya berhasil ditaklukkan aparat keamanan.


"Pantas saja. Dia melukai enam orang polisi setelah kita tinggalkan tadi," timpal Stuart tersenyum geli. Mereka bisa bayangkan betapa ramainya keadaan rumah sakit di kota kecil itu saat ini.


"Namun, kita jangan lengah. Mereka hanya mampu menahannya sesaat. Setelah semua lukanya pulih, dia pasti akan mencari kita lagi!" Jamie bergabung bersama dengan yang lainnya di ruangan itu.


"Oliver, bisakah kau bergabung? Kita harus mendiskusikan langkah selanjutnya!" panggil Jamie pada Oliver yang sangat senang duduk di beranda.


Setelah semuanya berkumpul, Jamie memulai diskusi. "Tadi nyonya sudah menyerahkan persoalan ini pada kita. Jadi, baiknya kita diskusikan langkah terbaik yang bisa diambil untuk melindungi Nyonya."


"Bukankah katamu kita akan bertahan di sini saja?" Stuart mengulangi rencana Jamie di mobil tadi.

__ADS_1


"Betul, rencanaku sebelumnya seperti itu. Namun, aku terbuka untuk menerima saran lain dari kalian yang mungkin lebih baik," sahut Jamie.


"Bagaimana kalau kita pindah saja?" Oliver tiba-tiba bicara.


"Pindah ke mana?" tanya Angus.


"Ke tempat tinggalku di selatan. Dia mungkin masih akan menemukan kita tapi tidak akan semudah ini. Kita masih punya perpanjangan waktu jika menjauh darinya." Oliver memberi alasan.


Elliot menatap pria tua itu dengan ekspresi sangat senang. "Kudengar, di sana matahari bersinar sepanjang tahun. Betapa hangatnya. Aku ingin mewarnai kulitku yag pucat ini," katanya antusias.


Oliver mengangguk sambil tersenyum. Ketampananmu akan mengalah para pria Latin di sana," katanya sambil terkekeh.


"Kukira, usul Oliver juga baik," kata Stuart. "Di sini, kita mungkin sudah akan dicari-cari oleh pihak keamanan. Aku mungkin sudah tak bisa lagi pergi ke desa atau kota itu."


Duncan mengangguk setuju. Berbeda dengan Martin yang terlihat gelisah.


"Jika kalian pindah, bagaimana denganku? Aku baru saja beberapa bulan kerja di sini. Tak terlalu bagus dalam catatan kerjaku jika terlalu sering pindah." keluhnya.


"Steve ada di sini, jadi kau bisa tetap tinggal di sini. Susul saja ke sana bersamanya saat liburan," saran Oliver.


Semua sudah mengutarakan pendapat. Namun, Jamie masih belum mengatakan pemikirannya.


"Apa kau punya pendapat lain, Jamie?" tanya Angus.


"Apa kau bisa membuat pertahanan yang sama baik, jika kita pindah ke sana?" tanya Jamie pada Oliver.


Tempat itu adalah bentengku!" jawab Oliver. "Memang belum pernah diuji coba pada para highlander. Namun aku yakin, perlindungan di sana akan lebih baik berkali lipat, jika semua alat sihir yang ditempatkan di sini, kuambil kembali dan dipasang di sana," ujarnya yakin.


"Baik, seperti itu saja. Mari kita bersiap malam ini. Dan berangkat esok pagi!" putus Jamie. Pria itu langsung berdiri dan melangkah ke kamar.


"Besok pagi?" Angus terbelalak. Tetapi yang lainnya sudah ikut berdiri dan membantu persiapan kepindahan Gaby tanpa bertanya kenapa Jamie begitu buru-buru.


******

__ADS_1


__ADS_2